
*****
Pesta pernikahan mama dan om Farid terlihat sakral dan hangat. Kecil-kecilan saja, di gelar di halaman rumah Rain, berhias beberapa dekor outdoor dan rangkaian bunga. Tamu undangan terlihat silih berganti bersalaman dengan mempelai.
Mama terlihat cantik dengan kebaya putih modern, rambutnya di simpul indah dengan hiasan mahkota kecil di atas kepalanya. Om Farid mengenakan jas semi kasual yang ringan berwarna hitam keabu-abuan.
Mama terlihat sangat bahagia. Senyum nya terus berbinar tiada henti. Akupun turut bahagia memandangi dari kejauhan. Aku berharap kali ini om Farid benar-benar bisa membahagiakan mama. Tidak seperti saat ia bersama istrinya dulu, yang ia terlantarkan begitu saja.
Aku memakai dress hitam panjang dengan bagian bahu yang terbuka. Jujur saja, baru kali ini aku agak pd mengenakan gaun yang sexy dan terbuka begini. Aaaaaah aku kemudian malu sendiri mengingat malam pertama ku dengan Joe. Siapa yang tau malam itu menjadi malam pecahnya kesucianku. Aku bahkan sama sekali belum menemui dia sejak malam itu. Beberapa chat dan telphone nya pun selalu aku abaikan. Ada perasaan bersalah di hatiku.
Rain terlihat cantik dengan gaun berwarna pink. Ia selalu terlihat anggun dan feminim dengan gaun apa pun. Semua orang selalu saja mengagumi kecantikannya. Tidak, aku bukannya iri dengan kecantikannya, tapi dengan segala perhatian yang tertuju padanya, itu yang membuat ku iri.
Dari kejauhan aku melihat Jojoe datang bersama seorang ibu, tepatnya nenek. Yang memakai kebaya abu-abu cantik dengan konde khas jawa dan Membawa dompet batik. Penampilannya terlihat mempesona dengan usianya yang sudah di bilang tua. Ia berjalan menggandeng Jojoe yang memakai kemeja biru. Penampilan Joe terkesan santai hari ini, tidak terlalu formal.
Aku melihat Rain menghampiri Jojoe. Karna aku penasaran, lalu aku mencari alasan untuk berada lebih dekat dengan mereka. Ku ambil segelas jus yang berada tepat di samping Rain, dengan wajah kalemku, dan pura-pura tidak melihat ke arah mereka.
"Selamat ya Rain, akhirnya kamu punya papa baru" ucap Jojoe
"Makasih ya Joe!"
Rain memeluk Jojoe tanpa menghiraukan neneknya yang berada di sampingnya. Si nenek melirik tajam kearah Rain, entah pikiran jelek apa yang sedang ia gumam kan. Wajahnya menjelas kan hal itu.
Jojoe melepaskan dekapan Rain yang sedikit agresif itu. Seperti takut kalau kalau nanti bakal kena omelan maut khas neneknya.
"Eh ini nenek kamu? halo nek apa kabar?"
Rain mengambil tangan nenek, lalu mengecupnya. Secepat kilat nenek Joe menarik tangannya lalu mengusap-usap nya seolah-olah dia tak ingin tangan ningrat nya itu di pegang oleh sembarang orang.
Aku merasa tak mau kalah. Aku mendekati mereka dan berusaha bersikap baik. Aku seperti ingin menunjukkan bahwa aku lebih baik dari Rain. Akulah yang lebih pantas mendampingi keluarga Jojoe.
"Nek!!! mau minum?" aku membawakan segelas jus yang kemudian dia raih.
"Makasih, kamu siapa?"
Aku kemudian menyalaminya dan memperkenalkan diriku dengan senyum kemenanganku.
"Saya Sun, nek. saudaranya Rain, anak nya mama Melinda"
Nenek itu tersenyum padaku. Tidak seperti saat kali pertama Rain menyambutnya. Wajahnya terlihat ngedumel dalam hati. Haha yes, satu kosong Rain, gumam ku sambil berlalu pergi menggandeng si nenek duduk di meja makan.
Jojoe tersenyum melihat tingkahku yang mulai terang-terangan menunjukkan simpati padanya. Tapi sungguh, aku tidak melihat kecemburuan di wajah Rain. Ini yang sedikit membuatku geram. Tapi biarlah, Secara lahir Jojoe memang milikmu. Tapi hatinya, hanya milikku.
Kubuka kamera selfie ku, dan
"Eeeeem halo, sory gue agak nerfes, ehem... maksud gue eeeem hay .... hari ini gue bakalan siaran langsung acara wedding mama gue bersama om Farid alias papa baru gue"
ku arah kan ponselku ke mempelai yang sedang asik menikmati kue dan jus di tangan mereka.
"Itu mama... hai maa, hadap sini dong"
Mama terlihat tersenyum sambil melambai tangan ke kamera, begitu juga om Farid.
"Selamat berbahagia ya mama, papa... semoga kalian bisa jadi pasangan yang langgeng saling sayang sampai tua kakek nenek" sapa ku dari balik layar
"Iya sayang makasih ya" jawab mama sambil tiada henti tersenyum. Ia terlihat sangat bahagia
Kemudian aku berkeliling mencari sosok Rain tapi tak ku dapati. Akhirnya aku menyapa beberapa tamu komplek rumah kami.
"Haloooo selamat menikmati ya... semoga suka" sapa ku
Beberapa dari mereka ada yang tersenyum paham kamera, ada yang melambai seadanya, dan ada yang cuek-cuek aja. Mungkin mereka pikir ni anak alay banget ya, haha.
Kemudian aku terus berkeliling mencari Rain atau Jojoe tapi tak ku dapati. akhirnya aku ke halaman belakang bermaksud menemui bi Nur.
"Haloo bi, senyum dong" sapa ku saat mendapati nya sedang sibuk dengan bahan makanan yang akan di siapkan.
Tapi dia seperti gagal faham. Dia kebingungan melihat kamera hp.
"Apaan si mbak Sun? mbak itu lagi ngapain?"
"Haha bibi mah gitu"
Aku gak mau panjang lebar mesti menjelaskan ke bi Nur kalau aku lagi bikin vlog. Karena yang ada nanti dia malah banyak nanya lagi vlog itu apa dan bla bla bla.
Akhirnya aku terus berjalan ke belakang tanpa mematikan rekaman video ku. Sampai mataku menatap sesuatu. Sesuatu yang kemudian membuat dadaku sesak. Aku kemudian merasa kakiku mati rasa. Hingga tanpa sadar aku menjatuhkan ponselku. Aku melihat Rain sedang beradu bibir dengan Jojoe. Rain dengan ganasnya mengulum bibir Joe yang berdiri di hadapannya. Jojoe pun seperti membalas ciuman Rain sambil memeluk pinggang nya. Aaaaah Tuhaaan apa ini? bisa-bisa nya di waktu begini mereka melakukan hal itu di belakang pesta. Bukan, bukan salah mereka. Ini salahku, atas hak apa aku marah, aku bukan siapa-siapa Jojoe. Rain lah kekasih hatinya. Bagaimana bisa aku membiarkan Jojoe mempermainkan ku seperti ini.
Aku berlari sekencang mungkin. Berusaha agar apa yang aku lihat bisa terlupakan. Tapi semakin aku berlari, kejadian itu malah seolah olah terjadi berulang ulang di hadapanku.
Aku tahu, Jojoe melihatku. Aku tahu Jojoe menyadari keberadaanku tadi. Tapi dia tetap diam. Aku menoleh kebelakang, berharap Jojoe mengejar. Tapi tidak, tidak ada siapa-siapa disana. Bodohnya aku, siapa yang bisa menjamin Jojoe tidak meniduri Rain, hal yang sama seperti yang dia lakukan kepadaku, dasar bodoh.