
Suasana makan malam yang tenang di rumah Jojoe. Keluarga Joe terasa lengkap kali ini. Karena mama dan papa nya hadir di meja makan. Ya, mama dan papa Joe memutuskan pulang ke Indonesia untuk sementara waktu. Mengingat selama ini mereka tidak pernah ada waktu luang buat anak semata wayang mereka. Mereka selalu saja sibuk dengan urusan bisnis dan lebih banyak waktu untuk menetap di Singapura. Alhasil, membuat Joe besar di tangan Oma Manda, nenek jutek Joe yang sudah agak pikun tapi masih saja tegas dalam hal apapun. Berusaha terus menjaga Joe bahkan sampai di usianya yang sekarang menginjak 28 tahun.
Bisa di bilang Joe terlahir dari keluarga Sultan. Semua serba ada, rumah mewah berlantai 4 yang di lengkapi dengan lift. Perabotan mewah, mobil-mobil mewah, dan semua hal yang serba mewah. Tapi rupanya semua itu tak lantas membuat Joe cukup bahagia. Nyatanya sedari remaja Joe terkenal playboy cap kacang mente. Modal tampang bule dan harta berlimpah, Joe bisa pilih perempuan mana saja yang ingin dia mainkan. Meskipun hanya sebatas pacaran dan tidak lebih.
Sampai hatinya berlabuh pada Sun, gadis sebatang kara yang sederhana. Yang menopang hidup pada ibu dan saudara tirinya. Awalnya Joe tidak pernah menyangka hidupnya akan terlibat jauh pada sosok Sun. Sosok gadis yang sedikit jutek tapi selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya. Gadis yang membuat hati Joe bertekuk lutut dan mau melakukan apapun yang di katakan nya. Yang kini membuat Joe terjebak dalam hubungan tanpa cinta bersama Rain. Ya, Sun memang menduduki tahta permaisuri di hati Joe. Sehingga apapun akan ia lakukan demi perempuan kesayangannya, termasuk menjadi kekasih saudara tiri Sun.
Semua makanan lengkap tersedia di meja makan. Mama Joe duduk bersebelahan dengan papanya. Joe berada tepat di hadapan mereka. Sedangkan oma Manda duduk di kursi tengah. Kursi yang memang biasa di tempati orang tertua dan kehormatan.
"Gimana study kamu Joe? lancar?" tanya mama memecah kebisuan
"Biasa aja" jawab Joe ketus
Mama melirik ke arah papa Joe, memberi isyarat heran melihat sikap Joe yang selalu dingin pada orang tuanya.
"Kamu punya pacar Joe?" lanjut mamanya lagi
Joe terdiam, dia tidak menyahut, dan tetap melanjutkan makan.
"Pastilah anak papa kan keren masak gak punya pacar" sahut papa Joe terdengar seperti ingin mengajak Joe bergurau.
Tapi seperti percuma, Joe tidak menghiraukan omongan mereka.
"Joe itu bukan anak kecil lagi, apa yang di bangga kan kalo dia punya pacar? bangga itu kalo dia sukses" jawab oma Manda dengan nada sinisnya
Mama dan papa Joe terdiam. Mereka memang sangat menyegani oma Manda, karna semua bisnis yang mereka garap sekarang tidak lain adalah warisan suaminya. Opa Nugroho.
"Ya udah abisin Joe makannya, kapan lagi kamu makan masakan mama? enak kan?"
Di tengah kehangatan mereka saat menikmati makan malam, tiba-tiba saja terdengar suara pintu depan di gedor-gedor sangat keras. Semua orang yang berada di meja makan terkaget.
"Duh, siapa sih malam-malam gini gedor-gedor, mana gedornya udah kaya orang kesurupan lagi" gerutu mama
"Joe ... keluar kamu!" terdengar suara teriakan dengan nada amarah dari luar sana.
Mereka semua berdiri dan berjalan menuju ruang tamu. Sudah ada mama Melinda berdiri disana. Bersama suaminya, Sun, dan juga Rain. Joe bingung campur kaget melihat mereka datang dengan keadaan emosi seperti itu.
"Joe... Mereka ini siapa?" tanya mama Joe
Tapi dia tidak mendapatkan jawaban, Joe hanya diam.
"Bagus, mumpung kalian semua lagi ngumpul disini, aku mau kasih tau kalo anak kamu ini sudah menghamili anak ku"
Semua orang terperanjak kaget. Terutama Joe, awalnya Joe pikir Sun yang hamil.
"Sun??" ucap Joe kaget
"Yang bener Joe?" tanya mama Joe tidak percaya.
"Jawab Joe!!!" timpal papa Joe
"Suruh anak kamu tanggung jawab, atau aku laporin ke polisi" ancam mama Melinda
"Aduuuh gimana ini pa?" rengek mama Joe
Rain menangis dia mulai menunjukkan dramanya.
"Ma, Joe pelakunya ma, aku gak bohong" rengek Rain
Joe mengerutkan dahinya, dia merasa bingung siapa sebenarnya yang hamil?
"Tunggu dulu ini sebenarnya siapa yang hamil?" tanya Joe
"Siapa? kamu tanya siapa? kenapa kamu tanya gitu? ooowh karna kamu sudah tidurin semua anak saya ya" mama Melinda mulai berteriak kembali
"Joe kamu ini apaan sih, bikin malu aja" bisik papa Joe
"Gue Joe yang hamil, gue ... loe kan yang udah tidurin gue? loe gak usah bohong" Sahut Rain sambil terus menangis.
Joe tersudut, dia tidak bisa bicara apapun. Di tatapinya Sun yang sedari tadi diam seperti menunggu jawaban keluar dari mulut nya.
"Enggak!!! gue gak pernah tidur sama loe, loe bohong, loe jebak gue kan?" jawab Joe. Dia berusaha berkata jujur tapi tidak ada yang percaya. Tatapan Sun pun terlihat nanar.
"Tolong jujur nak, Rain ini pacar kamu siapa lagi yang bakal lakuin ini ke dia kalo bukan kamu" papa Farid mulai ikut bicara.
"Aku kasih kalian waktu buat berpikir, sampe besok, kalau besok kalian belum ambil keputusan aku bakal bawa masalah ini ke jalur hukum" tegas mama Melinda.
Mereka semua pergi meninggal kan rumah Joe. Tertinggal Sun di sana, menatapi Joe penuh tanya.
"Sun???" panggil Rain
"Kalian duluan aja, gue mau ngomong sama Joe"
Semua orang masuk kedalam mobil dan pulang. hanya Sun yang tersisa di sana. Sun berjalan keluar diikuti Joe di belakangnya.
"Sun..." Joe menarik tangan Sun.
"Loe percaya kan gue gak lakuin itu, gue gak pernah tidurin Rain"
Sun diam, dia hanya menatapi mata Joe, berusaha menemukan kebenaran disana. Tapi tidak ia temukan apapun kecuali duka.
"Siapa yang bisa menjamin loe gak nyentuh Rain? kalo loe bisa tidurin gue? loe bisa rusak kesucian gue? kenapa loe gak bisa lakuin itu ke Rain?" air matanya mulai tumpah.
Joe hanya bisa menarik nafas panjang, tidak tau harus bagaimana lagi menjelas kan pada Sun.
Sun berlari pergi, menuju pagar luar. Tapi Joe mengejarnya dan menahan Sun. Derasnya hujan malam itu menjadi saksi kesungguhan cinta mereka.
"Sun... " Joe memanggil dari arah belakang. Sun berhenti dan menoleh kearah Joe. Mereka berdiri saling berhadapan, berjarak sekitar 3 meter.
"Aku bersumpah, demi hujan yang turun membasahi bumi, demi petir yang membelah langit, demi cintaku yang murni... Aku hanya mencintai wanita yang ada di hadapanku ini, selamanya akan seperti itu. Dan aku tidak pernah menyentuh wanita lain, apalagi menodai"
Joe bersumpah sambil meletakkan telapak tangannya diatas ubun-ubunnya. Membuat Sun terharu dan merasa bersalah.
"Apa loe masih ngira gue bohong?" tanya Joe sambil membentangkan kedua tangannya. Menyediakan tempat pelukan buat kekasihnya.
Sambil menangis Sun menghampiri Joe. Menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Joe. Melarutkan semua masalahnya bersama air hujan. Sun kembali yakin, Joe tidak akan berbohong padanya. Mereka terus berpelukan di dinginnya malam. Tidak ingin melepaskan satu dan lainnya. Tidak ingin ada orang lain menghancurkan cinta mereka. Mereka ingin selalu bersama, seperti malam ini.