
Aku baru saja pulang dari toko. Membuka pintu rumah dan masuk. Sepi, tak ada seorangpun disini. Ruang tamu terlihat gelap. Hanya lampu dapur yang menyala. Memang selalu begitu, lampu-lampu rumah yang tidak terlalu terpakai sengaja dimatikan kalau malam. Tapi ku pikir apa ini gak terlalu cepat? ini baru jam 21.15 malam. Aku memang pulang agak cepat karna cuaca akhir-akhir ini kurang mendukung. Takut hujan dan macet, sehingga aku putuskan menutup toko lebih awal hari ini.
Aku berjalan ke dapur dan membuka kulkas barang kali ada yang bisa mengganjal perut laparku. Aaaah, hanya ada jus, snack, sayur-sayur mentah. Lalu ku buka lemari makanan, Tak ada apapun disana, hanya nasi hangat di pemanas nasi. Mau bikin mie instan rasanya malas sekali.
Akhirnya ku teguk saja segelas air putih lalu aku naik ke kamar. Langkah ku terhenti, tiba-tiba aku ingin menghampiri kamar bi Nur. Entah perasaan apa yang menuntun ku kesana. Tidak langsung membuka pintu kamarnya seperti biasa. Aku termangu berdiri di depan pintu dan mencoba mendengar suara yang samar-samar aku dengar. Seperti suara cekikikan perempuan yang tak asing di telingaku. Ya, suara Rain samar terdengar dari balik pintu kamar bi Nur.
Ini aneh karna hampir tidak pernah ku dapati saudara tiriku ini mangkir di kamar bi Nur. Tapi setelah ku dengar lebih jelas lagi ada suara laki-laki disana. Seperti sedang ngobrol pelan nyaris tak terdengar. Aku mengerutkan dahi, mencoba berpikir apa iya Rain membawa pacar barunya masuk rumah? tapi kenapa harus di kamar bi Nur? memang gak bisa di kamarnya, atau blak-blakan dia kenalkan dengan kami sambil ngobrol di ruang tamu? dan lalu dimana bi Nur?
Aku semakin bingung, aku buru-buru naik ke lantai atas dan menghampiri kamar Rain. Tapi saat ku buka, tak ada siapapun disana. Aku balik turun ke lantai bawah dan menuju kamar tamu. Dan lagi-lagi tak ada siapapun disana. Dimana sebenarnya bi Nur? atau dia ada dikamar yang sama dengan Rain?
Aku masuk kamarku dan coba menghubungi bi Nur. Lama, berulang kali dia tidak menjawab telponku. Saat aku scrol ponsel ku, aku melihat no mama, kenapa aku tidak coba hubungi dia? akhirnya ku sentuh no mama dan menghubungi nya.
"Ya Sun..." jawab mama dari jauh sana.
"Mama gak pulang?"
"Di bandung hujan Sun, mama bakal nginap disini"
"Sama papa kan?"
"Enggak, papa ada dirumah barusan mana telphone dia"
Jawaban mama mengagetkan ku, kenapa aku gak coba ke kamar papa tadi.
"Oh ya udah mama hati-hati ya"
"Kenapa Sun? di ruma baik-baik aja kan? kamu kedengaran panik?"
"Enggak ma, mama gak telphone Rain?"
"Enggak diangkat, Rin gak pernah hubungin mama sekarang kalo mama jauh, mama juga heran dia berubah banget"
"Ya udah, Sun tutup ya telphone nya"
Aku mematikan sambungan telphone ku. Sesaat aku berpikir, Rain memang sangat berubah sejak dia terang-terangan memergokiku berhubungan dekat dengan Joe. Dia selalu diam, gak pernah hubungi mama gak pernah hubungin Joe, apalagi aku, bertatap muka pun dia tak pernah menegurku. padahal kami tinggal di atap yang sama.
Tapi tadi, jelas-jelas aku mendengar suara Rain sedang tertawa. Apa pacar baru Rain bisa membuatnya bahagia. Tapi kenapa dia harus menutupi nya dari kami.
"Kreeek" terdengar suara pintu bi Nur terbuka.
Jelas aku melihat punggung laki-laki itu tegap dan lebih tinggi dari Rain. Rain yang di hadapannya nyaris tertutupi oleh besar badan laki-laki itu. Mereka saling berciuman mesra lalu berpelukan. Aku seperti tidak asing dengan postur tubuh pria itu. Dengan setelan kemeja biru navi, aku seperti pernah melihat nya.
Tidak terlalu lama. Usai berpelukan mesra Rain melangkah pergi. Aku cepat-cepat masuk kamar karna takut ketahuan mengintip. Tak lama aku mendengar pintu kamar Rain terbuka. Itu pasti Rain yang masuk kamarnya. Aku berlari menuju jendela kamarku yang mengarah langsung ke halaman depan. Aku berharap bisa melihat sekali lagi pria yang mengencani Rain keluar rumah. Tapi tidak ada seorangpun yang keluar dari pintu itu. Apa dia lewat pintu belakang? pikirku penuh tanya.
Aku turun tangga dan menuju pintu belakang. Ku temukan pintu itu terkunci. Dan kunci pintu belakang ini hanya bi Nur yang memegangnya. Apa mereka sekongkol dengan bi Nur ya?
Seseorang memegang pundakku. Sontak aku terkaget dan berbalik badan.
"Cari apa mbak?" tanya bi Nur
"Eeeh eeeh enggak" Aku seperti ketahuan maling, gak tau mau jawab apa
"Bi Nur dari mana dari tadi aku telphonin gak diangkat?"
"Bibi disuruh mbak Rain beliin dia rujak, aneh malam-malam kok kepengen rujak, bibi keliling gak tau mau cari kemana, dia bilang jangan pulang kalo gak dapet"
"Terus udah dapet?"
"Dapet mbak, tapi juaaaauh banget bibi sampe dimarahin ojek nya gara-gara diajak keliling, bibi sampe gak masak malem loh mbak maaf ya, mbak Sun laper ya makanya ke dapur?"
"Eh i... iya bi, gak papa entar aku bikin mie aja"
Aku semakin bingung. Untuk apa Rain minta rujak malam-malam begini? atau itu hanya alasan Rain supaya dia bisa pake kamar bi Nur buat ngedate? aku lalu teringat papa. Ku coba menuju kamarnya dan mengetuk pintu. Tak ada sahutan disana. Aku menerobos masuk dan tak ada papa di kamarnya. Aku menoleh ke arah kamar mandi, ada suara percikan air dari sana. Kurasa papa sedang mandi. Aku memutuskan keluar, tapi langkahku terhenti, mataku melirik ke kasur, aku melihat kemeja biru navi tergeletak disana. Kemeja yang sama seperti pria itu kenakan. Aku mulai berpikir hal aneh. Apa iya pria yang mengencani Rain adalah papa?
"Sun....!!"
Suara panggilan papa mengagetkan ku. Ku toleh dimana papa berdiri.
"Kenapa Sun? butuh sesuatu?" tanya nya
"Eh ... Enggak pa"
Aku gak mau terlibat percakapan panjang. Aku langsung keluar kamar papa tanpa berpamitan.
Aku menuju kamarku. Saat ku lewati kamar Rain yang persis berada di depan kamarku, aku melihat pintunya sedikit terbuka. Aku coba mengintip ke dalam nya. Aku melihat Rain sedang asik di atas ranjang tidur dengan handset di kepalanya. Dia mengangguk angguk menikmati alunan musik dari hp nya sambil melahap rujak pesanannya.
Ini aneh, Rain bukan pecinta buah asam. Dia bahkan paling tidak suka buah yang rasanya tidak manis. Awalnya aku pikir rujak itu hanya alibi agar dia bisa leluasa berada di kamar bi Nur. Tapi sekarang aku melihat nya melahap rujak itu seperti kucing baru dapat mangsanya.