
*****
Para Tamu undangan terlihat makin memenuhi acara birthday party Rain. Acaranya di adain di taman belakang dekat kolam renang. Biar terasa lebih santai dan lebih leluasa juga. Tamu undangan kebanyakan temen-temen kampus Rain, temen-temen kantor Tante Melinda dan beberapa tetangga komplek.
Rain keliatan cantik banget dengan gaun putih nya, bertabur mutiara silver di sekitar dada. Rambutnya di biarkan terurai panjang dengan jepit mutiara yang terselip di samping telinganya. Aku?? aku gak punya banyak koleksi baju. Aku selalu pake dress merah selutut andalan ku. aku juga paling males menata rambut, jadi aku biar kan aja terurai dengan selipan jepit polos sederhana.
Semua tamu yang hadir terlihat banyak membawa kado. Mereka meletakkan nya di samping sebuah panggung kecil di sudut taman. Tante Melinda sibuk menyalami orang-orang yang datang. Para ibu-ibu sosialita dengan gaun-gaun mewah dan barang-barang Branded.
Rain terlihat celingak-celinguk sambil meminum jus orange nya. Dia pasti sedang menunggu Jojoe. Tuhaaan!! aku berharap Jojoe gak akan datang. Mudahan aja hujan atau ban mobilnya bocor. Aku gak siap melihat drama yang akan terjadi malam ini.
Sama seperti ulang tahun Rain yang sebelumnya Gak ada satu orang pun yang menyapaku, Rain pun gak pernah mencoba mengenal kan ku pada teman-temannya, entah karna alasan apa. Mungkin dia bingung jika harus menjelas kan aku ini siapa. Jadi akupun duduk sendiri di bangku taman yang agak jauh dari keramaian. Sambil sesekali membantu Bi Nur yang kadang terlihat kewalahan melayani Tamu undangan.
Pukul 21.00, acara belum juga di mulai. Rain seperti menunda-nunda acara tiup lilin dan bagi-bagi doorprice. Ia sangat menanti kehadiran Tamu istimewanya. Tapi Jojoe, pacar barunya itu belum juga terlihat batang hidungnya. Rain terlihat memencet-mencet ponselnya. Sepertinya dia berusaha menghubungi Jojoe. Tapi tak ada hasil.
Akhirnya acarapun di mulai tanpa kehadiran Jojoe. Salah seorang temen kampus Rain naik ke atas panggung, mengetuk ngetuk microfon, memastiakan apa kah berfungsi atau tidak
"Malam gaaaais!! happy gak si di undang cewe terpopuler di kampus kita?"
"Happy dooong," serentak temen-temen kampus Rain menjawab.
"Happy dong ya!! Kalian mau kasi apa ni buat princess kita malam hari ini?"
"Ceplokin telor tuh," salah seorang temen Rain terdengar menyahut, di ikuti gelak tawa yang lainnya.
"Jangan dong!! kasian, masa udah cantik gini di ceplokin teloor, emangnya teplon haha."
Tapi raut wajah Rain tak terlihat begitu senang. Senyumnya terlihat di paksakan.
"Rain mana pangeran loe masa udah cantik jomblo?" sindir sang presenter bergaun hitam.
Rain hanya membalas dengan senyuman.
"Waaah kayanya beneran jomblo gaiss?"
"hahahaha...." Riuh gelak tawa para Tamu undangan menggema, tapi sepertinya itu tak bisa mengubah suasana hati Rain yang sedang gelisah.
"Ya udah kita tiup lilin aja ya," ajak nya
Semua temen Rain melingkari kue tart berwarna senada dengan gaun Rain. Bersusun 3. Mereka bersama-sama menyanyikan lagu Ulang Tahun. Aku hanya memandangi dari jauh, selalu begitu. Aku melihat Rain memberikan potongan kue pertamanya untuk Tante Melinda. Aku kadang berpikir, kapan aku berada di posisi itu. Bertepuk tangan bersama orang-orang yang menyayangi ku, meniup lilin lalu memotong kue, menerima banyak ucapan selamat dan kado, aku benar-benar iri pada Rain.
Tak terasa air mataku mengalir, rasanya tak bisa aku halangi lagi. Airnya terus mengalir sampai cairan di hidung ku terasa penuh. Seseorang menyerah kan selembar tisu. Aku mengambilnya lalu mengeluarkan semua cairan di hidungku.
"Srooooooot...."
Aaaah ternyata Bi Nur. Aku pikir tadi Jojoe.
Aku tersenyum.
"Sudah neng, Tuhan itu Maha Adil, Tuhan sudah menyiapkan sendiri kebahagiaan untuk eneng."
Ucapannya sedikit menenang kan ku. Benar, Tuhan pasti sudah menyiapkan kebahagiaan itu, aku hanya tinggal menunggunya.
Suara musik dance berdentum keras. Rain dan teman-temannya berjoget bahagia, sebagian ada yang menari di atas panggung, sebagian ada yang di pinggir kolam renang, sebagian yang lain terlihat menyantap hidangan. Mereka sibuk dengan kesenangannya masing-masing.
Seseorang memelukku dari belakang. Tangannya terasa hangat.
"Happy birthday Sun!!" ucap nya lembut di telingaku.
Aku terhentak mendengar suara itu. Jojoe, yaa, itu suara Jojoe. Tuhaaaan!! apa-apaan ini? musibah apa yang kau kirim padaku malam ini. Aku berbalik, wajah ku pucat saat melihat Jojoe memakai jas berwarna cream dengan dalaman kemeja putih. Ia mencium punggung tangan ku mesra.
"I love you" ucapnya
Jantungku makin berpacu kencang. Jojoe memberiku kotak kecil berwarna merah maroon. Aku bisa menebaknya, itu pasti perhiasan atau semacam nya. Waktu terasa berhenti, kaki ku tak bisa merasakan apapun. Aku merasa seperti melayang.
Jojoe membukakan kotak itu untukku, benar saja, isinya cincin bertahta intan berwarna merah mawar. Cantik sekali, gumamku. Ia berlutut di hadapan ku lalu memakaikan cincin itu di jari manisku. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku pasrah dan menerima semua perlakuan Jojoe terhadapku.
"Will you marry me? Sun!!"
Apa?? apa?? apa aku mimpi? apa aku gak salah dengar? Jojoe melamarku ??
"Pyaaaar..."
Suara sesuatu yang pecah terdengar keras. Musik dance tiba-tiba mati. Semua Tamu berhenti bergoyang. Suasana seketika hening. Aku menoleh ke belakang, Ada Rain disana, berdiri tepat di pinggir kolam renang, sedang terpaku menatapku dan Jojoe. Matanya berkaca-kaca. Segelas jus telah jatuh tepat di bawah kakinya. Pecahan kacanya berserakan kemana-mana.
"Ra...Rain!!" bisikku
Aku lihat tubuh Rain melemah. Ia seperti tak bisa menahan sesuatu. Tangannya memegangi dada, kakinya mundur selangkah dua langkah dengan tertatih. Lalu aku dan semua para Tamu melihat tubuh Rain jatuh ke kolam renang dengan lemah. Ia pingsan dan tenggelam ke dalam air. Semua orang teriak histeris, terutama Tante Melinda. Ada seorang penjaga yang ikut mencebur ke kolam untuk menolong Rain. Tante Melinda tidak berhenti menangis. Suasana berubah ricuh dan panik. Akupun ikut berlari menghampiri Rain, meninggal kan Jojoe yang masih bingung dengan semua ini.
Aku mendekati Rain yang terbaring dengan wajahnya yang pucar.
"Rain!!! loe gak papa"
Aku menggoyangkan tubuh Rain. Memastikan agar dia masih bisa sadar. Tapi tubuh ku di hempas dari kerumunan oleh Tante Melinda. Ia pasti mengira ini semua salah ku.