SUN

SUN
Bab 25


*****


Aku memandangi cermin besar yang berada di sudut kamar. Menatap sosok diriku sendiri. Mengasihani wajah polos dan dungu ini.


Seandainya dulu aku tidak menggantikan posisi Rain untuk menjadi pacar palsu Joe, rasa ini tak akan pernah tumbuh. Kalau saja aku bisa membatasi diri agar perasaan ini tidak terlalu jauh mencintai Joe, pasti hari ini aku tidak akan merasakan perihnya dihianati.


Tidak, ini kemauan ku ini keputusan ku. Aku harus siap menerima Joe bersanding dengan Rain. Demi bayi itu, bayi tidak berdosa itu, yang nasib nya hampir sama denganku, hadir tanpa hubungan sah orang tuanya.


Kalaupun nanti akhirnya Joe benar-benar mencintai Rain, aku pun harus siap. Aaaaah, aku menghela nafas panjang. Berusaha agar air mata ini tidak jatuh menghapus rona merah di pipiku. Aku harus terlihat cantik dan tegar hari ini.


"Mbak!! tamu udah datang, udah pada kumpul di bawah."


Suara bi Nur terdengar dari belakang punggungku. Aku bisa melihat pantulan wajahnya dari cermin.


"Iya bi, duluan aja, nanti aku nyusul."


*****


Aku menuruni satu persatu anak tangga. Kaki ku terasa dingin, jantungku berdebar kencang, aku tak bisa menahan perih ini. Tidak, aku pasti bisa tegar. Menatap Joe yang duduk di sofa ruang tamu, hatiku hancur. Cintaku ada disana tapi bukan untukku.


Rain melempar senyum padaku. Aku tahu dia sedang bahagia. Bahkan mungkin saja kali ini dia merasa menang dan bangga bisa mengambil Joe dari pelukanku.


Aku duduk disamping mama. Melewati satu persatu sesi lamaran yang aku tidak mau tau apa. tujuanku berada disana hanya agar bisa melihat kekasihku. Tersenyum padaku, mungkin untuk terakhir sebelum dia benar-benar menjadi milik saudaraku.


"Ayok di santap!!"


Bi Nur menuangkan jus orange ke gelas-gelas sambil mempersilahkan para tamu.


Aku bahkan tidak sadar sesi lamaran Joe sudah selesai. Dengan mahar apa atau pada tanggal berapa aku tidak dengar. Itu karena pikiranku melayang entah kemana.


"Ini Sun ya? saudara nya Rain?" tanya nyonya Jenny terlihat basa basi.


"Iya ini anak bungsu saya," jawab mama sambil memegang kedua bahuku.


"Cantik ya, tapi gak mirip sama Rain?" lanjut nyonya Jenny yang semakin terdengar gak penting.


"Iya Sun ini mirip banget sama papa nya, matanya, wajahnya, hatinya, semua mirip."


Jawaban mama terasa menyudutkan ku. Entah apa maksudnya memberi jawaban seperti itu.


"Joe kamu kok diam aja sih, itu loh Rain di ajak ngobrol dong," kembali nyonya Jenny terdengar basa basi.


Joe hanya diam, tidak menjawab.


"Joe, kamu kelihatan gak bahagia. Ini kan perbuatanmu, yah kamu harus tanggung jawab dong, terima konsekuensi nya."


Apa??? barusan aku dengar apa?? jawaban papa Farid yang lebih pantas ku panggil ******** ini terdengar sangat tidak masuk akal. Sangat terlihat dia ingin menutupi kebusukannya. Jelas-jelas dia yang menodai Rain, lalu dengan tenang dia menuduh Joe.


Gumamku dalam hati sambil tersenyum sinis. Rain ternyata melihat aksiku. Dia terdiam merasa bersalah karena telah menjadikan hubungan ku dan Joe sebagai tumbal kesalahan mereka. Dan aku ingin membuatnya semakin merasa bersalah dengan pamit untuk kembali ke kamar. Aku beralasan kurang enak badan. Rain pun memasang wajah khawatir. Entah benar-benar khawatir atau lagi-lagi hanya drama klasik.


"Kamu gak papa Sun?" tanya mama.


Aku hanya menggeleng pelan. Meninggalkan kerumunan menyedihkan itu dan naik ke lantai atas.


Sampai di kamar aku langsung menghambur ke tempat tidur. Menutupi wajahku dengan bantal lalu menangis sekencang yang aku bisa tanpa harus terdengar siapapun. Siapa yang peduli dengan perasaanku? aku hanya boneka di keluarga ini. Harus mengikuti aturan lalu berkorban jika di perlukan. Sangat menyedihkan. Harus seberat inikah aku menerima karma mama dan papa kandungku?


Airmata ku tak hentinya mengalir. Sampai membasahi hampir separuh bantal. Aku tertidur tanpa sadar. Sangat pulas, tidak ingat apapun, tidak merasakan apapun.


Sampai sebuah ketukan keras membangun kan ku. Padahal pintu kamar sengaja ku kunci agar tidak ada yang bisa mengganggu ku.


Tok tok


Kembali pintu kamar ku di ketuk. Akhirnya dengan sangat malas aku melangkah membuka pintu. Dan tanpa menghiraukan siapa yang datang, aku langsung kembali ke kasur dengan lunglai.


"Sun, loe udah baikan?"


Sudah ku duga pasti saudara tiriku yang datang. Aku diam, aku merasa pertanyaan itu tidak perlu ku jawab.


"Gue bawain obat nih."


Dia menyerahkan kotak obat padaku. Ku ambil dengan tanpa mengatakan apapun.


"Loe pasti sedih banget ya karena gue udah ambil Joe dari loe, tapi kan gue janji setelah anak ini lahir gue bakalan cerai sama Joe."


Aku menatap Rain dengan wajah penuh kesal.


"Loe bisa gak? gak usah bahas itu berulang-ulang?" tanyaku.


"Eh, Sun liat deh tadi mama nya Joe kasih gue kalung ini, cantik deh katanya ini kalung hadiah dari papanya Joe waktu mereka masih pacaran, nyonya Jenny baik banget, kayanya dia suka sama gue."


Sambil menunjukkan kalung bertahta berlian mungil di lehernya, dia bercerita tanpa dosa. Entah karena alasan apa dia bicara seperti itu. Ingin mengalihkan pembicaraan atau ingin membuat ku semakin kesal.


"Bodo amat!!" jawab ku singkat.


Aku langsung telungkup membelakangi Rain.


"Jangan lupa tutup pintu."


Aku mengusir Rain dengan halus. Rain beranjak pergi. Menutup pintu dari luar sana.


Sialan, Rain makin gak punya hati


Aku menggerutu tiada henti. Sambil kembali meneteskan air mata aku terus memejamkan mataku. Sampai kembali tertidur.