
*****
Ku buka mata, cahaya matahari pagi menyilaukan mataku. Menyorot lurus dari arah jendela kamarku. Entah ini sudah hari keberapa sejak lamaran Rain di gelar. Semua orang hanya sibuk mempersiapkan pernikahan Rain yang akupun tak tau kapan akan berlangsung. Tepatnya tak mau tau.
Sejak hari itu aku hanya mengurung diri di kamar. Tidak pernah pergi mengurus toko. Bahkan untuk keluar ke dapur mengisi perut pun, aku enggan. Mama tak pernah bertandang ke kamarku, walau hanya untuk menanyakan kabarku. Ia terlihat sibuk bekerja lalu ikut sibuk mempersiapkan pernikahan anak semata wayangnya. Itu yang ku dengar dari bi Nur. Ya, hanya bi Nur yang rajin menemuiku dan menyiapkan makanan untukku. Meskipun terkadang makanan itu tak pernah ku sentuh atau hanya sesendok ku santap.
Aku sering mendengar bi Nur bercerita bahwa hampir setiap hari Nyonya Jenny datang menemui Rain. Dengan membawa barang-barang perlengkapan dan hadiah-hadiah untuk calon menantunya. Nyonya Jenny terlihat menyayangi Rain. Dan hal itu pula yang membuatku semakin malas untuk meninggalkan kamarku. Lalu melihat drama yang sudah pasti akan membuat ku semakin sakit hati.
Kliiiing
Ponselku lagi-lagi bergetar. Entah sudah yang ke berapa kalinya. Mungkin sudah ratusan atau ribuan kali. Itu dari Joe, sejak hari pernikahan mereka diputuskan, dia selalu saja menelphone ku tapi tak pernah ku angkat. Mengirimku berbagai chat dan hanya ku baca saja tanpa ku hiraukan. buat apa? toh nantinya dia akan menjadi milik Rain. Meskipun dia berjanji pernikahan itu hanya untuk sementara. Siapa yang menjamin Joe tidak akan benar-benar mencintai Rain.
Tok tok
Suara pintu kamarku di ketok. Itu pasti bi Nur, ini memang jam sarapan pagi ku. Aaah seperti nya hari ini aku akan makan banyak. menjalani hari-hari yang berat ternyata sangat melelahkan.
Tapi kemudian aku terbelalak karna yang muncul dari balik pintu bukanlah bi Nur. Melainkan si bejat yang membuat cintaku hancur.
"Om Farid?" ucapku lirih.
Dia tersenyum padaku sambil membawa nampan berisikan sarapan untukku. Tapi aku membuang mukaku. Aku merasa sangat kesal melihat wajahnya.
"Pagi Sun? ni papa bawain sarapan buat kamu."
Dia meletakkan sarapan itu di meja samping ranjangku.
"Kok om yang antar? bi Nur mana?" tanyaku.
"Eeeem dia ke pasar."
Jawaban itu terkesan di buat-buat. Bi Nur tidak pernah sesiang ini pergi ke pasar. Biasanya subuh, setelah orang selesai sholat subuh. Tapi aku tidak menjawab, aku diam dan menunggu dia keluar.
"Kamu pasti sedih banget dengan pernikahan ini, apalagi mama mu terlihat acuh dan lebih peduli pada Rain."
Apa maksud perkataan orang ini?
"Sun..."
******** itu mengelus kepalaku. Dengan cepat aku menghempas tangannya dan bergeser mengambil jarak.
"Mendingan om keluar deh." Ucap ku ketus.
Pria itu malah mendekat dan meraih tanganku.
"Sun, papamu ini siap mengisi hatimu yang sepi itu, jangan takut aku tidak akan menyakitimu."
Aku melepaskan genggaman tangannya dengan paksa.
"Om, aku bukan Rain yang bisa om tipu. Kamu pikir aku gak tau siapa yang sebenarnya menghamili Rain? hah..." Bentakku.
"Terus kenapa? kamu bisa apa? buktinya sekalipun kamu tau kamu gak bisa apa-apa kan? cuma bisa mengalah dan menyerahkan kebahagiaan mu?"
Aku terdiam. Mengambil langkah mundur dan berusaha kabur melalui pintu. Sial, pria tua itu mengunci pintunya.
"Mau lari Sun? percuma di sini gak ada orang. Bi Nur ke pasar, Rain pergi dengan calon mertuanya, dan mama kamu yang bodoh itu sibuk mencari uang."
Aku semakin takut. Di tambah pakaian ku masih sangat minim karna baru bangun tidur. Aku takut nafsu di tua bangka ini semakin naik dan berbuat nekat padaku.
Dia memegang kedua bahuku dan lalu menghempas ku ke tempat tidur dengan keras. Aku terbaring disana tanpa bisa melawan. Sebelum aku bisa bangun, pria ******** itu telah berada di atas ku. Wajahnya tepat di hadapanku.
Tubuhku bergetar, kakiku terasa dingin, jantungku berdegup kencang.
"Apa bedanya aku dengan Joe? jika kamu sudah tidak perawan, maka semua laki-laki bisa menidurimu."
benar-benar ******** kelas kakap. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Aku terus berusaha melawan. Tapi semakin aku melawan, laki-laki ini semakin kuat mencengkeram tanganku.
Ku lirik ponselku yang tergeletak tidak jauh dari ku. Terus berdering tanpa suara, panggilan dari Joe. Kupikir mungkin ini satu-satunya cara agar bisa lolos.
Dengan kuat aku menendang om Farid tepat di selakangannya. Dia tergempas sambil berteriak kesakitan. buru-buru aku meraih ponselku dan mengangkat telphone dari Joe.
"Tolongin gue Joe, tolongin gue, gue dirumah...."
belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, om Farid merampas ponselku dan membantingnya ke lantai.
"Sun... Sun," suara Joe terdengar memanggil dari ponselku sebelum akhirnya ******** itu menginjak-injak ponselku sampai remuk.
"Rupanya kamu liar juga ya?" ucapnya sambil menjambak rambut panjangku dan menarikku ke atas ranjang.
Aku berusaha lolos dan mengambil botol parfum berbahan kaca di meja riasku. Memukulnya tepat mengenai pelipisnya. Darah mengalir dari sana. Wajah om Farid semakin terlihat marah.
Aku berlari ke arah jendela dan berusaha kabur lewat jendela yang tinggi di lantai dua ini. Tapi om Farid menarik baju belakangku dan lagi-lagi menghempasku ke arah kasur.
"Cukup Sun, gak ada gunanya melawan, kamu malah akan tersakiti. Ayo nikmati saja."
Dia merobek lengan bajuku. sampai aku telanjang dada. Aku menangis ketakutan tanpa suara.
"Cup, cup, jangan takut sayang."
Kemudian dia membuka paksa seluruh bajuku. Hanya tinggal bra merah maroon yang tersisa di dadaku.
"Kamu lebih seksi dari pada Rain ya? pantas saja Joe lebih menyukaimu."
Kemudian dia mencium paksa bibirku. Aku berusaha mendorongnya tapi tidak cukup kuat. Aku kembali menendang selakangannya. Dan dia pun terhempas menabrak meja rias. Aku berlari menuju sudut ruangan. Tidak tau harus lari kemana lagi.
"Kamu suka cara kasar ya? oke aku juga bisa!!"
Dia menghampiriku dan menjambak rambutku.
"Kamu yang mau cara ini kan sayang?"
Dubraaaak
Suara pintu kamar ku di dobrak. Aku melihat Joe ada disana. Dia menarik kerah baju om Farid dan mendorongnya ke lantai. Joe mengambil selimut dan menutupi tubuhku.
Om Farid berdiri dan berusaha kembali melawan tapi kemudian ada beberapa polisi masuk dan menahan om Farid. Aku terkejut dan menatap Joe. Joe memelukku berusaha menenangkan ku.
Para polisi itu membawa om Farid ke kantor polisi.
"Loe gak papa kan?" tanya Joe.
Aku hanya diam dan menangis di bahunya.