SUN

SUN
Bab 3


*****


Aku seperti tak ingin membuka mata pagi ini, aku tak mau melihat Jojoe berkencan dengan Rain. Aku seperti tak siap. Tapi aku tetap bangun dan berusaha melanjutkan aktifitas seperti biasa.


Saat aku keluar kamar, aku dapati rumah sepi, tak ada Tante Melinda yang menyiapkan sarapan seperti setiap harinya. Tak ada suara cempreng Rain yang berisik mengisi rumah. Aku bingung semua orang kemana. Lalu aku bertanya pada Bi Nur, Asisten rumah kami yang terlihat sibuk menjemur baju di samping rumah.


"Bi!! orang-orang pada kemana ya?"


"Loh?? mbak Sun gak tau to tadi malam kan mbak Rain di larikan ke Rumah Sakit."


"Apah?? loh kenapa?? aku gak tau."


"Tipes nya kambuh mbak, dia kecapean tugas kuliahnya numpuk."


Aku buru-buru mengendarai Scuter Matic ku dan menuju Rumah Sakit.


Sampai disana, aku tanya Suster dimana ruangan Rain Kusuma. Setelah Suster menunjukkan nya aku langsung menuju ruangan itu.


Aku gak langsung masuk, aku lihat dari kaca pintu kamar, Tante Melinda mengelus kepala Rain yang lagi tidur pulas.


"Jangan sakit terus nak!! mama sedih liatnya, kamu penyemangat mama selama ini, biar mama aja yang sakit gak papa asal jangan kamu yaa."


Tante Melinda berbicara sambil meneteskan air matanya. Aku ngerasa sangat bersalah, dia pasti menjalani hari-hari yang berat selama ini, hanya saja selalu ia tutupi dengan sikap jutek dan cerewet nya.


Aku terkaget saat tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku melihat Tante Melinda berdiri di sana dengan mata sembab. Ia keluar kamar tanpa menghiraukan aku. Aku gak punya waktu untuk kebawa perasaan sama perlakuan Tante Melinda. Aku langsung masuk kamar dan melihat Rain udah sadar.


"Loe kok bisa sih sakit gak ngabarin gue," gerutuku.


"Iya sorry Sun, tadi malam tuh tiba- tiba banget gue pusing mual ternyata tipes gue kambuh."


"Iya makanyaa loe itu jaga kesehatan, loe kebanyakan ngurusin gebetan sii."


"Apaan sih gak gitu juga kali, eh Sun bantuin gue dong."


"Apaan lagi?"


"Loe kan tau hari ni gue mau ngedate ama Jojoe, ini kencan pertama gue Sun, gue gak mau batalin."


"Gak gak gak ... !! loe pasti mau nyuruh gue gantiin loe kan? enggak !! pokoknya gak bilang aja loe lagi sakit."


"Sun .. ayolaah pliss bantuin gue, gue gak mau kecewain dia."


Sebenernya aku gak mau bantuin Rain bukan karna aku keberatan menjadi dirinya. Aku cuma gak mau perasaan ku ke Jojoe semakin dalam dan terus berlarut.


"Iya deh , kapan? dimana? "


"Hihi makasih ya, di taman pinggir pantai jam 5 sore."


"Tapi sekali ini aja ya, abis ini loe harus jujur ama dia kalo yang selama ini ngedate sama dia, chat sama dia, itu elo bukan gue."


"Siap bosss..."


Gak tau aku harus senang atau sedih dengan situasi ini. Situasi yang memaksa ku terhimpit dan menjadi orang ke3, aku seperti menjadi pembantu untuk hubungan Rain dan Jojoe padahal aku lah duri dalam hubungan mereka, sayangnya aku sendiripun gak bisa menghentikan perasaanku pada Jojoe.


*****


17.15, saat aku sampai di pinggiran pantai berpasir putih. Cahaya senja yang terlihat jingga melukis langit sore itu.


Mataku terpaku menatapi ombak lautan dari kejauhan. Tanganku berpangku di pagar jembatan panjang dermaga pantai.


"Sun ?....."


Seseorang memanggil namaku, aku berbalik, wajahku langsung merona merah, hatiku bergetar gak karuan. Senyum itu, senyum yang membuatku tak bisa tidur setiap malam.


"Jojoe?" sapaku sedikit gugup.


"Udah lama?"


"Gak juga ..."


"Aku pikir kamu gak bakal datang."


"Kenapa?"


"Abis kamu keliatan jutek, dan gak merespon semua kado ku."


"Oooh..."


"Kamu seperti orang yang berbeda ya?"


"Maksudnya?"


"Kalo di chat kamu periang banget paling banyak nanya paling suka cerita dan kasih perhatian, tapi pas aku liat langsung, kamu kelem."


Aku hanya tersenyum mendengar itu, kami memanglah orang yang berbeda.


"Kamu suka yang mana, aku yang nyata atau aku yang di chatting?"


Entah kenapa aku menanyakan itu pada Jojoe, aku seperti ingin membandingkan antara aku dan Rain.


"Aku suka kamu yang nyata, aku suka senyummu, aku suka sikap kalem tapi humorismu aku suka kamu."


Jawaban itu membuat ku semakin percaya bahwa Jojoe benar-benar menyukaiku.


*****


Malam, setibanya di rumah aku cepat-cepat masuk kamar. Hati ku benar-benar bahagia, baru kali ini aku merasakan jatuh cinta. Ternyata begini rasanya. Aku meraih pulpen dan Diary pemberian Jojoe dan menulis tanggal jadian kita, aku menulis semua perasaan ku disana, kencan ku terasa sangat menyenangkan. Baru kali ini selama hidupku aku merasa benar benar bahagia.


Bunyi ketokan pintu mengaget kan ku. Aku cepat-cepat menyimpan Diary ku dan membuka pintu. Ada Rain berdiri disana.


"Eh Rain??"


"Gimana kencannya? pasti menyenangkan kan?"


Aku menggaruk kepalaku,


"Biasa aja sih sama aja kaya gebetan loe yang lainnya, inikan bukan pertama kalinya gue gantiin kencan loe."


"Iya tapi Jojoe itu istimewa, di hati gue jadi gue pastiin kalo loe gak bakal ngecewain dia."


"Iya iyaaa gak kok."


"Gue jadi gak sabar mau ketemu langsung ama dia dan bilang kalo gue yang selama ini chatt dia."


Mendengar perkataan Rain aku sangat sedih, hatiku sangat sesak, aku merasa seperti Rain akan mengambil Jojoe dariku.