
*****
Sun sudah tidak sadar apa yang terjadi padanya semalam. Yang ia tau pagi ini, ketika ia terbangun, ia sudah berada di atas tempat tidur yang empuk lengkap dengan selimut tebal yang nyaman. Sedangkan pria sok pintar yang menolongnya, berbaring di sofa. Dia masih tertidur disana dengan mulut setengah menganga, dengan celana pendek yang membuat penampilan cool nya kini terlihat sedikit konyol.
Kliiiik
Suara pintu apartement di buka dengan menggunakan kode. Siapa yang tau kode pasword apartement Jasen selain dirinya sendiri? Sun panik, takut kalau saja yang datang adalah pacar Jasen, atau siapapun yang tidak bisa menerima keberadaannya disini.
Seorang wanita gemuk agak pendek dengan kulit kecoklatan muncul dari balik pintu. Ia terlihat modis dengan turban di kepalanya dan setelan blezer yang anggun. Menatap Sun yang masih duduk di atas kasur dengan sorot mata penuh tanya.
"Jaseen..." Panggilnya.
laki-laki yang di panggil Jasen itu masih saja tidak bergeming.
"Hellow Jasen... bangun dong ini udah jam berapa?" lanjutnya.
Jasen tersentak, spontan berdiri karna terkaget. Sambil mengusap-usap kedua matanya, dia berusaha melihat siapa yang baru saja datang dan membangunkan mimpinya yang mungkin saja lebih indah dari pada hidupnya.
"Huuuft tante, ini masih pagi," keluhnya.
"Jasen ini udah jam delapan, kamu harus siap-siap dan offair di hotel mewah," jelasnya.
"Oke... lima menit lagi ya."
"No, no, no," wanita yang di panggil tante tadi menyeret Jasen menuju kamar mandi.
Sun hanya tersenyum melihat drama pagi ini. Ternyata lelaki yang sok pintar dan sok kaya ini bisa juga terlihat takut.
"And you? who are you, hah?" tanya nya kepada Sun.
Sun beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri wanita yang berdiri tepat di hadapannya.
"Saya Sun, tante," Sun menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Wanita tadi menyahut tangan Sun.
"Kamu pacarnya Jasen?"
"Bukan tante, semalam Jasen gak sengaja menabrakku, jadi dia membawaku kesini untuk di obati."
"Oke, aku Airin, tante sekaligus maneger Jasen, kamu gak sedang pura-pura ketabrak kan? soalnya kalo iya, kamu mungkin orang ke seratus yang melakukan itu kepada Jasen."
Sun menggeleng pelan. Dia mulai berpikir kalau Jasen tidak salah memperlakukannya kurang menyenangkan tadi malam, pasalnya sudah banyak orang yang menipunya hanya agar bisa mendapatkan uang atau agar bisa bertemu sosok idolanya.
"Rumah kamu dimana?" lanjut tante Airin.
Sun hanya diam, dia tidak tau harus menjawab apa. Terlebih dia baru saja di usir oleh mama tirinya. Tentu saja dia tidak mungkin menceritakan hal itu pada orang-orang yang baru dia kenal ini.
Belum sempat Sun memberikan penjelasan, Jasen keluar dari kamar mandi.
Tante Airin mengambil setelan baju dari dalam lemari. Dan menyodorkannya pada Jasen.
"Hari ini kamu pake ini, make up nanti biar orang lokasi yang beresin," jelasnya.
"Okeee."
"Tante tunggu di mobil ya."
"Beresin fans kamu ini," bisiknya di telinga Jasen, lalu pergi.
"Loe gak papa kan di sini sendiri? ada makanan di kulkas kamu masak aja sendiri oke, mungkin gue pulang agak malem," ucap Jasen.
Sun hanya mengangguk.
"Jangan lupa abis gue pulang loe harus cerita ke gue siapa loe, dan kenapa loe bawa-bawa koper ini, atau loe harus angkat kaki dari sini, karna gue gak mau nampung orang yang gak jelas asal usul nya."
*****
"loe udah cerita ama nyokap loe?"
sebuah pesan chat masuk di ponsel Rain. Rain yang duduk di sofa ruang tamu hanya membaca pesan dari calon suaminya itu. Dia benar-benar bingung harus berbuat apa. Tapi untuk kali ini dia akan menuruti permintaan Joe, dia takut kalau Joe akan meninggalkannya jika dia tidak melakukan kemauan Joe.
Nyonya Melinda terlihat siap bekerja. Dia melewati Rain yang tengah duduk sendiri di sofa ruang tamu.
"Ma..." Panggil Rain.
"Ya???"
"Rain mau ngomong sesuatu."
Melinda mendekati anaknya itu dan mengambil tempat disampingnya.
"Mau ngomong apa?"
"Tapi mama janji setelah mama dengar ini, gak akan ada yang berubah."
"Maksudnya? mau ngomong apa sih?"
"Ini tentang om Farid."
"Okeee..."
"Sebenernya, eeeem sebenernya apa yang di katakan Sun tentang om Farid itu bener."
"Mama, gak ngerti kenapa kamu bisa ngomong kaya gitu, om Farid itu suami mama, papa kamu, Rin."
"Tapi bener ma."
"Kamu gak lagi berusaha menutupi kesalahan Sun kan? oke cukup mama udah telat," Melinda beranjak pergi, berusaha tidak menghiraukan penjelasan Rain.
"Ma, mama gak peduli karna itu menimpa Sun, bagaimana kalau mama tau itu menimpa aku juga, ma?"
Melinda berhenti, menoleh ke arah Rain yang juga sudah berdiri di belakangnya.
"Mama makin gak ngerti."
"Rain mengandung anak om Farid ma," ucapnya tertatih, menahan tangis, sambil memegangi perutnya.
Melinda tercengang, hanya diam disana tanpa bicara apapun.
"Apa??"
"Om Farid yang sebenernya sudah menodaiku ma, sampai aku hamil. Sun hanya mengalah dan merelakan Joe menikahiku karna dia gak mau melukai hati mama kalau mama tau yang sebenernya."
Melinda menggeleng tak percaya. Dia memegangi dadanya sambil perlahan terduduk di sofa. Kaki nya bergetar dan tubuhnya lunglai mendengar penjelasan anaknya yang tidak bisa ia percaya itu.
"Jadi, Sun gak salah?" tanya Melinda sambil berurai air mata.
"Enggak ma."
"Kenapa kamu gak bilang dari awal?"
"Rin cari waktu yang tepat ma, mama kelihatan emosi malam itu."
"Teruss sekarang Sun dimana, apa yang terjadi padanya, mama harus cari dia kemana?"
"Kita cari Sun sama-sama ya ma, mama tenang."
"Laki-laki itu benar-benar ********. Bisa-bisa nya dia menipuku, dia harus mendekam disana, di penjara," hardik melinda.