Go Back To You

Go Back To You
BAB 8


Sheren sudah sampai di cafe dan bertemu dengan papi nya, tapi dari tadi mereka menunggu, belum terlihat tanda-tanda pak Kuncoro datang.


" pii..,, kita udah hampir setengah jam low nunggu! kok om Kuncoro belum dateng juga? " tanya Sheren


" sebentar lagi Ren...,, sabar ya " jawab papi lembut


Tak berselang lama mobil Abimanyu terparkir di depan cafe. Dia membantu papa nya turun dari mobil dan menggandengnya masuk ke cafe.


Sheren mengerutkan keningnya. Seingat dia tadi papi nya mengajak dia bertemu dengan pak Kuncoro dan tidak bilang kalau ada Abimanyu juga.


" harusnya kamu undang sayang ke rumah mu kuncoro..., kamu ini masih tahap penyembuhan kok memaksakan ke cafe sih " papi membantu Abimanyu memapah pak Kuncoro ke meja yang sudah mereka pesan


" saya bosan di rumah bram "


" ya tapi kamu harus memperhatikan kesehatan mu " jawab papi Sheren


Sheren menyalami pak Kuncoro dan mempersilahkan duduk.


Pak Kuncoro terlihat senang melihat Sheren di hadapan nya


" saya gak salah memilihkan jodoh untuk Abi!! anak mu ini sudah cantik, sopan, baik pula bram, memang hebat didikan mu ke anak ya "


" kamu bisa aja...,, silahkan mau pesan apa? "


Papi memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka.


Pak kuncoro terlihat sehat saat sedang ngobrol dengan papi Sheren. Beliau sudah bisa tertawa dan wajah yang awalnya pucat sekarang terlihat berseri.


" Bram kemarin kan Abi minta pernikahan nya gak usah pakek embel-embel pertunangan. Gemana kalau kita percepat saja?? kamu tau kan kondisi saya sudah sering drop,, saya mau lihat anak saya menikah sebelum ada hal buruk yang terjadi " kata pak Kuncoro yang membuat kaget Sheren dan Abimanyu


" papa bilang apa sih?! papa pasti sehat! "


" iya kuncoro betul kata anak mu,, saya yakin kamu akan sehat! " kata papi sambil menepuk pundak pak Kuncoro


" kita kan gak tau kedepannya gemana Bram,,, saya cuma antisipasi saja " jawab pak Kuncoro


" om maaf sebelumnya,, saya masih kuliah om dan belum wisuda, bahkan pikiran untuk menikah jujur saja saya belum punya " kata Sheren mencoba membujuk Pak Kuncoro untuk tidak mempercepat pernikahan nya


" iya om tau Ren,, tapi kamu lihat sendiri kan om itu sudah sakit-sakitan. Om tidak sekuat papi mu. Makanya sebelum ada sesuatu yang terjadi, Om mau lihat anak satu-satunya Om menikah " jawab pak Kuncoro lembut sambil memegang tangan Sheren


Sheren hanya bisa diam. Entah kata-kata seperti apa yang harus dia katakan supaya pak Kuncoro tidak tersinggung dan drop. Dia takut kalau gegabah malah akan mencelakai pak Kuncoro


" paa,, saya kan baru pulang dari London..., saya juga masih mau cari universitas untuk melanjutkan study, Sheren juga kan butuh persiapan mental untuk menikah " Abimanyu mencoba merubah keinginan papa nya


" untuk masalah universitas papa sudah suruh sekertaris buat daftarin kamu ke kampusnya Sheren dan papa juga gak minta bulan ini untuk pernikahan kalian, papa mau kasih kalian 2-3 bulan untuk perkenalan kok "


Abimanyu hanya diam, dia takut salah bicara dan membuat papa nya drop lagi.


" ya sudah nanti biar saya atur,, kamu jangan banyak pikiran dulu " giliran papi yang berbicara


Papi Sheren mencoba mengalihkan pembicaraan ke bisnis dan saham untuk mencairkan suasana. Sedangkan Sheren hanya dia dan tersenyum palsu saat pak Kuncoro memandang nya.


kurang lebih 2 jam mereka di cafe itu.


Abimanyu membujuk papa nya untuk pulang. Dan pak Kuncoro setuju. Mereka saling berpamitan satu sama lain.


...****************...


Sore harinya Sheren memutuskan untuk mengurung diri di kamar. Mami yang menyadari itu sedari tadi mencoba membujuk Sheren supaya mau turun dan bercerita kenapa dia mengurung diri.


" papii itu kenapa Sheren gak mau turun sih? apa yang terjadi di cafe? " tanya mami penasaran


" pak Kuncoro minta pernikahan di percepat mii..., makanya Sheren jadi pendiam gitu "


Tak lama setelah papi bicara handphon nya berbunyi. Saat papi menjawab telefon raut wajahnya berubah cemas dan gelisah. Mami yang melihat pun mendekati papi.


" mami tolong panggil Sheren dan suruh siap-siap. Tadi istri nya Kuncoro telfon kata nya dia drop lagi dan minta kita untuk datang ke rumah sakit " perintah papi.


Mami langsung naik ke lantai dua dan menggedor pintu kamar Sheren dengan kencang. Awalnya Sheren tetap tidak mau membuka pintunya sampai mami harus memukul pintunya keras-keras


" apa sih mami?! " jawab Sheren setelah membuka pintu kamarnya


" kamu siap-siap ya kita mau ke rumah sakit, om Kuncoro drop lagi dan minta kita ke sana!! "


Sheren mengiyakan dan bergegas mengganti bajunya. Tak berselang lama Sheren turun ke bawah menghampiri orang tuanya. Mereka berangkat bersama menuju rumah sakit.


Papi memerintahkan mami untuk menelfon Glen supaya bisa menyusul ke rumah sakit segera.


Setelah sampai di rumah sakit mereka langsung berlari menuju ruang ICU.


" gemana bisa drop lagi mbak? kayaknya tadi sudah sehat-sehat saja " tanya papi panik


" saya juga gak tau, tadi waktu saya keluar dari kamar mas Kuncoro sudah pingsan " jawab mama Abimanyu sambil terus menangi


Mami menghampiri istri pak Kuncoro dan mencoba menenangkan dan papi berjalan mondar mandir menunggu dokter keluar.


Sheren menggandeng Abimanyu dan mengajaknya menjauh dari orang tua mereka


" kenapa om Kuncoro bisa drop lagi?? " tanya Sheren sedikit berbisik


" kayaknya papa denger waktu aku telfonan sama Rosa " Abimanyu menunduk kan kepalanya


" teledor banget sih lo!! "


" gue gak tau Ren!! "


Abimanyu mengacak-acak rambutnya. Dia terlihat sangat panik dan tidak tau harus berbuat apa.


Sheren pun ikut panik. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi.


" Abi...Sheren pak kuncoro sudah sadar "


Mendengar kata papi,, mereka langsung lari ke ruang ICU dan masuk ke dalam bersama-sama.


Di dalam ada dokter yang masih mendampingi pak Kuncoro.


" dokter gemana papa saya? " tanya Abimanyu


" untuk saat ini semua setabil. Cuma kedepan nya kita gak tau bagai mana. Karna penyakit pak Kuncoro sudah mempengaruhi imun tubuhnya " jelas dokter


" apa gak ada cara untuk menyetabilkan imunitas papa saya dok? "


" sebenarnya ada walau cukup ber resiko,, tapi alat kami tidak memadai. Atau kita bisa rujuk pak Kuncoro untuk ke rumah sakit di Singapur. Disana peralatan nya lebih lengkap dan canggih "


" kalau begitu tolong urus kan surat rujukannya dokter " pinta Abimanyu


Dokter mengiyakan dan meninggalkan Abimanyu di ruang ICU.


Mama Abimanyu menangis sambil memegang tangan papa nya. Sungguh ceroboh tindakan Abimanyu hingga bisa mencelakai papanya.


" maa..., kata dokter papa harus di rujuk ke singapur " Kata Abimanyu


" okey nanti biar mama telfon asisten papa untuk mengurusi surat-suratnya " jawab mama


" papa gak mau pergi ke singapur Bi! " kata papa lemah


" ini demi kesehatan papa! " Abimanyu meyakinkan papa nya


" iya kuncoro..., kamu harus berangkat ke singapur secepatnya " papi Sheren mencoba membujuk Pak Kuncoro


" iya kalau aku sembuh Bram! kalau enggak gemana? "


" kamu gak boleh bilang gitu, kita disini akan selalu mendoakan mu " balas papi


" kalau gitu sebelum saya ke berangkat,, Saya mau lihat pernikahan Abimanyu dan Sheren! "


Semua orang di ruangan itu terkejut. Mereka diam tanpa bisa menjawab apa-apa. Keinginan Pak Kuncoro sudah bulat untuk menikahkan Abimanyu dan Sheren.


...****************...


Sheren duduk melamun di luar ruang ICU, pikirannya kacau. Dia ingin pergi tapi entah kemana. kepalanya terasa berat dan badannya lemas.


Glen baru sampai di rumah sakit. Dia melihat Sheren yang melamun sendirian.


" Ren! are you okey? " Glen menepuk pundak Sheren


" pak Kuncoro minta aku nikah sama Abimanyu besok sebelum beliau berangkat ke Singapur " kata Sheren sambil memandang Glen


Glen memeluk adiknya yang sudah mulai berkaca-kaca. Dia tau Sheren akan terus menahan air matanya sampai dia bisa menyembunyikan wajahnya. Wanita tomboy ini tidak mau terlihat lemah di hadapan siapapun


" ini terlalu cepet Glen! gue gak bisa " suara Sheren samar-samar terdengar


Glen hanya bisa mengelus kepala adiknya dengan lembut. Dia membiarkan Sheren menyelesaikan tangisannya.


Abimanyu merasa bersalah melihat Sheren yang menangis di pelukan kakak nya. kalau saja dia tidak mengangkat telfon Rosa saat masih di rumah orang tuanya maka semua ini tidak akan terjadi.