
Sheren sedang bersiap di kamar, hari ini ada ujian. Setelah semalaman mempelajari materi yang akan di ujikan Sheren masih menyempatkan untuk browsing perlengkapan mobil milik nya sampai larut malam. Alhasih jam tidurnya kurang, tapi untungnya kelas di mulai pukul 09.00 jadi dia masih bisa sedikit bersantai sambil menghilangkan kantuknya.
Sheren turun ke ruang makan. Keadaan sangat sepi karna orang tua dan kakak nya sudah berangkat kerja sekitar pukul 07.30 pagi. Di ruang makan Sheren mengambil roti tawar dan selai coklat untuk sarapannya. Setelah selesai dia langsung berangkat ke tempat kuliah.
Pukul 08.45 Sheren sudah sampai di kampus. Dia berlari kecil menuju ruangannya.
" Reen!! tunguu...!! " teriak Amel dari arah belakang nya
" tumben jam segini baru dateng? "
" iya tadi masih nganter umi ke pasar " jawab Amel
Tiba di ruangan mereka konsentrasi mempelajari materi yang akan di ujikan. Karna ulangan hari ini berurusan dengan dosen kiler.
Jam menunjukan pukul 09.00 dan ujian pun di mulai. Sheren tidak begitu kesulitan untuk menjawab karna dia termasuk anak yang pintar. Mungkin saat di beri materi oleh dosen dia tidak mendengarkan tapi sekali saja dia membaca buku maka semua materi akan terserap dengan mudah.
Setelah ujian selesai Sheren mengajak Amel ke kantin. Disana mereka bertemu dengan Ari, Cahya dan Zaki teman club Sheren.
Mereka bertiga yang mengenalkan Sheren dengan dunia otomotif khususnya di bidang modifikasi mobil. Sangat melenceng memang dengan jurusan kuliah yang di ambil Sheren yaitu menejemen bisnis.
" Ren itu kemarin bener calon suami mu? " tanya Cahya
" rencananya sih gitu, gue di jodoh in "
" lo mau Ren? " ganti Zaki yang bertanya
" gue gak bisa nolak perintah bokap guys "
" gemana orangnya? baik " tanya Cahya penasaran
" Tanya aja Amel, dia kenal kok " jawab Sheren santai
Ari, Cahya dan Zaki pun serentak menoleh ke Amel yang sedang memakan bakso nya. Amel yang mengerti dengan rasa penasaran mereka pun mulai bicara
" orang nya baik kok, ramah terus suka bantu temen nya yang kesusahan,, emmm sama pinter juga "
" kok kamu tau Mel? " tanya Ari
" calon nya Sheren itu dulu satu sekolah sama kita waktu SMA,, aku kenal sama dia karna memang orangnya baik, kalo Sheren kenal dia karna mereka musuhan dari kelas satu. Gak tau deh awal mulanya gemana. Tapi tiap ketemu pasti berantem,, sampek pernah di skors bareng " jelas Amel
" tunggu deh,, pasti ada awal mulanya donk Ren lo sampek jadi musuh bebuyutan gitu " kata Ari
" gue juga gak tau tepatnya ya,, cuma awal aku tengkar sama dia gara-gara aku gak sengaja nendang bola dan meleset ke arah dia. Semenjak itu sih dia suka mancing emosi ku " Sheren mengingat-ingat awal pertengkaran nya dengan Abimanyu
Saat sedang seru-serunya mereka bercerita handphon Sheren berbunyi tanda panggilan masuk. Dilihatlah nama Papinya di layar telefon. Sheren mengangkatnya dan papinya bilang nanti jam makan siang dia di tunggi di cafe dekat rumah om Kuncoro.
" bukannya om Kuncoro sakit pi?? "
" udah pulang dari rumah sakit kok "
" yaudah pi nanti aku kesana "
" oke nanti papi shere lokasi ya "
Sheren menutup panggilan telefon nya dan bergabung dengan teman-temannya
" Mel sorry nanti gue gak bisa barengin lo pulang deh " kata Sheren
" gakpapa Ren nanti aku naik angkot aja "
" ehh gue anter aja Mel..,, kita kan se arah! " Ari menawari Amel
" gak ngerepotin nih Ar?? " tanya Amel malu-malu
" enggak kok "
Sheren pun berangkat menuju tempat janjian nya dengan papi. Dan Amel pulang bersama Ari
Di dalam mobil Ari dan Amel saling diam. Ari bingung mau membahas apa, sedangkan Amel gak begitu banyak bicara kalau tanpa Sheren.
" ehem Mel..,, soal ta'aruf itu....."
" kalo udah siap langsung menghadap abi aja Ar " Sahut Amel tanpa mendengar kelanjutan pertanyaan Ari.
Ari bingung sambil menelan ludah. Dia sebenarnya takut sama Abi nya Amel, apalagi Amel anak satu-satunya pasti kan lebih susah nanti untuk meminta ta'aruf
' ya allah..., bagaimana ini?? kalau gak cepet di ajak ta'aruf nanti keburu di ambil orang ' batin Ari di dalam hati
" a...a...abi kapan di rumah? "
" abi biasanya udah di rumah jam setengah lima an " jawab Amel
Mereka saling diam lagi. Suasana mobil jadi canggung. Untuk memcairkan suasana Ari memutar lagu rock kesukaanya.
" Arii..., kecilin dikit " kata Amel lembut
Ari pun mengecilkan volume radio, dia merasa Amel akan memberi cap buruk karna lagu rock tadi dan akhirnya dia semakin gelisan.
" coba di puter murotalan atau Sholawat. Nanti pasti hati kamu bakal adem Ar "
Dengan cepat Ari mengganti lagu rock nya dengan Sholawat yang menyejukkan hati
" iya bener Mel langsung adem " kata Ari beberapa saat setelah mendengarkan Sholawat dari radio mobilnya
Amel hanya tersenyum pada Ari.
Mereka pun sampai di rumah Amel. Ari memarkirkan mobilnya di depan rumah Amel.
" makasih ya udah mau anter aku " kata Amel dengan malu-malu
Ari menjawab dengan anggukan dan senyuman manisnya.
Amel berpamitan untuk masuk ke rumah hingga tiba-tiba Ari berkata lantang dari arah mobil
" bismillahirrahmanirrahim,, Amel aku mau memulai ta'aruf sama kamu "
Amel yang mendengar ucapan itu tersipu malu dan menjawabnya dengan angguk an.
" insya allah secepatnya aku mau bawa ayah dan ibuku bertemu orang tua mu " sambung Ari
" iya Ar...., Amel tunggu " balas amel dengan senyuman
Setelah mengucapkan salam. Ari pun berpamitan pulang dan Amel masuk ke dalam rumahnya.
Ternyata umi juga mendengar percakapan mereka dari balik pintu
" loh umi dari kapan di sini? " kata Amel yang mulai salah tingkah
" umi sudah dengar semua nak dan alhamdulillah ada orang yang mau mencintai mu karna allah. Dia tidak menginginkan untuk pacaran tapi mengajak mu ta'aruf an " Senyum umi mengembang dengan indah nya
" tapi abi gemana? Ari itu baru belajar tentang agama, Amel takut abi gak setuju "
" loh si Ari mualaf Mel? " tanya umi
" enggak umi...,, dia muslim cuma yah keagamaannya kurang baik, sholat nya juga masih kadang iya kadang enggak..., terus dia juga baru belajar ngaji " jawab Amel sambil menunduk
" abi malah akan suka sama Ari Mel....,, karna Ari mau belajar, alhamdulillah kalau dia mau memperbaiki diri, sekarang kamu harus dukung dia supaya istiqomah " jawab umi
Amel tersenyum melihat respon positif umi. Sekarang tinggal menunggu apa benar Ari akan menepati niatnya untuk ta'aruf.
Di sisi lain Ari yang sedang membawa mobil merasa lega dengan niat yang telah dia sampaikan. Dan dia akan lebih memperdalam dan memperbaiki agamanya. Karna dia sadar nantinya jika mereka sudah ke jenjang yang lebih serius lagi, dia harus bisa menuntun calon istrinya ke hal baik.