
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi Mala belum juga pulang. Romeo terlihat khawatir dan memutuskan untuk menghubungi gadis itu.
Telepon pun mulai tersambung, tapi Mala tidak mengangkatnya. Hingga panggilan ke tiga kalinya, Mala tetap tidak mau mengangkat telepon dari Romeo.
“Sial, kenapa lagi ini anak?” gumam Romeo. Lelaki itu kemudian mengetik pesan untuk Mala.
[Pulang sekarang. Nggak baik cewek pulang malem-malem.]
Pesan terkirim.
Satu menit
Dua menit
Hingga lima menit kemudian, pesan hanya di baca tanpa balasan.
Ada apa dengan Mala? Marahkah? Marah dalam soal apa coba? Sejak pagi saja Romeo tidak bertemu dengannya. Atau sedang bermesraan dengan Khai dan melakukan hal yang tidak-tidak. Romeo terus berpikir negatif tentang Mala.
[Baiklah aku akan menjemputmu jika tidak ada kabar lagi.]
Romeo kembali mengirim pesan ancaman. Rupanya tidak membuat Mala takut. Justru sekarang gadis itu telah mematikan ponselnya.
Romeo bergegas mengambil jaket di kamarnya, lalu melangkah menuju garasi. Kali ini dia tidak memakai mobil yang biasa dia gunakan untuk keseharian. Motor yang telah lama tidak dia gunakan, motor yang penuh kenangan, hari ini dia gunakan. Entah mengapa Romeo tiba-tiba ingin memakai motor itu.
Penampilannya pun jauh terlihat seperti anak muda ketimbang seperti biasanya. Memakai celana jeans hitam dan kaos berwarna merah yang dibalut hoddie.
Siapapun yang melihat Romeo malam ini pasti akan terpesona. Romeo melajukan motornya meninggalkan halaman rumah. Mengabaikan pertanyaan dari satpam.
Hatinya sudah tidak karuan. Romeo mengendarai motor itu dengan penuh emosi. Kilas bayangan tentang kenangan bersama motor gedenya terus memenuhi isi kepalanya.
.
Di rumah Adel semua telah merapikan peralatan sekolah mereka. Devan dan Ayumi telah berpamitan pulang. Kini tinggal Mala dan Khai yang berada di rumah Adel. Rumah Adel memang sepi, karena kedua orangtuanya berada di kampung. Rumah itu adalah peninggalan sang kakek yang telah meninggal dan di wariskan untuk Adel.
Dia tidak sendiri, ada Paman dan bibinya yang sibuk bekerja. Sebulan sekali mereka akan datang ketika pekerjaannya telah selesai. Mereka selalu keluar kota. Paman dan Bibi Adel belum memiliki anak padahal pernikahannya sudah menginjak sepuluh tahun, oleh sebab itu Adel telah di anggap seperti saudara sendiri.
Sekolahpun mereka yang membiayai. Kedua orangtua Adel sedikit lega karena tidak memikirkan biaya sekolah Adel. Mereka masih bisa mempunyai harapan untuk menyekolahkan adik-adiknya.
Adel selesai membereskan beberapa gelas dan bungkus camilan. Mala pun membantu Adel beres-beres. Khai berada di halaman belakang, sedang menghisap rokok sambil memikirkan sesuatu.
“Mala, aku pergi sebentar ya. Ada yang harus aku beli. Kau tidak apa-apa jika aku tinggal sebentar?” ucap Adel terlihat gelisah.
“Baikalah, jangan lama-lama ya. Karena sudah malam,” jawab Mala.
Mala sebenarnya takut jika berdua saja dengan Khai yang Mala tidak tahu dimana dia.
“Kau tenang saja,” sahut Adel seraya mengambil helm dan kunci motor maticnya.
Adel pun pergi meninggalkan Mala. Sebenarnya bukan membeli sesuatu, melainkan Adel lupa jika kedua orangtuanya sedang membutakan banyak biaya. Adel memang belum bekerja, tapi gadis itu mendapatkan uang dari paman dan bibinya. Dia tidak menggunakan uang tersebut semuanya, sedikit dia tabung untuk kebutuhan mendadak seperti sekarang.
Lebih beruntungnya lagi Adel mendapatkan keriangan biaya sekolah. Maka dari itu Adel bisa mengirim uang untuk kedua orangtuanya yang sedang kesusahan. Meski sedikit tapi membuat kedua orangtuanya bangga.
Adel menghentikan motornya di sebuah supermarket. Lalu ke kasir untuk mengirim uang ke kampung.
.
Mala duduk di ruang tamu dengan perasaan gelisah. Ponsel yang mati karena lupa mengecas, membuatnya merasa bosan. Adel sudah pergi selama sepuluh menit. Lalu Khai tidak menunjukkan batang hidungnya.
Lalu beberapa saat kemudian, lelaki itu muncul dari arah dapur.
“Khai, darimana saja kamu?” tanya Mala.
“Belakang,” jawabnya singkat lalu duduk di samping Mala.
“Habis ngerokok ya?”
Khai tahu jika Adel sedang pergi. Karena sebelumnya dia berpamitan padanya untuk menjada Mala sebentar.
Suasan hening, jantung Mala berdebar kencang ketika lelaki itu sangat dekat padanya. Lalu Khai menarik dagu Mala agar gadis itu menatapnya.
“Mala, apa kau mencintaiku?”tanya Khai dengan suara serak.
Mala menatap kedua bola mata Khai dengan perasaan takut.
Ada rasa yang menggebu-gebu dalam hati Khai. Menginginkan sesuatu dari Mala meski dia telah berstatus sebagai istri lelaki lain. Khai tidak perduli hal itu, toh Mala tidak mencintai lelaki yang menjadi suaminya. Jika Mala hamil, maka dia akan bertanggungjawab atau bisa juga suaminya yang menjadi ayah dari hasil benihnya.
Khai sudah tidak tahan lagi dengan tatapan Mala dan hawa nafsu yang menguasainya.
Perlahan bibir Khai turun di bibir Mala. Melumatnya meski gadis itu meronta.
“Khai, hentikan!” ucap Mala seraya mendorong dada Khai.
Namun, lelaki itu terus mencium bibir Mala.
“Kau milikku, Mala. Apa kau tidak mau melakukannya? Bukankah kau telah melakukan itu dengan suamimu?”
Khai menyeringai. Mala sangat ketakutan melihat Khai yang seperti itu. Mala terus menghindari Khai. Namun, lelaki itu tetap berhasil menyentuhnya. Air mata Mala telah menetes saat Khai berhasil menyentuh sesuatu yang dia jaga selama ini.
“Kumohon, jangan lakukan ititu,” ucap Mala sambil terisak.
Khai tidak memperdulikan permohonan Mala. Cinta tanpa nafsu baginya adalah omong kosong. Apalagi pernikahan tanpa melakukan apapun adalah munafik.
Mala terus berusaha menghindar. Hingga dia memiliki ide untuk memukul Khai. Kakinya yang terangkat segera menendang Khai tepat mengenai miliknya.
Lelaki itu mengaduh kesakitan dan kesempatan ini Mala ambil untuk segera pergi. Beruntung pintu tidak terkunci.
“Mala, berhenti!” teriak Khai seraya melangkah dengan kaki sedikit pincang.
Mala yang masih sedikit memiliki tenaga terus berusaha lari. Kebetulan Adel telah kembali.
“Mala, kau kenapa?” Adel menghentikan motornya ketika melihat Mala yang baru saja keluar dari rumahnya dengan tangis.
Khai yang berdiri di pagar rumah bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa agar Adel tidak curiga.
“Dia meminta pulang,” ucap Khai berbohong.
Namun, Mala kembali berlari karena ketakutan. Tubuh Mala yang bergetar membuat Adel curiga dan tidak mempercayai ucapan Khai.
Adel meletakkan motornya asal lalu mengejar Mala. Khai hanya meremas rambutnya frustasi. Sadar akan kesalahannya yang terlalu cepat melakukan hal itu. Mala tidak seperti gadis lain yang rela melakukan apa saja demi dekat dengannya.
“Ah, sial! Bodoh sekali!” umpat Khai seraya menendang pagar rumah Adel.
Adel kembali ke rumahnya, lalu menemui Khai yang masih berdiri di halaman depan dengan rokok yang terselip di jarinya.
“Khai, tega kamu melakukan itu pada Mala, hah!” Adel datang dengan amarah yang meledak-ledak. Dia tidak menyangka bahwa Khai sebejat itu.
“Maaf, aku tidak bisa mengontrol emosi!”
“Aku salah nilai kamu, aku pikir kamu lelaki baik. Bodohnya aku telah percaya sama kamu dan meninggalkan Mala di rumah!”
“Adel, sudah aku bilang aku minta maaf!” Khai membela diri. Dia tidak terima dengan tuduhan Adel.
“Percumah, sekarang kau pulang. Mala sudah pergi sama Kak Romeo.” Adel pun masuk ke rumahnya.
Perasaan Adel sangat hancur. Dia terus menyalahkan diri sendiri karena telah meninggalkan Mala di rumahnya bersama Khai. Kalau saja dia tidak buru-buru pulang, mungkin Khai telah berhasil melakukan apa yang dia inginkan.
“Maafkan aku, Mala. Aku bukan sahabat yang baik buat kamu.”
Bersambung ...