Unknown Husband

Unknown Husband
Penjelasan


Romeo pergi dengan terburu-buru setelah mendapatkan telepon dari seseorang. Dia pun tidak menghiraukan panggilan dari Mala. Baginya sudah tidak ada waktu lagi jika harus meladeni semua pertanyaan dari Mala.


Ini hal yang penting untuk Romeo. Demi kehidupannya yang menenangkan.


Sayangnya, dia tidak akan bisa pergi secepat itu. Romeo terpaksa menghentikan mobilnya saat Mala telah berdiri di depan mobil dengan tangan terlentang.


“Hey, apa yang kau lakukan?” tukas Romeo.


Mala melangkah mendekat dan membuka pintu mobil Romeo.


“Aku mau ikut kemana Abang pergi. Ini nggak adil buat aku!” protes Mala.


Romeo menautkan alisnya, dia tidak mengerti maksud Mala.


“Hari minggu Abang pergi, sedangkan aku hanya di rumah. Kan nggak adil?”


“Astaga, Mala.” Romeo mengusap rambutnya.


“Abang nggak pergi, ini mau kerja.”


“Mana mungkin kerja dengan celana pendek dan pakai kaos?”


Romeo melihat penampilannya. Dia baru menyadari bahwa berpakaian santai. Bukan seperti orang mau bekerja. Kalau sudah begini, alasan apa yang akan Romeo buat?


“Hah, wanita memang selalu merepotkan,” gumam Romeo kesal.


“Oh, jadi aku ngrepotin Abang?” Mala menatap tajam Romeo dengan kedua tangan berada di pinggang.


“Ah, bukan begitu. Maksud Abang ....”


“Apa!”


“Ah, ya sudahlah ayo ikut.”


Wajah yang semula kesal, kini berubah menjadi senyum menggoda. Ya, Mala tersenyum bahagia karena di perbolehkan ikut Romeo. Namun, senyum itu adalah masalah untuknya. Senyum yang membuat aliran darah Romeo berdesir.


Mobil Pajero itu melaju kencang setelah membaca pesan dari seseorang. Mala menatap lelaki itu dengan penuh pertanyaan. Bibir yang sedikit terbuka dan akan mengeluarkan pertanyaan, segera Romeo cegah.


“Diamlah, Mala.”


Gadis itu terdiam dan memilih melihat pemandangan dari kaca mobil dengan hati yang sangat kesal. Berbagai rencana telah dia siapkan untuk Romeo.


***


Mobil berhenti di sebuah kafe kopi. Mala ingin protes, karena bukan tempat itu yang dia inginkan untuk menikmati sarapan. Namun, lagi-lagi Romeo memberi pilihan yang terpaksa harus Mala turuti.


“Diamlah, jika kau ingin jalan-jalan hari ini.”


Romeo menggandeng tangan Mala dan melangkah tergesa-gesa. Membuat Mala harus setengah berlari untuk mengikutinya.


“Bersikap mesra padaku,” bisik Romeo.


“Apa? Nggak mau!” Mala melepas genggaman tangan Romeo.


“Pulang saja kalau begitu.”


“Ih, nyebelin. Untuk apa dulu?”


“Udah nurut aja!”


Kembali lelaki itu melangkah. Lalu berhenti di kursi nomor sembilan yang telah duduk seorang wanita dewasa dengan penampilan yang modis. Tubuh bagai model itu tersenyum melihat kedatangan Romeo.


“Akhirnya kau datang juga, sayang,” ucap wanita itu manja. Lalu dia memeluk Romeo.


Sayangnya saat wanita itu hendak memeluk Romeo, Mala lebih dulu menghalanginya.


“Enak aja main peluk, mana panggilnya sayang lagi!”


Binar wajah Naura berubah kesal saat menyadari ada wanita lain yang datang bersama Romeo.


“Siapa kamu? Nggak ada hak buat larang aku!”


Romeo mengulum senyum, rupanya gadis kecil itu memerankan aktingnya dengan totalitas.


“Naura, hentikan! Dia istri aku dan apa yang dia katakan itu benar. Kau tidak ada hak memanggil aku sayang dan juga menyentuhku.”


Romeo yang sedari tadi diam pun menyahut, karena tidak ingin ada adu mulut yang lebih lanjut. Romeo tidak ingin menjadi tontonan para pengunjung lain.


“Apa kamu bilang? Istri?”


Naura pun meneteskan air mata. Hatinya terasa sakit mendengar penjelasan Romeo. Lelaki yang sangat dia cintai.


“Kenapa kau menangis? Sesedih itukah kamu? Lalu bagaimana dengan perasaanku lima tahun yang lalu?”


Naura terdiam, tak sanggup lagi untuk bicara dan menjelaskan semuanya.


“Aku datang hanya untuk ini. Agar kau tidak lagi mengganggu kehidupan aku. Stop dengan alasanmu yang katanya sakit parah dengan usia yang tidak lama lagi.”


Romeo pun pergi meninggalkan Naura dengan segala rasa sakitnya.


“Rasain tuh! Dasar wanita murahan!” ejek Mala sebelum pergi.


Naura kesal dan melempar Mala dengan sendok. Namun, lemparannya tidak mengenai Mala. Sendok itu terjatuh ke lantai.


“Aku tidak boleh menyerah!” ucap Naura setelah Mala dan Romeo pergi.


Terkadang cinta itu memang rumit. Tidak seperti yang di bayangkan. Bahwa setiap hubungan akan baik-baik saja meski pernah terluka.


***


"Abang, ceritakan siapa wanita tadi?" Mala terus meminta penjelasan dari Romeo. Gadis itu terus bertanya sepanjang perjalanan.


Membuat Romeo risih.


"Abang, jawab!"


Romeo tetap dengan keterdiamannya. Bagi Romeo tidak ada hal yang perlu diceritakan tentang Naura dan segala kenangannya.


Romeo ingin hidup tenang tanpa diikuti masa lalu. Hidup tenang bersama wanita yang telah menjadi istrinya.


"Ah, aku tahu. Dia pasti pacar Abang, kan?"


"Bukan."


"Terus siapa?"


"Bukan siapa-siapa."


"Ish, ngeselin banget sih. Aku bakal ngadu ke Papa Abang!"


"Dasar anak kecil."


Mala semakin kesal. Gadis itu memukul lengan Romeo sekuat tenaga hingga lelaki itu meringis kesakitan.


"Karena yang harus di ceritakan adalah masa depan."


Mala tertawa lepas, mendengar ucapan Romeo. Dia mengerti dengan maksud dari ucapan lelaki itu.


"Jadi dia mantan? pasti mantan terindah."


"Yang terindah adalah masa depan."


Mala menghela napas. Kesal karena Romeo tidak menceritakan tentang wanita itu. Dia justru membahas masa depan, yang membuat gadis itu sedikit bersedih.


Hanya sedikit ...


Tidak seperti sebelumnya yang merasa kecewa dengan pernikahan itu. Rasa yang perlahan hilang tanpa Mala ketahui.


"Karena yang perlu diceritakan adalah masa depan."


Bersambung ....