
“Bi ... Bi Martha?” panggil Icha mengagetkan wanita paruh baya yang sedang memandang ke arah jendela dapur dengan tatapan kosong. Wajahnya tersenyum. Entah apa yang dipikirkannya.
“Ada apa to, Cha? Mengagetkan saja!”
“Nggaka ada apa-apa, hanya saja itu air sudah penuh. Bibi sedang melamun ya?”
“Oalah Gusti!” Bi Martha menepuk keningnya. Kalau saja Icha tidak datang, mungkin sudah banjir itu wastafel.
“Apa yang sedang Bibi pikirkan?” tanya Icha setengah mengulum senyum.
“Ndak ada, ya sudah Bibi mau masak dulu.” Wanita itu bergegas pergi. Tidak ingin Icha tahu apa yang dia pikirkan.
Icha menggeleng dan menghela napas. “Apa Bibi sedang jatuh cinta?”
Bi Martha yang sedang merebus air itu menoleh ke arah Icha dan menatap gadis itu tajam.
“Hus, omong apa kamu to, Nduk?”
“Lha itu kalau orang sedang ngelamun, terus senyum-senyum sendiri tandanya sedang jatuh cinta.”
“Kamu ini sok tahu. Saya sudah tua mana mungkin jatuh cinta.”
“Terus tadi ngapain?”
Martha tidak menjawab pertanyaan Icha, memilih melanjutkan memasak untuk makan siang dan pura-pura tidak mendengar perkataan Icha.
Lelah bertanya-tanya kepada Bisa Martha yang tidak kunjung menjawab, Icha memilih pergi. Bisa Martha membuatnya semakin penasaran saja.
Sebenarnya apa yang Bibi Martha pikirkan?
Icha membereskan meja makan, mengambil piring dan gelas bekas sarapan Romeo dan Mala. Baru saja hendak melangkah ke dapur, suara bel pintu berbunyi.
Siapa yang datang pagi-pagi? Batin Icha.
Gadis itu meletakkan kembali piring kotor dan pergi membukakan pintu.
Seorang pemuda berhidung mancung dan berkulit putih berdiri di depan pintu. Icha menatap pemuda tampan itu takjub. Bibirnya sedikit terbuka. Seperti melihat seorang pangeran berkuda putih yang datang menghampiri.
“Selamat pagi?” ucap pemuda itu.
Suaranya seperti nyamuk yang berdenging. Icha masih saja berdiri terpaku menatap pemuda berpakaian rapih.
Hingga Icha menyadari saat tangan pemuda itu dikibaskan di depannya.
“Hello? Selamat pagi,” ucapnya kembali.
“Ah, ya. Selamat pagi,” jawab Icha malu.
Pemuda itu mengulum senyum, melihat gadis di hadapannya menjadi salah tingkah.
“Romeonya ada?”
“Tuan ... Sudah pergi ke kantor sejak tadi.”
“Kantor?” Pemuda itu nampak terkejut mendengar jawaban Icha. Wajahnya sedikit kesal, mungkin Romeo sedang membuat masalah, atau pemuda ini telah di bohongi Romeo. Entahlah.
Icha mengangguk, dada nya berdebar kencang seakan jantung ingin loncat keluar.
“Ah, ya sudah. Saya temui dia di kantor saja.”
“Tuan,” panggil Icha lirih dan membuat pemuda itu menghentikan langkah.
“Ya?” jawab pemuda itu dengan alis bertautan.
“Tidak mau masuk dulu? Minum kopi misalnya,” tawar Icha. Seharusnya dia tidak bicara seperti itu. Icha kepalang malu, dia hanya memanggil karena ingin melihat wajah pemuda itu saja.
“Boleh juga.”
Rupanya jawaban pemuda itu membuat Icha terkejut. Dia tidak marah. Icha tersenyum dan bergegas ke dapur setelah mempersilahkannya masuk.
Buru-buru gadis itu membuatkan kopi spesial untuk pemuda tampan yang saat ini sedang duduk di teras depan. Icha bahagia bukan kepalang. Baru kali ini melihat lelaki tampan selain Tuannya.
Meski Tuannya terlihat tampan, Icha tidak begitu kesemsem. Mungkin sudah biasa melihat dan bosan juga.
“Cha, ngapain senyum-senyum sendiri?” Kali ini Martha terheran-heran melihat Icha yang mengaduk kopi sambil tersenyum.
“Ndak apa-apa, Bi. Emangnya bibi aja yang boleh senyum-senyum sendiri?” ucapnya sambil berlalu membawa nampan berisi secangkir kopi dan setoples kue kering.
Martha menggelengkan kepala, melihat Icha membawa kopi, baru menyadari bahwa ada tamu rupanya.
Martha segera mengikuti langkah gadis bergigi gingsul itu.
Ah, bukan bicara sendiri, tapi sedang menelpon!
“Gue di rumah Lo! Cepet balik dulu.”
“Males! Capek gue, jauh-jauh dateng lu malah pergi!”
Icha menguping rupanya, setelah mendengar pemuda itu tidak lagi mengobrol, Icha keluar dan meletakkan cangkir kopi dan toples camilan. Martha memperhatikan gerak-gerik gadis itu dari jauh.
Pantesan rajin bikin kopi, tamunya ganteng! batin Martha.
Martha kembali ke dapur dan membiarkan Icha asyik di luar sana.
“Diminum kopinya, Tuan,” ucap Icha lembut.
Pemuda itu hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
Kesal Icha di cuekin, dia pergi meninggalkan pemuda itu sendiri. Semua tidak seperti yang ada di bayangannya bahwa pemuda itu akan mengajaknya mengobrol.
“Siapa namamu?” Baru satu langkah, Icha mendengar pemuda itu bertanya.
“Icha, Tuan.”
Pemuda itu menoleh, lalu mengangguk. “Duduklah,” ucapnya sambil mengangkat dagu sebagai tanda petunjuk untuk Icha duduk dibangku sebelah.
“Tapi ....”
“Temani aku ngobrol. Masa iya sendirian di sini.”
“Baiklah, Tuan.”
Sungkan Icha duduk di sebelah pemuda itu. Meski hatinya berbunga-bunga dan detak jantung tidak beraturan.
“Berapa usiamu?” tanya pemuda itu lagi.
Icha menoleh, sesaat mereka saling memandang. Lalu Icha menundukkan kepala lagi.
“Dua puluh satu, Tuan.”
Terdengar helaan napas dari pemuda itu.
“Panggil saja Kevin.”
Icha terlonjak kaget, kedua matanya mengerjap tidak percaya. Bagaimana bisa dia memanggil nama saja. Sedangkan kedudukan mereka berbeda.
“Aku bukan majikanmu, jadi panggil saja Kevin.”
Icha mengangguk lalu menunduk lagi. Malu.
“Kamu sedang bicara sama laintai?”
Icha menoleh lagi, lalu menggelengkan kepala. “Tidak, Tuan. Eh maksud saya ... Mas Kevin.”
“Lalu kenapa menunduk terus?”
Icha bingung harus bagaimana. Menatap lelaki itu malah membuatnya panas dingin, menatap lantai di kira sedang mengajaknya bicara. Serba salah dia.
“Ah, maaf ... Mas Kevin ini ... Temannya Tuan Romeo? Kok saya Ndak pernah lihat?” Icha mengalihkan pembicaraan.
Kevij tertawa. Lalu menyeruput kopi dan berkata, “Sebelumnya baru pertama kali saya di panggil Mas. Tapi nggak apa-apa.”
“Ya, aku teman Romeo sejak SMA. Jarang ketemu karena aku sendiri sibuk di luar negeri.”
Icha mengangguk. Obrolan mereka terhenti saat mendengar suara mobil masuk. Pandangan mereka beralih ke gerbang. Rupanya Romeo datang.
“Ah, Tuan datang. Saya permisi dulu, Mas.”
Namun, Kevin mencegah Icha pergi dengan memegang pergelangan tangannya. Semakin tidak karuan gadis itu. Rasanya panas dingin menjalar di sekujur tubuhnya. Sesaat tubuh itu terasa melayang dan ingin pingsan.
“Kamu kenapa, Cha?” tanya Kevin khawatir karena melihat wajah Icha yang pucat.
“Tidak apa-apa. Saya permisi dulu ya, Mas Kevin.”
Icha setengah berlari masuk ke dalam. Dadanya berdebar hebat. Rasanya tidak percaya jika lelaki itu memegang tangannya.
Bagi Icha, ini adalah pertama kali seorang lelaki memegang tangannya.
Bakal nggak di cuci itu tangan, pasti takut jika bekas pegangan Kevin hilang.
To be continue ...