Unknown Husband

Unknown Husband
Apalah apalah


Jam 11 siang. Mala keluar dari kelas, hari ini ujian dua mata pelajaran dia selesaikan dengan baik. Tidak ada kendala apapun, Mala dengan tenang menjawab semua pertanyaan ujian. Tinggal dua hari lagi ujian akan selesai.


Meski ada rasa risih saat duduk di bangku nomor empat. Bukan masalah kursinya, melainkan masalah seseorang yang duduk di kursi belakangnya. Siapa lagi kalau bukan Khai.


“I love you,” bisik lelaki itu, saat guru membagikan kertas soal ujian.


Wajah Mala merona. Meski telah membencinya tapi Mala masih ada rasa cinta. Meskipun hanya sedikit. Tidak akan membuat Mala kembali ke dalam pelukannya. Mengingat kejadian saat malam itu. Dimana Khai ingin melakukan hal yang di luar batas.


“Jutek banget sekarang.” Lagi Khai berbisik.


Mala diam, tidak perduli apapun yang Khai katakan. Menganggap jika ucapannya adalah angin lalu.


Hingga suasana hening kembali dia rasakan. Menenangkan. Terlebih sebentar lagi batas waktu ujian usia. Setidaknya dia bernapas lega.


“Nunggu jemputan?” Adel menepuk bahu Mala yang sedang berdiri di depan gerbang. Tatapan kosong, terlihat seperti sedang melamun.


“Ngagetin aja!” cetus Mala.


Adel tertawa. “Lagian bengong. Mikirin apa sih, neng?”


“Mala!” Teriak seorang lelaki di sebrang gerbang.


Baru saja Mala hendak bercerita tentang kejadian di ruang ujian, seseorang memanggil dirinya. Adel dan Mala berbeda ruangan. Oleh sebab itu Adel tidak tahu jika Khai duduk di belakangnya. Apalagi saat istirahat Mala tidak menemui Adel.


“Siapa dia, La? Ganteng banget.”


“Kevin, temennya Abang.”


Adel terus menatap Kevin tanpa berkedip. Pesonanya mampu mengalihkan dunia Adel dan tidak menyadari bahwa ada Mala di sampingnya.


“Kok tahu kalau aku sekolah di sini?” tanya Mala.


Kevin tersenyum. “Tentu saja tahu, Romeo menyuruhku menjemputmu,” ucapnya sambil melirik ke arah Adel.


Curi pandang rupanya.


“Oke!” jawab Mala tanpa bertanya alasan.


Mala segera menarik tangan Kevin agar cepat pergi dari sekolahnya. Jika ada yang melihat maka habislah Kevin di kerubungi teman-temanya.


“Lho, ada apa, La?”


“Lain kali kalau jemput telpon aja. Jangan keluar dari mobil.”


“Memangnya kenapa?”


“Udah diem aja. Ayo masuk!”


“Tapi itu temenmu?”


Mala menoleh ke arah Adel yang masih berdiri di gerbang sambil melambaikan tangan.


“Kakak tunggu saja di mobil. Aku ke sana dulu.”


Kevin mengangguk. Lalu masuk ke dalam mobil. Beruntung jika suasana sekolah sudah sepi. Sebagian sudah pulang. Meski ada beberapa yang masih di sekolah.


“Adel, bawa motor?”


Adel menggeleng.


“Ayo bareng. Ada Gea di sana, cepat sebelum dia lihat.”


Adel dan Mala setengah berlari. Lalu masuk ke dalam mobil. Gea telah melihatnya dan tersenyum jahat. Ada rencana jahat yang akan dia gosipkan besok.


“Ternyata bener, mereka ini wanita malam!”


***


Dalam perjalanan ke rumah Mala terus diam. Adel dan Kevin terus bercengkrama. Seolah sudah kenal lama. Mala enggan masuk ke dalam obrolan mereka.


Memikirkan bagaimana bersikap baik saat bertemu dengan Eyang.


Membayangkan wajahnya saja Mala merasa takut. Apalagi jika harus berhadapan.


‘Kenapa datang saat aku ujian sih?' batin Mala.


Kevin menyadari keterdiaman Mala saat ini. Mala duduk di sebelahnya. Jadi dengan mudah lelaki itu mengusap kepala Mala. Memberikan nyeri di hati Adel.


Cemburu gadis itu.


“Kamu kenapa, La?”


“Eyang udah dateng?”


“Udah, makanya aku di suruh jemput. Kalau belum mana boleh jemput kamu.”


Mala tersenyum getir. Hatinya semakin tidak karuan.


“Memangnya kenapa kalau Eyangmu datang?” Adel bertanya.


“Bukan Eyangku. Tapi Eyang Romeo.”


“Ya, bagus dong. Kan pengen kenalan sama istri cucunya.”


Mala menghela napas. Tak lagi berkata karena saat ini dia malas membahas soal Eyang.


***


“Nggak mau mampir dulu?” tanya Mala saat turun dari mobil.


“Ntar aku balik lagi ya, habis nganterin Adel.”


“Jangan apa-apain Adel.”


“Tenang aja!”


Langkah gadis itu terasa berat. Detak jantung semakin kencang mengiringi langkahnya. Suasana sepi, tidak seperti biasanya. Mala menoleh ke arah gerbang samping rumah yang menuju taman belakang. Biasanya terbuka dan terlihat Icha di sana.


Sepi sekali. Hanya ada satu satpam yang menyapanya tadi. Kemana mereka?


Mala membuka pintu rumah perlahan. Tidak ada seseorang yang menyambut ke datangannya. Bahkan Romeo pun tidak nampak. Padahal mobil terparkir di halaman.


“Bereskan semua ini, jangan ada yang tertinggal!” Suara familiar itu menambah rasa gugup Mala.


Suara Eyang yang terdengar sedang marah. Mala baru bergegas melangkah ke arah kamarnya. Karena sumber suara Eyang sepertinya sedang di kamar Mala.


Benar ternyata, Eyang sedang berdiri di depan kamarnya. Terlihat dua maid sedang membereskan barang-barang miliknya.


Ada apa ini? Dimana Romeo?


“Selamat siang, Eyang?” Suara Mala terdengar lirih seperti orang kelaparan.


Perlahan wanita yang sudah berusia enam puluh lima tahun tapi awet muda itu menoleh. Wajah keriputnya masih memperlihatkan ke anggunan.


Eyang menatap Mala dari ujung rambut hingga ujung kaki. Semakin takut Mala.


“Eh, Cucu Eyang sudah pulang?” Suaranya terdengar lembut. Sedikit luluh hati Mala.


Eyang memeluk Mala dan mencium keningnya. Rupanya sosok Eyang tidak seperti yang ada dalam pikirannya.


Mala mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Eyang.


“Aduh, cantik sekali kamu, sayang.”


“Terima kasih, Eyang.”


Eyang terus memperlihatkan senyuman. Jika sebelumnya wajah Mala terlihat pucat, kini kembali merona.


“Bagaimana ujiannya? Oh, iya ganti baju dulu sana, nanti kita ngobrol di taman ya.”


Mala mengangguk. Melihat kamarnya sedang ada maid, Mala ingin bertanya. Sayangnya dia urungkan karena Mala masih takut.


“Oh iya Eyang lupa. Kamar kamu mau di cat ulang. Kamu suka warna pink bukan?”


Mala mengerutkan keningnya. Darimana Eyang tahu warna ke sukaannya.


“Suka, Eyang. Jadi kamar ini ...”


“Iya, Eyang menyuruh mereka untuk membereskan barang-barangmu dulu. Baru di cat. Ya sudah ganti baju dulu, Eyang tunggu di taman.”


Mala mengangguk lalu masuk ke kamarnya. Bernapas lega karena Eyang sudah pergi. Begitu pula dengan dua maid yang ada di kamar Mala.


“Berasa sedang ujian,” celetuk Mala.


Kedua maid itu tertawa.


“Nggak ada yang bisa ngobrol, Non.” Salah satu maid menimpali.


“Memangnya yang lain kemana?”


“Beresin lantai tiga, Non.” Mbak Eny menyahut.


“Sama Tuan juga, Non,” lanjut Mbak Ria.


“Bukannya itu buat jemuran ya?”


“Iya, katanya berantakan. Nggak tahu apanya yang salah.”


Mala menggelengkan kepala dan pergi ke kamar mandi berganti pakaian.


“Mbak Ria, Mbak Eny, aku pergi dulu.”


“Hati-hati, Non. Semoga nggak kena omel,” celetuk Mbak Ria.


Mereka pun tertawa. Lalu melanjutkan kembali tugasnya. Sementara Mala melangkah ke taman. Langkah yang biasa tidak seperti tadi saat memasuki rumah.


Eyang telah duduk di bangku taman belakang rumah. Di meja telah tersedia dua cangkir teh dan beberapa kudapan.


Baru kali ini Mala merasakan lagi waktu minum teh dan bersantai. Sejak tinggal di rumah Romeo, waktu itu telah hilang.


“Duduk sini, sayang,” perintah Eyang sambil menunjuk bangku yang berada di depannya.


Mala duduk di bangku depan Eyang. Meja kecil yang jadi pembatas mereka.


“Mala, ayo minum dulu.”


Mala mengangguk lalu menyeruput teh yang masih mengepulkan asap.


Dalam keluarga besar, ada tradisi minum teh di saat siang menjelang atau bisa juga saat senja tiba. Hal ini selalu mereka lakukan agar tetap menjadi keluarga yang harmonis.


Cara meminumnya pun tidak sembarangan. Ada cara yang sudah di ajarkan turun temurun. Menghirup aromanya dan menyeruputnya perlahan. Merasakan ketenangan dari aroma teh itu sendiri.


Oleh sebab itu para maid di anjurkan untuk bisa membuat Teh yang nikmat. Meski ada teh instan jika penyajiannya tidak pandai akan menghasilkan rasa teh yang biasa saja.


Martha adalah maid yang handal dalam meracik teh. Sama seperti maid yang ada di rumah Mala. Setiap keluarga besar memiliki maid yang telah lulus meracik teh dan menjadi kepercayaan.


“Aku sudah lama sekali tidak menikmati teh.”


“Memangnya Romeo tidak mengajakmu, Nduk?”


Mala menggeleng. Lalu melihat wajah Eyang yang seperti orang marah, Mala menyadari jika ucapannya ada yang salah.


“Abang sibuk sama kerjaan. Pulang malam dan aku sekolah pulang sore.”


Eyang menggeleng dan berteriak memanggil nama salah satu maid.


“Martha!”


Bersambung ....