Unknown Husband

Unknown Husband
Tanggung Jawab


"Apa? Tanggung jawab?"


Romeo terkejut dengan semua tuduhan Naura. Bagaimana bisa dia di tuduh sebagai orang yang menghamili Naura? sedangkan dia sama sekali tidak pernah bertemu dengannya. Apalagi mengajaknya ke club malam. Romeo juga tidak pernah ke tempat terkutuk itu.


Meski dirinya lelah dan jenuh dengan kehidupannya, Romeo tidak pernah masuk ke tempat itu untuk mencari hiburan.


"Kau ingin menjebakku, Naura?"


"Tidak! Kau yang telah menjebakku dan ingin menghancurkan kehidupanku!"


Keduanya saling menatap sengit. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa Naura masih sangat mencintai lelaki yang kini berdiri dihadapannya.


"Aku hanya ingin pengakuan darimu!"


"Aku tidak pernah ke club malam! Seharusnya kau tahu jika aku tidak suka tempat itu!"


Naura terdiam, memang benar jika mantan kekasihnya itu tidak menyukai alkohol dan club malam. Lalu jika bukan dia siapa lagi? Naura ingat betul saat malam itu Romeo mengajaknya.


"Kau memaksaku pergi, mana mungkin aku salah!"


"Aku tidak pernah menemuimu, lebih baik kau pergi dan jangan ganggu aku!"


Romeo menarik tangan Naura untuk pergi dari ruangannya. Hancurlah sudah harapannya untuk meluluhkan hati Romeo. Jika semula dia berpikir Romeo akan bertanggungjawab, dia malah bersikap tidak perduli.


"Aku akan mengatakan ini semua kepada seluruh keluargamu!" ancam Naura sebelum pergi meninggalkan Romeo.


"Bodo amat, gue nggak perduli!"


Romeo menutup kembali pintu ruang kerjanya. Lalu meremas rambutnya frustasi. Dia benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Naura. Tidak takut juga dengan ancaman gadis itu, karena Romeo sama sekali tidak pernah bertemu dengan Naura lagi.


Romeo memijat pelipisnya yang terasa pening. Selalu saja masalah cinta yang rumit datang padanya. Jika dia berpikir meninggalkan Naura adalah keputusan terbaik, rupanya gadis itu lebih licik dan berusaha untuk menganggu ketenangannya.


Sibuk memikirkan Naura, Romeo lupa dengan Mala yang sedang asyik berduaan dengan Bagas.


"Bagas!" teriak Romeo.


Romeo segera pergi dan mencari Mala yang katanya berada di kafe sebrang kantor Romeo.


Hanya dengan berjalan kaki dan menyebrang jalan raya, Romeo telah sampai di kafe itu. Benar saja, istrinya sedang asyik berbicara dengan Bagas. Sesekali terlihat wajah gadis itu tertawa saat ngobrol bersama Bagas. Bahagia sekali.


Romeo menyadari jika selama ini dia jarang mengajak Mala duduk berdua sekadar ngobrol atau bercanda. Rupanya hidup Romeo terlalu serius.


"Kau disini rupanya?" ucap Romeo mengejutkan Bagas.


"Eh, Abang, ayo gabung." Mala mengajak Romeo untuk duduk bersama.


Wajah Bagas berubah sepet. Kedatangan Romeo telah mengganggu dirinya.


"Abang mau pesan apa?" tanya Mala.


"Tidak perlu, nanti pesanan Abang juga dateng."


Mala melongo, mungkin Romeo telah memesannya terlebih dahulu. Rupanya beberapa saat kemudian, secangkir kopi hitam datang.


Memang belum jam makan siang, tapi Romeo selalu datang ke kafe itu sebelum jam makan siang dan selalu memesan kopi. Menikmatinya sambil memikirkan hal-hal indah ketika hatinya tidak karuan.


Kafe langganan yang telah hafal dengan kebiasaan Romeo dan menu favorit Romeo.


Romeo tidak memperdulikan ucapan Mala. Tatapannya fokus pada seorang wanita yang sangat dia kenal sedang bersama lelaki lain. Hatinya memanas.


Sebenarnya Romeo ini mencintai siapa?


"Ehmm, panas banget di sini." Bagas yang sedari tadi diam menyahut. Karena tahu apa yang sedang Romeo lihat.


"Adem gini kok panas sih, Kak?"


"Panas hati maksudnya. Kalian mesra sekali," sindir Bagas.


Romeo tahu jika sahabatnya itu sedang menyindir dirinya.


"Tentu saja mesra. Aku dan dia sudah menikah!"


Bagas yang sedang menyeruput kopi tersedak. Kaget rupanya mendengar pengakuan Romeo.


Menikah!


Sejak kapan Romeo menikah, dia sama sekali tidak tahu kabar itu.


"Kalian suami istri?" tanya Bagas tidak percaya.


Mala dan Romeo mengangguk. Senyum kemenangan terlihat di wajah Romeo.


"Bukannya Mala ini masih sekolah?"


"Iya, Kak. Aku di jodohin sama dia. Terus kami menikah satu bulan yang lalu."


Pupus lah sudah harapan Bagas untuk mendekati gadis semanis Mala.


"Galau deh gue. Kenapa nggak bilang dari tadi sih, La?"


Mala mengulum senyum, Romeo tertawa dan memukul kepala Bagas dengan sumpit.


"Makanya tanya, jangan asal deketin!"


"Gue kira ya dia ponakan elu!"


"Memangnya kalau aku istri Abang Romeo kenapa?" tanya Mala pura-pura tidak tahu.


"Ya ... nggak apa-apa sih, La." Bagas tertawa.


Meski hatinya kecewa, tapi dia tidak mempermasalahkan. Selalu saja Bagas kena sial, saat mencoba mendekati wanita. Pasti sudah memiliki hubungan dengan Romeo.


Dulu Naura, sekarang Mala. Apes banget hidup Bagas. Hingga sekarang masih saja jomblo.


"Kalau udah nikah, terus tadi Naura kenapa?"


Ucapan Bagas membuat Romeo terdiam. Kalau saja tidak ada Mala, dia akan menceritakan semuanya. Romeo tidak ingin Mala mengetahui. Lelaki itu ingin menjaga perasaannya.


Namun, Rupanya Mala telah mengetahui semuanya.


"Dia hamil, Kak."


Bersambung ...