Unknown Husband

Unknown Husband
Ada apa dengan Romeo?


Bagas tersentak, kaget. Dia menatap Romeo penuh tanya. Tidak menyangka pula jika Romeo lah pelakunya. Namun, terlintas ide gila jika memang benar Romeo pelakunya, maka Mala pasti meminta pisah. Dengan begitu Bagas bisa mudah mendekati Mala.


Halah, malah senang dia. Padahal belum tentu Romeo pelakunya.


Keadaan ngopi mereka pun menjadi canggung, Romeo sendiri terkejut karena Mala telah mengetahui.


Memang ada yang berbeda dari Mala hari ini, dia terlihat lebih dewasa dan manis. Membuat para lelaki yang melihat pasti ingin mendekat.


Jika penampilan Mala seperti ini terus, bisa-bisa Romeo semakin dilanda virus yang membuat debaran di dada semakin kencang. Menyesakkan jika melihat Mala dengan lelaki lain.


“Abang, kok Mala bengong, sih!” Mala mengibaskan tangannya di depan wajah Romeo.


Gelagapan karena tertangkap basah sedang menatap Mala, Romeo menjadi salah tingkah. Tentu hal ini membuat Bagas tertawa.


“Pilih dia atau Naura jadinya?” celetuk Bagas.


“Maksudnya?” sahut Mala.


“Ah, jangan dengarkan dia. Sudah selesai semuanya. Kau tenang saja, sayang.”


Sayang? Mendengar Romeo memanggil Mala dengan sebutan itu untuk pertama kalinya, Mala menjadi malu. Meronalah wajahnya.


Rupanya Mala pun merasakan debaran di dadanya semakin kuat. Ditambah saat Romeo menggenggam tangannya. Panas dingin sudah.


“Apanya yang selesai? Jangan bilang lu suruh gugurin,” tuduh Bagas yang belum tentu benar adanya.


“Dia bukan anak gue. Lagipula sejak dia kembali, gue nggak pernah ketemu dia. Mana mungkin bisa hamilin dia. Jika ada yang halal, kenapa cari yang lain?”


Bagas melirik ke arah Mala. Pupus lah sudah harapannya. Sedangkan gadis yang di lirik sedang merasakan hawa panas di tengkuknya. Lalu keringat dingin menjalar di sekujur tubuhnya. Mala ingin segera pergi, dekat dengan Romeo malah mengaduk-aduk isi hatinya.


Padahal dia sengaja datang ke kantor hanya ingin menyelamatkan Naura. Bukan malah duduk bersama dan terlihat mesra seperti ini.


Masih teringat jelas saat Mala melihat Naura yang keluar dari rumahnya. Penampilan yang acak-acakan, lalu masuk ke dalam taksi. Mala mengikuti Naura yang ternyata menuju kantor Romeo.


Lalu Mala melihat Naura di dorong oleh para satpam yang tidak mengizinkannya masuk.


Ya, semua seperti yang dikatakan oleh wanita yang dia temui. Airin namanya. Teman dekat Romeo, yang tidak sengaja bertemu Mala saat di kafe yang pernah Mala lihat dengan Romeo.


Mala sengaja tidak masuk sekolah, pergi ke rumahnya dan menceritakan semua kepada ibunya.


“Sebaiknya kamu ke kafe itu lagi, tapi jangan seperti ini penampilanmu. Kafe itu untuk orang dewasa soalnya.” Ibu Mala memberi nasehat.


“Lalu, Mala harus bagaimana, Bu?”


Terlihat wanita paruh baya yang masih cantik dan elegan itu berpikir. Lalu mengajak Mala ke kamarnya untuk mengganti baju, ibunya pun mendadani Mala agar terlihat sedikit dewasa. Rupanya membuat Mala terlihat cantik dan menarik perhatian. Semakin khawatirlah sang ibu jika membiarkan anak gadisnya pergi sendiri.


“Ibu akan mengantarkannya saja, Nak.”


Mala mengangguk. Takut juga dia jika sendiri. Karena kafe itu adalah tempat untuk orang dewasa dengan para lelaki hidung belang. Mala sendiri tidak tahu mengapa Romeo berada di sana dengan wanita itu.


Mala pun tidak sengaja melihat mobil Romeo di parkiran saat ingin pergi ke Gramedia. Lalu meminta Adel untuk masuk ke kafe itu meski awalnya menolak.


“Ibu, apa yang harus aku lakukan?” Mala bertanya kepada ibunya, karena dia tidak ingin menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa soal suaminya.


“Cobalah bertanya pada kasir, siapa tahu dia kenal.”


“Tapi ... Mala tidak tahu namanya.”


Semakin bingunglah ibunya karena tidak tahu apa yang harus dilakukan pula. Susah memang mencari seseorang tapi tidak punya foto dan tidak tahu namanya.


Namun, saat Mala menoleh ke arah pintu kafe, dia melihat wanita itu bersama om-om. Wanita itu bergelayut manja di lengan lelaki yang berusia sekitar empat puluh tahun.


“Kamu yakin, sayang?” tanya Ibu ragu.


Mala mengangguk lalu membuka pintu mobil dan melangkah ke arahnya. Ibu Mala hanya melihat putrinya menyelesaikan masalah dari dalam mobil.


Selesai bercakap-cakap dengan wanita bernama Airin, Mala kembali ke mobil dan menyerahkan secarik kertas kepada ibunya.


“Kita ke alamat itu, Bu. Ada hal penting yang harus Mala selesaikan.”


“Apa ini juga kekasih Romeo?”


Mala mengangguk. Sang ibu hanya menggelengkan kepala, tidak menyangka jika menantunya memiliki hubungan dengan banyak wanita.


“Dia Airin, buka pacar Abang. Dia sahabat dekat, Abang memang selalu memperlakukan Airin seperti kekasih. Tapi tidak ada perasaan apapun di hati Abang, makanya Mala di suruh ke alamat ini.”


“Jadi yang kamu lihat jika Romeo memberikan kalung itu apa?”


“Kado ulangtahun, sebenarnya bukan dari Romeo, katanya dari Roni. Airin juga menunjukkan liontinnya. Cincin yang terukir nama Roni.”


“Roni?” Ibu merasa familiar dengan nama itu, tapi segera melupakan dan tidak perduli kembali.


Mala menjelaskan semua perbicangan mereka dengan Airin, hingga tanpa terasa sudah sampai di depan rumah Naura.


Baru akan keluar dari mobil, Mala melihat gadis itu setengah berlari dengan mata sembab dan penampilan acak-acakan. Masuk ke dalam taksi. Mala menyuruh ibunya untuk mengikuti taksi itu.


Tugas Mala sudah selesai dan ini berkat bantuan ibunya. Kalau saja dia tidak nekat, mungkin setiap harinya Mala akan dihantui rasa penasaran.


“Jadi ... Kalau bukan Abang, siapa pelakunya?”


“Yang pasti bukan aku,” sahut Bagas.


Tertawalah Mala, Bagas telah membuat hatinya sedikit santai.


Romeo hanya mengangkat bahu, karena dia sendiri tidak tahu siapa pelakunya. Juga dengan siapa Naura menjalin kasih. Baginya Naura sudah mati bersama lelaki selingkuhannya dulu.


Kembali hati Romeo memanas mengingat masa lalu, napasnya memburu dan kedua tangan mengepal. Ingin melampiaskan amarahnya, tapi kepada siapa?


“Abang ... Kenapa?” tanya Mala khawatir.


“Romeo, lu kenapa?” Bagas pun ikut bertanya karena khawatir.


Tidak ada jawaban dari bibir Romeo. Dia masih terlihat sama. Lalu menggebrak meja dan berteriak.


“Brengsek!”


Romeo pergi dengan luapan emosi di dada. Meninggalkan pertanyaan di hati Mala.


Kenapa sebenarnya dengan Romeo?


Bersambung ...


Part ini acak-acakan. Karena aku hapus semua, di aku sudah rapi, tapi entah mengapa di sini jadi acak-acakan tidak karuan.


Cerita yang sebenarnya dari part 1-21 lalu loncat ke part 33-34.


Awalnya nggak nyambung, makanya aku revisi total, eh jadinya acak-acakan dari part 22 nya. Maafkan aku. 😭😭


jadi sebenarnya part 22-32 itu sudah aku hapus.