
Romeo tahu kesalahannya di masa lalu sangatlah fatal. Seharusnya sebelum hubungan dirinya dengan Mala tumbuh rasa cinta, Romeo menceritakan semua kesalahannya. Kalau sudah begini apa yang akan terjadi?
Romeo meremas rambutnya frustasi. Sesilia tiada hentinya terus mengirim pesan yang tidak sepantasnya. Dia terus mengejar Romeo. Entah apa yang diinginkan wanita itu.
Namun, jika Romeo mengingat perlakuan Sesilia saat itu, hati Romeo di penuhi rasa dendam yang membara.
Perselingkuhannya dengan lelaki lain menjadi pemicu retaknya hubungan mereka yang tinggal sebentar lagi menuju pelaminan.
“Jadi ini kelakuan kamu di belakangku?” Romeo geram melihat dengan mata kepala sendiri, Sesilia sedang bermesraan dengan lelaki lain di sebuah kamar hotel.
“Iya! Kenapa memangnya!” Sesilia tidak merasa bersalah, justru dia terlihat senang karena perselingkuhannya di ketahui Romeo.
“Aku nggak nyangka, wanita yang aku cintai dan akan menjadi calon istri, bukan wanita baik-baik yang bisa menjaga harga diri!”
“Kau terlalu polos, Romeo!” Sesilia mengitari Romeo yang berdiri di dekat pintu tanpa sehelai pakaian.
Lelaki yang menjadi selingkuhannya itu tetap duduk di ranjang memperhatikan aksi Sesilia.
“Bahkan melihatku seperti ini pun kau tidak tergoda sedikitpun! Lelaki macam apa kau ini?” Sesilia mendorong tubuh Romeo.
Romeo melayangkan satu tangannya hingga mengenai pipi Sesilia. Satu tamparan telah berhasil membuat Sesilia terdiam.
“Aku tak sudi dengan wanita murahan seperti dirimu!” Romeo pun berlalu keluar meninggalkan mereka.
“Suatu hari nanti kau pasti akan mencariku!” teriak Sesilia.
Romeo tidak perduli dengan sumpah serapah yang Sesilia lontarkan. Dia bukannya tergoda melainkan merasa jijik melihat wajah Sesilia. Bahkan tidak takut dengan sumpah yang katanya akan terjadi.
Romeo membenci Sesilia sejak kejadian itu. Dia berjanji akan melupakan semua kenangan indah saat bersama Sesilia. Masa bodoh dengan pernikahan yang akan terjadi.
Mengingat hal itu membuat dadanya panas dan ingin sekali melenyapkan Sesilia dari muka bumi ini. Segala cara telah dia lakukan, tapi sayangnya wanita itu sangat licik.
Bahkan Romi yang notabene adalah penjahat wanita pun kalah dengannya.
“Abang?” panggil Mala membenarkan posisi tidurnya.
“Kok belum tidur?”
Romeo tersenyum lalu membelai lembut wajah istrinya. Malam ini Romeo tidak bisa tidur karena terganggu oleh Sesilia.
“Belum, sayang. Abang ... Kebanyakan kopi tadi,” ucapnya berbohong.
Mana mungkin Romeo menceritakan semua masalahnya kepada Mala yang terlalu polos. Bagi Romeo Mala adalah gadis kecil yang polos. Selamanya akan polos karena Romeo sangat menyukainya.
Bukan untuk berbohong, tapi polos karena Romeo percaya bahwa cinta Mala akan tetap untuknya. Dia tidak akan pernah mendua seperti para wanita yang pernah dekat dengannya.
“Lagian Abang kopi nggak berhenti. Rokok doang yang berhenti.”
Romei tersenyum. “Kan biar nggak ngantuk. Kamu tidur lagi gih, atau mau bermain sama Abang?”
Mendengar ucapan Romeo, Mala segera menutup tubuhnya sampai ke kepala dengan selimut. Tubuhnya masih terasa lemas dan sakit akibat ulahnya sebelum tidur tadi.
Romeo tertawa geli melihat tingkah istri kecilnya. Dia malah menggoda Mala agar mau menuruti keinginannya.
***
Esok harinya, setelah mandi Romeo di kejutkan kembali oleh pesan WhatsApp dari Sesilia. Beruntung Mala sedang tidak di kamar, kalau Mala sedang berada di situ mungkin telah di bacanya.
Sesilia mengirimkan beberapa foto dirinya sedang tidur bersama dengan Sesilia. Romeo sama sekali tidak ingat apa yang terjadi. Dia hanya ingat ketika pagi tiba telah berada di apartemen Sesilia karena dirinya mabok berat.
Memang saat terbangun Romeo hanya memakai selimut yang membalut tubuhnya. Namun, Sesilia tidak ada di sampingnya.
'Apa maumu, ******!' tulis Romeo pada pesan balasannya.
Bukannya membalas, Sesilia malah melakukan panggilan video call. Terpaksa Romeo menekan tombol hijau, dia tidak mau di ganggu seperti semalam. Dimana Sesilia terus menelpon dan mengirim kata-kata mesra.
'Pagi, sayang.’
Romeo cepat menekan tombol merah. Dia terkejut melihat Sesilia yang tidak memakai sehelai kain. Memamerkan sebagian lekuk tubuhnya.
'Hah! Apa maumu sebenarnya!'
'Temui aku di kafe dekat kantormu. Maka aku akan mengatakannya.’
Mau tidak mau Romeo pun menjawab, 'oke.’
Dia sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan Sesilia yang seolah-olah terus mengejarnya. Kemarin Naura yang meminta pertanggungjawaban, kali ini Sesilia dengan segala kegilaannya.
Romeo melempar ponselnya ke atas ranjang. Lalu meremas rambutnya frustasi. Kepalanya seakan ingin pecah. Hubungan rumah tangga yang baru saja terjadi indah, selalu ada cobaan bertubi-tubi yang datang.
Apakah Romeo harus menceritakan semuanya kepada Mala?
Seharusnya begitu, karena Mala berhak tahu atas segala masa lalunya.
Hati Romeo memaksa agar dia jujur pada Mala. Ya, mungkin pagi ini Romeo ingin jujur pada istri kecilnya.
“Abang, kok masih di sini?” Romeo menoleh ke arah Mala yang sedang menggendong pangeran kecilnya.
Mala menatap Romeo penuh tanya karena wajah Romeo nampak kusut, tidak seceria biasanya. Seperti menyimpan sesuatu atau sedang tertimpa masalah.
“Abang, baik-baik saja?” Mala memegang kening Romeo. Takut jika suaminya sedang tidak enak badan.
“Duduklah, Abang ingin bercerita.”
Mala pun memenuhi perintah Romeo. Wajah suaminya itu terlihat serius. Sepertinya akan mengatakan hal yang serius.
Namun, saat dia membuka mulutnya hendak bicara suara ponsel tanda pesan masuk berbunyi.
Pesan dari Sesilia.
'Ingat! Jangan katakan apapun pada istrimu, kalau tidak ingin aku sebarkan semua foto ini!'
Sebuah ancaman yang berat. Romeo takut jika Mala melihat semua foto itu. Takut juga jika Mala pergi dari hidupnya. Namun, segera Romeo tepis semua rasa itu. Dia sudah tidak perduli dengan segala teror dari Sesilia.
“Abang, ada apa? Kok wajahnya kayak ada masalah gitu?”
Romeo menghela napas. Entah darimana dia harus bercerita.
“Sayang, kalau Abang cerita tentang masa lalu, kamu bakal marah nggak?”
“Tergantung apa dulu.”
Romeo kembali ragu. Ditatapnya Arka yang tengah tertidur pulas dalam gendongan Mala.
“Gletakin Arka dulu gih. Abang mau cerita.”
“Tapi ini udah siang, Bang. Nanti terlambat. Kenapa nggak semalam aja?”
“Abang udah suruh Karin untuk mengatasi semuanya.”
Mala mengangguk, lalu meletakkan Arka ke boxnya.
“Cerita apa, Bang?” tanya Mala penasaran.
“Sebenarnya ada hal penting yang ingin Abang ceritakan. Soal hubungan masa lalu Abang.”
Mala yang duduk di samping Romeo mendengarkannya dengan seksama. Penasaran tentang apa yang ingin Romeo ceritakan.
“Sesilia namanya. Dia adalah mantan kekasih Abang. Hubungan kami akan menuju ke pernikahan. Tapi seminggu sebelum pernikahan itu terjadi, Abang memergoki Sesilia sedang bermesraan dengan lelaki lain.”
Romeo menghela napas sejenak. Dia benar-benar tidak kuat jika harus menceritakan semuanya.
“Lalu?”
“Dia datang kembali setelah bertahun-tahun pergi entah kemana. Mengirim teror entah apa tujuannya. Semalam Abang memikirkan itu, Abang takut jika harus kehilangan kalian.”
“Bukan hanya itu saja, dia meminta ketemuan hari ini di kafe.”
“Temui dia Abang, siapa tahu ada hal yang membuatnya seperti ini.”
“Kamu nggak marah?”
Mala menggeleng lemah. Mala tahu ini bukan soal cemburu. Melainkan saatnya dia harus bersikap dewasa. Ada saat dia harus melawan kecemburuan tentang semua wanita yang pernah dekat dengan Romeo.
“Dia juga mengancam jika akan menyebar semua foto masa lalu Abang ke kamu.”
“Foto?” Mala menautkan alis.
“Ya, foto yang Abang sendiri tidak tahu apakah melakukan itu atau enggak. Karena saat itu Abang sedang mabuk.”
Lemas sudah tubuh Mala. Hatinya terasa di tusuk oleh ribuan jarum. Baru beberapa bulan yang lalu Mala bertemu dengan Naura saat menunggu hasil test DNA. Naura menceritakan tentang hubungannya dengan Romeo yang pernah tidur bersamanya.
Sekarang ... Mala harus mendengar kembali cerita bahwa suaminya pernah tidur bersama wanita lain. Bukan dari orang lain melainkan dari mulut suaminya sendiri.
Haruskah Mala memaafkan semua kesalahan Romeo?
“Dia hamil?” tanya Mala memastikan.
“Kejadian sudah lama sebelum kami ingin menikah. Satu kali itu aja, makanya Abang mau tanggung jawab meskipun dia bilang tidak hamil.”
Lega, karena kasusnya tidak seperti Naura. Ya, walaupun terbukti itu bukan anak Romeo, tetap saja Mala kecewa dengan Romeo.
“Abang, sebaiknya selesaikan masalah ini. Sebelum masalah semakin besar. Temui dia dan tanyakan apa maunya.”
Romeo tidak percaya dengan ucapan dari bibir Mala. Bukan kemarahan atau kecemburuan seperti yang dia bayangkan. Melainkan sebuah sikap yang bijak.
“Kamu beneran nggak marah? Atau ketemuannya sama kamu gimana?”
“Nggak, aku percaya sama Abang. Kalau pergi sama aku, yang ada malah tambah runyam.”
“Makasih, sayang. Abang takut kalau kehilangan kalian.” Romeo memeluk erat tubuh Mala yang kini terlihat lebih berisi.
Waktu membuat Mala menjadi lebih dewasa. Kedewasaan mengajarkan padanya untuk bersikap bijak dalam mengambil keputusan.
Masalalu bukan alasan untuk dia meninggalkan Romeo. Baginya takdir yang akan menentukan bagaimana rumah tangganya suatu hari nanti. Dia hanya menjalankan tugas sebagai seorang istri juga ibu.
“Abang janji setelah ini tidak akan ada lagi yang akan mengganggu kita.”
Next .....
Kira-kira apa yang akan terjadi ya saat Romeo dan Sesilia bertemu.