Unknown Husband

Unknown Husband
Masa Lalu


Flashback on


Di sebuah taman kota, seorang gadis sedang duduk bersama dengan seorang lelaki. Nampak begitu romantis, tangan lelaki itu melingkar di pundak sang gadis. Berbincang-bincang dan membahas soal hubungan. Sesekali mereka tertawa dan kembali bercerita. Sesekali pula lelaki itu mencium puncak kepala gadisnya.


Tanpa sadar ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari belakang. Sebuket bunga lili dan boneka beruang terjatuh begitu saja.


Hatinya terasa sakit ketika mendengar perbincangan mereka dan melihat mereka begitu mesra.


"Lalu jika kau di suruh memilih, kau akan memilih aku atau dia?" lelaki itu bertanya.


"Aku memilihmu, karena kamu paling mengerti aku," ucap gadis berambut pirang itu.


Ada rasa yang tergores di dalam hati lelaki yang berada di belakang kursi mereka. Jarak yang tidak terlalu jauh, membuat lelaki itu bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan.


Rupanya gadis itu adalah kekasihnya, dia telah mengkhianati cintanya. Kesabaran telah habis, kini lelaki yang sedari tadi bersembunyi, menghampiri mereka.


"Oh, ternyata benar kau telah menduakan aku, Naura."


Gadis bermata sipit itu terkejut dengan kedatangan lelaki tampan yang memiliki gingsul secara tiba-tiba.


Cepat mereka bangkit dari duduknya. Lelaki yang di duga sebagai selingkuhannya mencoba menenangkan dan mencairkan suasana.


Namun, apa yang terjadi?


Bruuuk ... Brukk ...


Lelaki berkulit sawo matang itu menjadi sasaran kekasih Naura.


"Romeo, Cukup! Kau salah paham," teriak Naura yang berusaha memisahkan mereka.


Namun, apa daya tenaga seorang perempuan yang tidak sebanding dengan tenaga lelaki. Naura justru terkena tamparan Romeo dan membuatnya terjatuh. Romeo semakin murka, emosinya terus bertambah tanpa mengampuni lelaki yang berada di bawah tubuhnya.


"Romeo, dengarkan aku dulu," ucap lelaki itu susah payah.


Romeo tidak perduli, rasa sakitnya tidak sebanding dengan apa yang dia lihat dan dia rasakan.


"Romeo, cukup. Hentikan atau aku akan berteriak!"


Suasana taman sore itu memang sepi, para pengunjung pun telah pergi karena hari menjelang senja. Tidak ada satu orang pun yang melerai mereka.


Susah payah lelaki yang bernama Eza itu bangkit dan pergi menjauh dari amukan Romeo. Pada akhirnya lelaki itu berhasil menjauh dan menarik tangan Naura.


"Naura, jelaskan padanya," ucap Eza dengan napas naik turun.


"Romeo, tenanglah. Aku bisa jelaskan semua ini. Aku dan Eza hanya berteman."


"Berteman katamu? Aku tidak tuli, Naura. Semua telah aku dengar, apa yang harus di jelaskan lagi!"


"Romeo__"


"Cukup! semua udah selesai dan kalian pergi dari sini!"


Namun, Naura masih setia menatap lelaki itu. Memohon agar dia mau memaafkannya kembali. Menganggap semua adalah salah paham.


"Aku sudah menuruti semua keinginanmu, dan hari ini kau telah menghancurkan semuanya. Kau telah mengingkari Janji yang pernah terucap."


"Pergi dari hadapanku sekarang!" teriak Romeo.


Eza menarik tangan Naura agar segera pergi daripada harus terkena amukannya kembali.


"Naura, ayo pergi. Biarkan dia di sini," ucap Eza menatap tajam Romeo.


"Kau seharusnya beruntung memiliki Naura, seharusnya kau dengar semuanya. Kau akan menyesal nanti," lanjut Eza.


"Jalan keluar ke arah sana dan lurus lalu belok kiri menuju parkiran!"


"Romeo, maafkan aku," ucap Naura lirih.


Romeo tidak perduli apapun yang mereka katakan. Hatinya terlalu sakit, semua yang dia dengar telah cukup menjelaskan bahwa Naura telah mengkhianati cintanya.


***


Semenjak kejadian itu, kehidupan Romeo berubah. Dia selalu bersikap dingin kepada siapapun. Terutama kepada seorang perempuan. Bahkan Romeo sering terlihat sedang melamun dan tidak konsen dalam bekerja.


Romeo benar-benar frustasi. Siapa yang tidak akan sesakit ini. Melihat seseorang yang sangat di cintai telah mendua.


Meski kejadian itu sudah terjadi dua tahun lamanya, Romeo masih tidak bisa melupakan Naura. Selalu nama itu yang dia sebut, sebelum kedua matanya tertutup dan kesadarannya menghilang.


Ayah Romeo tutut prihatin dengan kondisi anaknya. Beberapa teman kerja yang memiliki anak perempuan, di kenalkannya pada Romeo. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada yang bisa merubah Romeo.


Termasuk Reva.


Hingga lima tahun berlalu dan Romeo sedikit berubah. Ayah Romeo telah menemukan sosok yang menurutnya pas untuk putranya. Dia adalah anak dari rekan bisnisnya yang juga termasuk dalam keluarga terpandang.


"Apa kau mau menikahinya?"


Romeo menatap foto gadis yang memiliki usia tujuh tahun lebih muda darinya. Ada rasa ketertarikan saat lelaki berlesung pipi itu menatap foto gadis pemberian Ayahnya.


"Dia masih sekolah, mana mungkin mau menikah dengan seorang pria dewasa."


"Ayah dan orangtuanya yang akan mengatur semuanya. Kau cukup tenang saja. Apa kau setuju?"


Romeo mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari foto tersebut.


***


Gadis itu adalah Mala. Seorang putri dari keluarga Gazello. Keturunan ke tujuh keluarga Gazello yang sangat di nanti. Ke enam keturunan itu adalah seorang lelaki, dan kini mereka telah sukses membangun bisnisnya sendiri.


Keturunan perempuan lah yang pantas mendapatkan warisan keluarga Gazello sepenuhnya.


Hal ini adalah anugerah untuk pasangan Raymond dan Arabel, karena di karuniai seorang anak perempuan. Sesuai ramalan sesepuh yang bertemu mereka secara tidak sengaja.


"Kalian akan dikaruniai seorang anak perempuan. Jaga dia dari para lelaki yang menginginkannya. Suatu hari akan ada pangeran yang akan melindungi dirinya."


Raymond dan Arabel tidak percaya, tapi dia menghargai ucapan wanita tua itu.


"Satu hal lagi, jaga dia dari orang-orang jahat."


Bersambung ...