
Eyang menjewer telinga Romeo setelah mendengar semua cerita tentang kebiasaan minum teh. Lalu memberi hukuman kepada lelaki itu, berdiri dengan satu kaki di sampingnya sambil menunggu kami selesai berbincang-bincang.
Kasian juga sebenarnya, tapi keputusan Eyang tidak bisa di ganggu gugat.
Dalam hati Mala dia tertawa puas. Meski merasa kasian dan ingin membujuk Eyang untuk menyudahi hukumannya.
Namun, gadis itu takut jika mendapatkan hukuman pula dari Eyang.
Mala memilih menuruti perintah Eyang. Menikmati teh sambil memakan kudapan.
"Eyang, Romeo lelah! Udah ya?" rengek Romeo.
"Eyang belum kelar. Apa kamu Ndak tahu?"
sahut Eyang tegas.
"Romeo nggak Kuat, Eyang. Kalau pingsan gimana?"
"Oalah, jadi cowok kok lembek!"
Lucu memang percakapan antara nenek dan cucu. Eyang terus menyahut ucapan Romeo. Tidak mau kalah rupanya.
Mala ingin sekali tertawa dan meledek Romeo saat ini. Berhubung ada Eyang di hadapannya, Mala menahan dan tetap bersikap anggun. Meski tangannya sudah gatal ingin mencubit pipi Romeo.
"Eyang, maaf bukannya Mala lancang. Sudah tiga puluh menit, kasian Abang Romeo."
Wajah Romeo sedikit memelas. Eyang berpikir sejenak dan melihat benda yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ya sudah, hukuman selesai!"
Romeo menghela napas lega. Terik matahari membuat wajahnya sedikit memerah dan keringat bercucuran.
"Ingat, ini semua karena Mala. Kalau bukan Mala yang minta, Eyang masih mau menghukum kamu!"
"Ampun, Eyang. Romeo janji nggak bakal ninggalin tradisi ngeteh bersama!" ucapnya sambil menahan sakit karena telinganya di jewer.
"Gemes Eyang, gemes!" ujar Eyang yang bertambah keras menjewer telinga Romeo.
Mala hanya mengulum senyum.
"Bereskan ini semua!"
"Kan ada Bik Martha."
Eyang memukul lengan Romeo dengan kipas yang sejak tadi di bawanya.
"Eyang nyuruh kamu, bukan Bi Martha!"
Romeo menghela napas. Kesal rupanya.
"Ayo, Nduk! Kita ke dalam saja. Biarkan Romeo di sini menyelesaikan tugasnya."
"Baik, Eyang."
Mala mengekor. Sebelum dia memberikan ledekan kepada Romeo.
"Yang kuat ya, Mas."
Tawa Mala meledak sudah ketika Eyang telah menghilang dari hadapannya.
Baru kali ini Mala melihat wajah Romeo yang takut dengan Eyang. Biasanya dia terlihat cool .
***
"Lho, bukannya ini kamar buat kamu belajar saja, Nduk?" tanya Eyang ketika masuk ke kamar Mala.
Mala yang bersiap akan tidur, terkejut dengan kedatangan Eyang yang tiba-tiba. Tidak tahu harus beralasan apa lagi.
"Iya, Eyang. Tadi ... Mala hanya ... membereskan kasurnya saja."
Eyang mengangguk. "Ya sudah sana tidur. Ini sudah malam, besok kamu kesiangan."
Mala pun keluar dari kamarnya, diikuti Eyang yang masih mengawasi. Curiga jika selama ini mereka tidur terpisah. Padahal sudah menjadi suami istri.
"Mala tidur dulu, Eyang," ucapnya sambil membuka pintu kamar Romeo. Beruntung tidak di kunci.
Mala menghela napas lega, karena Eyang tidak mengintrogasi dirinya.
Namun, saat hendak berbalik badan menuju tempat tidur, dia di kejutkan oleh Romeo yang telah berdiri di belakangnya.
"Abang, ih! nggak lucu tau nggak!"
Romeo terkekeh.
"Kamu salah kamar, atau memang sengaja pengen tidur bareng?"
"Enak aja! tadi ada eyang yang tiba-tiba masuk. Terus nungguin aku masuk ke kamar ini."
"Oh, Baguslah."
Romeo melangkah santai ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuhnya tanpa perduli ada Mala yang sedang berdiri.
"Tidur di sini juga?"
"Ini kan kamar Abang, jadi bebas dong tidur di mana aja."
"Di sofa apa, Bang. Masa iya satu ranjang," protes Mala.
"Kalau nggak mau, balik ke kamarmu gih."
Dengan wajah yang cemberut dan penuh keterpaksaan, Mala memilih tidur di samping Romeo. Meski jantungnya berdebar tidak karuan.
Mereka tidur dengan posisi saling membelakangi. Untuk pertama kalinya, mereka tidur dalam satu ranjang.
Jika bukan karena Eyang, entah kapan mereka akan seperti ini.
Romeo sulit memejamkan mata, karena belum terbiasa tidur dengan seorang wanita. Apalagi Mala yang takut jika Romeo macam-macam.
Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing hingga malam semakin larut. Mala dan Romeo menyerah karena rasa kantuk tidak lagi tertahan.
***
Pagi.
Mala terkejut ketika membuka mata. Posisi yang nyaris berpelukan itu membuatnya syok.
Mala memukul wajah Romeo dengan bantal.
"Abang, Bangun!"
Masih setengah sadar Romeo perlahan membuka mata. Lalu terkejut saat melihat Mala berada di kamarnya.
Terkadang orang yang baru saja bangun tidur, ingatannya sedikit menghilang.
"Abang, pasti semalam mau macam-macam ya?"
Romeo duduk bersandar di kepala ranjang, mencerna ucapan Mala. Semalam dia tidur terlalu pulas karena tubuhnya yang lelah akibat hukuman dari Eyang.
"Ngaco kalau ngomong."
"Terus kenapa meluk-meluk aku?"
Romeo mengingat posisi tidurnya semalam. Tidak ada yang salah. Mereka saling membelakangi.
"Ya kalau meluk kan nggak sengaja. Abang, pikir guling. Eh taunya guling hidup."
Mala memukul wajah Romeo lagi dengan bantal. Kali ini dia telah bersiap sehingga bantal itu tidak mengenai wajahnya.
"Kalau aku hamil, tanggung jawab!"
to be continue