Unknown Husband

Unknown Husband
Kencan?


Mala menutup pintu kamar dengan jantung berdebar. Ini mimpi atau nyata? Romeo mengajaknya kencan untuk pertama kalinya. Terlintas wajah wanita yang diberi kalung saat di kafe. Kekesalan melanda, Mala tidak habis pikir, kok bisa Romeo mengajaknya kencan? Sedangkan di luar sana ada hati wanita yang sedang menunggu.


Memang benar Mala ini istrinya, tapi Mala tidak ingin jika nantinya dia dijadikan pelampiasan. Meski Mala belum tahu masalah yang menimpa Romeo dan para kekasih lainnya.


Lelaki itu pandai menyembunyikan rahasia, atau mungkin Mala tidak berani bertanya. Bisa saja Romeo akan bercerita tentang semuanya, jika Mala dekat dengan lelaki itu.


Sialnya, Mala enggan dekat dengannya.


Masih belum bisa menerapkan bahwa Romeo adalah suami sahnya. Mala tidak tahu lagi harus bagaimana menjalani kehidupan yang penuh pertanyaan ini.


Kini rasa penasaran itu bertambah, mendengar nama Roni dan wanita hamil. Mala semakin pusing memikirkan semua itu. Di tambah Romeo yang mengajaknya kencan.


Mala memilih menutup telinga dengan headset dan berselancar di akun sosmednya. Daripada harus mendengarkan ketukan pintu berkali-kali. Mala tahu di luar sana yang mengetuk pintu kamarnya adalah Romeo.


Ya, memang benar. Lelaki itu terus memaksa Mala untuk membuka pintunya.


"Mala, buka atau Abang dobrak!"


Mala melangkah ke arah pintu dengan wajah cemberut.


"Ish, Abang, apaan sih!" gerutu Mala.


Romeo malah tersenyum melihat Mala yang kesal. Namun, sayangnya senyum kemenangan itu segera berakhir dan berubah menjadi kegelisahan.


"Ah, nggak apa-apa. Abang ... pikir kamu marah. Ya sudah tidurlah," ucap Romeo dengan sedikit terbata.


Romeo pergi meninggalkan Mala dengan memegangi dadanya. Detak-detak itu membuatnya tidak pede jika harus berhadapan dengan makhluk manis bernama Mala.


Entah mengapa semenjak memeluk Mala, perasaan Romeo menjadi tidak karuan.


Apakah itu benih cinta?


Hanya Romeo dan author yang tahu.


Mala menggelengkan kepalanya melihat tingkah Romeo.


"Nggak jelas banget!"


***


Naura memeluk kaki ibunya sambil menangis sesenggukan. Rupanya anak yang selalu di bela telah melukai hatinya. Jika beberapa hari wanita paruh baya itu memperjuangkan hubungan anakanya dengan Romeo, kini bukan kebahagiaan yang dia peroleh. Melainkan luka yang menancap di ujung hatinya paling dalam.


Marina, ibu Naura, tidak percaya jika putrinya itu sedang mengandung. Tidak tahu siapa yang telah menghamilinya. Naura tidak mau mengatakan siapa lelaki yang tidak bertanggung jawab itu.


"Ibu menyesal telah berbohong pada Romeo!" ucap Marina setenang mungkin.


"Ibu ... maafkan aku. Maaf aku telah mempermalukanmu," sahut Naura masih terisak.


"Maaf saja tidak cukup. Semua sudah terjadi dan ini salah ibu yang memberikan kebebasan padamu."


"Ini bukan salah ibu, ini salah aku yang tidak bisa jaga diri."


Suasana di ruang tamu itu penuh duka. Ibu yang berusaha tegar menutupi kesedihan dan mati-matian menahan emosi. Sang anak terus terisak menangis kesalahannya.


Hatinya terasa sakit mengingat siapa yang telah menanam benih di rahimnya.


Marina memaksa Naura untuk melepaskan kakinya. Namun, gadis itu semakin terisak.


"Ibu ingin istirahat!" ucap Marina tanpa menatap ke arah Naura.


Gadis berusia 22 tahun itu terus terisak dengan hati yang terluka. Merutuki dirinya sendiri karena telah bodoh. Menyalahkan takdir yang tidak berpihak padanya.


Seharusnya dia sudah bahagia dengan pernikahan impian itu. Kalau saja tidak ada lelaki yang merusaknya.


Sayangnya pernikahan dengan Romeo batal karena ada lelaki yang masuk dan merayunya. Membuat hati yang semula mencintai dan mempercayai Romeo, berubah menjadi kebencian.


"Maafkan aku Ibu ...."


Naura tidak tahu lagi harus bagaimana. Dilema. Antara membiarkan janin itu tumbuh atau menggugurkannya.


Jika membiarkannya tumbuh, kepada siapa dia harus meminta pertanggungjawaban. Jika dia tidak tahu siapa yang telah memperkosanya.


Hanya satu nama lelaki yang dia ingat betul, ketika berada di sebuah club malam. Lelaki yang telah memaksanya meminum alkohol.


Romeo?


Naura segera menghapus air matanya dan memesan taksi online.


.


"Aku ingin bertemu dengan atasanmu! Ini penting, apa tidak bisa juga?"


Naura geram, karena Romeo telah menyuruh para satpam agar tidak memperbolehkan dia masuk. Dari kejadian ini, Naura semakin yakin jika Romeo lah pelakunya.


"Maaf, Nona. Ini sudah menjadi peraturan perusahaan, anda tidak boleh masuk."


"Peraturan macam apa ini? Aku harus masuk!"


Kedua satpam itu terus berusaha mencegah Naura yang berusaha untuk masuk ke kantor Romeo.


"Biarkan dia masuk!"


Suara seorang gadis membuat kedua satpam itu mengalihkan pandangan. Seorang gadis dengan drees selutut berwarna biru muda dan rambut hitamnya dibiarkan tergerai, membuat kedua satpam itu terkejut.


"Tapi ... Bapak sudah__"


"Aku yang memperbolehkan, jika dia marah aku yang akan mengurusnya," ucap Mala tegas.


"Baik, Nona," ucap salah satu satpam itu.


"Pergilah, temui dia sekarang," perintah Mala.


Naura mengangguk dan masuk ke dalam kantor. Namun, bukan hanya satpam saja yang melarang dirinya. Kali ini salah satu sekretaris pribadi Romeo pun melarangnya, saat Naura sampai di depan ruangan Romeo.


"Bapak sedang sibuk, apa kau tidak denga!"


Karin meninggikan suaranya karena kesal.


"Katamu sedang ada rapat, lalu kenapa ada keributan di sini?"


Lagi-lagi kedatangan Mala mengejutkan. Karin terdiam dan menundukkan kepala. Meski Mala masih anak sekolah, tapi seluruh karyawan di kantor Romeo telah mengetahui siapa Mala. Sehingga mereka pun akan bersikap tunduk ketika bertemu Mala, layaknya bertemu dengan atasannya.


"Maaf, Nona. Tapi__"


"Bapak Romeo telah menyuruh kalian? Biarkan wanita ini bertemu beliau, jika diancam di pecat, maka saya yang akan bertanggungjawab."


"Baik, Nona."


"Antar dia ke ruangannya!"


Karin pun mengantar Naura ke ruangan Romeo Yang hanya beberapa langkah saja. Memang benar jika Romeo sedang ada tamu di ruangannya. Bukan tamu spesial atau kliennya. Melainkan lelaki yang sudah dia kenal sejak kecil.


"Masuk!"


"Pak, ada yang ingin bertemu."


Dahi Romeo mengerut. Lewat tatapannya seolah bertanya 'siapa yang datang?'


Belum sempat Karin menjelaskan Naura telah menerobos masuk. Ada keterkejutan pada diri Romeo. Bukan karena takut, melainkan heran mengapa bisa gadis ini masuk ke ruangannya.


Begitu juga dengan Bagas--sahabat Romeo--yang juga terkejut dengan kedatangan Naura.


Penampilannya sangat acak-acakan dan kedua matanya sembab.


"Karin! kenapa kau bisa__"


"Aku yang menyuruhnya, jangan pecat mereka."


Romeo lebih terkejut lagi ketika Mala datang. Penampilannya sangat berbeda, dia terlihat lebih dewasa. Detak-detak itu kembali menyerang dada Romeo.


Bagas menatap Mala tanpa berkedip.


Romeo yang melihat tingkah Bagas, lalu berdehem untuk mencairkan suasana. Mala telah membuat Romeo terlihat konyol. Jika semula wajahnya mengerikan, seolah akan menelan hidup-hidup Karin, kini telah menghilang dan berganti wajah yang entahlah.


"Kau pergi saja, Karin," titah Romeo.


Wanita itu mengangguk dan pergi.


Naura masih berdiri di ambang pintu dengan kepala tertunduk. Bagas masih terus menatap Mala. Romeo memilih menghampiri Mala dan mencium keningnya. Tidak perduli ada Naura di sampingnya. Dia pun tidak tahu jika gadis yang menolongnya adalah istri Romeo.


"Kenapa tidak memberitahu Abang kalau datang?"


"Lupa, Bang. Lebih baik, Abang selesaikan masalah ini?"


Bagas mendekat, bukannya mau ikut campur, dia merasa ada yang berbeda dengan suasana ruangan.


"Tunggu, bukankah dia ini calon istrimu? Lalu kenapa kau terlihat mesra dengan gadis kecil ini?"


Wajah Bagas terlihat bingung. Sementara Naura menahan emosi yang tinggi. Kedua tangannya telah mengepal.


Romeo menatap Mala dan Naura bergantian. Dia lupa memberitahu Bagas tentang apa yang telah terjadi.


Romeo menghela napas, memperhatikan Naura yang terlihat frustrasi. Lalu menyuruh wanita itu duduk di sofa.


Mala pun mengikuti Naura duduk di sofa. Dia memilih duduk di sofa depan Naura. Dan Bagas memilih duduk di samping Mala.


Ngambil kesempatan rupanya.


Wajah Romeo memanas melihat Bagas yang berusaha mendekati Mala, tapi segera perasaan itu di singkirkan karena mengingat ada Naura di sini.


Romeo prihatin dengan penampilan Naura, semenjak memutuskan hubungan, Naura terlihat tidak terawat. Romeo tidak lagi perduli karena semua ini bukan salahnya.


"Apa yang membuat kamu kemari?" tanya Romeo sinis.


Mala yang melihat tatapan tidak suka Romeo, segera menginjak kaki lelaki yang duduk di sofa sampingnya.


"Aku ... ingin bicara," kata Naura tanpa menatap Romeo. Gadis itu ingin marah tapi tidak sampai hati karena ada orang lain di ruangan itu.


Sebagai sesama wanita, Mala mengerti. Lalu dia beranjak dari duduknya dan memilih pergi.


"Abang, aku keluar dulu. Selesaikan masalah kalian."


Romeo ingin mencegah, tapi sayangnya Mala telah menjauh. Diikuti Bagas yang juga memilih keluar. Semakin kesal Romeo, melihat Bagas yang keluar dengan Mala.


Pikirannya kacau dan terus menerka jika Bagas akan mengganggu Mala.


Romeo tidak sabar ingin pergi dan mencari Mala. Sayangnya ada Naura yang malah menangis di sana.


Bertambah kesal lah Romeo.


Bersambung ....