Unknown Husband

Unknown Husband
Kebahagiaan


Gea adalah salah satu contoh remaja yang salah dalam bergaul. Terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang mengakibatkan hilangnya rasa percaya diri. Tidak lagi memiliki semangat untuk meraih masa depan.


Mala, salah satu contoh anak yang memiliki latar belakang yang berada. Memiliki segalanya tapi tidak bisa hidup bebas.


Setiap gerak-geriknya selalu mendapatkan pengawasan. Ada peraturan dan larangan yang harus dipatuhi. Dia tidak bisa memilih kehidupannya sendiri. Juga tentang jodoh sekalipun.


Di usianya yang masih terbilang belum cukup umur harus menjalani kehidupan berumahtangga.


“Abang, liat deh foto ini. Aku cantik banget ya?” Mala sangat bahagia ketika melihat album foto pernikahannya dengan Romeo.


Romeo tersenyum. “Kamu bahagia banget sih?”


“Tentu saja aku bahagia. Jika dulu Abang nikahin aku sembunyi-sembunyi, sekarang pernikahan ini diumumkan.”


Senyum kebahagiaan itu menular ke Romeo. Dia pun bahagia karena telah menikahi gadis itu secara resmi. Di akui oleh negara.


Tamu yang berdatangan pun lumayan banyak. Tidak seperti saat pernikahan yang pertama. Secara diam-diam dan hanya ada beberapa tamu yang diundang.


“Iya, iya. Maafin Abang ya?”


“Udah lupakan. Yang penting aku bisa ngerasain jadi ratu sehari.”


Tawa berderai dari bibir Romeo. Gadis itu terlihat polos seperti anak kecil.


Ya, memang seharusnya Mala masih menjalani kehidupan remajanya. Namun, waktu memaksanya untuk bersikap dewasa.


Dewasa sebelum waktunya.


Seharusnya dia masih sibuk bermain dengan teman sebaya. Shopping, jalan-jalan nyari diskonan, seru-seruan bareng temen, menghabiskan waktu bersama teman dikala pikiran jenuh karena pelajaran.


Sayangnya semua itu tidak bisa dia nikmati karena harus mengurus suaminya dan juga calon bayi yang ada di perutnya.


“Kamu nggak menyesal nikah sama Abang?”


Mala menatap lelaki yang kini terlihat lebih segar dan lebih muda itu. Heran, karena selalu saja pertanyaan itu yang terlontar dari mulut manisnya.


“Kalau aku nyesel nggak mungkin ada si kecil di sini.” Mala mengelus perutnya yang mulai terlihat membuncit.


“Di tempat kamu kuliah, memangnya nggak ada yang naksir gitu?”


Mala tertawa lepas. Lagi-lagi Romeo khawatir jika ada lelaki yang berani menggodanya.


“Mana ada lelaki yang mau sama wanita hamil.”


“Ya, siapa tahu aja ada yang deketin kamu.”


“Yaelah, Abang. Kek nggak tahu aku di kampus aja. Bukannya Abang selalu ngawasin gerak-gerik aku?”


Romeo mengusap tengkuknya. Merasa malu karena pernah kepergok memata-matai Mala di saat dia sedang tidak sibuk bekerja, atau menyuruh orang untuk terus mengawasi dan melindungi Mala.


“Itu demi kebaikan kamu. Coba kalau waktu itu nggak ada Abang, siapa yang bakal nolongin kamu?”


Mala teringat saat ada lelaki yang memaksanya untuk makan siang bersama. Meminta nomor ponsel dan terus berusaha mendekatinya secara paksa. Dalam posisi Mala sedang mengandung anak Romeo.


“Iya, Abang sayang.” Mala mencubit pipi suaminya yang duduk di sampingnya. Gemas karena semenjak hamil Romeo sangat posesif.


“Ya sudah sekarang tidur siang gih!” perintah Romeo.


Mala menggeleng. Karena ada acara televisi yang tidak bisa dia lewatkan.


“Aku mau nonton sinetron hari ini.”


Mala meraih remote tv yang berada di meja. Namun, Romeo segera menyambar dan mematikan tv-nya.


“Nonton sinetron kan bisa besok lagi? Kamu ini kecapean lho.”


Mala mengerucutkan bibirnya. Menatap lelaki itu penuh permohonan. Jika sudah seperti ini, Romeo tak lagi bisa melarangnya.


Jika terus memaksa maka Mala akan menangis. Romeo sendiri bingung karena selama hamil Mala berubah menjadi gadis yang sensitif.


“Abang temenin tapi ya?”


“Oke, deh.” Mala tersenyum gembira lalu menyalakan televisi dan mencari chenel sinetron yang menjadi favoritnya.


***


Hari demi hari berganti. Semakin besar perut Mala dan semakin dekat masa melahirkan. Mala tidak lagi di izinkan untuk pergi kuliah. Mengingat usia kandungannya telah berada di detik-detik mendebarkan.


Kini dia hanya menunggu hari, menjalani kehidupan baru dengan gelar yang baru.


Menjadi seorang ibu.


Tentu ini yang sangat di nanti. Meski Mala sebenarnya belum siap.


Mala telah menyiapkan segala kebutuhan calon bayinya juga menyiapkan mental menjadi ibu baru. Ketakutan saat melahirkan telah dia kubur dalam-dalam. Berganti kebahagiaan saat si kecil hadir dalam kehidupannya.


“Abang hanya pengen kamu sama anak kita sehat.”


Mala yang sedang tidur di pangkuan Romeo merasa terharu.


Bagaimana tidak? Dia adalah suami yang siaga. Setiap Mala membutuhkan sesuatu Romeo selalu siap membantu atau mencarikannya.


Bahkan segala kebutuhan saat Mala akan melahirkan nanti Romeo yang menyiapkan.


“Kalau cewek nanti cantik kayak kamu. Kalau cowok ganteng deh kayak ayahnya.”


“Abang nggak ganteng, kata siapa Abang ganteng?”


“Kata Abanglah. Buktinya Mala mau sama Abang.”


Keduanya tertawa. Mereka terlihat bahagia. Para orangtua tidak salah menjodohkan mereka.


Padahal setiap perjodohan akan selalu berakhir menyedihkan. Hubungan yang buruk dan hanya bertahan sebentar. Berbeda dengan Romeo dan Mala. Hubungan mereka malah semakin terlihat romantis.


Bahkan ketakutan dari para orangtua jika hubungan mereka akan retak, kini perlahan menghilang. Berganti rasa cemas dan tidak karuan saat mendengar Mala akan melahirkan.


“Perutku mules banget, Abang.”


“Kamu bertahan ya, Abang akan antar kamu secepatnya. Jalanan pakai macet segala sih!”


Romeo tidak sabar dengan kemacetan yang terjadi siang ini. Mungkin jika dia bisa mengeluarkan sayap, akan dia gunakan saat ini juga.


“Aduh, Abang. Sakit!”


Mala terus mengaduh. Menambah rasa cemas di benak Romeo. Perjalan ke rumah sakit terasa begitu jauh. Padahal tinggal beberapa menit lagi akan sampai.


“Sabar ya, sayang. Bertahanlah. Nanti keluar saat kita di rumah sakit ya.”


Romeo mengelus perut Mala. Memberikan gerakan kecil pada malaikat kecil yang ada di dalam perut Mala.


“Aduh, Abang. Aku kayaknya mau lahiran!”


Mala menjambak rambut Romeo kuat. Lalu berganti mencengkeram lengannya. Romeo membiarkan semua itu demi kenyamanan Mala. Dia terus berusaha melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai.


Sayangnya kemacetan menghalanginya.


Hingga ... Akhirnya perlahan mobil itu sampai di depan rumah sakit. Romeo segera berlari memanggil suster. Membawa Mala ke kursi roda.


Keringat bercucuran di wajah gadis itu.


“Abaaang!” teriak Mala sepanjang perjalan ke kamar bersalin sambil meremas rambut Romeo.


.


Mala telah sampai di ruang bersalin. Romeo menemaninya. Sedangkan kedua orangtua Mala dan Papa Romeo menunggu di luar ruangan.


Mereka terlihat cemas dan sesekali bibir mereka komat-kamit. Seperti sedang berdo'a.


Tidak ada yang bisa duduk diam di kursi tunggu. Mereka memikirkan kondisi Mala dan cucunya.


Apalagi mendengar bagaimana dokter itu memberi aba-aba dan Mala terus berteriak. Menyalahkan Romeo yang hanya bisa diam karena tidak merasakan rasa sakitnya.


Terdengar lucu, tapi senyum mereka tetap bercampur rasa cemas.


Kecemasan mereka berganti kebahagiaan saat terdengar suara tangis bayi.


“Itu cucu kita sudah lahir!” celetuk Papa Romeo.


Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Mereka di persilahkan untuk masuk satu persatu. Mengingat Mala masih kelelahan karena habis melahirkan juga suaranya habis karena berteriak-teriak.


“Cucunya laki-laki, Pah,” ucap Romeo saat melihat sang Papa menemuinya.


Rasa bahagia bertambah, karena cucu yang sangat di nanti. Bagi mereka cucu lelaki adalah kebahagiaan yang tiada duanya. Alasannya simpel. Kekayaan mereka tidak akan terbagi.


“Abang, kamu akan namai siapa anak kita?”


“Iya, Romeo siapa nama anakmu?”


Romeo tampak berpikir. Selama ini dia belum mempersiapkan nama untuk anaknya.


“Arka Rahardian Algazio.”


Next ....