
Malam semakin larut, tapi Mala masih terjaga. Pikirannya melayang pada kejadian siang tadi. Dimana Romeo memperlakukannya begitu mesra. Bahkan terlihat marah ketika Bagas ingin mengantarkannya pulang dan meminta nomor ponselnya.
Lelaki itu tidak perduli rupanya, jika Mala telah menikah dengan sahabat sejatinya.
Dasar Bagas, istri sahabat sendiri pun mau di embat juga.
Mala beranjak dari tempat tidur, melangkah menuju balkon kamar. Menikmati kemerlip bintang yang mengitari bulan. Indah sekali. Malam gelap terlihat lebih terang karena cahaya bulan dan bintang yang bersinar.
Mala menghirup udara malam dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Lega rasanya, karena semua rasa penasarannya telah terjawab sudah. Romeo telah menjelaskan semua tentang dirinya dan para wanita yang mendekat.
Juga tentang Roni.
Aku takut kehilangan cintamu
Aku takut takut kehilanganmu
Aku tak akan bisa, bila kau pergi meninggalkanmu
Samar Mala mendengar suara seseorang bernyanyi. Ditengah terangnya lampu bohlam berwarna kuning yang menyinari halaman, Mala menyipitkan matanya yang memang sudah sipit. Mendengarkan dengan seksama suara itu.
Mala menoleh ke arah balkon kamar Romeo. Karena memang kamarnya bersebelahan.
Tidak ada siapapun di sana, lalu siapa yang menyanyi tengah malam seperti ini?
Mala bergidik ngeri. Hantukah? Suaranya pun sangat merdu.
Lagi, suara lelaki bernyanyi terdengar dan kali ini bunyi petikan gitar mengiringi setiap bait lagu. Ah, romantis sekali.
Mala keluar kamar dan menuruni anak tangga, langkahnya tergesa setengah berlari seperti di kejar setan.
Suara nyanyian itu semakin terdengar jelas, di halaman depan rumah rupanya. Pintu terbuka, semakin ketakutan gadis itu. Pelan, gadis itu melangkah dan mengintip dari balik jendela. Menyibakkan gorden berwana hijau polos.
“Abang?” gumamnya.
Setelah mengetahui siapa yang bernyanyi, gadis dengan tinggi semampai itu memberanikan diri keluar.
Romeo yang asyik bermain gitar, terkejut karena kedatangan Mala yang tiba-tiba tanpa suara pula.
“Mala, belum tidur?” tanya Romeo.
Basa-basi dia, kalau sudah tidur mana mungkin Mala berada di hadapannya sekarang. Gugup juga malu karena kepergok tengah bermain gitar dan bernyanyi.
“Suaranya bagus, aku suka,” ucap Mala.
Semakin besar kepala Romeo, mendapatkan pujian dari gadis itu.
“Ah, enggak juga. Abang ... Cuma iseng kok. Brisik ya?”
Mala menggeleng, lalu duduk di bangku sebelah Romeo.
“Abang, makasih ya.”
“Makasih? Untuk apa, La?”
“Udah jujur sama aku.”
Romeo tersenyum, lalu mematikan ponsel yang sedang menyetel musik dan di dengarkannya melalui headset.
“Sudah saatnya Abang jujur, supaya kamu tahu dari Abang bukan orang lain.”
Mala tersenyum, lalu beranjak dari duduknya.
“Abang, aku tidur dulu ya.”
Romeo mengangguk.
“Good night, sweety,” lirih Romeo, tapi masih bisa di dengar Mala.
Gadis itu mengulum senyum, pura-pura tidak mendengar padahal kenyataannya mendengar. Dia berlari ke arah kamar dengan hati yang penuh bunga.
***
Paginya Mala tengah bersiap ke sekolah. Tinggal beberapa hari lagi ujian tiba dan kelulusan di depan mata. Mala sudah tidak sabar untuk segera mendaftarkan diri ke universitas impian.
Mengingat statusnya, Mala tidak yakin jika bisa melanjutkan menimba ilmu. Memang bisa jika seorang mahasiswi berstatus menikah, tapi mana mungkin Romeo setuju untuk itu. Apalagi di usia pernikahan yang menginjak dua bulan, pasti lah orangtua menginginkan sesuatu yang spesial.
Cucu?
Mala yang sedang bercermin memikirkan hal itu langsung bergidik ngeri. Dia belum siap jika menjadi seorang ibu, meski memang sudah kodratnya jika wanita itu menjadi ibu.
Mala belum siap, masih ingin menimba ilmu. Akan ada waktu Mala telah siap melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
“Mala?” Terdengar suara Romeo memanggil.
Mala tersadar dari lamunan konyol itu, lalu menyambar tas dan bergegas keluar.
Romeo tengah berdiri di depan pintu, penampilannya hari ini membuat Mala menyadari bahwa dia lebih tampan dari seorang Khai Anggara.
Penampilan yang mampu membuat detak-detak itu hadir. Dada Mala seperti bergoncang.
“Hey, kau baik-baik saja?” tanya Romeo.
Mala tersentak, malu juga karena tengah melamun.
“Ah, iya aku melupakan sesuatu. Abang duluan saja sarapannya,” ucap Mala beralasan.
Padahal sebenarnya dia gugup karena rasa itu kembali muncul. Rasa yang mampu mengaduk-aduk isi hatinya.
Mala tengah terjangkit virus pesona Romeo. Ya, pesonanya mampu mengalihkan dunianya yang sedang dilanda ke galauan.
Romeo pun sama, dia memegang dadanya yang terus berdebar dan salah tingkah. Dia tersenyum sendiri karena merasakan jatuh cinta kembali. Herannya kata manis itu sulit dia ungkapkan. Padahal status telah mengikat mereka menjadi halal.
Pasangan yang aneh.
Memang benar jika cinta itu datang ketika terbiasa bersama.
“Tuan, apa kau baik-baik saja?” tanya Martha yang melihat Tuannya tengah bersandar di pintu kamar Mala sambil memegang dada dan tersenyum sendirian.
Romeo malu dan memilih pergi.
“Kepo banget Bibi mah,” sungut Romeo kesal. Martha mengganggu kenyamanannya saja.
Sebagai wanita yang pernah muda, Martha mengerti sikap Romeo saat ini. Dia sedang jatuh cinta, kesedihan yang selalu terlihat kini berganti senyum menawan yang sempat pergi.
Tentu Martha bersyukur dan sangat bahagia atas kehadiran Mala.
“Lho, kok samaan ya?” celetuk Martha saat melihat Mala keluar dengan memegang dadanya.
“Maksud Bibi apa ya?”
Martha mengulum senyum.
“Tuan Romeo tadi memegang dadanya sambil bersandar di tembok, sekarang Nona keluar sambil memegang dada juga. Apa ada penyakit hati yang menyerang?”
“Hus, ngawur aja. Aku baik-baik aja, Bi. Sedikit gugup karena hari ini pembahasan ujian.”
“Maksud Bibi itu, penyakit hati yang dinamakan cinta, Non.” Martha ngeloyor pergi. Membiarkan Mala termenung.
Mungkin ada benarnya yang dikatakan Martha, bahwa dia sedang jatuh cinta pada Romeo. Pikir Mala.
Mala telah menginjakkan kaki di ruang makan, tapi perasaannya tidak seperti biasa. Dia gugup dan entah harus bagaimana berhadapan dengan Romeo.
Mala sedikit tersentak ketika melihat lelaki yang ada di pikirannya berada di belakangnya.
“Kamu ngintip siapa, La?”
To be continue ..