
Hidup itu pilihan. Memilih mana yang harus di jalani dan mana yang harus di tinggalkan. Memilih yang terbaik dan meninggalkan yang buruk. Mungkin jika bisa memilih takdir, maka semua orang akan memilih takdir yang indah. Tanpa melewati rintangan yang sulit.
Tentu setiap orang menginginkan kehidupan yang bahagia tanpa ada rasa sakit terlebih dahulu.
Mustahil.
Setiap kehidupan tidak akan pernah bisa berjalan seperti yang kita inginkan. Karena Tuhan yang telah mengatur skenario kehidupan dan kita hanya menjalankan.
“Aku ingin hidup bahagia bersamamu. Apa kau bersedia?” ucap Khai kepada Gea yang saat itu tengah duduk di taman belakang sekolah.
Wajah sendu gadis itu seketika berubah menjadi rasa ketidak percayaan atas ucapan yang terlontar dari mulut lelaki itu.
Benarkah apa yang Khai ucapkan? Gea menginginkannya karena ada benih Khai yang sedang hidup dalam rahimnya. Namun, mengingat perlakuan Khai dan ucapan menyakitkan itu, membuatnya tidak percaya begitu saja.
“Kau wanita ******! Beraninya menjebakku, awas saja jika kau memintaku untuk bertanggungjawab! Jika sampai ada janin dalam rahimmu itu bukan anakku!” Umpatan kasar terus terlontar dari mulut Khai.
Saat mereka tersadar telah berada dalam satu kamar hotel. Tanpa memakai sehelai benang yang menutupi tubuh masing-masing. Gea hanya bisa menangis. Meratapi nasib yang malang.
“Kau yang memaksaku, Khai! Apa kau tidak ingat?” Gea berkata dengan bibir bergetar.
Namun, tamparan yang diterimanya dan jambakan rambut yang menyakitkan. Sungguh tak ada kelembutan dari Khai saat itu. Berbeda dengan sikap Khai pada Mala yang terlihat perhatian dan lembut.
Tentu saja berbeda karena Khai sangat mencintai Mala. Sedangkan Gea hanya pelampiasan nafsu yang tidak Khai sadari.
“Aku hamil, kau harus bertanggung jawab.” Masih teringat jelas dalam ingatan Gea saat dia meminta pertanggungjawaban dari lelaki yang telah mengambil keperawanannya.
“Tidak! Sudah kubilang dia bukan anakku! Kau ini wanita ******, mana mungkin aku yang menghamilimu!” Khai pergi begitu saja meninggalkan luka di pipi Gea. Luka yang tidak seberapa dibandingkan sakit yang ada di hati Gea.
Semua adalah kesalahannya. Gea datang di saat pikiran Khai kacau dan di sedang dalam pengaruh alkohol.
Mana mungkin Khai mengingat semua itu.
Gea hanya bisa menangis. Memendam kebencian pada gadis yang tidak bersalah. Mala. Inilah alasan mengapa Gea sangat membenci Mala. Dia menganggap Khai tidak mau bertanggung jawab karena masih ada Mala di hati Khai.
Semua ingatan menyakitkan itu terus menghantui pikirannya. Dada semakin sesak, air mata telah mengering hingga tak lagi bisa menetes. Kedua kakinya terasa lemas hingga tak sanggup lagi menopang tubuhnya.
“Gea!” panggil Khai yang tak lagi di dengar oleh Gea.
Gadis itu jatuh pingsan. Beruntung Khai dengan sigap menangkap tubuh gadis itu. Membopongnya ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari taman.
Khai sangat menghawatirkan gadis itu. Terlihat dari wajahnya yang sesekali menoleh pada gadis yang terbaring di jok belakang.
***
“Dia hanya mengalami stres terlalu berat. Saya sarankan agar Nona Gea tidak memikirkan hal yang terlalu berat.”
“Jika anda pasangannya, saran saya sebaiknya bahagiakan dia dan jangan buat dia tertekan. Itu akan berpengaruh pada janin yang dikandungnya.”
Pesan dari seorang dokter terus terngiang di terngiang di telinganya.
Apa yang dikatakan dokter itu benar. Selama ini Khai telah membuat Gea tertekan atas semua ucapannya. Khai sadar jika ucapannya sangat menyakitkan.
“Khai!” Panggil seorang wanita yang tengah berlari ke arahnya.
Wajah wanita itu pucat pasi, ke khawatiran nampak jelas di wajahnya.
“Dimana Gea? Bagaimana keadaannya?”
“Gea ... Baik-baik saja, Tante. Dia hanya tertekan saja.”
Wanita itu duduk dengan tubuh yang lemas.
“Semua ini salah Tante.” Air mata wanita yang ternyata adalah ibu Gea mulai menetes.
Khai pun ikut duduk di kursi sebelah Vivian.
“Aku yang salah, karena tidak pernah percaya dengan apa yang Gea ucapakan. Maafkan aku Tante, karena pernah berkata kasar dan tidak mau bertanggung jawab.”
“Aku akan bertanggungjawab atas semua kesalahan yang telah aku perbuat.”
“Khai, kau yakin?”
Khai mengangguk. Memberikan senyum lega di wajah Vivian. Khai memeluk wanita itu untuk menenangkannya. Meski Khai tahu bahwa ada kemarahan yang tersimpan di hati Vivian.
Sebagai seorang ibu tentu akan memaki lelaki yang telah merusak anaknya. Seharusnya seperti itu, tapi Vivian menahannya karena ini bukan saat yang tepat untuk meluapkan semua emosi.
Hal yang paling penting adalah kondisi Gea.
“Aku janji akan membahagiakan Gea.”
***
Gea mulai tersadar dari pingsannya. Kepala terasa pusing dan perut terasa mual. Enggan memakan apapun yang Vivian tawarkan.
Dia sedang tidak baik-baik saja. Hatinya benar-benar sakit. Ingin rasanya pergi jauh tanpa ada yang menghalangi.
“Biarkan aku mati. Karena masa depanku telah mati!”
“Gea, maafkan Mama,” ucap Vivian dengan bibir bergetar.
“Mama nggak salah, aku yang salah karena tidak bisa menjadi gadis yang Mama inginkan.”
Vivian memeluk gadisnya erat. Berusaha membuat Gea tenang. Rupanya suasana di rumah sakit ini membuat Gea semakin terpuruk. Gea melepas pelukan Vivian dan mengalihkan pandangannya.
“Gea, kau jangan seperti ini. Ayo makan kasian anakmu!”
“Untuk apa mengasihani dia? Hidup aku hancur gara-gara dia!” Gea terus memukul perutnya.
Vivian berusaha mencekal tangan Gea. Namun, gadis itu terus memukul perutnya.
“Dia tidak bersalah, Gea!”
“Gea, apa yang dikatakan mamamu benar.” Suara seseorang dari ambang pintu terdengar.
Pandangan Vivian dan Gea beralih ke sumber suara.
Ada keterkejutan di wajah Gea dan juga rasa tidak suka pada gadis yang datang menjenguknya.
“Mala? Untuk apa kau kemari! Apa kau tidak puas menghancurkan aku?” teriak Gea.
Mala sama sekali tidak mengerti. Dia tidak pernah berbuat apapun pada Gea. Meski Gea selalu mengejek dan melukai hatinya, Mala sama sekali tidak pernah menyimpan dendam.
“Gea, Mala nggak bersalah. Aku yang bersalah,” sahut Khai yang baru saja datang.
Khai menghampiri Gea dan memeluk gadis itu. Memberikan kecupan di kening agar gadis itu merasa tenang.
“Mala yang telah menyadarkan aku, Gea.”
Gea menautkan alis. Mana mungkin Mala menyadarkan Khai. Jelas Khai sangat menyayangi Mala. Apalagi sikap Khai padanya saat ini benar-benar lembut. Tidak seperti saat dia mengemis hak atas anak yang dikandungnya.
“Banyak hal yang harus kamu ketahui. Tapi itu tidak penting karena sekarang aku ingin melamarmu.”
Next ...
Wah ada yang akan bahagia keknya. Nanti ada sekuel dari anak salah satu pasangan lho. entah Mala atau Khai. Pokoknya ada sekuelnya. tunggu aja ya.
Tinggal dua atau tiga part lagi keknya kelar.
👇👇👇 Ini Mala ya, gaes.