Unknown Husband

Unknown Husband
Patah Hati


Seorang gadis berpipi cabi dan bermata bulat itu sedang duduk sambil menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap. Sesekali pandangannya tertuju pada layar benda pipih yang tergeletak di meja. Wajah itu terlihat kesal, terlalu lama menunggu hingga secangkir kopi hampir habis.


Gadis itu memesan kembali kopi capuccino kesukaannya juga camilan untuk menghilangkan suntuk.


Layar ponsel menyala, wajah kesal itu sedikit tersenyum. Tertera nama seseorang di layar itu. Gadis itu menggeser tombol hijau.


"Ya, kau dimana?" tanyanya dengan suara kesal.


Gadis itu menoleh ke sekeliling. Pandangannya tertuju pada sosok lelaki yang berdiri di dekat pintu masuk. Lelaki yang sedang menelpon. Rupanya dia yang sedang di tunggu. Gadis itu melambaikan tangannya.


Lelaki berpakaian rapih ala bos itu menghampiri. Diciumnya kening sang gadis lalu mencubit pipi cabinya.


"Maaf, jika aku terlambat, ucap lelaki itu santai.


"Kejam sekali, aku sudah menunggu satu jam di sini. Apa kau tidak bisa mempercepat___" Lelaki itu meletakkan satu jarinya di bibir sang gadis.


"Diamlah, Airin. Yang terpenting aku sudah datang, bukan?"


Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Namun, lelaki itu berhasil membuat senyum di wajahnya dengan memberikan sebuah kotak berbentuk hati dan berwarna merah.


"Ini untukku?"


"Apa ada gadis lain di sini?"


Airin tersenyum, lalu membuka kotak itu.


"Ah, cantik sekali. Kau memang pandai merayu, Romeo."


Romeo pun mengambil kalung berlian dengan liontin berbentuk hati itu, lalu memakaikannya ke leher Airin.


"Kau suka?"


"Aku sangat menyukainya. Terima kasih, Romeo."


"Hanya itu saja?"


Airin melihat sekeliling, lalu mencium pipi lelaki itu dan membuat pipi cabinya merona.


Lelaki itu terkekeh dan kembali mencubit pipi cabinya. Dia sangat gemas.


"Aku akan meniruskan pipiku nanti."


"Jangan, kau cantik seperti ini. Tetaplah seperti ini, sayang."


Mendengar lelaki itu memanggil dirinya sayang, membuat rona merah di pipinya semakin terlihat.


"Kau telah menikah, tidak seharusnya seperti ini." Airin terlihat sedih, mengingat status Romeo sekarang.


"Diamlah, Airin. Lagipula aku tidak melakukan apa-apa pada gadis itu."


"Kau belum melakukannya? Kenapa? bukankah kau menyukainya?"


"Dia masih sekolah, mana mungkin aku merusaknya. Lebih baik aku menikmati hidup ini bersamamu." Romeo mengedipkan matanya.


Airin mencubit lengan Romeo keras, sehingga lelaki itu merintih kesakitan.


"Jadi kau menyuruhku cepat-cepat pulang, karena ingin dipuaskan, hah?"


"Memangnya aku semesum itu? Jangan samakan aku dengan Roni. Jangan-jangan kau pernah tidur dengannya?"


"Enak saja! Aku masih orisinil, ya."


"Boleh aku cek?"


"Nggak boleh!" Airin melotot. Wajahnya kian memerah ditambah ada desiran aneh di dalam aliran darahnya.


Walau hati pernah terluka karena Romeo mempunyai hubungan dengan Naura. Airin tetap bersabar dan menahan semua itu demi melihat senyum kebahagiaan Romeo.


Lalu saat Romeo menikah pun, luka itu semakin bertambah. Airin ingin mengatakan semuanya, tapi dia tidak ingin merusak tali persahabatan yang telah terjalin sejak SMA.


Hingga kini Romeo sangat dekat dengannya dan selalu memperlakukan Airin seperti seorang kekasih. Airin menikmatinya, meski akan terluka kembali.


Airin tidak perduli, yang penting adalah melihat Romeo bahagia dan hubungan persahabatannya baik-baik saja.


"Aku rindu padamu, Airin. Kau pergi liburan terlalu lama dan aku bosan di sini."


"Bukankah kau memiliki istri untuk menemanimu jalan-jalan?"


"Ah, kau tidak mengerti bagaimana sifat kekanak-kanakannya. Mana mau dia nongkrong di tempat seperti ini."


"Ah, ya kau benar. Cafe kopi ini mana ada remaja datang. Kecuali kencan dengan om-om."


"Dia juga memiliki kekasih."


Airin yang sedang menyeruput kopi itu tersedak.


"Pelan-pelan minumnya."


"Maaf, aku terkejut. Lalu kau tahu siapa kekasihnya?"


Romeo mengangguk. Lalu menatap keluar jendela kafe dan enggan menanggapi semua pertanyaan Airin. Karena bukan itu yang seharusnya dia bahas.


"Lupakan saja, aku hanya ingin bertemu denganmu karena rindu."


Airin tersenyum. Lagi-lagi Romeo mencubit pipinya gemas.


Tanpa sadar sejak Romeo datang, ada sepasang mata terus menatapnya. Mendengar pembicaraan hingga mata itu meneteskan air mata.


Hati yang baru saja terluka karena seseorang, kini luka itu diberi tetesan jeruk dan membuatnya semakin perih karena pemandangan yang tidak seharusnya terlihat.


"Mala, kau baik-baik saja?" Adel menggoyangkan pundak Mala. Tidak menyadari apa yang Mala lihat.


Lalu gadis berambut ikal itu mengikuti arah pandang sahabatnya. Jawaban mengapa Mala menangis telah dia temukan. Lelaki yang sudah menjadi suami sahabatnya itu, sedang bersama seorang wanita.


Adel hanya tersenyum. Tidak ikut marah ataupun membela Mala. Justru ucapannya tidak terduga.


"Kau sedih karena itu? Seharusnya kau lihat kejadian sebelumnya. Kau saja berduaan dengan Khai, Abang Romeo biasa saja."


Mala mengingat semua hal saat bersama Khai dan diikuti oleh Romeo. Lelaki dewasa itu terlihat biasa saja, tidak ada rasa cemburu bahkan terlihat cuek.


"Seharusnya kau melihat ini biasa saja, untuk apa menangis? Cemburu?"


"Tapi dia tidak pernah memberikan aku apa-apa."


"Belum saatnya, Mala. Siapa tahu dia pacarnya atau teman yang sedang Ulangtahun. Kau jangan menyalahkan suamimu. Sekarang salahkan dirimu sendiri yang telah selingkuh. Aku pernah mengingatkan tentang hubunganmu dengan Khai."


Mala terdiam lalu memilih pergi dari kafe itu. Tidak mau melihat lebih lanjut kemesraan Romeo.


"Jika kau menangis, berarti kau mulai jatuh cinta padanya."


Mala menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan Adel. Mala masih tidak mengiyakan ucapan Adel. Dihatinya masih ada Khai, meski telah meninggalkan luka yang cukup dalam.


Namun, Mala mencoba memahami ucapan Adel. Mungkin ada benarnya juga, seharusnya dia tidak menangis melihat Romeo bersama wanita lain.


"Mala, jujur saja sama perasaanmu saat ini," ucap Adel menepuk bahu Mala.


Cinta datang ketika kita terbiasa bersama. Meski awalnya sangat membenci.


Bersambung ...