Unknown Husband

Unknown Husband
Romeo Vs Khai


Hati Mala benar-benar hancur, dia tidak menyangka bahwa Khai akan melakukan hal sebejat itu. Semua penilaian Mala terhadap Khai salah. Rupanya Khai bukan lelaki baik yang benar-benar mencintai dirinya. Andai saja Adel belum pulang saat itu, mungkin Khai telah berhasil merenggut keperawanannya.


Mala berlari tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Romeo, saat tiba di rumahnya. Gadis itu terus menangis sepanjang jalan, membuat Romeo sangat khawatir. Hal-hal negatif dan dugaan lainnya terus mengisi otaknya.


"Mala," panggil Romeo.


Namun, gadis itu tidak perduli. Dia hanya butuh ketenangan saat ini. Dia juga membutuhkan pelukan sang .... Ibu.


Ya, Mala merindukan sang ibu. Ingin sekali malam ini mencurahkan semua isi hati dan kejadian malam ini. Namun, Mala teringat akan statusnya. Jika dia bercerita kepada sang Ibu, bukan perkataan menenangkan yang terucap, melainkan sang ibu akan terus menyalahkan dirinya dan menuduh dia telah selingkuh.


Jadi, Mala harus bagaimana? Harus dengan siapa dia cerita agar bisa lebih tenang.


Adel?


Itu tidak mungkin, Mala tidak ingin kembali ke rumah Adel. Mala yakin lelaki itu masih berada di sana, atau dia akan menyusul ke rumah Romeo.


Mala keluar kamar dan menuju ke taman belakang rumah. Menikmati indahnya bintang yang bertaburan di tengah-tengah bulan yang bersinar terang.


Mala merindukan keluarga. Ingin rasanya dia kembali ke rumah dan menikmati hari-hari tanpa cinta. Mala terus menyalahkan diri sendiri. Sadar akan kesalahannya yang terbuai akan bujuk rayuan seorang lelaki.


"Kau di sini rupanya." Suara Romeo membuat Mala kaget.


Jantungnya berdebar tidak karuan saat Romeo duduk di sampingnya. Mala merasa ketakutan saat mata itu menatapnya. Takut jika Romeo marah padanya.


"Abang," panggil Mala lirih.


"Ya? kau mau cerita sesuatu? Katakanlah," jawab Romeo.


Mala masih saja menundukkan kepalanya, meremas ujung rok yang dia kenakan hingga kusut. Jantung berdebar kencang, dadanya terasa sakit dan air mata itu terus memaksa keluar.


Mala mencoba menenangkan diri. Menghela napas sebelum dia bercerita kejadian tadi.


"Kau sudah lama menjalin hubungan dengannya?" Belum sempat Mala bercerita, Romeo telah mendahuluinya.


"Sekitar empat bulan."


"Apa yang pernah kalian lakukan?"


Pertanyaan Romeo sangat mengejutkan Mala. Gadis itu langsung menatap Romeo. Tatapan mereka bertemu, lalu Mala mengalihkan pandangan melihat rerumputan.


"Hanya jalan-jalan saja ketika bertemu."


"Kau yakin? Khai belum pernah melakukan sesuatu? Ceritalah padaku, anggap saja aku Kakakmu."


"Ya, hanya itu saja. Kami belum pernah melakukan apapun. Hanya saja dia__"


Mala menghentikan ucapannya. Teringat apa yang baru saja dia alami juga kejadian saat Khai menyatakan cinta padanya.


"Apa?"


"Dia pernah menciumku, dan tadi dia hampir__"


"Memperkosamu?" Romeo memotong ucapan Mala.


"Darimana Abang tahu?"


"Cara kamu pergi dari rumah Adel."


Setetes air mata itu kembali mengalir. Mala merasa bersalah dan juga menyesal karena tidak pernah mendengarkan ucapan Adel.


"Mala, ceritakan padaku supaya hatimu tenang. Aku tidak akan marah."


"Abang, berjanjilah padaku untuk merahasiakan ini dari ayah dan ibu."


Mala pun menceritakan semua kejadian yang baru saja menimpanya. Rasa sesak di dada Romeo rasakan. Namun, ada kelegaan di sana, karena Adel datang tepat waktu hingga Khai gagal melakukan hal yang tidak-tidak.


"Jadi kau menerimanya karena dia tidak sengaja menciummu?" Romeo terkekeh mendengar alasan Mala berpacaran dengan Khai.


"Ish, Abang. Kenapa ketawa sih!" Mala mengerucutkan bibirnya.


"Lucu aja gitu, ada orang pacaran itu karena cinta bukan karena udah ngambil ciuman yang nggak sengaja."


Mala menatap lelaki itu yang terus menertawainya. Bagi Romeo mungkin lucu, tapi bagi Mala itu sangat tidak lucu. Ada alasan mengapa Mala menerima Khai selain karena ciuman. Mala tidak akan pernah menceritakan kepada siapapun termasuk Romeo.


"Abang," panggil Mala. Lelaki itu pun menghentikan tawanya dan menatap Mala yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Wajah gadis itu terlihat serius.


"Jika sebuah hubungan itu karena cinta, lalu Abang menerima perjodohan ini juga karena cinta?"


Pertanyaan yang sulit untuk Romeo jawab. Membutuhkan waktu lama untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya simpel. Romeo sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya kepada Mala saat ini.


"Kau akan tahu jawabannya nanti. Aku ke dalam dulu, lupakan semua kejadian tadi dan fokus pada pelajaran. Sebentar lagi ujian akhir semester."


Romeo pergi meninggalkan Mala dengan sejuta pertanyaan. Mala masih terdiam di taman hingga mata sembabnya terasa mengantuk. Gadis itu pun memilih masuk ke kamarnya.


Merebahkan tubuh di atas kasur nan empuk. Kedua matanya terpejam meski rasa penasarannya masih mengisi pikiran.


***


Keesokan harinya suara alarm berbunyi seperti biasa. Namun, Mala hanya mematikan dan kembali menarik selimutnya. Rasa kantuknya tidak ingin pergi dan Mala ingin melanjutkan tidurnya. Sebenarnya ada alasan melakukan ini semua.


Mala sengaja tidak ingin bangun karena malas pergi ke sekolah. Mengingat Khai membuatnya merasa takut. Apalagi hari ini ada pelajaran yang mengharuskan dia berpasangan dengan Khai.


Suara ketukan pintu dari luar mengganggu ketenangan Mala. Gadis itu menutup telinganya dengan bantal agar tidak mendengar suara mereka yang berusaha mengganggunya.


Kali ini bukan ketukan pintu dari maid suruhan Romeo untuk membangunkan dirinya. Melainkan panggilan telepon dari Adel yang terus berbunyi.


"Berisik banget sih semua!" gerutu Mala.


Baru saja akan mematikan ponselnya, Mala di kejutkan oleh suara bariton milik Romeo.


"Kau tidak mau sekolah, Mala?"


"Abang! Kenapa bisa masuk?"


"Tentu saja bisa, kau akan terlambat jika tidak cepat bersiap-siap."


"Aku nggak mau berangkat!"


Romeo yang berdiri di depan pintu, kemudian mendekati Mala. Duduk di tepi ranjang seraya menatap gadis itu. Mata sembabnya menandakan dia menangis terus-menerus semalam. Juga lingkaran hitam itu, membuktikan bahwa dia tidur larut malam.


"Baiklah, Abang izinkan kamu tidak sekolah hari ini."


Mala sangat senang mendengar ucapan Romeo. Tanpa sadar gadis itu telah memeluknya.


"Ah, Abang aku minta maaf. Nggak sengaja," ucapnya saat menyadari bahwa dia telah memeluk Romeo.


Romeo hanya tersenyum, lalu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Mala. Sebelum dia menutup pintu, Romeo memberikan pesan untuk Mala.


"Ingat satu hari saja, dan jangan lupakan sarapanmu."


Mala mengangguk sebelum akhirnya lelaki itu telah pergi.


Bersambung ...