
Hidup bukan soal bagaimana cara kita bernapas. Apakah esok masih bisa makan atau tidak. Bukan pula soal harta dan tahta. Tanpa sadar hidup itu butuh cinta. Jika ada yang mengatakan masa bodoh soal cinta, tidak akan membuat kita kenyang. Lalu bagaimana jika seseorang yang selalu bersama tiba-tiba pergi meninggalkanmu? Pasti akan merasa kehilangan.
Cinta yang sesungguhnya ada cinta yang mau menerima apa adanya. Selalu bersama dalam suka dan duka. Terkadang cinta pula mampu menjerumuskan kita ke dalam jalan yang salah. Tergantung bagaimana cinta yang kita dapatkan. Jika mendapatkan cinta yang baik, maka akan berjalan ke arah yang baik. Begitu sebaliknya.
Terkadang orang lupa dengan apa yang sudah dimiliki. Merasa nyaman itu belum tentu cinta. Berpaling ke lain hati karena dia perhatian. Meninggalkan seseorang yang pernah berjuang dari nol. Itu bukanlah cinta sejati. Melainkan hawa nafsu karena rasa nyaman yang belum tentu akan selamanya bahagia.
Mala adalah gadis remaja yang dimana masih labil. Tentu dia belum begitu paham soal urusan rumah tangga. Meski tahu mana yang baik dan tidak, tapi bukan saatnya untuk menjalani kehidupan rumah tangga.
Ia terlalu dini dalam menjalani kehidupan rumahtangga. Terlebih masih sekolah dan belum lulus. Masih banyak cita-cita yang harus ia gapai. Sayangnya takdir berkata lain. Meski masih bisa melanjutkan sekolah, tapi ia tidak yakin setelah itu bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Hari ini ia merasa hatinya tidak karuan. Dilanda kecemasan yang luar biasa. Dia tidak lagi sanggup dalam menjalani sandiwara. Mala sendiri tidak pernah menceritakan kepada siapapun perihal kehidupannya. Baik sebelum menikah atau sesudah. Ia tutup rapat-rapat jika suasana hati sedang bersedih. Tetap ceria untuk menutupi segala rasa yang ia rasakan. Mala tidak ingin orang lain tahu, bahwa kehidupannya tidak seberuntung mereka. Dimana teman-temannya bisa memanjakan diri dengan harta milik kedua orangtuanya. Lalu bersuka ria menikmati hidup dan menjalani kehidupan layaknya seorang remaja.
Sementara Mala, harus bersandiwara karena kehidupannya telah berbeda. Dimana di belakangnya ada suami yang selalu memberikan fasilitas mewah dan membuat orang berpikiran negatif.
“Kamu kenapa? Ada masalah?”
Sejak pagi hingga istirahat tiba, Aluna terus memperhatikan sahabat sekaligus teman sebangkunya. Mala terlihat murung dan tidak seperti biasanya. Bahkan Khai pun merasakannya. Sejak pagi semua pesan yang ia kirimkan tidak ada satupun yang di baca.
Ada apa dengan Mala?
“Nggak ada apa-apa. Aku ... Baik-baik saja.”
Mala menutupi perasaannya. Hatinya ingin sekali bercerita pada Aluna. Dia adalah sahabat sejak duduk di bangku SMP. Dia yang paling tahu kehidupan Mala. Namun, bibir Mala berkata lain. Seolah tidak bisa mengatakan isi hatinya. Itu karena Mala tidak pernah curhat tentang apa yang ia rasakan. Bahkan sering di sakiti Risa ketika Aluna tidak ada pun, Mala tidak pernah bercerita.
“Kamu sakit? Apa mau ke UKS?”
Mala menggeleng pelan.
“Aku tahu hatimu sedang sedih. Ceritakan padaku!”
“Nggak ada apa-apa, Lun.”
“Ck, kamu selalu saja begitu. Apa kamu nggak menganggap aku ada? Dari dulu begitu!”
Mala menutup mulut Aluna, karena nada suaranya sedikit keras.
“Ssstt kamu nggak sadar di depan ada guru?” bisik Mala.
“Lagian dari tadi guru jelasin kamu ngelamun, guru kasih soal kamu nggak kerjain kan?”
Soal?
Astaga! Rupanya Mala tidak fokus hari ini. Ia sama sekali tidak mengerjakan apapun. Di buku hanya coretan tidak jelas. Sementara Mala melirik ke buku milik Aluna. Hampir soal selesai ia kerjakan.
“Luna, gimana ini? Aku tadi nggak perhatiin.”
Mala terlihat takut. Wajahnya pucat pasi.
Aluna menyodorkan buku miliknya.
“Udah contek aja. Sekali-kali kamu nyontek!”
Tanpa berpikir panjang, Mala mencontek hasil Aluna. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Khai yang duduk di belakang Aluna terus memperhatikan ucapan mereka berdua. Lelaki itu menyobek selembar kertas dan menulis sesuatu. Lalu di berikannya pada Aluna.
Gadis itu pun membacanya. Saat melihat ada nama Mala, ia langsung mengambil buku di laci dan menyimpan kertas itu di dalamnya. Membaca sambil di tutupi buku. Seolah sedang membaca buku.
Sepulang sekolah, ajak Mala untuk pergi ke taman kota. Jangan bilang kalau ini perintahku.
Begitu isi dari pesan yang ditulis Khai. Dari sini, Aluna tidak mengerti. Apakah Mala memiliki hubungan dengan Khai? Kenapa dia tidak menceritakannya? Tapi jika memiliki hubungan kenapa mereka terlihat jauh?
Sebagai sahabat tentu Aluna merasa kecewa. Mala masih saja selalu menyimpan rahasia.
.
“Mala, aku kecewa sama kamu! Berapa tahun kita bersahabat? Aku berbeda dari Adel dan Livia. Mereka baru mengenalmu saat kelas dua sma, tapi aku? Nggak sebulan dua bulan lho!”
Aluna tidak tahan lagi dengan sikap Mala yang memilih memendam masalahnya sendiri. Meski Mala memiliki alasan tertentu, tapi Aluna ingin agar Mala bisa terbuka.
Mala menundukan kepala. Tangannya menggulung kertas yang ia temukan di laci. Kondisi kelas saat itu sudah sepi, karena bel pulang sekolah telah berbunyi.
“La, aku mau tanya sama kamu! Apa susahnya curhat? Apa aku ini akan mengatakan semuanya? Aku tahu kehidupan kamu, bahkan saat ayahmu tidak memiliki uang untuk membelikanmu buku. Ayahmu saat itu tidak bekerja dan berusaha untuk dapat uang dengan cara keliling berjualan kue. Kamu pun diam-diam pulang sekolah jualan koran kan?”
Mala terkejut mendengar penjelasan dari Aluna. Darimana dia tahu? Bahkan selama ini ia simpan rapat-rapat. Jualan koran pun ia menyamar memakai topi dan masker. Kenapa Aluna bisa mengetahuinya?
“Kamu pasti terkejut aku tahu! Saat itu kamu terlihat murung seperti ini. Buku yang dibutuhkan akan digunakan dua hari lagi, aku mengikutimu. Lalu menyuruh orang untuk memborong semua koran dan memberikan uang kembaliannya.”
Mala tidak berani menatap Aluna. Perlahan hatinya sakit dan kedua mata itu mulai memanas.
“.... Karena aku tahu, hasil berjualan koran dan kue tidak akan bisa terkumpul untuk membeli buku dalam waktu satu hari. Ditambah ke ambil buat beli makan. Kamu nggak pernah cerita ke aku, tapi aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini,” lanjut Aluna.
Mala terisak, seharusnya ia tidak pernah menyimpan rahasia sedikit pun dari Aluna. Toh Aluna sendiri selalu menceritakan apa yang ia rasakan. Dari rasa kurang perhatiannya sang ayah, hingga lelaki yang ia sukai. Bahkan setiap hari ia selalu bercerita pada Mala tentang rasa kesal, benci atau kesedihan lainnya.
“Maafin aku, Lun.” Mala berkata dengan suara parau.
“Aku tahu, menurutmu itu aib. Tapi seenggaknya kamu bisa cerita sama aku, buat ngurangin beban yang kamu rasakan.”
“Bukan aku tidak percaya sama kamu, Luna. Hanya saja aku__”
“Tidak terbiasa dan merasa sungkan! Aku kenal kamu udah lama, untuk apa kamu merasa tidak enak? Lalu sekarang kamu seperti ini lagi karena ada masalah sama Khai?”
Mala mendongakkan kepala. Darimana Aluna tahu soal Khai?
“Kalian ada hubungan, 'kan?”
Mala menggeleng tegas.
“Tidak ada! Aku hanya bingung. Boleh aku bercerita?”
Aluna tersenyum. Lalu memeluk Mala dan mengelus punggungnya. Agar Mala lebih tenang.
“Apapun akan aku dengarkan dan jadi rahasia antara kita. Maaf jika aku marah tadi.”
Aluna melepas pelukannya dan menghapus air mata Mala. Sebagai sahabat tentu ia merasa bersalah karena telah marah dan emosi pada Mala. Bukan keinginan dia untuk marah, tapi hanya ingin Mala bisa terbuka padanya. Mala bukan hanya sebatas sahabat, tapi Aluna telah menganggap Mala seperti saudara sendiri.
“Aku bingung dengan perasaan ini. Jujur saat kamu ada bela diri, aku nungguin karena hujan. Rupanya ada Khai yang nunggu hujan reda. Di situ kami mulai akrab.”
Mala menghela napas. Memberi jeda dalam ceritanya.
“Bertukar nomor dan sering chattingan. Aku merasa bahagia dan nyaman.”
“Kamu jatuh cinta?”
Mala menggeleng lemah.
“Mala, ketika kamu merasa nyaman dengan seorang lelaki, dan hati selalu berdebar terus mengharapkan kehadirannya. Tandanya kamu jatuh cinta.”
“Tidak akan mungkin, Lun!”
Mala menatap ke arah papan tulis, seakan menerawang kejadian yang telah dialaminya.
“Hari ini dia mengatakan perasaannya.”
“Itu bagus, Mala. Terima aja. Aku dukung!”
Mala menatap Aluna, kali ini kedua mata Mala telah berkaca-kaca. Seakan air matanya memaksa untuk keluar. Mala memeluk Aluna erat.
“Aku telah menikah!” ucap Mala di tengah Isak tangisnya.
Aluna yang mendengar itu, sangat terkejut. Dia tidak tahu sama sekali tentang penderitaan sahabatnya. Hatinya terasa ikut sakit. Aluna pun ikut menangis.
“Perjodohan yang dulu telah di lakukan, saat liburan kemarin aku menikah.”
“Kamu serius?” tanya Aluna.
Aluna melepas pelukan Mala dan menatap kedua gadis itu. Tidak ia temukan kebohongan di sana. Sorot matanya benar-benar memperlihatkan dia sangat sedih.
“Ayah hanya menjalankan amanahnya. Dia pernah berjanji pada orangtua lelaki itu.”
“Ya, Tuhan! Kenapa tidak di undur? Kamu kan masih sekolah!”
“Takut jika aku memilih yang lain dan menolaknya. Bahkan aku sendiri tidak tahu pernikahan itu.”
“Bagaiamana bisa? Tapi kamu sudah ketemu laki-laki itu?”
Mala menggigit bibirnya. Mengingat saja ia merasa terpukul, apalagi harus bercerita.
“Jadi ... Kamu murung itu karena hamil?”
“Hamil? Bukan! Aku belum melakukan apa-apa. Bahkan tidur pun kamar terpisah.”
Aluna bernapas lega, setidaknya Mala masih bisa menyelesaikan sekolahnya.
“Aku pingsan saat itu, lupa kenapa. Lalu aku sudah bertemu lelaki itu tapi tidak tahu siapa dia.”
Aluna mengernyit. Heran karena pernikahan Mala tidak masuk akal. Bagaimana bisa pernikahan terjadi saat Mala tidak sadarkan diri, lalu Mala pun tidak mengenal lelaki itu padahal sudah bertemu.
“Kamu tidak kenalan atau menanyakan sesuatu?”
Mala menggeleng. Dia pun lupa soal itu karena sibuk dengan ponsel pemberiannya.
“Mobil dan ponsel itu miliknya. Bahkan aku pun di belikan mobil untuk pergi ke sekolah. Dia baik dan perhatian, tapi aku merasa takut karena tidak mengenalnya.”
“Seharusnya kamu dekati dia dan tanyakan tujuannya apa. Lalu bagaimana dengan Khai?”
Khai? Mendengar nama itu Mala merasa bersalah. Dia telah menyakiti hati orang lain. Dua orang sekaligus. Aluna dan Khai.
“Aku telah menyakiti perasaanmu karena selalu menyimpan rahasia. Sekarang aku takut jika berkata jujur.”
Aluna menepuk kedua pundak Mala. Memaksa Mala untuk menatap kedua matanya.
“Percaya sama aku, terima dia dan jalani semuanya. Ada aku di sampingmu. Aku udah maafin kamu. Apapun masalahmu seringan dan seberat apapun ceritakan padaku.”
“Tapi, Lun__”
“Kamu cinta sama Khai?”
Tanpa sadar Mala mengangguk. Hati tidak bisa di bohongi. Mala terlanjur nyaman saat bersama Khai meski hanya lewat telepon.
“Terima dia, lalu soal suamimu itu nanti kamu dekati dia dan bicara dari hati ke hati. Tidak perlu takut. Ada aku yang kapan saja menjadi pendengar setia.”
Mala mengangguk yakin. Hatinya merasa lega setelah mengeluarkan semua unek-uneknya. Baru pertama kali menceritakan masalahnya pada Aluna, kini Mala mengerti bahwa ia memang butuh tempat berkeluh kesah.
***
Di taman kota, Khai terlihat sedang menelpon seseorang. Lalu berdiri dan mondar-mandir. Menendang kaleng minuman yang berada di depannya dan sesekali mengumpat kesal.
Sudah satu jam ia menunggu tapi tidak kunjung datang seseorang yang ia harapkan.
“Aluna sialan!” umpatnya.
Khai merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan bungkus rokok dan mengambil sebatang. Dinyalakan rokok itu, lalu ia hisap untuk menghilangkan emosinya.
Saat menoleh terlihat bus berhenti. Dua gadis tengah turun dari bus itu. Mereka gadis yang Khai tunggu. Cepat Khai menginjak rokok itu dan menendangnya.
Jantungnya kian berdegup kencang, saat langkah mereka semakin dekat. Samar ia mendengar ucapan dua gadis itu.
“Kamu ngapain ajak aku ke sini, Lun?”
“Kamu butuh hiburan, biar nggak stres. Sekali-kali jalan-jalan.”
Wajah Mala terlihat cemberut. Baginya ini membuang waktunya. Ia lebih senang jalan-jalan ke toko buku lalu membacanya.
Namun, pandangan Mala tertuju pada punggung lelaki yang berada di depan bangku taman. Tak jauh jaraknya dari Mala.
“Lun, itu kayaknya Khai deh!”
Aluna tersenyum.
“Khai!” teriak Aluna, memanggil lelaki itu.
Cepat Mala menutup mulut Aluna.
“Lun, kenapa di panggil? Katanya mau jalan-jalan!”
Khai yang di panggil pun menoleh. Wajahnya terlihat sumringah.
Aluna tidak memperdulikan omelan Mala, dia justru menarik Mala untuk menemui Khai.
“Ternyata kamu di sini juga?” tanya Aluna basa-basi. Padahal dia sudah tahu kalau Khai di sini. Lagipula Khai yang menyuruhnya.
“Eh, iya. Kalian ngapain?”
“Jalan-jalan aja. Nih Mala keliatan bete banget.” Aluna menyenggol lengan Mala.
Gadis itu tengah menunduk malu. Hampir terjatuh saat Aluna menyenggolnya.
“Aku kok haus ya. Eum, La, kamu tunggu sini ya. Aku beli minum dulu.”
Belum sempat Mala menjawab, Aluna sudah pergi. Mala yang hendak mengikuti langkah Aluna, cepat di tarik oleh Khai.
“Mau kemana?”
“Aku ....”
Mala mencoba melepas tangan Khai, tapi lelaki itu semakin erat genggamannya.
“La, aku pengen ngomong sama kamu!”
“Apa?”
“Ayo duduk dulu.”
Mala menghela napas. Jantungnya semakin berdebar. Oleh karena itu dia tidak berani menatap Khai.
Apakah ini yang dimaksud jatuh cinta?
“Kamu marah sama aku?”
Mala hanya menggeleng.
Khai menarik dagu Mala, agar gadis itu menatapnya.
“Jangan nunduk, setidaknya tatap aku. Karena kamu lebih cantik saat menatap aku.”
Desiran lembut mengalir dalam darah Mala. Tubuhnya terasa lemas. Ingin sekali ia menutupi wajahnya yang telah memerah. Biasanya ia selalu tersenyum dan menutupi wajah dengan bantal, saat mendengarkan ucapan manis Khai melalui telepon.
“La, aku tahu ini terlalu cepat. Tapi aku nggak bisa lagi nahan semua ini. Nggak apa-apa kamu marah sama aku, tapi setidaknya aku sudah bilang sama kamu.”
Khai menghela napas untuk mengurangi debaran di dada. Untuk pertama kalinya ia merasa grogi saat mengungkap perasaannya pada seorang gadis yang ia sukai.
“Kamu bagai pelangi yang selalu menghiasi hariku. Berada di dekatmu selalu memberikan rasa nyaman, hariku lebih indah dari pelangi. Bahkan kamu memberikan sinar pada kehidupanku yang gelap.”
Mala mengulangi isi pesan yang Khai kirim pagi tadi. Mendengar itu, Khai tersenyum. Malu.
“Jadi ... Kamu ... Mau jadi pacarku?”
Next ...