Unknown Husband

Unknown Husband
Soal Rasa


“Abang bilang kalau kamu boleh kuliah.” Romeo mengulang ucapannya.


Padahal bukan itu yang Mala maksud. Melainkan panggilan yang baru saja Romeo sebutkan. Tapi ya sudahlah Mala tidak mau membahasnya lagi.


“Makasih, Bang.”


“La, gimana hubunganmu dengan Khai?”


Pertanyaan Romeo membuat Mala terdiam. Kilas hubungan yang terjalin dengan lelaki itu kembali hadir di memorinya. Menyebalkan! Hanya itu yang tergambar di sana.


Meski Mala mengakui memang masih mengagumi Khai, tapi saat ini Mala baru menyadari bahwa berada di dekat Romeo lebih nyaman. Lelaki dewasa yang selalu membuat Mala salah sangka.


Mala baru menyadari bahwa dia telah memperjuangkan pernikahannya. Itu berarti Mala mulai ....


“Aku nggak tahu, yang jelas aku tidak mau lagi berhubungan dengan dia,” jawab Mala kesal. Apalagi dia teringat saat berada di taman.


Ketika Mala mendapatkan hukuman karena terlambat, Mala melihat Khai bersama Gea duduk di bangku taman. Begitu mesra. Entah mereka sedang di hukum juga atau sengaja bolos pelajaran.


Ada kecemburuan yang merasuki hati Mala. Namun, dia menghilangkan rasa itu saat ingat kejadian di rumah Adel.


“Dia ... Udah punya pacar lagi, Bang,” lanjut Mala.


Romeo ingin tersenyum, tapi takut jika Mala tersinggung. Yang terpenting dia merasa lega karena saat ini Mala tidak memiliki kekasih.


Lho, bukannya Mala sudah menjadi istri Romeo?


Ealah! Jangan-jangan Romeo lupa kalau sudah menikah! Duh.


“Jadi ... Kamu jomblo?” Pertanyaan yang konyol.


Tertawalah Mala karena pertanyaan Romeo yang terdengar konyol itu. Bagaimana dia bisa berkata kalau Mala jomblo, lha wong sudah terikat janji suci dan cincin yang melingkar di jarinya. Apa itu namanya jomblo?


“Abang ... Kamu nglantur?”


Romeo malu, dia memilih menggaruk tengkuk dan kepala. Merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh.


Begitulah cinta ... Mampu membuat orang terlihat konyol.


“Dasar pelupa! Untung sayang.” Mala segera menutup mulut yang tidak bisa menjaga ucapan. Meski lirih tapi dia yakin jika Romeo mendengarnya.


“Kamu bilang apa, La?” Romeo pura-pura tidak mendengar.


“Hah?”


Mereka menjadi salah tingkah. Mala memilih beranjak dari duduknya. Semakin dia dekat Romeo, semakin tidak karuan perasaannya. Begitu juga sebaliknya dengan Romeo.


Dia selalu terlihat dingin, tapi malam ini dia terlihat sangat konyol.


***


Mala mencoba memejamkan matanya, tapi bayangan wajah Romeo selalu mengikuti. Dia memilih menutup wajahnya dengan bantal, berharap bayang-bayang Romeo menghilang. Tetap saja lelaki itu hadir ketika Mala memejamkan matanya.


“Ish, kenapa ngikutin sih!” cebik Mala.


Lagi dia memilih miring ke kanan, lalu ke kiri. Tetap saja Romeo yang terlihat. Mala tidak bisa tidur. Akhirnya dia mengambil headset dan mendengarkan musik sebagai penghantar tidur.


Beberapa detik kemudian, ada pesan masuk. Tertera nomor Romeo yang mengirim pesan.


[Udah tidur belum, La?]


Mala mengerutkan dahinya. Aneh, padahal satu rumah dan kamar bersebelahan. Seharusnya Romeo bisa mengetuk pintu jika ingin bicara. Mala membalas pesan via WhatsApp itu.


[Belum, Bang. Ada apa?]


[Nggak ada apa-apa.]


Mala tidak membalas, karena di bawah nama Romeo ada tulisan mengetik itu berarti lelaki itu sedang mengirim pesan lagi.


Mala masih menunggu


Dua menit


Mala mengubah posisi miring ke kanan.


Tiga menit hingga lima menit berlalu. Kini Mala meletakkan ponselnya di meja dan memejamkan mata. Lelaki itu tak kunjung mengirim pesan. Entah apa yang dia ketik, mungkin panjang sekali sehingga belum selesai juga.


Mala pun terlelap dalam tidurnya.


.


Romeo masih saja mengetik, entah apa yang ingin dia katakan. Beberapa kata sudah di ketiknya tapi di hapus kembali. Begitu seterusnya hingga dia merasa lelah.


Bingung harus bagaimana mengungkapkan isi hatinya.


Mengungkapkan rasa yang terpendam, memang begitu sulit. Butuh perjuangan lebih dan semangat ketika kenyataan tidak seperti yang dibayangkan.


Namun, ini bukan soal cinta monyet yang akan putus di tengah jalan. Ini cinta kepada seseorang yang telah sah menjadi istrinya.


Meski masih butuh proses yang panjang agar tidak merasa bosan dan jenuh di suatu hari nanti.


Pernikahan Mala dan Romeo memang terburu-buru, awalnya tidak ada perasaan apapun diantara keduanya. Seiring berjalannya waktu dan kebersamaan, rasa itu perlahan tumbuh.


Padahal Romeo bisa saja berterus terang mengatakan perasaannya karena tidak akan Mala tolak. Namun, dia tidak ingin melanggar batasan-batasan yang telah di tetapkan oleh Papa juga mertuanya.


Ya, kedua orangtua Mala dan Papanya tahu jika selama ini mereka tidak tidur bersama. Awalnya kecewa, tapi mendengar alasan Romeo membuat para orangtua berpikir kembali.


Ada benarnya juga jika mereka pisah kamar.


“Biarkan Mala melanjutkan sekolahnya. Dia masih muda dan masih belum mengerti apa yang harus dilakukan.”


“Soal cucu, nanti ada saatnya ketika kami telah siap dan Mala sudah beranjak dewasa,” lanjut Romeo.


Kedatangan mertua dan papanya siang itu, membahas soal cucu agar menjadi penerus dua keluarga besar.


Terlalu terburu-buru membuat Romeo lelah. Merasa tidak punya harga diri jika terus menerus di tekan untuk mengikuti kemauan.


“Aku udah dewasa, jadi tolong jangan atur kehidupanku.”


“Romeo, permintaan kita ini wajib. Kalian sudah menikah jadi wajar jika kita menginginkan seorang cucu,” tukas Papa Romeo.


“Bu, apa kau ingin Mala mengandung di saat sekolahnya belum usai?”


Pertanyaan Romeo membuat wanita separuh baya itu terdiam. Sebagai seorang ibu, tentu dia tidak ingin masa depan anaknya hancur. Meski sudah menikah, dia pun tidak ingin Mala putus sekolah. Hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk menyelesaikan sekolahnya.


“Romeo benar. Mala masih SMA dan belum ujian, biarkan mereka menjalani rumah tangga dan saling mengenal.”


Ayah Mala dan Papa Romeo saling memandang, berat rasanya jika keinginan mereka terhalang oleh status Mala yang masih pelajar.


“Ibu yakin, kau pasti bisa memilih mana yang terbaik dan mana yang buruk. Jaga Mala dan biarkan cinta itu tumbuh dari hati kalian. Suatu hari nanti pasti kalian sudah siap menjadi orangtua bagi anak-anak kalian.”


To be continue...


***Aku ingatkan sekali lagi ya, kalau cerita ini baru saja di revisi. Di aku part 22-32 sudah kehapus. Jadi semua cerita nyambung.


Sayangnya di sini nggak nyambung. Jadi yang baru baca, tolong lewati saja part 22 sampai part 32 ya.


Jadi urutannya gini part 1 sampai 21 lalu loncat ke part 33 sampai seterusnya.


Terima kasih atas dukungan kalian. Jangan lupa simpan cerita ini di daftar baca kalian ya, lalu beri aku dukungan melalui vote. Itu membuat mood menulisku bertambah.


Selamat membaca ... 😘😘😘😘😘***