Unknown Husband

Unknown Husband
Foto Misterius


Mala terus membuka lembar demi lembar album foto yang dia temukan secara tidak sengaja, di rak buku dekat meja televisi yang tertumpuk oleh beberapa buku tebal lainnya. Awalnya Mala tidak tertarik karena hanya foto bunga, dekorasi rumah, dan foto-foto pemandangan lainnya.


Lalu di lembar selanjutnya ada sebuah foto keluarga yang terlihat bahagia. Sepasang suami istri yang berdiri di belakang dua anak lelaki dengan pakaian yang sama.


Lalu foto pertumbuhan kedua anak itu bersama kedua orangtuanya. Kemudian foto mereka bertiga yang sedang berlibur di kebun binatang tanpa sang ibu kali ini.


Mala terus melihat-lihat foto keluarga itu, hingga mengerti mengapa sang ibu tidak lagi ikut foto bersama. Rupanya sebuah pemakaman dan foto kedua anak lelakinya yang menjadi jawaban. Bahwa sang ibu telah meninggal dunia.


Mala sendiri tidak tahu siapa mereka. Orang tua Romeo kah? Lalu kedua anak kecil itu Romeo? Dengan siapa dia? Wajah mereka berdua benar-benar mirip.


Romeo kembar?


Namun, selama tinggal bersama Romeo, Mala tidak pernah menemukan orang lain di sana. Mala ingin mengetahui siapa lelaki itu, tapi sayangnya tidak ada lagi foto mereka ketika dewasa.


Hanya ada satu album di sana, Mala semakin penasaran dengan anak lelaki kembar itu. Lalu pandangannya terhenti ketika melihat foto semasa kecilnya bersama salah satu anak kembar itu.


Mala mencoba mengingat foto itu, tapi dia sama sekali tidak ingat. Lalu foto dirinya bersama Romeo.


Foto dimana Mala sudah besar bersama Romeo yang terlihat begitu romantis. Romeo memeluk Mala dari belakang.


Suara langkah kaki, membuat Mala terkejut. Cepat dia mengambil foto kedua foto itu lalu menyimpannya ke dalam saku. Mala merapikan kembali album foto ketempat semula dan kembali duduk seraya memainkan ponsel, agar siapapun yang datang tidak mencurigainya.


“Hay, Nona. Apa harimu menyenangkan?” sapa Tami—salah satu maid—bagian bersih-bersih.


“Ah, iya sangat menyenangkan. Sedikit jenuh sih.”


“Apa nona ingin jalan-jalan sekitar kompleks?” tanya Tami.


“Tidak, aku sedang ingin di rumah saja. Oh, ya apa Tuan sudah kembali?”


“Tuan baru saja pulang, tapi sepertinya sedang ada tamu,” jawab Tami seraya mengelap meja televisi.


“Tamu? Laki-laki atau perempuan?”


Wanita berusia tiga puluh tahun itu mengentikan kegiatannya. Lalu menatap Mala dengan mimik wajah yang terlihat resah.


Mala mengerti ke resahan Tami, lalu dia pergi tanpa menghiraukan panggilan darinya.


Mala mengintip di balik dinding yang memisahkan ruangan lain dengan ruang tamu. Seorang perempuan dewasa dengan pakaian kerjanya sedang berbincang-bincang dengan Romeo. Rupanya rekan kerja Romeo.


Mala menghela napas, setidaknya Romeo tidak membawa wanita lain seperti Reva. Juga belum sempat masuk ke kamar. Jika sudah, maka habislah Mala karena sudah lancang mengambil foto miliknya.


“Nona,” panggil Martha seraya menepuk bahu Mala.


Mala terlonjak kaget, lalu menghela napas ketika Martha yang datang.


“Bi, siapa wanita itu?” tanya Mala penasaran.


“Sekertaris Tuan. Kalau begitu saya permisi sebentar ya, Non.”


Mala pun mengangguk, lalu Martha pergi ke ruang tamu membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk.


“Sekertaris rupanya, baguslah setidaknya bukan wanita mosnter itu,” gumam Mala yang kemudian kembali ke kamarnya.


Mala masih memikirkan tentang foto itu. Dia menginginkan kejelasan kepada Romeo tentang foto ini. Mala sama sekali belum pernah foto bersama, bahkan bertemu saja setelah menikah. Sejak kapan Romeo bertemu dengannya?


Pemandangan di belakang foto itu pun sangat asing bagi Mala?


Mala terus menerka-nerka seraya menunggu kepulangan sekertaris itu dan segera menanyakan kepada Romeo.


Suara mesin mobil membuat Mala segera berlari menuju balkon. Rupanya Romeo pergi dengan sekertarisnya .


Ada rasa kecewa yang Mala rasakan. Ketika Romeo pergi tanpa pamit padanya. Lebih lagi dia pergi bersama wanita lain.


“Apa dia pacaran? Berarti Abang selingkuh dong?”


Mala menghentakkan kedua kakinya di lantai. Kesal sekali.


Bukankah Mala pun memiliki seorang kekasih? Mengapa harus kesal?


***


Hari sudah malam, waktu sarapan pun tiba. Mala telah berada di ruang makan untuk menikmati hidangan yang tersedia. Sendiri. Romeo belum juga pulang. Pikiran negatif terus mengisi otaknya. Mala tidak nafsu makan, dia hanya mengaduk-aduk sup yang berada di hadapannya tanpa ingin mencicipi sedikitpun.


“Bi, Tuan belum pulang ya?” tanya Mala ketika melihat Martha melintas di ruang makan.


“Mungkin pulang larut malam, Non.”


“Nggak biasanya begitu.” Mala pun bangkit dari duduknya dan kembali ke kamar.


“Dulu sering begitu, Nona,” sahut Martha.


Mendengar ucapan Martha, Mala menghentikan langkahnya.


“Dulu? Jadi dia sering pulang larut malam bersama wanita?”


Martha menundukkan kepala, tangannya meremas ujung baju. Wajahnya terlihat bingung dan resah seperti ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan.


“Lupakan saja, aku mengerti sekarang.”


“Bukan seperti itu, Nona. Tuan tidak___”


“Ya, aku tahu,” sahut Mala memotong ucapan Martha sambil terus berjalan santai menaiki anak tangga.


Suara pintu terbuka membuatnya kembali menghentikan langkah. Melihat siapa yang datang.


Lelaki yang di tunggu telah kembali. Namun, ada yang aneh. Pakaiannya telah berganti pakaian santai.


“Abang?” panggil Mala.


“Ya?” sahutnya yang akan menuju dapur.


“Kok udah ganti? Bukannya tadi masih pakai baju kerja ya?”


Lelaki itu menoleh lalu kembali melangkah tanpa memperdulikan pertanyaan dari Mala.


“Kok aneh?” gumam Mala.


Gadis itu memilih ke kamar daripada harus bertemu dengan Romeo yang sangat aneh hari ini.


Mala merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lalu mengambil ponsel yang seharian ini tidak di sentuhnya. Beberapa pesan dan panggilan dari tiga orang yang sama.


Bersambung ...