Unknown Husband

Unknown Husband
Kesempatan


Adel terus memaksa Mala untuk menjawab semua pertanyaan. Adel yakin bahwa jauh dalam lubuk hati Mala, ada cinta yang tumbuh untuk Romeo. Adel sangat bahagia jika Mala berkata jujur. Sebagai sahabat yang sudah di anggap saudara, Adel lebih setuju jika Mala melupakan Khai. Lelaki yang hanya mempermainkan perasaan wanita. Menurut Adel.


Mata sipit itu terlihat sembab. Di parkiran hanya ada mereka berdua, para pengunjung kafe yang melintasi parkiran sesekali menoleh ke arah mereka. Adel menduga bahwa saat ini dirinya dan Mala sedang menjadi bahan obrolan pengunjung kafe.


Beruntung mereka telah berganti pakaian, kalau saja masih memakai seragam pasti akan di duga sebagai simpanan om-om hidung belang.


Mala yang masih terisak, membuat Adel bingung harus berbuat apa.


“Mala, sudah. Apa kau tak malu di lihat pengunjung?” ucapnya kesal.


“Bodo amat. Biarin aja mereka bicara, supaya Romeo keluar dari kafe itu dan datang kemari.”


Adel menggelengkan kepala, benar-benar seperti anak kecil. Pikir Adel.


“Ya sudah, tetap di sini! Aku mau pulang!” ucap Adel sinis. Tidak perduli jika Mala akan marah sepanjang perjalanan.


Lebih baik Mala marah daripada harus berdiri di parkiran motor seperti orang aneh dan menjadi tontonan gratis para pengunjung kafe.


“Pulang aja sendiri, aku akan menunggu Romeo keluar!” Mala bersikeras untuk menunggu Romeo keluar dan melihat dirinya.


“Baiklah jika itu maumu. Jangan salahkan aku, kalau ada om-om hidung belang menggodamu.”


Mala dilanda kebingungan. Jika pulang bersama Adel, maka Romeo tidak akan melihatnya dan akan terus bermesraan dengan wanita itu. Namun, jika terus berada di sana, pasti akan ada orang yang menggodanya.


Apalagi kafe itu mayoritas para pengunjungnya laki-laki, dan selalu dibuat untuk bertemu para perempuan simpanan. Meski masih ada beberapa yang benar-benar sepasang kekasih atau suami istri.


“Baiklah aku akan ke dalam menghampiri Romeo!”


Mala yang hendak melangkah, segera di tarik lengannya oleh Adel.


“Jangan murahan jadi cewek! Ikuti saja kata-kataku!”


Adel memasangkan helm di kepala Mala dan memaksanya untuk duduk di belakang Adel.


“Buruan naik!” kata Adel dengan nada sedikit tinggi.


Mala pun menurutinya dengan terpaksa. Wajah cemberut terus dia pasang sepanjang perjalanan.


Adel mengerti perasaan sahabatnya itu, sengaja tidak membuka pembicaraan karena pasti Mala akan terus menyalahkan dirinya.


Mala terus membisu. Malas berbicara karena pikirannya masih berada di kafe. Memikirkan Romeo yang bersama dengan wanita lain, dan merasakan hati yang aneh.


Kenapa harus panas melihat Romeo bersama wanita lain? Kenapa pula harus menangis ketika Romeo memberikan hadiah untuknya. Pikir Mala.


Mungkin hatinya sedang terbawa suasana karena cerita seseorang tentang Khai. Mungkin pula rasa sakit itu menjadi satu saat melihat Romeo bermesraan. Toh Mala tidak menyukai Romeo, pernikahan itu hanya paksaan dan bukan kemauan Mala ataupun Romeo. Jadi seharusnya Mala pun bisa bersikap sama dengan Romeo. Memiliki seorang kekasih.


Mala berpikir kembali, lantas dengan siapa dia menjalin cinta? Rasanya tidak mungkin jika Mala kembali kedalam pelukan Khai. Itu sama saja merusak harga dirinya.


Devan!


Ya, terlintas dalam pikirannya lelaki itu. Lelaki yang selalu membuat isi lokernya penuh dan selalu memberikan surat di laci mejanya. Devan selalu memperlakukan Mala seperti seorang putri.


Ketika Mala duduk di bangku kantin, maka Devan dengan sigap mengelap bangku itu terlebih dahulu. Lalu membawakan makanan Mala. Jika lelaki itu melihat Mala.


Mala tersenyum, ada rasa kagum pada lelaki yang tidak pernah menyerah mengejar cintanya.


“Del, aku boleh nanya sesuatu?” ucap Mala saat motor milik Adel berhenti di lampu merah.


Adel heran pada gadis itu, karena ucapannya bukan sebuah kemarahan. Malah lebih ramah dan seperti orang tidak sedang kesal.


“Ya?” jawab Adel setengah ragu.


“Devan ... Udah punya pacar?” tanya Mala ragu.


Sesaat Adel diam, hingga lampu merah berganti hijau. Mala masih menunggu jawaban dari Adel.


Di tepi jalanan yang sepi, Adel mengentikan motornya. Lalu menatap Mala curiga.


“Untuk apa kau tanya seperti itu?”


“Kenapa? Nggak boleh ya?”


“Kau ingin menerima cinta Devan, untuk memanas-manasi Kak Romeo? Apa kau gila?”


“Lho, aku kan cuma nanya. Emang nggak boleh?”


“Bertanya karena ada maksud tertentu!”


“Bukan begitu, Del. Dia sampai sekarang selalu membuat lokerku penuh makanan atau bunga. Lalu perlakuannya padaku masih sama. Takut aja kalau orang nyangka kita pacaran, dan sebenarnya ada hati yang terluka.”


Ada hati yang terluka? Ucapan Mala membuat Adel ingat kepada seseorang.


Melihat Adel terdiam, Mala merasa bersalah juga curiga. Mala berpikir bahwa Adel menyukai Devan. Jika begitu Mala akan mengikhlaskan Devan untuk Adel. Mala berjanji akan membicarakan ini pada Devan, agar lelaki itu tidak lagi mengganggunya.


“Del, kenapa diam? Ucapanku salah ya?”


Adel tersadar dari lamunan saat bertemu gadis yang tengah bersedih karena cinta.


“Ah, tidak ada yang salah. Hanya saja ....”


“Apa?”


“Sudah lupakan. Ayo pulang.”


Tingkah Adel membuat Mala semakin yakin, bahwa sahabatnya sangat mengagumi Devan. Selama ini Mala telah melukai Adel karena Devan lebih memilihnya. Mala tidak ingin persahabatannya hancur karena laki-laki. Oleh sebab itu Mala berencana untuk mendekatkan Devan dengan Adel.


Meski kenyataanny dugaan Mala itu sepenuhnya salah.


***


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Romeo belum juga pulang. Mala masih setia menanti lelaki itu di depan televisi. Meski kedua matanya menatap lurus ke layar televisi, tapi pikirannya terus berada di kafe. Terkadang gadis itu memikirkan hal yang tidak-tidak.


Jangan-jangan Romeo sedang bersama wanita itu di sebuah hotel. Atau Romeo sedang melakukan pernikahan siri dengan wanita itu. Pikir Mala.


Mala hanyut dalam pemikiran negatifnya, tanpa sadar lelaki itu sudah berdiri di sampingnya.


Mala terkejut karena yang dipikirkan telah berada di hadapannya.


“Abang, se-sejak kapan di sini?” ucap Mala terbata.


Romeo tersenyum dengan kedua tangan dilipat di dada.


“Sejak lima menit yang lalu. Jam segini belum tidur juga?”


Mulut Mala sedikit terbuka. Hendak mengatakan sesuatu. Namun, mengingat kejadian di kafe itu membuatnya kesal. Mala mematikan televisi dan melempar remotnya begitu saja.


“Hey, kau kenapa, Mala?”


Romeo melangkah mengikuti Mala.


“Mala!” Romeo terus memanggil, tapi gadis itu tidak menoleh dan terus menaiki anak tangga.


Romeo menarik tangan Mala, hingga gadis itu hampir terjatuh. Untung saja Romeo sigap menangkap meski bibir Romeo tidak sengaja menempel di bibir Mala. Sesaat mereka saling pandang.


Suara benda jatuh membuat keduanya kaget, Mala langsung berdiri dan memukul lengan Romeo.


“Ngambil kesempatan!”


Lalu Mala melengos pergi seraya mengelap bibirnya. Kalau saja tidak ada suara benda jatuh, mungkin Romeo telah melumatnya.


Romoe mengulum senyum, tidak di sangka bahwa Mala benar-benar cantik saat begitu dekat. Memikirkan kejadian barusan membuat Romeo lupa menanyakan soal Mala.


Romeo kembali mengejar Mala untuk meminta penjelasan. Entah penjelasan soal apa.


“Mala, tunggu!”


“Bodo amat! Aku mau tidur!” ucap Mala ketus. Mala menutup pintu kamarnya kasar.


Romeo menggaruk kepalanya. Mala marah padanya? Mungkin marah soal kejadian barusan. Pikir Romeo.


Bersambung ...