Unknown Husband

Unknown Husband
Part 8


Waktu terus berputar. Mala menjalani kehidupan seperti biasa. Bangun tidur, mandi, sarapan lalu bersiap pergi ke sekolah dengan di antar Pak Udin. Perlahan gosip tentang Mala menjual diri pun menghilang. Beberpa hari Mala jarang bertemu Romeo. Meski tinggal dalam satu atap, mereka tidak pernah saling bertatap muka.


Romeo pulang larut malam ketika Mala tengah tertidur pulas, lalu berangkat lebih pagi sebelum Mala terbangun. Sesekali saat pulang bekerja, Romeo melihat wajah Mala sejenak untuk melepas rasa lelah. Meski hanya menatapnya dari kejahuan.


Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing. Hingga hari libur pun Mala merasa kesepian. Tinggal di rumah mewah tanpa adanya teman. Ya, Bibi Martha yang kadang menemaninya. Terkadang Mala pulang ke rumah saat malam minggu, sebelumnya ia meminta izin Romeo terlebih dahulu. Namun, dua Minggu ini Mala tidak pulang karena di sibukkan dengan adanya belajar kelompok.


Ujian kelulusan beberpa bulan lagi akan datang. Beberpa guru mata pelajaran membentuk kelompok para murid dan memberikannya tugas. Kebetulan sekali Khai masuk dalam kelompok Mala. Hal ini tentu mendapat protes dari Risa.


Hubungan Khai dan Mala tidak ada yang mengetahui. Mereka bertemu di luar sekolah dan bersikap biasa saja saat berada di sekolah. Hanya Aluna yang mengetahui jika Mala dan Khai telah berpacaran.


Ya, meski terkadang Khai merasa panas ketika Aluna memberitahu tentang fans berat Mala.


“La, nih buat kamu!” Aluna menyodorkan tiga bungkus coklat yang diberi pita warna pink.


Kebetulan di kelas hanya ada Khai dan Mala saat beristirahat. Mala sedang menyalin catatannya, lalu Khai sengaja menemani Mala meski gadis itu tidak perduli. Kalau sudah soal pelajaran dia malas untuk berbicara pada siapapun. Lebih memilih fokus pada pelajaran.


“Dari siapa?” tanya Mala.


“Fans gelap kamu. Siapa lagi coba?” Aluna melirik ke arah Khai yang mulai terlihat cemburu.


“Di loker juga ada, barusan aku cek banyak banget,” imbuh Aluna. Sengaja dia bicara seperti itu karena lucu melihat seorang Khai yang sikapnya dingin bisa cemburu.


Mala tidak memperdulikan itu, dia lebih memilih melanjutkan menyalin catatannya yang masih acak-acakan. Setiap guru memberikan penjelasan, maka Mala selalu membuat ringkasan. Berbeda dengan murid lainnya yang memilih memperhatikan lalu diingat-ingat. Ada juga yang memang memperhatikan tapi pikiran kemana-mana.


“La, itu kan bisa nanti. Lebih baik kamu ke loker sekarang. Daripada nanti kepenuhan.”


Aluna mengulum senyum. Khai yang sibuk dengan ponsel, sebenarnya dia mendengar apa yang Aluna katakan. Namun, dia memilih diam meski hati rasanya panas. Ingin sekali memberi pelajaran pada mereka yang terus mengirimi Mala cokelat atau kado lainnya.


“Males, Lun. Kamu aja sana yang ngambil, lagian bukannya kamu yang suka ngambilin? Ngapain nyuruh aku?”


“Ya kan biar kamu tahu kalau aku nggak bohong. Ayolah, siapa tahu ada yang pengen ngomong sesuatu sama kamu!”


Khai masih dalam posisinya. Memakai headset dan sibuk berselancar di layar ponselnya. Hatinya memang panas, tapi ia tahan. Percaya bahwa Mala bukan gadis yang gila akan fans. Dia cuek. Bahkan saat diam-diam Khai mengirim cokelat pun tidak pernah dia perdulikan. Setiap kali Khai meletakkan cokelat di lokernya, selalu Aluna atau teman lainnya yang mengambil dan memakannya. Saat tahu hal itu Khai berhenti mengirim cokelat dan memilih menyimpan perasaannya. Hingga Tuhan mempertemukan mereka secara tidak sengaja.


Rupanya bukan hanya Khai saja yang mengirimi cokelat, banyak lelaki yang menyukai Mala pun melakukan hal yang sama. Memang saat itu Khai melihat ada bunga, boneka dan beberapa surat di sana. Namun, Khai tidak sekepo itu untuk mengambil salah satu surat di sana. Dia tidak perduli, yang dia inginkan hanya Mala tahu perasaannya. Lalu kini Khai merasa lega karena dia menjadi pemenangnya. Mengambil hati Mala.


“Yaudah kalau gitu, aku ambilin ya. Kayaknya Livia sama Adel di sana juga.” Aluna berlalu setelah lelah membujuk Mala yang bersikeras untuk melanjutkan menulis.


Khai mendorong kursi Mala. Hal yang selalu ia lakukan saat ingin berbicara atau memberi kode bahwa ia mengirim pesan.


“Apa?” Mala menoleh.


Khai hanya tersenyum. Meski sudah menjadi kekasihnya, Khai selalu merasakan debar di dada saat menatap wajahnya.


“Apaan sih, Khai?”


“Nggak ada. Yaudah lanjutin.”


“Kamu lapar? Ke kantin sana!”


“Nggak, La. Aku mau di sini nemenin kamu.”


Mala menggeleng pelan, lalu melanjutkan tulisannya lagi. Meski beruda saja, Mala tidak ingin mengambil kesempatan hanya untuk sekadar duduk berdua dan mengobrol. Hal ini pun sudah mereka berdua sepakati.


“Say, nanti aku tunggu tempat biasa,” bisik Khai.


“Ya,” jawab Mala tanpa beralih menulis.


Hubungan mereka sudah berjalan satu bulan. Sejak menjalin asmara dengan Mala, nilai Khai mengalami perubahan. Dia lebih giat belajar apalagi saat belajar kelompok dia tidak pernah mengambil kesempatan meski anggotanya terdiri dari sahabat Mala dan dua lelaki lain. Khai terlihat cuek dan memilih memperhatikan saat Mala menerangkan soal yang tidak mereka mengerti.


“Jadi sampai di sini paham kan?”


“Paham!” ucap enam anggota kelompok Mala secara bersamaan.


Mereka melanjutkan kembali mengerjakan tugas yang diberikan guru.


Belajar kelompok selalu diadakan setiap Minggu di rumah Khai, karena rumahnya sepi dan suasana mendukung banget buat belajar bersama. Selesai tugas, teman-teman Khai pamit pulang. Namun, saat Mala hendak melangkah keluar, Khai menarik lengan Mala.


“Kenapa?”


Khai mengedipkan mata pada Aluna yang tengah menunggu Mala.


“La, aku duluan ya.”


Mala menghela napas. Paham maksudnya.


“Main di sini bentar. Kamu nggak pernah main dulu, selalu pulang duluan kayak yang lain.”


Mala tersenyum. Dia melihat sisi lain Khai. Rupanya lelaki itu manja dan merasa kesepian.


“Ya udah, mau main apa?” ledek Mala.


Khai tertawa.


“Lucu banget sih!” Khai mencubit hidung Mala.


“Ih, sakit! Kebiasaan!”


Khai tersenyum gemas. Gadisnya itu selalu mampu membuatnya tersenyum.


“Gimana kalau kita nonton?”


“Boleh.”


“Di sini tapi, bukan di bioskop.”


“Jangan berpikiran aneh-aneh. Aku nggak bakal macam-macam!”


Seolah mampu membaca pikiran Mala, gadis itu tersipu malu mendengar ucapan Khai.


“Ruang televisinya ada di atas, di sini nggak bisa buat nonton.”


Khai menarik tangan Mala. Gadis itu menuruti Khai meski dihantui rasa takut.


“Mama sama Papa kamu kemana?” tanya Mala setelah sampai di lantai dua.


“Pergi, mereka akan pulang malam nanti,” jawab Khai yang sedang sibuk memilih dvd.


“Kerja?”


“Jalan-jalan.”


“Kok kamu nggak ikut?”


“Kan kerja kelompok. Kalau ikut aku setiap Minggu nggak bakal bisa dateng nanti.”


Mala mengangguk mengerti. Dari sini dia paham, mengapa Khai cuek dan penyendiri. Hidupnya selalu kesepian dan dia sudah terbiasa dalam kesendirian. Oleh sebab itu Khai jarang bergaul dengan beberpa teman di sekolah. Ya hanya Rio dan Ari saja yang dekat. Kebetulan mereka satu kelompok.


“Biasanya Ari sama Rio main dulu. Tumben mereka pulang duluan.”


“Mungkin lelah, atau kamu yanh nyuruh.”


“Biar bisa deket sama aku,” lanjut Mala.


Kini gadis itu tidak merasa sungkan lagi saat berbicara hanya berdua dengan Khai. Berkat Aluna dia tidak terlalu memikirkan soal pernikahannya.


“Ih, kamu lucu banget sih. Selalu bikin aku gemes!” Khai mencubit pipi Mala.


“Ih, sakit!” keluh Mala.


Khai hanya tersenyum lalu duduk di samping Mala setelah selesai menyalakan dvd yang akan ia tonton.


Mereka duduk sangat dekat, satu tangan Khai merangkul Mala dan satu tangannya lagi memegang tangan Mala.


“I love you, sayang,” ucap Khai sambil mencium punggung tangan Mala.


Wajah gadis itu bersemu merah. Khai memang lelaki romantis. Dia tidak pernah melakukan hal lain selain mencium punggung tangan Mala seperti yang dilakukan saat ini.


“Kamu kenapa liatin aku terus?”


Mala mulai sadar jika Khai terus memperhatikannya sejak tadi.


“Habis kamu cantik, udah gitu ngangenin. Kapan lagi bisa deket kayak gini.”


“Gombal ih, udah sana nonton. Katanya mau nonton.”


Wajah Khai mendekat, Mala sedikit menjauh. Posisi Mala seolah akan tidur.


“Aku kangen.” Khai memeluk Mala.


“Jangan takut, aku nggak akan melakukan hal-hal lain. Aku nggak akan ngerusak kamu. Masa depan kita masih panjang.”


Ucapan Khai membuat Mala sedih. Ya, masa depan masih panjang, tapi tidak buat Mala. Dia hanya seorang istri dan setelah ini tidak akan bisa melanjutkan kuliahnya.


“Khai, aku sayang kamu.” Mala membalas pelukan Khai. Dia tidak ingin kehidupan Khai, meski sadar bahwa kisah ini hanya untuk sesaat.


Khai melepas pelukannya, lalu menarik dagu Mala dan mencium bibirnya. Hanya kecupan saja tapi mampu menghadirkan desiran halus dalam darah dan degupan jantung yang kencang dari keduanya.


“Kamu janji akan selalu jaga cinta kita,” ucap Khai.


Mala menggangguk lemah. Dia tidak bisa berjanji, tapi dia tidak ingin semua berakhir.


Setelah itu Khai memberanikan diri mencium bibir Mala. Gadis itu terlalu polos, Khai mengajarinya untuk membuka mulutnya sedikit. Ini adalah ciuman pertama Mala. Bahkan lelaki yang telah menyandang gelar suaminya belum pernah menyentuh Mala.


***


Malam itu selesai mandi, Mala terus melihat dirinya di depan cermin. Memegangi bibirnya yang sedikit bengkak akibat ulah Khai. Lalu tanda merah yang berada di dada Mala. Hampir saja Khai lepas kendali kalau saja Mala tidak mendorong tubuhnya. Mala yang terlalu larut dan polos itu pun hampir kehilangan akalnya karena terlalu nikmat.


Mala cepat-cepat menyembunyikan tanda merah itu saat ponselnya berdering. Beruntung tertutup oleh pakaian yang ia kenakan.


Rupanya panggilan dari Khai. Mala malas mengangkatnya mengingat kejadian tadi sore saat mereka hanya berdua. Meski Khai telah berjanji, tapi malah terpengaruh oleh suasana rumah yang sepi.


[La, maafin aku ya. Maaf aku nggak bisa ngontrol tadi.]


Setetes air mata mengalir. Apa yang telah Mala lakukan jelas ini salah. Tidak seharusnya Mala mempercayai ucapan lelaki. Seharusnya Mala bisa berpikir jernih karena mereka hanya berdua. Namun, karena rasa nyaman Mala menjadi terlena.


Lalu bagaimana dengan Romeo? Sampai saat ini dia tidak pernah menyentuhnya. Mala merasa bersalah.


[Please maafin aku!] Khai terus mengirim pesan.


Mala hanya membaca tanpa ada niat untuk membalasnya.


Mala sedang tidak ingin di ganggu, hatinya hancur bahkan dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Di sisi lain Mala masih sangat mencintai Khai, tapi di sisi lain Mala merasa syok dengan kejadian sore itu. Mala membenci Khai karena telah mengambil ciuman pertamanya.


Bodohnya Mala malah menikmati hingga kehilangan akal sehatnya.


[Kita putus!]


Next ...