
Hari ini adalah hari terakhir ujian Nasional. Setidaknya Mala bisa bernapas lega. Ujian usai dia tidak lagi duduk di belakang Khai Anggara. Meskipun begitu Mala merasa sedih karena sebentar lagi akan berpisah dengan teman-temannya.
Banyak kenangan di sekolah itu. Persahabatan dan cinta. Meski hanya sesaat tapi Mala mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya.
Bukan soal napsu, melainkan saling menjaga, melindungi, menyayangi dan juga kenyamanan.
Ini yang dia rasakan sekarang kepada .... Romeo.
Merasa nyaman.
“Eyang, aku berangkat dulu ya. Eyang hati-hati nanti di jalan,” ucap Mala sambil mencium pipi dan punggung tangan Eyang.
Meskipun baru pertama kali bertemu dan itu hanya sebentar, membuat Mala menyayangi wanita tua itu.
“Iya, sayang. Nanti Eyang akan kabarin kamu, Nduk,” sahut Eyang seraya memeluk Mala.
Suasana pagi ini begitu terharu. Mala menangis. Bukan soal tidur berpelukan dengan Romeo, melainkan berpisah dengan Eyang. Rupanya Mala baru menyadari bahwa Eyang tidak seperti yang ada dibayangannya.
Eyang begitu baik dan tegas. Demi kebaikan.
“Mala ... Sayang Eyang.”
“Eyang juga, Nduk. Malah Eyang bahagia Romeo bisa menikah denganmu.”
Mala tersenyum. Dalam hatinya dia pun bersyukur memiliki lelaki seperti Romeo. Bisa menjaga dirinya. Meski telah menikah Romeo tidak pernah meminta haknya.
“Yasudah, berangkat sana. Nanti terlambat,” perintah Eyang. Dia takut jika hatinya semakin berat meninggalkan Mala.
Sebenarnya Eyang masih ingin tinggal di rumah itu. Sayangnya ada tugas yang tidak bisa dia tinggalkan.
“Lain kali Eyang akan ke sini dan menginap lebih lama,” sambungnya saat Mala hendak melangkah ke arah mobil.
Mala mengangguk dan melambaikan tangannya. Begitu juga dengan Romeo, sebelum mengantar sekolah, lelaki itu mencium punggung tangan Eyangnya.
“Pergi dulu, Eyang.”
“Hati-hati bawa mobilnya.”
“Iya.”
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah. Perjalan ke sekolah di mulai. Keheningan menyelimuti. Mala enggan mengajak Romeo bicara sejak kejadian pagi itu. Mala masih saja kesal.
Begitu juga dengan Romeo. Dia masih bingung dengan ucapan Mala.
“Kalau aku hamil, tanggung jawab!”
Tanpa sadar Romeo tersenyum. Bagaimana bisa hamil jika hanya berpelukan saja. Itupun tidak sengaja. Tentu saja Romeo akan tanggung jawab karena memang mereka sudah menikah. Malah Romeo akan sangat senang karena di rumah akan ada Romeo junior.
Meski entah kapan itu akan terjadi. Romeo hanya bisa berharap dan menunggu hingga Mala siap.
Lampu merah menyala, mobil berhenti. Pemandangan yang selalu di jumpai ketika di ibukota. Polusi udara meski masih pagi. Tidak pernah ada udara segar di sana. Kemacetan selalu menghiasi. Pengamen jalanan atau anak-anak yang selalu datang ketika kemacetan datang. Mengelap kendaraan dengan kain yang mereka bawa.
Herannya para orangtua tidak pernah melarang mereka menjadi anak jalanan. Malah menyuruh mereka untuk bekerja daripada sekolah.
Miris sekali.
“Abang, aku keluar sebentar,” kata Mala.
“Kemana? Sebentar lagi lampu hijau menyala,” sahut Romeo.
“Sebentar aja kok.”
Tanpa menunggu jawaban dari Romeo, Mala keluar dari mobil. Memberikan beberapa lembar uang untuk anak jalanan yang sedang mengais rejeki dari para pengendara motor ataupun mobil.
“Buat kalian, ambillah.”
Beberapa anak yang sedang mengamen itu ragu untuk mengambil uang dari Mala.
“Ayo ambil, ini bisa buat sarapan kalian berlima.”
“Ini ... Terlalu banyak, Kak,” sahut salah satu dari mereka.
“Nanti kakak tidak ada bekal ke sekolah,” sambung satu anak lagi yang memegang gitar.
“Sudah, kalian membutuhkan untuk sarapan.”
Akhirnya mereka mengangguk dan mengambil uang dari tangan Mala. Meski bagi Mala tidak seberapa, tapi bagi mereka dua ratus ribu sangatlah banyak.
Romeo sangat bersyukur karena telah di jodohkan dengan wanita yang jauh lebih baik dari Naura.
“Abang, maaf ya kelamaan,” ucap Mala saat melihat lampu hijau menyala dan suara klakson bersahutan karena mobil Romeo belum melaju.
“Tidak apa-apa. Jika demi kebaikan, Abang akan selalu dukung kamu.”
Mala tersenyum. Memberikan debaran di dada Romeo. Senyum Mala membuatnya semakin terpesona.
Ada desiran yang mengalir dalam darahnya. Ingin sekadar mengecup bibir itu. Namun, Romeo mengalihkan pandangan agar tidak terjadi hal yang tidak dia inginkan.
Romeo menahan semua gejolak dalam dirinya. Hingga tanpa sadar telah sampai di gerbang sekolah Mala.
“Makasih, Abang,” ucap Mala sambil mencium pipi Romeo.
Untuk pertama kalinya.
Semakin sesak Romeo. Mala benar-benar membuat konsentrasinya berubah total.
Beruntung dia masih bisa mengontrol semua perasaanya.
“Selamat,” gumam Romeo saat Mala sudah keluar dari mobilnya.
Meninggalkan ciuman di pipi Romeo. Lelaki itu terus memegangi pipinya dan senyum terus terlihat di wajah tampan itu. Hatinya terasa berbunga.
Mungkin ini sinyal untuk Romeo. Mala telah membuka hatinya.
***
“Apa? Hamil?”
“Sssttt, jangan keras-keras, La,” bisik Adel, seraya menutup mulut Mala.
Pagi ini, sebelum bel masuk Mala di kejutkan oleh kabar dari Adel. Suasana yang masih sepi membuat Mala dan Adel mempunyai waktu untuk berbincang-bincang sebentar.
Kabar yang benar-benar membuat Mala syok. Tidak menyangka jika selama ini apa yang dia lihat adalah salah.
“Kamu tahu darimana kabar itu?”
“Kemarin, nggak sengaja denger percakapan mereka di toilet. Mereka nggak tahu kalau ada aku di sebelahnya. Soalnya suasana emang sepi dan semua siswa udah pulang,” jelas Adel.
“Nggak nyangka banget, padahal dia selalu ngatain aku, eh taunya dia sendiri yang begitu.”
“Sudah, biarkan saja. Semua sudah terbukti kan kalau dia lebih busuk dari kita.”
Adel menyeruput es jeruknya, lalu melanjutkan ucapan yang masih belum selesai.
“Kamu tahu nggak siapa yang melakukan itu?”
Mala menggeleng. Adel bingung harus mengatakannya atau tidak. Dia menatap Mala intens. Ragu untuk mengungkapkan semua rahasia Gea selama ini.
“Siapa, Del. Katakan!”
Mala tak sabar mendengar nama lelaki brengsek itu.
“Dia itu ....” Ucapan Adel menggantung di udara.
“Siapa!” desak Mala.
Atas desakan Mala dan berbagai konsekuensi setelah mendengar nama lelaki itu, akhirnya Adel membisikan nama lelaki itu di telinga Mala.
Sungguh Mala benar-benar terkejut. Tidak menyangka jika lelaki yang selama ini dia anggap baik dan membenci Gea, rupanya lelaki brengsek yang sama sekali Mala enggan mengenalnya.
Mala tidak habis pikir, kenapa bisa semua itu terjadi kepada Gea. Pantas saja beberapa hari ini Gea terlihat murung, tidak seceria biasanya. Bahkan selama ujian ini Gea tidak pernah mengganggu Mala.
Ucapan adalah do'a. Gea selalu menuduh Mala gadis yang kotor dan menjual harga dirinya. Hari ini Mala telah mengetahui kebusukan Gea yang sebenarnya. Sebelum dia membuktikan bahwa semua ucapan Gea adalah kebohongan semata.
Next .
***Alhamdulillah di hari Jum'at ini bisa up. Sambil momong bocah di pasar malam. Bocah sama ayahnya lalu ibunya asyik menulis kisah Romeo.
Jangan lupa like dan beri aku dukungan ya kawan.
Simpan cerita ini di daftar baca kalian.
Terima kasih 😘😘😘***