
Romeo membiarkan Mala terus memukul dadanya hingga gadis itu merasa tenang. Mala kesal sekali, karena ulah aneh Romeo membuatnya terkurung di dalam kamar hingga malam hari.
“Maaf, La. Abang lupa tadi,” ucapnya sambil menenangkan.
“Jahat! Lagi pula untuk apa aku di kurung?” tanya Mala sambil terisak.
Romeo menghela napas. Menyesali perbuatannya karena takut jika Kevin mencuri perhatian Mala, seperti yang Bagas lakukan. Sungguh konyol!
Seperti ... Orang sedang cemburu. Ya, mungkin memang sedang cemburu.
Setengah memeluk, Romeo mencoba menetralisir hatinya yang bergemuruh. Detak semakin kencang seakan jantung ingin lepas dari tempatnya. Bagaimana jika loncat tepat di hadapan Mala? Bakal tahu dia kalau secepat itu detakan jantungnya.
Ada-ada saja!
Romeo menyadari jika dia sedang memeluk Mala. Bakal mendengar debaran di dada. Malu sudah.
“Ah, Mala. Maafkan Abang ya. Sebenarnya bukan maksud Abang untuk mengurung kamu, tapi sebenarnya Abang ....”
Romeo tidak melanjutkan ucapannya, bingung harus memberi alasan apa.
Mala mendongak, menatap lelaki yang kini mungkin terlihat aneh. Wajahnya bingung dan terus mengalihkan pandangan. Seperti sedang berpikir.
“Apa?” Mala penasaran karena lelaki itu tak kunjung memberi alasan.
“Abang ... Cemburu,” lirih Romeo berkata.
Malu, dia memilih pergi meninggalkan Mala. Entah dia mendengar atau tidak. Pasti mendengar.
Mala mengulum senyum, wajahnya telah merona. Dia tidak menyangka jika Romeo sedang cemburu karena itu mengurung dirinya di kamar. Semua karena Kevin.
Ingin tertawa tapi kesal juga jika ingat kelakuan Romeo.
Gadis itu masih mematung di depan kamarnya. Menatap punggung lelaki yang mulai masuk ke kamarnya sendiri. Tanpa menoleh, sehingga Mala tidak bisa melihat ekspresi wajah lelaki yang usianya lima tahun lebih tua darinya.
“Non ... Kok senyum-senyum sendiri?” Bi Martha yang baru saja datang mengagetkan Mala.
“Ah, itu tadi Abang bikin aku pengen ketawa, Bi.”
“Ealah, Bibi pikir lagi jatuh cinta. Ya sudah itu makan malam sudah siap,” ucap Bu Martha sambil berlalu.
Jatuh cinta?
Mungkin memang benar jika Romeo mulai memiliki rasa untuk Mala. Setidaknya ada Mala di hatinya.
***
Malam menjelang larut. Udara dingin menusuk hingga ke tulang. Romeo masih setia duduk di bangku besi bercat cokelat di taman belakang rumah. Menatap langit yang bertabur bintang. Indah sekali.
Semakin dia menatap, semakin terlihat jelas wajah Mala yang tersenyum.
Romeo mengalihkan pandangan ke arah rerumputan. Lalu menyesap rokok yang berada di sela jarinya.
Romeo menggelengkan kepala, menyadari kekonyolannya hari ini. Karena cinta dan kecemburuan membuatnya berubah. Meski terkadang dia sendiri tidak mengerti apa itu cinta atau sekadar mengagumi.
“Abang ... Belum tidur?” Terdengar suara Mala dari belakang. Lembut sekali.
Romeo menoleh, wajah itu terlihat bersinar di bawah lampu temaram. Memaksa baju tidur bermotif bunga-bunga. Semakin manis dan membuat detak itu kembali menyerang.
Romeo mengalihkan pandangan sambil mengelus dadanya. Mengapa Mala hadir di saat dia butuh ketenangan. Kalau begini akan terus membuat debaran di dada semakin kencang.
“Belum, La. Sini duduk.” Romeo menepuk bangku sebelah yang kosong.
Aduh! Bakal tambah kencang itu debaran. Duduk berdua sambil melihat bintang. Romantis sekali.
Mala melangkah mendekat. Wangi tubuhnya menyeruak di indera penciumannya.
Hening menghiasi suasana malam itu.
Hanya helaan napas yang keluar dari bibirnya. Sedangkan gadis di sampingnya terus menatap lurus.
“Kok belum tidur?”
Mala menoleh lalu tersenyum. “Belum, tadi tidur siang jadi nggak bisa tidur.”
Romeo mengangguk. Lalu terdiam. Sebenarnya masih ada rasa bersalah karena telah mengurung Mala. Lelaki itu tersenyum, mengingat kekonyolan yang dia buat.
“Abang ... Sendiri kok belum tidur?” Mala balik bertanya dengan gugup.
Suasana menjadi canggung semenjak Romeo mengatakan bahwa dia cemburu. Mala tidak tahu harus bagaimana. Bersikap seperti biasa, dia merasa malu. Apa mungkin Mala juga memiliki rasa yang sama?
“Nggak bisa tidur juga,” jawab Romeo santai. Meski perasaannya tidak karuan.
Lagi-lagi dia kesal karena wajah Mala tertutup oleh rambut. Meski sesekali gadis itu menyibakkan rambutnya yang sengaja di gerai.
“Di ikat aja, La. Anginnya kenceng daripada capek sendiri.”
Mala mendongak, mengerjapkan mata lalu kembali menunduk.
Mala mengiyakan ucapan Romeo lalu mengikat rambutnya. Leher jenjang itu semakin terlihat. Membuat Romeo menelan ludah. Wajahnya semakin bertambah cantik saja.
Ealah!
Kok jadi seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Eh, memang benar sedang jatuh cinta.
“La, bagaimana sekolahmu?” Tentu ini hanya basa-basi agar tidak terlihat canggung.
“Baik-baik aja, Bang. Bentar lagi ujian tiba.”
“Terus mau lanjutin kemana?”
Mala menoleh, menatap lelaki itu lekat. Seolah tidak percaya dengan pernyataannya. Selama ini Mala berpikir jika Romeo tidak akan menanyakan hal ini dan tidak akan mengizinkannya kuliah.
“Belum tahu, bang. Memangnya ... Aku boleh ... Kuliah?” tanyanya dengan suara terbata.
Romeo tertawa. Pertanyaan Mala terdengar lucu. Dia mengusap puncak kepala Mala, tanpa sadar tentunya. Semakin berdebar sudah hatinya.
“Tentu saja boleh, untuk apa Abang melarang.”
“Tapi kan kita ....”
“Menikah bukan menjadi penghalang untukmu mengejar cita-cita.”
Mala mengangguk. Sedikit lega hatinya, karena Romeo tidak seperti yang dia pikirkan.
“Kemarin Ibumu datang ke kantor.”
Mala terlonjak kaget. Untuk apa ibunya datang?
Mala mengerutkan dahinya seolah bertanya 'Apa yang ibu katakan?'
“Dia bilang Abang suruh jagain kamu. Ayah dan Papa juga di sana.”
“Kok nggak bilang?”
“Kamu sekolah, sayang. Mana mungkin Abang__”
Tatapan Mala membuat Romeo sadar jika ada kesalahan dalam ucapannya. Panggilan sayang yang membuat wajah Mala merona.
“Abang ... Tadi bilang apa?” Mala mengulum senyum. Mengalihkan pandangan untuk menutupi rasa malu.
Romeo memang pernah jatuh cinta, tapi rasa itu terlalu lama mati dan dia lupa bagaimana rasanya jatuh cinta kembali. Seperti yang Romeo rasakan saat ini, hatinya selalu bahagia jika melihat Mala tersenyum.
To be continue ...