Unknown Husband

Unknown Husband
Bertemu Lagi


Hari ini Mala kembali ke sekolah, setelah lima hari tidak masuk. Mengurung diri di rumah Romeo dan tidak mau menerima telepon dari siapapun kecuali Adel dan Romeo. Hati Mala pun sudah tenang, dia sudah siap untuk bertemu dengan Khai.


Pihak sekolah dan teman-temannya hanya mengetahui jika Mala sedang sakit. Padahal bukan itu sebabnya. Melainkan kejadian waktu itu membuat Mala menjadi trauma.


"Kau sudah siap?" tanya Romeo setelah selesai sarapan.


Mala mengangguk meski hatinya tidak yakin. Namun, jika terus menerus menghindar akan membuat dirinya rugi.


"Kenapa?" tanya Romeo lagi, saat melihat Mala malah melamun.


"Ah, tidak apa-apa."


"Jangan takut, jika dia macam-macam telpon saja aku."


Mala hanya mengangguk. Lalu dia mengambil tas sekolahnya dan bangkit dari duduknya. Bersiap pergi ke sekolah dengan Romeo yang mengantarnya.


.


Mobil Pajero itu telah sampai di depan gerbang sekolah. Beberapa siswa yang berlalu lalang pun menoleh ke arah mobil itu, ingin tahu milik siapa.


Namun, ketika melihat Mala turun dari mobil, beberapa siswa saling berbisik. Mereka lebih fokus pada si pengemudi mobil yang juga keluar.


"Jika ragu, ayo pulang saja."


"Enggak, Abang. Aku hanya takut kena omel guru."


"Tidak akan!" ucap Romeo santai.


Mala mendongak, sesantai itu rupanya Romeo. Seperti tidak pernah merasakan hukuman atau amarah dari seorang guru.


"Ya sudah, masuk sana."


Mala mengangguk. Lalu masuk ke sekolah. Sementara Romeo masih berdiri di depan mobil. Menatap Mala hingga dia menghilang dari pandangannya. Memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.


.


“Abang, kamu oke juga. Boleh dong kita kenalan,” ucap salah satu siswa di kelas lain.


Mala hanya tersenyum dan tidak menanggapi ucapan itu. Menganggap ucapan mereka angin lalu. Sikap Mala yang seperti itu selalu membuat siswa lain kesal dan pasti membullynya. Mala masa bodoh, karena niatnya hanya untuk menimba ilmu, meski sudah masuk ke jalan yang salah.


Jurang cinta yang membuatnya sulit untuk keluar. Hingga kekecewaan terus Mala rasakan.


“Dasar orang miskin. Gue nggak yakin dia Kakaknya,” ucap gadis berambut pirang itu.


Mala mendengar, ingin sekali memaki. Namun, dia sadar bahwa di sekolah ini tidak ada yang tahu siapa dirinya. Meski di ketahui identitasnya pun, Mala juga harus menjaga sikap. Seorang putri tidak akan pernah berkelahi meski telah mendapatkan cemoohan.


“Nuri, apa kau tidak tahu? Dia itu anak seorang sekretaris. Mana mungkin bisa naik mobil mewah. Dia manggil Abang, karena ada sesuatu. Mungkin habis jual diri.”


Mala tidak tahan lagi dengan ucapan mereka. Dengan mata yang berkaca-kaca dan dada semakin sesak, Mala berlari menuju kelas. Tidak perduli umpatan siswa lain yang tidak sengaja dia tabrak.


Sungguh, menjadi orang lain itu menyakitkan. Mala ingin semua orang tahu siapa dirinya. Namun, ini bukan saatnya. Mala akan mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya setelah mendapatkan peringkat pertama paling atas.


Mala akan membuktikan bahwa gosip tentang putri Gazello seorang anak yang tidak mau berbaur dengan orang lain, tidaklah benar. Mala juga akan membuktikan bahwa seorang putri Gazello bukan anak manja yang malu karena selalu mendapatkan nilai C.


“Kau kenapa, Mala?” Adel, yang tengah duduk di bangku sambil membaca novel itu terkejut dengan kedatangan Mala. Tadinya dia ingin memeluk karena rasa rindu, tapi melihat kondisi Mala yang datang dengan menangis membuatnya khawatir.


“Apa kau bertemu dengan Khai?”


“Lalu siapa yang membuatmu menangis?”


Mala menghapus air matanya. “Nuri dan Livia. Aku tidak tahan lagi dengan ucapan mereka. Aku ingin berhenti dengan semu ke__”


Adel menutup mulut Mala saat melihat beberapa siswa telah masuk ke kelas. Terutama geng Tajir yang diketuai oleh Gea.


“Guy, rupanya si Upik abu sudah sembuh,” ucap Gea seraya melangkah ke kursinya seraya memainkan rambutnya.


“Enak ya, libur lima hari terus nyuruh majikan dateng buat ngabarin ke sekolah,” sambung Jeni.


Kedua tangan Mala mengepal dan hatinya semakin panas. Ingin sekali meninju mulut-mulut mereka yang selalu bergosip ria tentang dirinya yang tidak tahu apa-apa.


“Sabar, Mala. Jangan sampai kamu terpancing sama mereka,” bisik Adel menenangkan Mala.


“Jelas aja majikan perhatian, udah kena guna-guna sih,” sahut Gea. Lalu gadis itu melempari Mala dengan remasan kertas.


“Gea, jaga ucapanmu! Jangan suka gosip yang enggak-enggak deh,” pungkas Adel yang juga merasa kesal.


“Uh, takut. Emaknya nyahut,” sindir Gea dengan tangan menutupi wajah, seolah takut dengan Adel.


Ketiga teman Gea pun tertawa lepas.


Gea dan teman-temannya memang tidak pernah menyukai Mala. Gea sebenarnya yang sangat membenci Mala, lalu mempengaruhi teman-temannya untuk ikut membenci.


Hanya karena nilai Mala yang selalu bagus, Gea selalu saja membuat gosip kebohongan tentang Mala. Awalnya seluruh kelas percaya, tapi melihat sikap Mala yang diam dan tidak pernah mendengarkan cemoohan Gea, membuat mereka berpikir ulang.


Mereka tahu, bahwa Mala adalah korban bullyan. Semua yang di tuduhkan tidaklah benar. Justru mereka sangat menyukai Mala yang mudah bergaul.


“Namanya juga sahabat, ye. Jadi bakalan di bela deh,” ucap Jeni sinis.


“Hahaha, jangan-jangan si emak juga sama. Suka tidur sama om-om!” imbuh Rika yang sedari tadi hanya ketawa-ketiwi.


“Jaga kalian ya!” Adel yang bangkit dari duduknya dan hendak menghampiri Gea, dicegah oleh Mala.


Mala menggelengkan kepala, memberi isyarat agar tetap duduk.


Hingga suara bel masuk sekolah itu berbunyi. Gea masih saja mengoceh. Menyindir Mala yang entah apa tujuannya.


Mala tidak memperdulikan, dia lebih memilih mengeluarkan buku-buku pelajaran. Mala baru menyadari bahwa lelaki itu belum datang. Sedikit bernapas lega, jika Khai tidak masuk.


Rupanya dugaan Mala salah. Khai datang dua menit setelah bel berbunyi. Lelaki itu memasuki kelas dengan pesona yang berbeda.


Gea yang melihat segera merapikan diri demi lelaki incarannya. Memberikan sapaan dan senyuman semanis mungkin. Meski lelaki itu bersikap biasa saja.


Berbeda dengan Mala yang memilih pura-pura tidak melihat. Meski dia mengakui Khai lebih tampan dari sebelumnya.


Debaran dada itu semakin kencang saat Khai melewati dirinya. Hal yang membuat Mala lega, karena lelaki itu diam dan bersikap biasa saja.


Nyatanya tidak ....


“Aku ingin bicara nanti,” bisik Khai saat hendak duduk.


Bersambung ...