Unknown Husband

Unknown Husband
Mala


“Woy, bro! Apa kabar?” sapa Romeo saat sampai di teras rumahnya. Dia bersalaman dengan Kevin dan memeluk lelaki itu ala laki-laki.


“Baik!” jawab Kevin ketus.


“Hahaha, biasa aja dong mukanya!”


“Hah, tau kerja ngapain gue ke sini!”


Romeo tertawa lepas. Dia lupa jika sahabatnya itu baru pulang dari luar negeri dan langsung mampir ke rumahnya.


“Sory, gue nggak inget tadi.”


Kevin menggeleng, lalu menyesap kopi hitamnya hingga tetes terakhir.


“Btw, jago juga lu cari asisten!”


Romeo menatap Kevin tidak mengerti. Asisten? Siapa yang Kevin maksud?


Jangan-jangan ... Mala? Pikir Romeo.


“Kalau bukan maid di sini, udah gue gebet tuh cewek,” bisik Kevin.


Mata Romeo menatap lurus ke depan. Mengikuti arah pandang Kevin. Hanya ada Bibi Martha yang sedang menyiram tanaman. Jadi itu yang dimaksud Kevin.


Romeo tidak menyangka jika selera Kevin setua itu.


“Oh, dia udah punya anak, Bray. Selera lu emak-emak rupanya.”


“Serius dia udah punya anak?”


Romeo mengangguk. “Udah tua gitu ya jelas punya anak.”


Tua? Kevin menatap ke arah bibi Martha yang sedang menyiram tanaman. Ah, rupanya Romeo salah duga.


“Oncom! Bukan dia, tapi tuh yang di sana!” Kevin menunjuk pada gadis yang tengah merawat bunga.


“Icha?” tanya Romeo.


Kevin mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya. Icha memang terlihat paling menarik dari maid lainnya. Juga paling muda malahan. Tentu membuat Kevin yang terkenal jomblo itu langsung tertarik padanya.


Romeo menghela napas lega, salah duga karena dia mengira Kevin naksir bibi Martha. Rupanya Icha. Untuk sementara Romeo bisa bernapas lega karena dia tidak melihat Mala.


Kalau sampai melihat Mala, bakal panas hatinya nanti. Jangankan Kevin, Bagas yang terlihat kalem saja mau menggoda Mala. Apalagi Kevin yang jago ngegombal, kalah sudah Romeo.


“Gimana, boleh nggak?” tanya Kevin.


Sementara yang di ajak ngobrol tidak mengerti apa yang lelaki itu bicarakan. Sejak tadi Romeo sibuk dengan pemikirannya sendiri.


Ah, sudahlah. Romeo tidak perduli apa yang Kevin ucapkan. Saat ini dia lebih perduli dengan Mala. Ya, Romeo harus mencegah Mala pulang ke rumahnya hari ini, tapi bagaimana caranya?


“Aha! Gue ada ide!”


“Apa, bro?” tanya Kevin setengah terkejut.


Romeo melongo, lupa jika ada Kevin yang masih setia duduk di sampingnya sambil terus memperhatikan Icha.


Ide yang dia maksud adalah untuk menyembunyikan Mala, malah membuatnya hampir keceplosan.


“Deketin aja dia, gue dukung deh,” selorohnya sambil berlalu.


Mendapatkan saran dari Romeo, Kevin memberanikan diri mendekati gadis itu. Namun, dia ingat nasehat dari ibunya. Lagi-lagi soal kedudukan.


Kevin mengurungkan niatnya untuk mendekati Icha. Alasan yang selalu membuat Kevin sulit mendapatkan kekasih. Rata-rata gadis yang dia taksir tidak memiliki kedudukan yang sama dengannya.


Jika begini terus, maka nasib Kevin mungkin akan jomblo seumur hidup.


“Ah, nggak jadi. Males gue,” sungut Kevin kesal.


“Kenapa?” tanya Romeo seraya melepas kemejanya dan meletakkan di sofa kamarnya.


“Biasa soal status,” jawab Kevin sambil memainkan stik PlayStation.


Romeo meneguk minuman kaleng yang baru saja dia ambil dari lemari es sebelum ke kamar.


“Makanya cari yang sama rata, kek gue nih sekarang.”


“Emang lu punya cewek?”


Romeo tersedak minuman soda. Lagi-lagi dia keceplosan. Ah, jika begini bakal ketahuan sama Kevin kalau dia sudah menikah. Apalagi istrinya masih muda dan wajahnya sungguh memikat para lelaki.


“Abang, tumben jam segini udah pulang?”


Ucapan Romeo terhenti karena mendengar suara Mala yang tiba-tiba datang. Sejak kapan dia masuk ke kamar?


Kacaulah sudah.


Kevin menatap Mala tanpa berkedip. Seperti melihat makanan lezat yang tidak ingin kehabisan.


“Eh, ada temen Abang, ya?” Mala melirik ke arah lelaki yang tengah menatapnya itu.


Sadar Kevin terus menatap Mala, lelaki itu mendorong tubuh Mala agar keluar dari kamarnya. Memasukkan gadis itu ke kamarnya sendiri.


“Kamu diam di kamar, jangan keluar kalau Abang nggak nyuruh keluar.”


“Lho, kenapa?”


“Sudah ikuti saja, okey?” Romeo mengambil kunci dan menutup pintu kamar Mala.


“Kenapa di kunci dari luar, bro?” tanya Kevin yang sudah berdiri di belakangnya.


Romeo terlonjak kaget, seperti melihat hantu saja. Dia mengelus dadanya.


“Biar nggak di ganggu sama lu!”


“Siapa memangnya dia?”


“Istri gue.”


“Apa, istri?” Kevin mengulang kembali ucapan Romeo. Takut salah denger.


“Iya,”


Kevin masih tidak percaya dengan ucapan Romeo. Dia malah tertawa dan menganggap itu gurauan agar dirinya tidak menggangu gadis itu.


“Tenang, gue bakal ganggu dia kok!”


Romeo memukul kepala Kevin dengan stik PlayStation.


***


Hari berganti sore. Cuaca mendadak mendung, jam tiga seperti sudah mau malam saja. Sepertinya hujan deras akan segera turun. Mala masih setia berada di kamarnya. Baru saja dia tidur siang dengan nyenyak.


Hari ini benar-benar telah menguras tenaga juga hati. Melihat Khai yang bersama Gea begitu mesra. Lalu tidak lagi satu kelompok dengannya. Ada rasa kecewa tapi hanya sedikit. Selebihnya dia tidak tahu antara benci atau masih cinta.


Rasanya begitu hambar, ketika lelaki itu mendekat. Memberikan cokelat seperti biasa saat bel masuk berbunyi.


Terdengar gosip jika Gea menjalin kasih dengan Khai baru-baru ini. Namun, mengapa Khai masih saja memberikan cokelat untuk Mala. Entah apa maunya.


“Huh, laper,” gumam Mala.


Saat terdengar panggilan dari para cacing di perut yang meminta di isi, Mala menyibakkan selimut dan beranjak dari kasur.


“Abang, buka pintunya!” teriak Mala.


Sampai sore tiba, Romeo tak kunjung membuka pintunya. Dasar lelaki! Apa dia lupa jika Mala belum makan siang?


“Abang, buka!”


Dua kali Mala berteriak, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Seperti seorang tawanan saja.


Mala berinisiatif ke balkon. Dari sana bisa melihat post satpam. Mala melambaikan tangannya berharap ada seseorang yang melihat dirinya.


“Hey, tolong!” teriaknya lagi.


Namun, pos satpam sepi. Kemana mereka pergi? Ah, Mala merasa lemas karena dia butuh asupan saat ini. Tenggorokan terasa kering, hingga sulit untuk berteriak kembali.


“Abaaaaaaaaaangggggg ...” kesal, gadis itu berteriak sekencang-kencangnya.


Mengundang para pelayan dan juga satpam. Mereka berlima di halaman dan memandang ke arah balkon Mala.


“Non, jangan turun! Itu bahaya.”


To be continue ...


Maaf kalau garing.