
“Apa? Nyium?” tanya Adel terkejut.
Mala mengganggukkan kepala.
Adel tertawa lepas. “Bagus dong, itu artinya ada kemajuan.”
“Kemajuan gimana? Kesel tau nggak!”
“Namanya rumah tangga itu, wajar kalau suaminya cium istri.”
Mala menggelengkan kepala lagi, lalu memilih mendengarkan musik dari headsetnya. Menceritakan pada Adel, rupanya pilihan yang salah. Jawaban yang di keluarkan tidak seperti yang Mala pikirkan.
Mala baru menyadari, bahwa Adel mendukung Romeo. Mendukung hubungannya agar lebih dekat dengan Romeo. Seharusnya memang seperti itu, tapi Mala berpikir kembali tentang pernikahan yang terjadi.
Untuk apa mereka di nikahkan jika Romeo saja telah memiliki beberapa wanita dekat. Apalagi saat ini Romeo sudah memiliki wanita yang sangat dekat dengannya. Wanita itu berbeda dengan yang Mala lihat saat berada di mall.
Mala semakin penasaran dan juga curiga, jika Romeo adalah lelaki yang suka memainkan wanita. Jadi menikahi Mala itu hanya untuk menutupi semua perbuatannya agar tidak diketahui oleh keluarganya.
“Kurang ajar!” Mala memukul meja. Adel yang sedang asyik membaca pun terkejut.
“Kau kenapa, La?” tanya Adel heran.
Mala masih mengepalkan tangannya, membenarkan semua pikiran-pikiran yang sebenarnya salah.
“Aku mau minta cerai!”
Adel terkejut mendengar ucapan Mala. Adel melihat sekitar, beruntung tidak ada satu pun di rumah itu. Ah, iya Adel lupa jika dirinya hanya tinggal sendiri. Adel menepuk jidatnya.
Adel menarik tangan Mala untuk duduk kembali. Menatap kedua mata gadis itu, ada kemarahan di sana. Mungkin. Entah apa yang membuatnya semarah itu.
“Hanya karena Romeo tidak sengaja menciummu? Lalu bagaimana dengan Khai yang benar-benar berniat?”
“Bukan karena itu! Dia lelaki jahat, Del?”
Adel menautkan alis, tidak mengerti maksudnya.
“Dia ini sering gonta-ganti cewek. Makanya nikah itu Cuma buat nutupin semua kelakuan dia.”
“Tau darimana?”
Mala diam. Bagaimana dia menjelaskan kepada Adel tentang apa yang dia lihat.
“Apa?” Adel semakin tidak sabar mendengarkan jawaban Mala.
“Cewek yang kemarin berbeda sama di mall waktu itu.”
Adel mencoba mengingat kembali saat bertemu dengan Romeo di mall. Membenarkan ucapan Mala, bahwa memang Romeo bersama wanita yang berbeda.
“Telusuri dulu bagaimana sifat suami sebenarnya.” Adel memberi saran.
“Kau benar!”
***
Mala mencoba mencari tahu bagaimana sifat Romeo kepada Martha. Hanya wanita paruh baya itu yang mengetahui. Karena dia telah mengasuh Romeo sejak kecil. Mala terus mengorek informasi tentang Romeo.
Dari benda, makanan, atau barang-barang lainnya yang dia sukai. Lalu Kebiasaan-kebiasaan lainnya. Seharusnya bukan itu yang dipertanyakan!
“Sebenarnya ada apa to, Non?”
“Nggak ada apa-apa, Bi.”
“Oh, ya. Apa dia pernah punya pacar?”
Pertanyaan itu membuat ekspresi wajah Martha berubah. Sorot kesedihan tergambar jelas di manik matanya.
Mungkinkah Romeo memiliki kisah sedih yang menyayat hati? Pikir Mala.
Sejenak mereka saling diam. Martha tidak tahu harus mulai bercerita darimana. Mala pun masih menunggu jawaban dari Martha.
“Non, maaf sepertinya saya tidak bisa memberikan jawaban.” Pelan Martha berkata. Takut jika Nonanya itu marah.
Mala merasa benar dan tidak lagi butuh pendapat orang lain. Kini keputusannya telah bulat. Meminta cerai karena tuduhan tanpa bukti itu.
“Baiklah, aku paham. Kalau begitu terima kasih waktunya.” Mala beranjak dari kursi taman lalu melangkah masuk ke dapur.
Dia melangkah dengan tergesa-gesa agar cepat sampai di kamar. Tak sabar memberitahu Adel bahwa semua dugaannya adalah benar.
Namun, langkahnya terhenti ketika seorang lelaki mensejajarkan tubuhnya saat menaiki anak tangga.
Mala menoleh, sedikit terkejut.
“Abang?”
“Kau pikir aku hantu?” Romeo mengulum senyum.
Mala melihat benda yang melingkar di pergelangan tangan. Masih jam lima sore. Tidak biasanya lelaki itu pulang secepat ini.
“Abang nggak ada lembur, jadi pulang cepet,” ucapnya yang seolah mengetahui isi pikiran Mala.
“Oh,” jawab Mala singkat.
“La, bisa kita bicara sebentar?” Romeo menghentikan langkahnya saat berada di depan kamar.
Mala mengangguk, karena memang ada hal yang ingin dia bicarakan. Romeo membawa gadis itu di balkon kamarnya. Karena tidak ingin ada yang mendengar. Awalnya Mala ragu, tapi setelah Romeo berkata tidak akan melakukan apa-apa Mala pun menurutinya.
Di balkon, keduanya saling diam. Menatap langit sore dan merasakan angin yang tertiup kencang.
Helaan napas lelaki itu terdengar. Namun, tak kunjung mengatakan sesuatu. Mala mencoba menatap wajah lelaki itu. Tampan. Namun, hatinya sakit jika mengingat dugaan yang telah dia buat.
Seharusnya Mala sudah mengatakan hal yang berada di pikirannya.
Berapa wanita yang telah Abang ajak kencan?
Berapa wanita yang telah Abang lukai?
Lalu berapa wanita yang telah Abang tiduri?
Kita lebih baik cerai. Itu yang seharusnya Mala katakan.
Namun, melihat keterdiaman Romeo, membuat Mala ragu menanyakannya. Lelaki itu pun terlihat lelah. Atau mungkin sedang ada masalah.
“Kapan kamu ujian?” tanya Romeo memecah keheningan.
Mala menatap lelaki itu lagi, lalu memalingkan wajah ke arah pohon rindang.
“Bulan depan, Bang.”
Romeo mengangguk, kembali menghisap rokok yang terselip di sela jarinya. Satu tangan mencoba merangkul pundak Mala. Namun, rupanya gadis itu mengetahui dan memilih menghindar.
“Kenapa?”
Mala menunjuk ke arah rokok. Rupanya Mala benci dengan asap menyesakkan itu. Romeo meletakkan puntung rokok di asbak dan mematikan apinya.
“Mala, sebenarnya Abang ajak kamu ke sini karena ...”
Ucapan Romeo terhenti ketika mobil Fortuner putih memasuki halaman.
Mala sama terkejutnya dengan Romeo. Kedatangan tamu yang tidak diundang membuat mereka bingung harus bagaimana. Apalagi jika mengetahui kamar mereka berbeda.
“Abang, gimana ini?”
Romeo menggaruk kepalanya sambil berpikir. Memindahkan semua barang Mala ke kamarnya pasti sudah tidak sempat. Lalu alasan apa yang akan mereka buat nanti?
“Abang, sepertinya Papa kemari.”
Romwo menatap ke arah pintu, melihat pintu sedikit terbuka, Romeo langsung memeluk Mala.
“Ah, maaf. Rupanya Papa datang diwaktu yang salah.”
Bersambung ...