
Khai sulit memejamkan matanya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Setiap mata terpejam, selalu wajah Mala yang hadir. Hari ini benar-benar hari yang berkesan untuknya. Pertama kali berdua dengan Mala tanpa ada halangan siapapun. Pasalnya, setiap kali Khai ingin mendekat selalu ada Risa yang tiba-tiba datang dengan sikap yang mencoba mengambil perhatiannya.
Pulang bersama, main hujan-hujanan, lalu menunggu bus datang dalam keadaan basah kuyup. Padahal biasanya Khai membawa motor sendiri, hari ini motor di pinjam Kakaknya dan terpaksa dia di antar jemput oleh supir. Namun, saat supir tiba di depan gerbang, Khai menyuruh pulang karena tidak sengaja melihat Mala yang berdiri di koridor sendiri.
Dan ... Hari ini Khai pertama kalinya menaiki kendaraan umum. Terasa bahagia karena Mala orangnya sangat asyik.
“Hey, Khai ... Jika senyum membuatmu lebih tampan, kenapa kamu selalu diam dan cuek?” Ucapan itu terus terngiang di telinga Khai.
Mala memang gadis yang blak-blakan. Namun, dengan Risa ia mengalah karena tidak ingin mencari keributan.
Khai tersenyum, memandangi layar ponselnya. Rupanya ada foto Mala yang ia ambil secara diam-diam.
Beberapa saat kemudian, Khai mencoba menghubungi nomor Mala yang ia minta saat di bus tadi. Satu dering hingga dering ke lima kali tidak ada jawaban. Khai berpikir mungkin Mala telah tertidur.
Khai mencoba memejamkan mata, tapi tetap saja bayangan Mala selalu menghantui. Khai kembali menghubungi Mala dan kali ini panggilannya di angkat.
“Hallo, siapa ya?” tanya Mala.
“Aku ... Khai. Ganggu ya?” Khai merasa gugup. Di atas ranjang ia tersenyum.
“Enggak kok, aku baru selesai baca aja.”
“Kamu suka baca?”
“Ya,”
Hening sesaat. Khai tidak tahu lagi harus berkata apa, seolah kata-katanya telah habis. Jika dengan Risa dia bisa cuek saat di telpon, tapi berbeda saat menelpon Mala. Rasa canggung menghantui dirinya.
“Kok diem?” tanya Mala.
“Eh, kamu udah ngantuk?” Khai menggaruk kepalanya. Pertanyaan yang sangat garing menurutnya.
Sementara di sebrang sana Mala mengernyit. Maksud Khai telepon malam-malam begini bertanya ganggu apa tidak, lalu menanyakan sudah ngantuk. Seolah ingin menyudahi pembicaraan ini.
“Ya, aku sudah ngantuk.” Pada akhirnya Mala menjawab.
“Ya udah, tidurlah. Biar besok nggak kesiangan. Mau aku jemput?”
Jemput? Tentu Mala merasa aneh dengan lelaki ini. Apalagi jika terlihat Risa, maka bisa jadi Mala terus di usik hidupnya oleh gadis itu. Mala bergidik ngeri, membayangkan Risa sangat marah melihat dirinya berboncengan dengan Khai.
“Tidak usah, aku bisa berangkat sendiri.”
“Oh, ya sudah.” Khai sedikit kecewa karena Mala menolak dirinya. Padahal jika mau, Khai sangat senang bisa mengetahui rumah Mala.
“Kalau gitu met tidur ya,” sambung Khai.
“Ya.” Mala mematikan teleponnya.
Dia menghela napas, entah mengapa sejak di koridor Khai sangat berbeda. Dia tersenyum dan terlihat bahagia. Biasanya dia tidak pernah mendekati Mala bahkan jarang sekali berbicara.
Mengingat senyum Khai, Mala merasakan ada sesuatu di jantungnya. Dia berdegup sangat kencang dari biasanya.
***
Esok harinya, seperti biasa Mala pergi ke sekolah. Di antar oleh Pak Udin yang sekarang tinggal di rumah Mala untuk sementara. Tidur di sofa bagi Pak Udin tidak masalah.
Romeo menyuruhnya untuk mengantarkan Mala kemana pun ia pergi, selama dirinya sedang bertugas ke luar kota.
Romeo pun tidak pernah lupa memberikan kabar kepada Mala. Meski gadis itu cuek.
“Mau berangkat?”
“Ya.”
“Hati-hati di jalan. Aku pulang hari Minggu. Puas-puasin tinggal di situ.”
“Oke, baiklah. Aku buru-buru jadi nanti saja teleponnya.”
Mala buru-buru menutup teleponnya. Hatinya merasa senang karena dia tinggal dirumahnya lebih lama. Berharap jika Romeo tidak menyuruh untuk tinggal di rumah mewah miliknya.
Baru saja Mala hendak mengambil tas, ponselnya kembali berbunyi. Tanda pesan masuk. Wajah yang semula cemberut, kini berubah tersenyum.
[Selamat pagi, cantik. Salam hangat untukmu yang jauh di sana] pesan dari Khai lebih membuat hati Mala bahagia, ketimbang telepon dari Romeo.
Mala tidak membalas pesan itu, dia bergegas pergi ke sekolah.
.
Bel masuk sekolah telah berbunyi, pagi ini kelas Mala kebagian guru yang killer. Jadi saat bel berbunyi itu guru sudah duduk di kursi. Mengawasi setiap murid yang berdatangan masuk ke kelas. Jika selama lima menit tidak datang, maka tidak diperbolehkan untuk mengikuti pelajarannya.
Hari ini hari yang apes buat Mala. Dia terlambat karena terkena macet di jalan. Salah dirinya juga karena bangun kesiangan.
“Kau terlambat, Mala! Keluarlah sampai jam pelajaran Ibu habis.”
Mala yang baru saja hendak melangkah masuk, akhirnya berdiri di dinding luar kelas dengan kecewa. Pertama kali dalam hidupnya ia mendapatkan hukuman.
Rupanya ia tidak sendiri. Ada Khai yang ternyata berdiri di sampingnya. Sebelum Mala datang, Khai terlebih dahulu di tolak oleh guru itu. Mala baru menyadari jika ada Khai di sampingnya.
“Kenapa cemberut?” tanya Khai.
“Aku baru pertama kali di hukum. Ini pertama kali kesiangan gara-gara__”
Mala menghentikan ucapannya, hampir saja dia tidak bisa mengontrol emosinya saat mengingat Romeo mengganggu tidurnya.
“Gara-gara apa?” tanya Khai.
“Gara-gara aku sulit tidur. Insomniaku kumat.”
Khai mengangguk paham.
“Bagaimana kalau kita ke belakang sekolah,” ajak Khai.
Mala mengernyit, bagaimana bisa lelaki ini mengajaknya ke taman belakang? Sedang mereka masih dalam masa hukuman.
“Baca novel, aku punya novel untukmu.”
“Kenapa tidak di sini saja?”
“Sudah, ayo mau tidak?”
Mala pun menuruti Khai. Mengikuti langkahnya untuk pergi ke taman. Mala merasa sangat penat pagi ini, tapi Khai telah membuatnya sedikit lebih fresh pikirannya.
“Rupanya hidup itu tidak harus soal pelajaran terus ya?”
Next ....