Unknown Husband

Unknown Husband
Romeo menyebalkan


[Mala, kenapa tidak masuk?]


[Mala, kau baik-baik saja bukan?]


[Mala?]


Dan ... Beberapa masih ada sepuluh pesan lainnya dari Adel. Hingga jari Mala berhenti di sebuah pesan dari seseorang yang membuatnya merasa ... Entah.


Harus bersedih atau bahagia, karena perhatiannya masih sama. Namun, mengingat kejadian malam itu, membuat hati Mala terasa sakit.


Mala hanya membaca sekilas pesan itu tanpa niat membukanya lebih lanjut.


[Maaf..]


Hanya itu yang Mala baca, lalu segera menghapus dan memblokir nomor lelaki yang pernah singgah di hatinya. Beberapa bulan Mala sangat bahagia, melewati hari bersamanya. Sembunyi ketika ingin bicara berdua agar tidak ketahuan oleh siswa lainnya.


Selalu mendapatkan kejutan di dalam lokernya. Entah bunga, cokelat, surat atau boneka kecil lainnya. Namun, setitik kesalahan telah melukai hati Mala.


Rasa yang dulu begitu indah, kini berganti kebencian yang tak akan pernah termaafkan. Mala meragukan perasaan Khai yang sebenarnya memiliki rasa atau hanya menganggap semua ini adalah permainan.


Alasan mengapa Mala enggan melihat ponsel, karena tidak ingin melihat lelaki itu lagi. Kini hatinya merasa sedikit tenang karena telah berani memblokirnya.


Namun, tetap saja tatapan itu saling bertemu ketika berada di kelas. Terlebih Mala duduk di kursi depan Khai. Pasti lelaki itu akan terus meminta maaf.


Sesaat pikiran tentang Khai beralih pada pesan yang lebih penting. Romeo ternyata mengirimkan pesan dan sempat meneleponnya beberapa kali.


[Mala, maaf ya kalau Abang hari ini ngga bisa nemenin kamu. Soalnya banyak kerjaan yang harus selesai hari ini. Maaf juga kalau malam ini pulang terlambat.]


Anehnya Mala merasa senang mendapatkan pesan itu. Ada hal yang berbeda dari pesan Romeo.


“Abang?” desisinya.


Ya, Romeo mulai menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Abang. Benarkah lelaki itu telah menerima semua ini dan terbiasa hidup bersama Mala?


***


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Mala masih terjaga dengan segala pemikirannya. Sejak bertemu dengan Romeo yang aneh, Mala tidak lagi keluar dari kamar. Suara kesibukan para maid pun tak lagi terdengar. Pertanda mereka telah terpejam untuk menyambut esok hari yang melelahkan.


Mala berniat untuk keluar menemui Romeo. Namun, dia urungkan karena takut mengganggu istirahat lelaki itu.


Tidak lama kemudian, Mala mendengar suara mobil berhenti di halaman depan. Mala melangkah ke arah balkon. Melihat siapa yang datang tengah malam begini.


“Abang?” Mala mengernyit. Merasa ada yang aneh dengan lelaki itu.


Mala pun berlari ke luar kamar, mematikan apa yang dia lihat itu benar.


“Abang, baru pulang?” tanya Mala ketika melihat Romeo memasuki rumah.


Romeo yang terkejut karena kedatangan Mala yang tiba-tiba langsung mengalihkan pandangan.


“Ah, iya. Tadi ada urusan penting.”


“Bukannya tadi Abang sudah pulang ya?”


Romeo terlihat bingung, lalu dia menggaruk tengkuknya.


Mala mengangguk, meski ada rasa curiga. Ingin bertanya tapi merasa tidak enak karena sudah larut malam.


“Kau sendiri kenapa belum tidur?” tanya Romeo.


“Belum ngantuk, tadi siang kebanyakan tidur.”


“Jangan begadang, nggak bagus buat kesehatan,” ucap Romeo yang melangkah menaiki anak tangga.


Mala pun mengekor di belakang Romeo.


“Ini juga mau tidur.”


“Tidurlah, besok masuk sekolah.”


Mala terdiam sesaat. Ingin rasanya tidak kembali lagi ke sekolah, tapi mengingat tinggal beberapa bulan lagi adalah kelulusan, Mala tidak punya pilihan lain.


“Iya,” jawab Mala malas dan langsung masuk ke kamar.


***


Keseokan harinya Mala sulit membuka mata karena tidur kemalaman. Suara alarm sama sekali tak di dengarnya, bahkan ketukan pintu dari para maid secara bergantian pun tidak membuat Mala terbangun.


Hingga cahaya matahari yang masuk dari celah jendela, membuat Mala membuka mata. Melirik ke arah jam Beker yang berada di meja samping tempat tidur.


“Jam delapan?” Kedua manik mata Mala membulat sepenuhnya.


Mala segera berlari keluar kamar untuk menemui Romeo.


“Abang, Abang ...” panggilnya seraya mengetuk pintu kamar lelaki itu.


Namun, tidak ada jawaban. Lalu dia menuruni anak tangga.


“Tami, kau lihat Tuan?” tanya Mala ketika melihat Tami sedang menyapu.


“Tuan sduah berangkat.”


Tubuh Mala melemas. Bingung harus bagaimana sekarang?


“Beliau berpesan kalau akan ke sekolah Nona,” lanjut Tami.


Mala tersenyum kegirangan mendengar penjelasan Tami. Lalu gadis itu mencubit pipi Tami dan kembali ke kamar. Setidaknya Mala merasa lega karena Romeo datang ke sekolah untuk memberi izin pada pihak sekolah. Entah alasan apa yang Romeo buat.


Mala kembali memejamkan matanya yang masih terasa ngantuk. Namun, getaran dari ponsel mengganggu tidurnya.


Pesan dari Adel dan beberapa teman lainnya. Memberi ucapan agar kembali sehat. Mala membuka salah satu pesan itu.


[Mala, apa kau di rawat di rumah sakit? Kebanyakan makan sambel ya, jadi mencret begitu.]


“Abaaaaaanggg!” teriak Mala.


Mala sangat kesal karena ulah Romeo yang membuat izin palsu karena ketidak hadiran dirinya ke sekolah. Rupanya Romeo mengatakan bahwa Mala sakit diare.


Bersambung ...