
Mala terus memandang wajah mungil Arka. Dia masih tidak menyangka bahwa sekarang statusnya telah berganti menjadi seorang ibu. Ibu muda. Wajah tampan yang mirip sekali dengan Romeo itu sedang tertidur pulas di sampingnya.
“Kok belum tidur?” Romeo yang baru saja mandi datang menghampiri istrinya.
“Arka lucu ya, Bang. Liat deh wajahnya beda sekali sama kamu.”
“Mana mungkin beda, dia kan anak aku. Masa beda!” Romeo terlihat cemberut atas ucapan istrinya.
Mala tersenyum. Selalu saja suaminya itu tidak mau kalah dengan anaknya. Tidak mau juga kalau dibilang Arka lebih tampan darinya.
“Abang tidur di sofa lagi kan?”
“Apa?” Kedua mata Romeo membulat. Sedikit kesal dan juga cemburu.
Semenjak kehadiran Arka dia selalu harus mengalah tidur di sofa. Padahal di kamar sudah tersedia box bayi. Mala selalu saja beralasan jika Romeo menyuruh untuk meletakkan Arka di box bayi.
“Kasian dia sendirian. Masa Abang tega sih sama anak sendiri.”
“Kalau nangis terus aku nggak denger gimana?”
Hal ini membuat Romeo sedikit merasa cemburu. Sejak melahirkan Arka, dia sama sekali belum menyentuh istrinya. Sebagai lelaki normal dia pun memiliki hasrat yang harus di selesaikan. Jika terus menerus ditahan kepalanya akan terasa pusing.
“Sayang, apa kamu nggak kasian sama Abang? Sakit lho tidur di sofa. Mana kecil begitu!” gerutunya.
Mala menoleh ke arah sofa. Memang benar sofa itu sempit. Tidak luas seperti kasurnya. Lalu pandangan Mala beralih ke arah box bayi yang belum pernah dia pakai. Pikirannya pun bercampur aduk. Bingung harus bagaimana.
“Kamu kan bisa setiap hari tidur bareng Arka. Kecuali malam. Masa iya Abang tidur di sofa selamanya.”
Mala nampak berpikir. Membenarkan apa yang dikatakan Romeo. Namun, masih ragu jika meletakkan Arka di box bayi. Padahal jaraknya hanya dua langkah dari tempat tidurnya. Toh suara tangis bayi itu keras dan pasti akan membangunkannya.
“Kalau kamu nggak nyoba, kapan akan bisa tidur terpisah sama Arka?” Romeo yang duduk di sisi ranjang itu menatap Mala. Meyakinkan istrinya.
“Baiklah, aku akan mencobanya.”
Mala menggendong bayi Arka dan memindahkannya di box.
“Sayang, tidur di sini dulu ya. Papa kamu nggak mau di sofa.” Mala mengecup pipi chubby putra kecilnya. Dia terlihat pulas dan lebih nyaman berada di box.
“Sudah tuh, sekarang Abang bisa tidur di kasur.” Mala menata bantal dan menarik selimut. Bersiap untuk tidur.
Sedangkan Romeo tersenyum penuh kemenangan. Malam ini dia bisa menuntaskan hal yang tertunda.
“Sayang, apa kamu nggak pengen?” bisik Romeo.
Kedua mata Mala yang sudah terpejam kembali terbuka.
“Pengen sih, kalau Abang mau mah.”
Jawaban yang membuat hati Romeo bersorak-sorai.
“Ayo dong!”
Mala menoleh ke arah Romeo. Lalu menatap lelaki itu dan tersenyum.
“Makasih ya Abang. Akhirnya ngertiin aku. Ya sudah Abang bawa aja selimutnya.”
Romeo mengernyit. Rupanya istrinya itu tidak mengerti maksud dari ucapannya barusan.
Lagi-lagi dia menepuk keningnya.
“Ampun dah. Gagal lagi gagal lagi!”
***
Pagi telah tiba. Hari ini untuk pertama kalinya Mala kembali masuk kuliah. Dengan berat hati dia meninggalkan Arka dirumah dan menitipkannya kepada baby sitter.
Rasanya ingin sekali Mala menghabiskan waktu bersama Arka. Merawat bayi itu seorang diri tanpa campur tangan siapapun. Menikmati setiap pertumbuhan bayi mungilnya.
“Kok belum berangkat?” tanya Romeo yang melihat Mala masih berdiri di samping box bayi Arka.
“Abang, aku cuti dulu gimana? Berat kalau ninggalin dia sama baby sitter.”
Romeo menghela napas. Apa yang ditakutkan telah terjadi. Mala tidak pernah mendengarkan ucapannya kini dia menyesal sendiri.
“Abang kan pernah bilang waktu itu. Kamu mau kuliah atau ntar kalau anak itu lahir dan besar. Tapi kamu ngeyel. Kapan sih dengerin nasehat Abang?”
Mala duduk di tepi ranjang. Wajahnya terlihat lesu. Kali ini dia mengaku salah tidak mendengarkan ucapan suaminya saat mengetahui dia hamil dan memaksakan diri untuk tetap kuliah.
Kini dia lebih memilih menjadi ibu rumah tangga dan menikmati setiap waktu bersama Arka. Apalagi Arka masih membutuhkan asi.
“Terus sekarang bagaimana?” Romeo mendekati istrinya dan mengacak puncak kepalanya.
Mala menggeleng lemah. Tidak tahu harus mengambil keputusan.
“Pikirkan baik-baik hari ini. Nanti pulang kerja katakan pada Abang bagaimana hasilnya.”
“Kalau aku berhenti dulu, gimana sama baby sitternya?”
“Bisa tetap pakai untuk bantuin kamu kalau pas lagi repot. Lagi pula kan beberapa maid di sini udah Abang pindahin ke tempat mama.”
Wajah yang semula lesu terlihat berbinar. Mala sedikit yakin dengan keputusannya. Dia masih ada waktu untuk menimbang keputusan agar lebih mantap.
“Yasudah, Abang kerja dulu. Jaga Arka ya. Jangan lupa pikirkan baik-baik keputusanmu.”
Mala mengangguk. “Abang hati-hati ya. Jangan genit lho.”
Romeo tersenyum dan mengecup kening istrinya. Berganti dengan pipi Arka yang terlihat chubby.
“Hay, jagoan. Papa kerja dulu ya, jagain mama jangan buat mama nangis.”
Arka yang masih kecil itu seolah mengerti dengan ucapan Romeo. Bayi itu tersenyum, menampilkan lesung pipinya.
“Abang kerja dulu ya. Kalau ada apa-apa hubungi Abang.”
“Iya, bawel.”
Romeo pun melangkah pergi keluar kamar. Mala terus memandangi suaminya hingga menghilang dari pandangan.
Selain ingin tetap mengurus Arka, dia juga takut jika suatu hari nanti Arka lebih dekat dengan baby sitter dibandingkan dengan dirinya. Kuliah akan menyita waktunya hingga waktu bersama dengan Arka sedikit.
Mala terus merenungi keputusan itu sambil menatap Arka yang berada di box bayi.
***
Di kantor Romeo selalu menyempatkan waktu untuk melakukan video call dengan istrinya. Kehadiran Arka membuat semangatnya bertambah. Juga tentang bisnisnya yang bertambah pesat. Arka membawa keberuntungan dalam hidupnya.
Memang benar jika seorang bayi telah membawa rezekinya masing-masing.
“Pak, ada yang ingin bertemu.” Suara sekertarisnya mengganggu keasyiak Romeo yang sedang memandangi Arka.
“Nanti Papa telepon lagi ya.”
Romeo menekan tombol merah di layar ponselnya.
“Suruh dia masuk.”
Karin, si sekertaris mengangguk. Lalu mempersilahkan tamu itu masuk.
“Apa kabar, sayang?”
Romeo yang sedang menatap layar laptop segera beralih ke sumber suara. Dia sangat terkejut dengan kedatangan tamunya.
Siapa sangka jika wanita yang selama ini menghilang entah kemana, kini hadir di hadapannya kembali. Dengan aura yang berbeda sangat jauh berbeda dengan yang dulu.
“Kau pasti terkejut dengan kedatanganku ya?” Wanita berambut pirang dengan pakaian sedikit terbuka itu melangkah ke arah Romeo.
Romeo yang sempat kagum dan terkejut itu segera menepis perasaan itu dan berganti dengan sikap yang dingin.
“Untuk apa kau datang kemari?”
Wanita itu melingkarkan tangannya ke lengan Romeo. Namun, lelaki itu segera menepisnya dan menjaga jarak.
“Kamu banyak berubah, sayang.”
“Jangan panggil aku dengan sebutan sayang. Katakan apa maumu kemari!”
Wanita bernama Sesilia itu tersenyum, lalu duduk di meja. Membuat pahanya sedikit terekspos.
“Merindukanmu. Aku rindu semuanya tentangmu. Apa kau lupa saat kita melakukan itu semua?”
Romeo tersenyum sinis. “Murahan! Jika kau datang kemari hanya untuk itu, lebih baik kau pergi keluar dari ruangan ini!”
Sesilia menggigit bibirnya. Rupanya Romeo banyak perubahan saat dia pergi meninggalkannya. Dia tidak lagi memiliki perasaan padanya. Sedikit kecewa tapi Sesil akan terus berusaha.
“Oke, baiklah! Aku akan pergi!” Dengan perasaan kecewa dan merasa di rendahkan, Sesilia pun berdiri dan menatap Romeo yang lebih tampan itu.
Pandangan mereka bertemu sesaat. Romeo mengalihkan pandangannya ke arah layar laptop. Namun, kejadian tidak terduga membuatnya sangat terkejut.
Sesilia mendekatkan tubuhnya dan mengecup bibir Romeo.
“Jika kau rindu aku, hubungi saja aku.” Sesilia meletakkan selembar kartu nama di atas meja.
Romeo mengelap bibirnya. Menyalahkan diri sendiri karena tidak sigap saat Sesilia mendekat. Wanita itu rupanya masih saja liar. Dia telah salah karena pernah menjalin hubungan dengannya.
“Sial!” umpat Romeo sambil terus mengelap bibir bekas kecupan Sesilia. Seolah masih saja menempel di bibirnya.
Lalu membuang kartu nama pemberian Sesilia.
***
Mala yang duduk bersandar di tempat tidur sambil membaca majalah itu, pandangannya beralih ke arah Romeo yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Memakai celana boxer dan kaos oblong dengan rambut yang masih basah. Terlihat sangat mempesona. Dia merasa kerinduan yang mendalam pada lelaki itu.
“Abang, aku udah ambil keputusan,” ucap Mala saat Romeo menghampiri dirinya.
“Jadi bagaimana?” tanya Romeo sambil mengelus pipi Arka yang sedang tertidur pulas.
“Aku akan mengurus Arka saja. Soal kuliah nanti aja deh.”
Romeo menautkan alisnya. “Kamu yakin?”
Mala mengangguk, dia sangat yakin dengan keputusannya kali ini. Lalu membawa Arka dan meletakkannya di box.
“Aku juga yakin untuk menidurkan Arka di box. Membiarkan suamiku ini tidur di tempatnya.”
Romeo tersenyum lega. Lega karena akhirnya Mala mau mendengarkan semua nasehatnya. Lega juga karena malam ini tidak ada lagi yang akan mengganggu dirinya.
Romeo memeluk tubuh istrinya yang terlihat semakin berisi.
“Kamu tambah gemuk sekarang.”
“Itu berarti aku bahagia.”
Romeo tertawa. Lalu melanjutkan aksinya. Mengecup bibir Mala yang selama ini dia rindukan.
Malam semakin larut. Langit-langit kamar terlihat tersipu karena malam ini semua berjalan sempurna. Rasa yang terpendam telah terlepaskan dan berakhir dengan terpejamnya mata karena rasa lelah.
Namun, Romeo masih terjaga. Menatap istrinya yang semakin hari membuatnya merasa jatuh cinta lagi.
Aktivitasnya terganggu karena suara ponsel yang menandakan ada pesan masuk. Romeo meraih ponsel yang berada di meja. Melihat siapa yang mengirimkan pesan malam-malam begini.
Nomor yang tidak dikenal.
[Sayang, aku rindu padamu. Bisakah besok kita bertemu? Ada hal penting yang harus aku katakan.]
Romeo tidak mengenal nomor itu tapi dia tahu siapa yang mengirimkan pesan itu.
[Aku sibuk!] Balasnya. Lalu menekan tulisan blokir.
Dia tidak ingin ada yang menggangu rumahtangganya. Kali ini dia tidak akan tergoda dengan wanita manapun, karena saat ini dia telah memiliki istri yang sangat dia cintai dan seorang anak yang telah mengubah segalanya. Menjadi lebih baik.
Romeo tidak ingin menghancurkan kepercayaan Mala padanya. Mendapatkan cinta Mala adalah hal yang paling sulit dibandingkan cinta para mantan.
Karena mantan adalah masalalu yang harus terhapuskan.
[Kenapa di blokir? Aku tahu kamu akan menghindar. Tapi suatu hari nanti kau akan datang menemui diriku!]
Next ...
wah masalah bakal dateng lagi nih keknya.