Unknown Husband

Unknown Husband
Rahasia 2


Sepulang sekolah Mala melempar tasnya sembarangan. Hatinya benar-benar kacau. Berita hari ini telah membuat dadanya semakin sesak. Meski rasa benci itu telah ada, tetap rasa kekecewaannya luar biasa. Lelaki yang pernah dia cintai tega berbuat hal yang seperti itu.


Awalnya dia masih tidak percaya dan menginginkan pengakuan dari mulut lelaki itu. Rupanya berita yang dia dengar memang benar adanya.


“Pulang sekolah aku ingin bicara padamu.”


Lelaki itu masih diam membisu. Mengabaikan ucapan Mala karena dia tahu apa yang akan Mala bicarakan.


“Mau atau tidak?”


Mala berkata dengan suara lirih. Kesal, karena lelaki itu masih saja diam. Andai bukan sedang dalam ujian, Mala sudah menggebrak meja saat itu juga.


“Aku tunggu di taman belakang,” ucapnya lagi.


Mala menghela napas, entah sedang sakit gigi atau malas bicara. Lelaki itu hanya diam dan fokus membaca soal.


Mala menyerah dan kembali mengerjakan ujian matematika dengan lancar. Seolah semua jawaban telah berada di luar kepalanya.


Hingga bel tanda waktu ujian telah selesai berbunyi. Mala segera berdiri dan mengumpulkan lembar jawaban ke depan. Lalu mengikuti langkah lelaki yang kini berada di hadapannya.


Tanpa berkata lelaki itu menarik pergelangan tangan Mala. Menuju taman belakang sekolah. Suasana sepi dan pas untuk mereka berdua bicara empat mata.


“Aku pengen denger dari mulut kamu!” Mala langsung ke topik pembicaraan tanpa basa-basi.


Lelaki itu duduk bersandar di bangku kayu bercat warna putih, dengan tangan dilipat di dada.


“Apa?”


Mala menghela napas. Menguatkan hati dan mata yang memanas agar tidak menumpahkan air mata.


“Apa bener kamu hamilin Gea?”


Lelaki itu terkejut dengan pertanyaan Mala. Kedua matanya membulat dan menatap Mala tidak percaya. Seolah ada ucapan 'darimana Mala tahu?'


“Jawab, Khai!”


Helaan napas terdengar dari mulut Khai. Pandangannya beralih ke rerumputan yang hijau. Bergoyang mengikuti arah angin.


“Duduk!” Khai memberi perintah dengan kedua matanya untuk duduk di sebelahnya.


“Jawab! Aku nggak punya banyak waktu!”


“Duduk dulu, aku akan jelasin.”


Mala akhirnya duduk di samping Khai. Menunggu jawaban dari mulut lelaki itu agar mau berbicara tentang semua berita mengejutkan itu.


“Semua salah paham. Bukan aku pelakunya.”


“Bohong!”


Khai mengusap rambutnya frustasi. Bagaimana dia mau menjelaskan tentang apa yang terjadi. Semua begitu cepat terjadi dan mana mungkin Mala akan mempercayainya. Menurut Khai, Mala sudah memandang dirinya sebagai lelaki brengksek yang pernah dia kenal.


Sejak kejadian di rumah Adel, Khai sangat menyesali semua perbuatanya yang tidak bisa menahan hawa napsu.


“Iya aku yang lakuin.”


Mendengar pengakuan itu, Mala menutup mulutnya dengan kedua mata berkaca-kaca. Khai bisa merasakan kesedihan Mala. Ingin menjelaskan apa yang terjadi, sayangnya gadis itu telah berlari menjauh dengan air mata.


Khai berteriak dan meremas rambutnya. Dia benar-benar frustasi. Andai semua itu tidak terjadi dan andai saja Mala belum menikah, maka dia akan terus mengejar dan memohon agar mau memaafkan.


Nasi telah menjadi bubur, hanya bisa menyesali tanpa bisa mengubah keadaan.


Kesalahan yang fatal akibat tidak bisa mengontrol emosi, membuatnya melakukan hal yang tidak diinginkan.


***


Mala menghapus air matanya. Semua terasa begitu menyakitkan. Seharusnya dia tidak menangis. Bukankah dia telah membenci lelaki itu? Untuk apa menangisi lelaki brengsek seperti Khai, jika saat ini ada lelaki yang benar-benar mencintainya.


Mala segera bangkit menuju kamar mandi. Membersihkan diri agar tidak terlihat habis menangis. Dia ingin melupakan Khai dan juga kenangan. Mengingat semua kejadian di rumah Adel, membuat Mala semakin membenci Khai.


“Aku nggak boleh sedih, aku harus lupain dia!”


Mala memberikan semangat pada dirinya sendiri sebelum berlalu ke kamar mandi.


Selesai membersihkan diri, Mala mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang yang di beri nama spesies.


Abang sayang.


Tidak menunggu lama, lelaki itu pun mengangkat telepon dari Mala.


“Belum, La. Paling nanti pulang jam lima. Ada apa?”


“Mala ke situ ya. Nanti kita makan malam di luar.”


“Oke.”


Telepon pun terputus. Mala mempersiapkan diri agar terlihat lebih fresh dan bergegas pergi ke kantor suaminya. Mala telah mengambil keputusan yang tepat. Demi masa depannya.


Namun, saat berada membuka pintu, Mala di kejutkan oleh kedatangan seseorang. Tamu yang tidak di undang.


“Khai? Ngapain kesini!” tanyanya sinis.


“La, aku bisa jelaskan semuanya.” Wajah Khai sedikit memelas.


“Bodo amat, itu bukan urusan aku!”


Mala melangkah pergi dan tidak memperdulikan panggilan dari Khai. Meski lelaki itu tetap ngotot dan sempat menarik tangan Mala saat masuk ke dalam mobil.


Beruntung ada satpam di sana, jadi Khai bisa di atasi oleh satpam di rumahnya.


“Suruh dia pergi, Pak!”


“Baik, Non!”


Mala menghela napas saat mobil meninggalkan rumah.


“Pak Rudi, besok kalau dia datang jangan boleh masuk ya,” perintahnya pada supir yang baru bekerja di rumah Romeo.


“Baik, Non.”


***


Mala memasuki gedung pencakar langit itu. Para satpam yang menjaga pintu, memberikan hormat dengan kepala menunduk saat Mala melewatinya. Bukan hanya satpam, para staf dan karyawan pun ikut menundukkan kepala saat melihat Mala.


Mereka pun berbisik-bisik ketika melihat Mala yang terlihat sangat cantik.


“Hebat ya Pak Romeo, bisa dapetin istri yang cantik.”


“Iya, mantan mah kalah. Nggak nyangka bisa move on.”


“Salut gue sama Pak Romeo.”


Begitulah ucapan mereka yang tidak sengaja Mala dengar. Selebihnya dia tidak lagi mendengar karena langkah terhenti saat di depan pintu ruangan Romeo.


Perlahan Mala membuka dan memberikan senyuman saat Romeo melihatnya.


Romeo membalas senyuman itu. Lalu menutup laptopnya dan menghampiri Mala.


“Sama siapa kesini?”


“Pak Rudi tadi. Abang, masih lama ya?”


“Bentar lagi kelar. Ayo duduk.”


Romeo menyuruh Mala duduk di sofa. Masih teringat jelas di ingatan Romeo saat Mala mencium pipinya. Debaran itu kembali menyerang.


“Abang, aku pengen ngomong.”


“Mau minum?”


Mala menggeleng. Dia berdiri dan duduk di sebelah Romeo. Wajahnya terlihat sendu, Romeo tahu gadis itu sedang di landa kesedihan. Romeo menenggelamkan kepala Mala di dadanya dan memeluk gadis itu erat. Membiarkannya agar merasa tenang.


Tidak perduli jika gadis itu mendengar detak jantungnya yang berdebar. Memang kenyataannya seperti itu, debaran selalu datang ketika Mala berada di dekatnya.


“Abang ... Aku ....” Mala menghentikan ucapannya. Antara ragu dan .... Entah.


“Apa? Katakan saja,” sahut Romeo. Lelaki itu masih saja mengusap rambut Mala.


Wangi sahmpo menyeruak di indera penciuman. Kembali merasakan desiran dalam darah.


“Tahan Romeo, tahan,” batin Romeo.


Next


ini sosok Romeo.