
Mala mendorong tubuh kekar Romeo. Pelukan Romeo benar-benar erat dan membuatnya sulit bernapas. Romeo bernapas lega karena sang Papa langsung pergi. Mungkin saat ini mereka bisa lolos dari interogasi, tapi setelah ini mereka akan menghadapi lelaki paruh baya itu dengan berbagai alasan.
“Abang, sekarang gimana? Kalau Papa tahu kita pisah kamar.”
“Tenang, kamu nggak perlu khawatir. Abang udah punya solusinya.”
“Apa?”
Belum sempat Romeo menjawab, ketukan pintu terdengar. Romeo segera membuka dan mendapati Martha berada di depannya.
“Tuan besar menunggu di ruang tengah.”
“Ah, ya baiklah. Kami akan segera ke sana.”
Martha mengangguk dan pergi. Sementara Romeo masih bingung bagaimana menghadapi lelaki itu. Apalagi Romeo tahu bahwa akan ada kemarahan besar hari ini.
“Mala, ayo kita kesan.”
Mala mengangguk, meski jantungnya berdebar kencang. Dia benar-benar gugup. Terlebih melihat wajah Romeo yang penuh misteri, membuat Mala semakin takut. Entah apa yang gadis itu takutkan.
“Duduk!” perintah Tuan Algazio, tegas.
Mala dan Romeo pun duduk di sofa depan sang Papa.
“Papa sudah tahu semuanya!” Ucapan Tuan Algazio terdengar tenang tapi menakutkan.
Mala tidak berani menatap wajah lelaki paruh baya yang masih terlihat ketampanannya saat masih muda. Gadis itu memilih menunduk.
Rupanya ketampanan Romeo turunan dari sang Papa. Jadi siapa wanita yang tidak terpikat?
“Maaf, Pa. Aku bisa jelaskan.”
“Penjelasan seperti apa yang akan kau katakan, hah!” Kini suaranya meninggi.
Mala sedikit terkejut, kemarahan mulai terpancar dimata bermanik biru itu. Meski sedang dikuasai emosi yang luar biasa, lelaki itu masih bisa terlihat tenang.
“Apa Papa lupa ada anak lain di sini?”
Mala merasa ucapan Romeo mengarah padanya. Mungkin sebenarnya ini urusan keluarga. Lalu mengapa Mala harus ikut dalam pembicaraan ini?
“Roni bilang, semua itu atas perintahmu!”
Mala semakin tidak mengerti arah pembicaraan itu, dia memilih diam dan menunduk. Meski tengkuknya terasa pegal.
Mala pun tidak tahu siapa Roni.
“Pah, bukan aku yang seharusnya Papa hakimi.” Romeo membela diri.
“Kenapa kalian pisah kamar?” Kali ini Mala memberanikan diri menatap mertuanya. Lalu menatap Romeo sekilas.
“Maaf, Pah, ini salah Mala.”
Kedua alis tebal Tuan Algazio mengerut. Seolah menanyakan kembali ucapan Mala.
“Barang-barang milikku terlalu banyak. Jika jadi satu dalam kamar, maka tidak akan muat. Jadi ada kamar terpisah untuk semua barang-barangku.” jelas Mala.
Senyum mengembang di wajah lelaki paruh baya itu. Jika semula wajahnya terlihat mengerikan karena menahan amarah, kini emosi itu lenyap.
“Baguslah. Karena usiamu masih dibawah umur, jadi memang seharusnya belum satu kamar.”
Mala lagi-lagi dibuat terkejut oleh mertuanya. Sikapnya di luar dugaan. Romeo pun merasa lega karena amarah yang ada di bayangannya tidak ada.
Mala mengangguk dan berpamitan pergi ke kamar. Meski sebenarnya dia ingin mendengarkan obrolan kedua lelaki itu. Mala menutup pintu ruangan itu pelan, dan memasang telinga di dekat pintu.
“Kau bilang wanita itu telah meninggal, tapi kenapa dia masih hidup?”
“Mana aku tahu!”
“Dia hamil!”
Mala menutup mulutnya, tidak percaya dengan semua pembicaraan. Namun, Mala tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri. Dia kembali mendengarkan pembicaraan itu.
“Bukan aku yang melakukannya. Tanyalah pada anak Papa yang lain!” Romeo pun tidak kalah tegasnya.
Mereka sedang membicarakan seorang wanita hamil. Romeo yang di tuduh. Mala berpikir bahwa suaminya itu bukan lelaki baik-baik. Menghamili wanita di luar nikah, seharusnya Romeo menikahi wanita itu. Mengapa harus Mala yang menikah dengannya? Mala terus bertanya-tanya dalam hati.
“Romeo! Papa ini lagi bicara sama kamu, jangan bawa orang lain!”
“Dia bukan orang lain. Tapi dia juga anak Papa.”
Anak Tuan Algazio? Aku baru tahu jika Tuan memiliki anak selain Romeo. Batin Mala.
***
Semenjak mendengar pembicaraan Romeo dan Papanya, Mala terlihat sering melamun. Memikirkan wanita yang sedang hamil, dan anak lain dari Tuan Algazio.
Mala semakin tidak mengerti dengan keluarga itu. Beginilah nasib jika menikah karena paksaan. Belum mengetahui bagaimana keluarga itu dan juga sifat lelaki yang menjadi suaminya. Apalagi kisah masa lalunya.
Kepada siapa Mala harus menceritakan semua ini?
Jika kepada kedua orangtuanya, maka itu tidak mungkin. Selama ini mereka hanya tahu bahwa hubungan Romeo dan Mala baik-baik saja. Mala selalu menelpon ibunya, menanyakan kabar dan lalu sang ibu bertanya tentang suaminya.
Mala selalu menjawab semua baik-baik saja.
Seharusnya Mala menceritakan semua kejadian ini pada ibunya, bukan malah menutupi.
Adel, ya Mala telah memilih Adel untuk menjadi pendengar setia semua ceritanya. Hanya gadis itu yang selama ini selalu setia mendengar isi hatinya dan menjaga semua rahasianya.
Mala berniat untuk pergi ke rumah Adel. Sayangnya, saat membuka pintu lelaki itu telah berdiri di hadapannya.
“Abang, ngapain di sini?” tanya Mala seraya melihat ke kanan kiri. Memastikan ada sang mertua atau tidak.
“Papa sudah pulang tadi, kau mau kemana?”
“Kerumah Adel. Sebentar aja.”
Romeo melipat kedua tangannya di dada. Menatap Mala dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tidak yakin jika gadis itu hanya menemui Adel.
“Untuk apa malam begini ke rumah Adel?”
Ah, iya. Mala lupa jika hari sudah malam dan menunjukkan pukul delapan. Seharusnya dia tidak gegabah. Bisa saja dia menceritakan semua itu melalui pesan WhatsApp tanpa perlu pergi ke rumahnya.
Jika sudah begini, Mala menebak kalau Romeo sedang berprasangka buruk padanya.
“Kau ingin kencan?”
Dahi Mala mengernyit. Itu tuduhan atau sebuah ajakan?
“Kencanlah denganku bukan dengan lelaki itu.”
Bersambung ...