Unknown Husband

Unknown Husband
Bertemu Eyang


Ada yang berbeda di pagi ini, terlihat meja makan yang tersaji berbagai menu untuk sarapan. Mungkin akan ada tamu yang datang pagi ini. Melihat suasana yang berbeda Mala pun menjadi heran. Seperti biasa dia meneguk segelas susu yang memang selalu di siapkan untuknya. Lalu bergegas pergi, tidak menyentuh makanan apapun.


Mala memang seperti itu, jika hatinya sedang gelisah. Nafsu makan raib, mengingat hari ini ujian telah di mulai.


Baru saja akan meraih tas ranselnya, Bibi Martha menghalangi langkahnya.


“Non, nggak sarapan? Hari ini sangat spesial, lho,” ucap Bibi Martha sambil menyiapkan menu pencuci mulut.


Mala mengerutkan dahinya, lewat tatapan matanya ke arah Bibi Martha dia bertanya 'spesial? Hari apa memangnya?'.


Bibi Martha tersenyum, lalu kembali ke dapur. Mengabaikan pandangan Mala yang penuh tanya. Gadis itu mengangkat ke dua bahu lalu pergi.


Mala melihat Romeo yang berjalan tergesa menuruni anak tangga. Gadis itu terus memperhatikan dengan kedua tangan di lipat di dada.


“Kesianga?” tanya Mala santai.


Romeo nyengir. Wajahnya pun terlihat kusut karena masih mengantuk.


“Makanya jangan begadang terus!”


Bagaimana bisa Romeo tidur lebih cepat, jika penyebab dia begadang ada di hadapannya saat ini. Mana mungkin Romeo menyuruh Mala pergi agar bisa tidur nyenyak.


“Kebanyakan kopi kemarin,” sahut Romeo asal. Meski sebenarnya di hati dia berkata 'Kebanyakan mikirin kamu.’


“Bukannya kamu masuk jam delapan ya?” tanya Romeo heran. Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh, tapi Mala sudah ingin berangkat.


“Biar ada waktu belajar ntar.”


“Nggak sarapan dulu?”


Mala menggeleng. Mana mungkin Mala bisa sarapan dengan tenang, jika hatinya gelisah memikirkan soal ujian tadi. Meski dia selalu peringkat pertama, Mala tetap tidak bisa santai.


“Abang sarapan dulu aja, aku tunggu di depan. Bibi masak banyak banget.”


Romeo menghela napas. Bagaimana bisa dia sarapan sendiri, jika setiap harinya selalu di temani.


“Ayo sarapan! Kamu mana bisa mikir dalam perut kosong,” perintahnya sambil menarik tangan Mala.


Mala memutar kedua bola matanya. Malas. Dia tidak akan bisa menelan makanan jika dalam keadaan seperti ini.


Romeo menarik kursi dan menyuruh Mala untuk duduk. Bibi Martha yang melihat pun tersenyum.


“Tadi Non Mala hanya minum segelas susu, Tuan,” adu Bibi Martha.


“Nah, kan. Segelas susu mana kenyang La. Kamu harus makan biar bisa ngerjain dengan tenang.”


Romeo mengambil piring lalu menyendokkan nasi goreng untuk Mala.


“Eyang ... Datang jam berapa?”


“Sebentar lagi paling datang. Ini semua untuk Eyang, Bi?”


Bibi Martha mengangguk. “Iya, semua sudah Bibi siapkan. Kalau begitu saya permisi, Tuan.”


Mendengar kata Eyang, seketika dada Mala sesak. Pikirannya kacau. Dia tidak bisa membayangkan jika nanti sepulang sekolah bertemu dengan Eyang Romeo.


Mala pernah mendengar jika Eyang Romeo sangat cerewet. Apapun yang tidak dia sukai maka akan terus mengomel. Semua suasana harus sesuai dengan isi hatinya.


Mendadak Mala ingin berlari dan segera pergi dari rumah Romeo. Kembali setelah Eyang pulang.


“Abang, aku nggak nafsu makan.” Mala mendorong piring berisi nasi goreng itu.


“Kamu gugup? Antara ketemu Eyang sama ujian, kan?”


“Jangan di pikirkan. Enjoy aja, yang ada nanti kamu nggak konsen ngerjainnya.”


“Aku nggak bisa. Katanya Eyang itu__”


“Galak? Enggak. Dia baik, tenang aja. Sekarang makan dulu gih. Lalu berangkat.”


Mala mencoba mengambil sewengi nasi goreng, lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Tetap saja tidak bisa. Bukan memikirkan Eyang. Melainkan soal ujian.


“Nggak bisa, aku gugup.”


Romeo menunda sarapannya, lalu mengambil alih piring Mala. Lelaki itu menyuapi Mala.


“Ayo, buka mulutnya. Percaya sama Abang, kamu nggak akan bisa mikir saat perut kosong. Belajar boleh, tapi ingat perut.”


Kata-kata Romeo mengingatkan Mala pada ibunya. Sekilas ingatan tentang masa SMP dulu kembali terlintas. Saat Mala mulai ujian kelulusan dia selalu enggan makan, bahkan mengabaikkan rasa lapar demi terus belajar. Ketika lelah dia akan makan lalu tidur.


Ketika menghadapi ujian, dia tidak mengisi perutnya dengan sedikit makanan. Lalu saat pertengahan jam, perutnya memaksa untuk segera di isi. Alhasil dia tidak bisa berpikir lalu menyerah. Mendapatkan nilai yang tidak sesuai dengan harapan. Bukan hanya itu saja, penyakit maagh Mala kambuh dan harus di rawat di rumah sakit.


Mala segera tersadar dan mulai membuka mulutnya. Sambil mengeluarkan buku dari dalam tas. Dia asyik membaca dan Romeo terus menyuapinya. Tanpa sadar telah habis dua centong nasi goreng.


Romeo mengulum senyum. “Lagi?”


Mala mengangguk.


Romeo mengambil satu centong nasi goreng, lalu menyuapi Mala kembali.


“Lapar apa doyan, La. Sampai habis tiga centong.”


Mala mengalihkan pandangan dari bukunya lalu menatap tempat nasi goreng yang sudah habis setengah.


Mala hanya nyengir. Selain lapar nasi goreng buatan Bibi Martha selalu menggugah selera.


“Khilaf, bang. Aku boleh bawa bekel ke sekolah? Nasi gorengnya enak, bikin aku ketagihan.”


“Iya, boleh.”


Romeo pun memanggil bibi Martha dan menyuruhnya menyiapkan bekal untuk Mala. Setelah itu Mala berpamitan pergi ke sekolah sesudah mencium punggung tangan Romeo.


Hubungan Mala dan Romeo malah terlihat seperti Adik dan Kakak. Romeo membiarkan semuanya berjalan, baginya bukan soal cinta yang di inginkan. Melainkan kenyamanan Mala saat dekat dengannya.


“Diantar Pak Ramli ya. Abang harus jemput Eyang nanti.”


Mala mengangguk, lalu melangkah menuju mobil yang telah menunggu di dekat pos satpam. Mala melambaikan tangannya ke arah Romeo. Meski ada hatinya sedang merasa gundah gulana saat mendengar kata 'Eyang.’


Dalam perjalanan ke sekolah Mala memilih terus belajar daripada memikirkan Eyang.


Ada satu hal yang dia lupakan. Memasak!


Bagaimana jadinya jika eyang menyuruhnya memasak? Apa kata eyang jika Mala tidak bisa melakukan apapun. Mala harus menyiapkan diri untuk terus kena Omelan. Meski ini baru pertama kalinya dia bertemu dengan Eyang Romeo.


Mala memilih bertemu dengan guru killer yang selalu memberi hukuman.


Mala bergidik ngeri, membayangkan bagaimana wajah eyang. Wajah keriput, rambut putih dan membawa tongkat. Pandangannya seperti orang kehausan darah.


Mungkin lebih tepatnya seperti ...


“Aaggghrr, aku nggak mau ketemu nenek lampir!”


To be continue ...