Unknown Husband

Unknown Husband
Rasa Yang Sama


Romeo di kejutkan oleh kedatangan seorang gadis berambut pirang, yang selama ini telah mengobrak-abrik hidupnya. Gadis itu telah duduk di kursi dekat sekertarisnya, dengan membawa bingkisan yang entah apa itu isinya.


Hati Romeo begitu sesak, langkahnya seakan berat untuk menuju ruang kerjanya dan masuk ke dalam. Membiarkan gadis itu berada di luar. Seharusnya seperti itu, tapi kenyataannya berbeda.


“Tunggu, aku ingin bicara padamu,” ucap gadis itu seraya menahan pintu yang akan di tutup Romeo.


Enggan menjadi tontonan karyawan lain di kantornya, Romeo mempersilahkan gadis itu masuk. Meski perasaannya tidak karuan.


“Bicaralah!” ucap Romeo dengan wajah datar.


Gadis itu memberikan bingkisan untuknya sebelum duduk di sofa yang berhadapan dengan Romeo.


“Ini untukmu sebagai permintaan maafku.”


Romeo bangkit dari duduknya. Mengalihkan pandangan ke luar jendela dengan tangan yang di masukkan ke dalam saku celana.


Rasa benci dan sakit menjadi satu dalam gumpalan darah yang bernama hati. Tidak akan ada orang yang mau menerima maaf, bahkan menerima kembali seseorang yang pernah menggoreskan luka yang terlalu dalam.


Gadis itu tak jadi duduk, dia mendekati Romeo. Sadar atas semua kesalahannya yang begitu besar.


“Aku ... Minta maaf atas semua kesalahan yang aku perbuat. Maaf atas kepergianku yang tanpa kabar.”


“.... Maaf karena aku telah mengkhianati cintamu.”


Sakit. Gadis itu seakan menusuk kembali besi panas ke dalam hati Romeo. Kedua tangannya mengepal kuat, mata itu memanas ingin mengeluarkan buliran bening yang selama ini tak lagi dia keluarkan. Kesedihan yang sudah dia hilangkan susah payah, hadir tanpa permisi ketika hati mulai terbiasa dengan kehadiran orang lain.


“Mungkin kata maaf tak akan merubah segalanya, tapi ... Aku yakin kau mau memaafkan aku dan kembali memperbaiki semuanya.”


Romeo masih terdiam dan enggan menatap gadis itu. Terlalu sakit untuk sekadar melihat wajahnya.


“Di taman itu semua sudah jelas. Tidak ada yang perlu di perbaiki lagi.” Romeo berkata dengan susah payah, agar suaranya tidak terdengar serak.


“Romeo, aku bisa jelaskan semua. Kau salah paham. Sampai kapanpun aku__”


“Di taman itu pula kamu udah mutusin buat ingkari janji kita. Untuk apa sekarang kamu kembali?”


“Aku kembali untuk memperbaiki semuanya, Romeo.” Gadis itu memeluk lengan Romeo. Namun, lelaki itu menepisnya.


“Kau tahu jalan keluar? Balik badanmu dan berjalan lurus. Buka pintu lalu pergi dari sini. Nggak usah datang lagi menemui aku!”


Ucapan Romeo terdengar pelan, tapi sangat menyakitkan. Bagi lelaki itu tidak ada yang lebih menyakitkan dari hati yang telah dikhianati.


Susah payah dia melewati masa yang menyiksa, hingga menemukan penggantinya. Lalu kini dia datang meminta maaf dan menginginkan semua kembali seperti semula.


Begitu mudah memang, tapi hati Romeo terlanjur luka dan tak lagi ada tempat untuknya.


Roemo memanggul security dan juga sekertarisnya untuk datang ke ruang kerjanya.


.


“Jangan pernah membiarkan Naura datang kembali! Salah satu diantara kalian melanggar peraturan saya, siap-siap kalian saya pecat!” perintahnya tegas.


Security dan sekertaris Romeo mengangguk lalu pergi dari ruangan itu. Romeo mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Sesak itu masih terasa, lebih sesak dari dia melihat Mala bersama Khai.


Mengingat itu Romeo mengambil ponselnya yang berada di meja, lalu menekan nomor yang telah dia hafal dari luar kepala.


Tidak menunggu waktu lama telepon pun tersambung.


“Abaaaaaaaannnggggg!” teriakan dari seorang gadis di sebrang sana.


“Abang nggak budeg, jadi jangan teriak-teriak.”


“Siapa yang nggak kesel. Kenapa Abang bilang kalau aku sakit diare?”


Sesaat Romeo menahan senyum, mengingat susah payah dia pergi ke sekolah Mala untuk memberi kabar bahwa Mala tidak masuk sekolah untuk beberapa hari. Para gadis remaja itu terus menerus menghalangi langkahnya. Ada yang berfoto, mencubit pipinya, atau menarik tangannya. Ada lagi yang lebih dari itu, menganggap Romeo adalah kekasihnya dan datang ke sekolah demi dia. Namun, karena gadis gesrek itu datang membuat kerumunan para gadis pergi satu persatu. Meski dia harus melewati rintangan yang cukup membuat dirinya menahan napas.


Mengingat hal itu membuat Romeo menggelengkan kepalanya.


“Ah, masalah itu ....” Romeo menghentikan ucapannya ketika terdengar suara ketukan pintu.


“Nanti Abang jelaskan, okey. Sekarang Abang harus kerja dulu.”


Romeo mematikan sambungan telepon tanpa mendengarkan ocehan Mala. Lalu dia menyuruh masuk seseorang yang berada di luar sana.


Romeo tercekat.


Melihat siapa yang datang kali ini.


“Tante?”


Romeo memberikan kode kepada sekertarisnya untuk meninggalkan mereka berdua saja.


Romeo mencium punggung tangan wanita yang dipanggilnya Tante sebelum akhirnya bertanya.


“Kok tumben kemari, ada apa ya?”


Wanita itu terdiam, wajahnya terlihat sendu di tambah air mata yang mulai menetes satu persatu. Romeo menyuruh wanita itu duduk di sofa. Meski hatinya benar-benar jengkel karena ada saja yang menganggu dirinya.


“Romeo, Tante datang kemari untuk Naura. Tolong maafkan dia dan kembalilah padanya.”


Dugaan Romeo benar. Gadis itu menyuruh ibunya untuk memohon maaf padanya.


“Maaf, jika untuk itu saya nggak bisa. Saya banyak kerjaan yang harus di selesaikan. Tante bisa pulang sekarang.”


“Romeo, Naura sakit parah. Usianya tinggal beberapa bulan lagi.”


Romei terkejut mendengar hal itu, tapi dia segera menepis semua rasa penasaran tentang penyakit Naura sebenarnya. Romeo tidak ingin masuk ke dalam jebakan gadis itu.


“Usia hanya Tuhan yang mengetahui. Jika dia sakit aku do'akan segera sembuh. Jika dia sehat aku do'akan penyakit itu benar-benar datang.”


Kedua bola mata wanita itu membulat. Tidak menyangka bahwa lelaki yang dulu pernah mengisi hari-hari putrinya telah banyak berubah.


“Kau benar-benar jahat, Romeo.”


“Lebih jahat lagi Naura.”


Wanita itu bangkit dari duduknya, kesal karena Romeo tak juga luluh dan mau memaafkan anaknya.


“Katakan pada Naura, aku sudah menikah,” ucap Romeo yang masih duduk di sofa.


Wanita itu menghentikan langkahnya sejenak. Tanpa menolah dan mungkin sedang berpikir. Lalu pergi dari ruangan Romeo.


“Kau akan tahu, bagaimana rasanya dibuang seperti sampah!”


Bersambung ...