
Sepulang dinner, mereka masuk ke kamar masing-masing. Membersihkan diri dan tak lagi bertemu. Mala sibuk dengan ponselnya dan berbagai pikiran. Romeo seperti biasa, menyesap rokok dan menikmati udara malam di bangku taman.
Memetik gitar dan menyanyikan lagu-lagu romantis.
Ingatannya kembali pada kejadian pagi itu, dimana Mala mencium pipinya. Hal yang membuat pikirannya kacau hari ini.
“Abang,” panggil Mala.
Romeo menoleh ke arah gadis yang telah berdiri di belakangnya. Memakai baju tidur yang membentuk lekukan tubuhnya nyaris terlihat.
“Belum tidur, La?”
Mala mengangguk. Dia duduk di sampingnya. Wajahnya terlihat gelisah, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi sulit.
“Kenapa?” tanya Romeo.
“Nggak apa-apa, Bang. Lanjutin aja main gitarnya.”
“Oke, kamu yang nyanyi ya?”
“Aku nggak bisa.”
“Masa?”
“Iya, Abang.”
“Bohong kali.”
“Serah dah.”
Mala memukul bahu Romeo. Tatapan mereka kembali bertemu. Ingin sekali Romeo menyicipi bibir merah itu. Sayangnya dia hanya bisa menelan ludah. Menunggu dan menunggu hingga Mala telah siap.
Romeo memilih pergi ke kamar, sebelum semuanya terlambat. Takut jika tidak bisa menahan lagi. Dekat dengan Mala sangat menguji ke imannya. Bisa saja dia memaksa, tapi keterpaksaan itu sangatlah tidak enak.
“Abang, mau kemana?”
“Kamar dulu, ngantuk banget.”
Mala pun mengekor. Saat sampai di depan kamar Romeo, tiba-tiba Mala tersandung kakinya sendiri. Beruntung Romeo dengan sigap menangkapnya.
Posisi mereka seperti berpelukan. Wajah pun hampir tidak berjarak. Bibir Mala yang sedikit terbuka sangat menggoda.
Romeo tidak akan menyiapkan kesempatan itu. Dia segera ******* bibir Mala, meski dengan jantung yang berdebar.
Baru kali ini Romeo merasakan bibir seorang gadis yang terasa manis.
Romeo meraih handel pintu kamarnya tanpa melepas ciuman itu. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Kemudian menuntun Mala untuk masuk ke kamarnya. Meski jarak begitu dekat, tapi terasa lama karena Romeo enggan melepas ciumannya. Hingga mereka sampai di kamar, Romeo menutupnya dan mendorong tubuh Mala hingga menghimpit tembok.
Satu tangan Romeo berada di pinggang Mala dan satunya lagi mendorong tengkuk Mala.
Romeo melepas ciumannya, kening mereka saling menempel. Berebut oksigen yang berada di sekitarnya. Romeo tersenyum begitu juga dengan Mala.
“Maafin, Abang.”
“Nggak apa-apa, Abang.”
Romeo terus menatap wajah Mala yang selalu membuatnya dimabuk kepayang. Lagi, dia mencium bibir Mala. Gadis itu pun terlihat menikmatinya.
Sesekali kedua matanya terbuka, menatap Romeo yang menikmati ciuman ini.
Desiran halus mengalir dalam darah Mala. Tubuhnya menginginkan hal yang lebih. Ciuman malam ini, membuat Mala telah mengambil keputusan.
Bahwa ia akan melepaskan semuanya.
Keputusan yang bersamaan dengan salah satu tangan Romeo yang mulai aktif bermain di area yang sangat dia inginkan.
“Apa kau siap, sayang?” ucapnya lirih di tengah-tengah kabut gairah.
Mala mengangguk. Romeo membopong tubuh Mala dan merebahkannya di atas tempat tidur. Adegan ciuman kembali terjadi.
Hingga pada hal yang sangat di nanti.
Malam yang panjang, di dalam kamar bercat putih itu, menjadi saksi bisu pelepasan semua yang Mala miliki hanya untuk suaminya seorang.
***
Terik matahari mulai masuk ke celah jendela. Romeo membuka mata perlahan. Menyunggingkan senyuman saat melihat Mala tidur pulas di sampingnya. Tubuh yang terbalut selimut itu, terlihat begitu lelah.
Romeo mengusap wajah Mala lembut. Hingga gadis itu tersadar dan membuka matanya. Tubuhnya terasa berat dan sakit.
“Abang,” gumamnya.
“Udah bangun, sayang?”
Mala mengangguk dengan mata yang sedikit terpejam. Dia ingin tidur kembali.
“Ngantuk. Abang nggak kerja?”
Mala merubah posisinya menjadi memeluk tubuh Romeo. Lelaki itu merasakan kembali sesuatu yang dia inginkan.
“Gimana mau kerja, kalau bangun tidur ada kamu di samping Abang. Meluk Abang lagi.”
Mala memukul tubuh Romeo dengan bantal. Menenggelamkan kembali wajahnya di dada bidang itu. Hal baru yang sangat Mala sukai. Entah mengapa dia sangat nyaman dengan posisi saat ini.
Namun, Romeo terus menggoda Mala.
“Sayang, lagi yuk!”
Seketika kedua mata Mala terbuka dan membulat sempurna.
“Abang, ih!”
Romeo tidak perduli dengan penolakan Mala. Dia kembali menuntaskan semua yang di tahannya.
Adegan demi adegan terulang kembali. Terlintas dengan jelas di ingatan Romeo bagaimana kejadian semalam.
Melihat wajah Mala yang menangis karena kesakitan, berbeda dengan pagi ini yang terlihat begitu menikmatinya.
Pada akhirnya Mala telah melepas semuanya. Menjadi istri seorang Romeo seutuhnya.
****
“Mandi bareng, yuk?”
“Nggak ah, aku takut Abang mau lagi.”
Romei terkekeh. Tanpa aba-aba lelaki itu membawa tubuh Mala ke kamar mandi dan meletakkannya di dalam bhut up. Memberikan sabun beraroma apel yang memberikan ketenangan.
“Kok Abang punya sabun kek aku.”
Romeo mengulum senyum. Mengingat semalam dia mengambil sabun dari kamar Mala. Rencana berada di dalam kamar mandi telah ada di pikirannya sejak semalam.
“Ah, itu Abang ambil di kamar kamu.”
Romeo menggaruk kepalanya. Mala menyiram tubuh Romeo dengan air. Keduanya saling siram menyiram.
.
Selesai mandi, Mala dan Romeo terlihat segar. Mereka bersiap untuk pergi jalan-jalan hari ini.
Kejadian semalam membuat keduanya bangun kesiangan.
“Kamu beneran, nggak ijin sekolah dulu?”
“Nggak, Abang. Ujian udah selesai. Kan emang di kasih libur. Mau masuk juga nggak apa-apa.”
“Oh, iya Abang lupa.”
Kembali Romeo mencium bibir Mala. Kali ini gadis itu mendorong dada bidang Romeo.
“Kenapa?”
“Kalau ada yang liat gimana?”
“Jadi kalau di kamar mau?”
“Apaan sih! Kan mau jalan-jalan?”
Romeo terkekeh. Lagi-lagi Mala membuat lelaki itu gemas.
Mereka pun melanjutkan sarapannya. Setelah itu bersiap untuk pergi. Langkah Mala yang terseok karena menahan rasa sakit, membuat orang yang melihat pun penasaran dan ingin bertanya.
“Sayang, jalannya biasa aja,” bisik Romeo. Karena melihat salah satu maid yang terus memandang ke arah Mala.
“Perih.”
Romeo menuntun Mala agar gadis itu bisa berjalan seperti biasa.
“Kamu mau jadi tontonan orang?”
“Enggak, tapi sakit.”
“Tahan, nanti juga hilang.”
Mala pun menuruti ucapan Romeo. Mereka masuk ke dalam mobil.
Mobil telah meninggalkan halaman rumah. Hari ini akan Romeo lewati dengan penuh kebahagiaan tanpa ada yang mengganggunya.
“Terima kasih, sayang.”
Next..