
Seharian ini Akbar tak muncul. Tak nongol tampang tengil cengengesannya. Suaranya pun tak terdengar. Chatnya, apalagi. 'Tumben-tumbenan ni bocah,' pikirku heran.
[Hei ... kok nggak nongol sejak pagi?]
Kutunggu jawabannya hingga satu jam. Belum juga dibaca. Aneh! Beberapa menit kemudian, ponselku berdering. Ada notif masuk.
[Sini, dong, pijitin. Lagi sakit, nih. Bawain bakso ya, entar kalo sudah pulang kerja.]
[Masa' preman bisa sakit.] Jawabku sambil tertawa.
Geli membayangkan, Akbar yang petakilan itu bisa sakit? Aku pikir, virus bakteri nggak doyan nempel sama si tengil itu. Lha ini? Sakit? Ah, tapi tak urung hal itu menganggu pikiranku juga. Sakit apa, sih?
[Serius ini. Kesini, ya. Mumpung sepi di rumah, nih hihihihi.]
[Mana ada orang lagi sakit, otaknya masih piktor begitu?] Gemas kupencet tombol send.
[Busyet! Siapa juga yang piktor. Aku cuma bilang, mumpung rumah lagi sepi nggak ada orang. Maksudku, yayang cantikku ini, kan galak. Gerak refleksnya juga terlalu bagus. Jadi bisa buat jagain aku di rumah. Takut ada yang mau nyulik aku. Entar kalo aku ilang, kan, kamu juga yang sedih.]
[Sebodo ah.] Kuletakkan lagi ponselku di meja. Kulanjutkan pekerjaan. Sakitnya Akbar palingan apa, sih?
***
"Hai cantik!"
Aku menghentikan langkah saat akan melewati pagar rumah kost. Dengan santai, Akbar berjalan mendekat. Kupandangi wajah ganteng itu. Kusut dan agak pucat. Memang, agak demam saat kusentuh dahinya. Rambutnya acak-acakan seperti tak disisir.
"Kamu beneran sakit?" tanyaku memandanginya penuh selidik.
"Masa' sakit kok nggak beneran, sih?" Bibirnya cemberut. Aku geli melihat ekspresi childish-nya.
"Aku beliin obat, ya." Kutahan tawa.
"Udah dapat obatnya kok sekarang."
"Mana?" Kutarik dan melongok saku jaketnya.
Cup!
Terkesiap. Spontan melotot seraya menutup pipi kiriku sebelah kiri. Ah, kumat lagi tengilnya.
"Ini ... sudah dapat obatnya." Tawanya pecah, tapi aku cemberut karena kaget. Yang benar, tersipu malu.
"Malu, ah. Kalo ada yang lihat, gimana?" Kutoyor pipinya pelan.
"Ya, gak papa, kale. Kan, sudah pada tau, kalo kita SyaiBar. Syaira dan Akbar. Seluruh Indonesia harus tau."
"Norak."
"Biarin!"
"Tunggu di ruang tamu. Aku beli bakso dulu."
"Aduh, SyaiBar. Kenapa mendadak ****, sih? Suruh aja tuh si Heru yang beli. Si cantik ini nemenin Akbar di ruang tamu. Sambil nunggu bakso datang, kan, bisa mijitin aku. Syahdu, tuh," bisiknya nakal.
"Iihhhh! Heru ... sini!"
Heru berlari kecil menghampiri. Kukeluarkan lima lembar sepuluh ribuan.
"Iya, Mbak?"
"Beliin bakso dua porsi dan teh panas manis, ya. Kembaliannya ambil aja."
"Siap, Mbak." Senyum lebarnya langsung dipamerin.
Kami duduk bersebelahan. Kupandangi wajah pucat yang perlahan tampak segar kembali. Mungkin karena perutnya sudah terisi makanan panas dan pedas. Sampai berkeringat begitu. Kasian.
"Bar ...." Kucolek pipinya saat terdengar suara ponsel.
"Ponselmu, tuh," sahutnya mengelap mulutnya dengan tisu.
"Bukan. Ponselku di kamar."
"Oww ... iya ding. Ponselku yang bunyi," kekehnya.
Dirogohnya saku jaket. Saat melihat layar, wajahnya berubah tegang. Seperti ragu untuk menjawab telepon masuk itu atau tidak.
"Kenapa? Jawab, dong."
Ia hanya tersenyum kecut. Kok ... gitu amat ekspresinya. "Akbar ...."
"Gak usah." Ia menghela napas.
"Diakah?" Aku menatapnya.
Akbar hanya mengangguk samar. Kuberikan senyum untuk meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja. "Angkatlah."
"Tapi ...."
"Angkat. Katakan apa yang ingin kau katakan padanya. Aku ingin dengar."
Wajahnya yang mulai segar itu kembali pucat. Ada ketegangan terlukis jelas di sana.
"Haloo ...." Suaranya lirih sekali. Aku menepuk punggung tangan kanan Akbar untuk memberi dukungan. Mode loadspeaker diaktifkannya.
"Iya. Ada apa?"
"Kenapa kau tak angkat telpon dan jawab pesanku?"
"Karena aku tak ingin menjawab pesanmu."
"Kau ... sedang bersama dia?"
"Iya ... dia sedang bersamaku. Tepat di hadapanku."
"Kau berani mengatakan itu di depannya? Kau sungguh ada hati pada wanita itu, Mas?"
"Iya ... aku mencintainya. Sangat!"
Kulihat ekspresinya dingin, tapi suaranya tegas. Jemari kanannya membelai pipiku mesra.
"Namanya Syaira."
Terdengar jelas kutangkap, suara perempuan menangis di ujung telepon Akbar. Entahlah. Perasaanku tawar. Tak secuil pun merasa kasihan atau bersalah.
"Sudah, ya." Dimatikannya sambungan telepon.
"Akbar ...."
"Aku tak apa-apa." Senyumnya tampak sedih.
"Apa aku terlalu menekanmu?" tanyaku hati-hati karena ia terlihat kebingungan.
"Tidak! Ini keputusanku. Tak ada yang menekan aku. Kau tenang saja, SyaiBar. Aku sudah memilihmu. Tak ada yang bisa mengubahnya." Aku tersenyum menang. "Hanya kau satu-satunya yang akan menghuni hatiku. Sampai kapan pun. Ini janjiku!"
Ada yang hangat dan manis menyentuh bibirku secara tiba-tiba. Sekilas, tapi mampu mengalirkan energi bahagia yang luar biasa indahnya. "Aku akan patri janjimu itu di dalam hatiku."
***
"Syai ... ikut aku, yuk!"
"Ke mana? Panas gini. Males, ah!" tolakku mengibas-ngibaskan tangan kiri ke wajah.
"Milih mebel buat isi rumah."
"Nyari apa, sih?" cecarku masih ogah-ogahan.
"Udah, ikut aja! Mau ikut atau aku *****?" godanya dengan senyum dan tatapan mesum.
"Sensored! Masih lima bulan lagi!" Pelototku lari menghindar.
Si tengil itu tertawa seolah merasa menang sudah berhasil memaksaku menuruti keinginannya. Baiklah. Aku ikut saja. Kayaknya seru juga, tuh. Milih mebel buat isi rumah yang akan kami tempati setelah menikah. Rumah Akbar sudah usai dibangun minggu lalu. Namun, aku belum diajak melihat. Katanya, mau jadi surprise saja nanti usai ijab kabul.
Kuajak Akbar masuk toko furniture yang sudah kukenal baik pemiliknya.
"Mau beli apa?" tanyaku mengedarkan pandangan. Kami menyusuri lorong panjang yang kiri kanannya berdiri sombong almari kayu jati yang kokoh, berbahan plastik hingga bahan partikel board.
"Almari kayu tiga pintu yang bawahnya ada laci gede buat ...." Akbar menjeda kalimatnya seraya mendekatkan wajah ke telingaku. "Naruh dalaman kita."
Aku cubit perutnya gemas. Sumpah! Wajahku terasa panas. Malu!
"Ah, itu kayaknya cocok!" Tunjukku buru-buru mengalihkan perhatian. Jantungku sudah berdentam tak keruan, soalnya.
"Makanya aku ajak kamu. Seleramu, kan, bagus. Kita periksa, yuk ... dalamannya."
"Loh ... bener 'kan? Apa yang salah dari kalimatku, Syai?" Seringainya mengelus kuping kiri yang memerah.
"Udah, buruan periksa. Kalo cocok, aku tanyain ke Cacik Eli harganya."
Akbar tampak serius mengecek almari kayu jati polos tanpa ukiran ini. Dua laci panjang berjejer di bagian bawah juga dibuka. Ia manggut-manggut dan tersenyum.
"Tiga pintu. Tingginya ini sekitar 175 centimeter. Lebar dua meter. Muat buat baju kita dan ... kita," bisiknya lagi cekikikan.
"Porno," sungutku jengah.
"Mbak Syaira mau beli apa, nih?" sapa wanita tambun datang mendekat.
"Almari, Cik. Ini berapa?"
"Buat Mbak Syaira tujuh juta aja."
"Pas-in lagi, dong," bujukku tersenyum. Akbar diam saja melihatku melancarkan ilmu tawar menawar.
"Tujuh kurang empat ratus, deh." Wanita oriental itu tertawa.
"Enam setengah, ya."
"Mau tambah lagi yang lain, nggak? Nanti saya kasih harga tarik dorong," tawar Cik Eli merayu.
"Lemari aja, Bar?" Tolehku ke belakang.
"Hmmm ... kayaknya harus ganti springbed juga. Biar enak tidur di bed baru sama kamu."
"Mulai, deh." Akbar cuma terkekeh saat aku mendelik.
"Ada. Sebelah sini, Mbak!" Cik Eli memberi isyarat agar kami mengikutinya.
Berderet dan bertumpuk springbed dari berbagai merk terhampar di ruangan luas paling belakang.
"Bed aja. Gak usah pake ranjang. Lesehan lebih enak. Kalo kita ngegelundung gak terlalu sakit jatuhnya."
"Tengil mesum, ih!" Lagi, kucubit pinggangnya gemas.
Tawanya pecah. "Pilihin, Syai. Budgetku sepuluh, nih. Yang pegasnya kuat dan bagus, ya." Ah, kerlingan nakal yang kutahu maksudnya.
Aku lumayan tahu soal keunggulan tiap brand mebel dengan baik. Si tengil itu hanya cengengesan saat kulirik.
"Ini aja. Sesuai budget. Udah bagus ini kualitasnya. Tahan dua puluh tahun lebih." Rekomku menunjuk bed warna putih.
"Merah aja lebih menggelora."
"Ntar juga tertutup seprei, Bar," bantahku.
"Merah!" Pelototnya dengan senyum dikulum.
"Ya, udah."
Kudekati Cik Eli yang duduk santai di sofa indah. "Sama itu, Cik!"
"Pas sepuluh."
"Kembali satu juta, ya, Cik."
"Ramin ... Supar! Angkut ini, nih!" teriak wanita itu tersenyum.
Akbar menuliskan alamatnya. Dia minta dua barang besar itu langsung diantar ke rumah orang tuanya. Untuk ongkos kirim, kusodorkan seratus ribu dari uang pribadi.
Membayangkan, betapa bahagia aku, bakal menghuni rumah baru dan tidur di kasur anyar bersama Akbar. Tak sabar rasanya menunggu waktu itu tiba. Bahagia membuncah begini hebatnya. Sebentar lagi ... 'Nyonya Akbar' akan jadi panggilan baruku.
***
Dua minggu setelah itu, Akbar tak pernah lagi menjawab chat maupun teleponku. Aktif, tapi tak ditanggapi. Padahal bulan depan adalah rencana Akbar datang melamar. Ada apa ini?
Teman kantor menyuruhku datangi rumah orang tuanya. Aku tak mau. Merasa merendahkan diri sendiri jika aku datangi rumahnya.
Gelisah, sedih, bingung, mengganggu konsentrasiku bekerja. Akbar, apa yang terjadi?
Mencoba bertanya pada Tomi. Jawaban pria berkulit gelap itu membuatku lega. Ternyata sudah seminggu Akbar mengikuti pendidikan dan latihan di Jakarta. Mengapa ia tak jujur saja dan tak pernah sekali pun menghubungiku? Memang, sih, saat pamit, ia bilang, mungkin tak bisa sering-sering chat atau telepon. Katanya, ia akan sibuk selama dua minggu. Tak bilang juga mau sibuk apa. Ternyata lagi diklat. Ya, sudah tak apa.
Hari ke sepuluh. Ponselku berdering. Akbar? Dia menelpon. Ah, betapa kangennya aku dengan bocah jahil itu.
"Halo?" Aku antusias sekali menerima teleponnya.
"Syaira sehat 'kan?"
"Alhamdulillah. Kamu?"
"Sehat juga. Maaf, ya. Nggak bisa lama-lama nelponnya. Ini juga nyuri waktu. Lagi di toilet. Jadi bisa nelpon."
"Dasar, hahaha ...." Aku tertawa geli. Weni yang di sebelahku langsung menoleh. Kuberi ia isyarat agar diam.
"Syaira ...."
"Ya?"
"Kangen."
"Kangen juga." Kuusap pipi dengan pelan. Duh, malu.
"Syaira ...."
"Ya?"
"Kau ... menyintai aku?"
"Iya, tentu saja."
"Terima kasih. Aku juga ... menyintaimu. Sangat sangat menyintaimu. Sangat ...."
"Kau ... kenapa?" Kutangkap ada nada aneh dari suaranya yang agak parau.
"Tak apa. Aku hanya sedih karena terlalu merindukanmu."
"Kau menangis?" Aku tak puas dengan jawabannya.
"Karena terlalu rindu."
"Tiga hari lagi, kan kita bisa ketemu."
Tak ada respon. Hanya terdengar napasnya yang dihela sangat berat berulang kali.
"Jaga dirimu baik-baik, Syai. Jangan lupa untuk selalu cantik."
"Akbar?" Perasaanku tak keruan secara tiba-tiba.
"Teruslah jadi Syaira seperti yang aku kenal selama ini. Selalu! Gadis tangguh, cerdas, mandiri, tegar, tapi tetap cantik. Judesnya juga Iya."
"Akbar!" Aku agak membentak.
"Aku akan selalu menyintaimu. Aku janji."
"Ak ...."
Tuttt ... tuttt ... tuuuttt ....
Dia memutus teleponku secara sepihak. Kenapa, sih? Ada apa ini?
***
Sudah dua minggu, lebih dua hari. Akbar tak muncul juga. Aku telepon sama sekali tak diangkat. Sms juga tak dibalas. Chat Line tak diread.
Tiga hari sudah aku berusaha menghubunginya. Namun, tak ada respon juga. Weni usul lagi agar aku mendatangi rumahnya di gang empat.
Tidak! Ia belum pernah sekali pun mengajakku kerumah dan mengenalkan aku pada keluarganya. Ia janji akan mempertemukan keluarga besar kami saat lamaran. Kalau sekarang tiba-tiba aku datang ke sana dan bertanya soal Akbar, apa tidak menjatuhkan harga diriku sendiri itu namanya?
Lebih baik aku bertanya pada Tomi lagi saja. Mereka bersahabat. Pasti ia tahu kabar Akbar.
Baru saja aku hendak mengetik, tiba-tiba ada sms masuk. Hmmm ... nomor asing. Dari siapa ini?
Kubaca baik-baik isi sms itu. Tiba-tiba tubuh bergetar hebat tanpa bisa kukendalikan. Pandangan berputar dengan cepat. Masih sempat kuingat, almari dan bed baru itu. Ulu hatiku mendadak nyeri, perut bergolak hebat ingin muntah.
"Tengil! Kau menjijikkan! Go to hell ... with your woman," jeritku tak terkendali sebelum benar-benar kehilangan kesadaran. Samar kudengar, seseorang berteriak memanggil dan berlari kearahku.
Gelap. Pekat!