
Tiga bulan menjalani rumah tangga dengan Restu, Syaira lalui dengan perasaan hampa. Ia hanya sekadar menggugurkan kewajiban sebagai seorang istri, tak lebih!
Akhirnya, proyek Restu berlanjut lagi. Suaminya itu harus kembali ke Kalimantan. Syaira sangat bersyukur. Itu artinya, ia bisa cuti dari kegiatan yang sangat menekan perasaannya. Cuti bertugas sebagai istri!
"Wajahmu cerah." Sapaan akrab itu mampir di telinga Syaira.
"Kelihatan banget, ya?"
"Aku bisa melihatnya dengan jelas, karena aku mengerti dirimu."
"Rama ...." Syaira menatap sedih.
"Tenanglah, Syai. Aku baik-baik saja. Maaf ... aku sering memerhatikan kalian saat di kost. Kau tampak tertekan saat bersama suamimu. Tapi, wajahmu semringah saat tanpa dia. Aku benar 'kan?"
"Sahabat terbaikku sedang lowong gak, nih?" Syaira mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Off sampe besok siang. Mau ke mana, nih?" Tawa Rama cerah sambil duduk di kursi sebelah Syaira.
"Cari jagung bakar di taman kota, yuk!"
"Siap, ratu hatiku."
Tawa berderai itu menunjukkan bahwa hubungan mereka masih baik. Syaira merasa sangat lega.
"Eits ... entar ada yang cemburu nggak, nih?" Syaira tersenyum menyelidik, sambil mencolek lengan Rama.
"Dia nggak tau. Lagi meeting di kantor sampai malam."
"Selingkuh dong, nih."
"Kamu juga." Dicubitnya ujung hidung Syaira dengan gemas.
Wanita itu mengerjapkan mata pura-pura ngambek. Detik kemudian, tawa ringan itu terlepas begitu saja tanpa beban.
"Ya, udah, kalo sama aja. Sama-sama tau aja antara kita hehehe," ujar Syaira.
Rama menikmati tawa serak renyah itu dengan hati tak keruan. "Jangan bikin aku berubah pikiran, loh."
"Lhaaa ...?" Mata Syaira membulat.
"Jangan membuatku berpikiran untuk merebutmu dari suamimu." Kerling Rama dengan senyum penuh arti.
"Buruan ... ambil kunci mobilnya sana!"
*****
Nyaris dua tahun telah berlalu sejak remuknya asa dan hati Syaira. Hidupnya kembali normal.
"Syaira!"
"Hmmm ...."
"Ada yang nyari, tuh!"
"Siapa, sih? Nanggung, nih." Syaira mendengkus keras.
"Nggak tau. Nggak mau lepas helm. Buruan sana, gih!"
"Ihhhh ... siapa sih?!" Dengan kesal, Syaira bergegas nge-save ketikan di komputer. Ia tak mau pekerjaannya seharian ini jadi sia-sia, kalau lenyap begitu saja.
Dengan malas, diseretnya langkah keluar ruangan. Terlihat, ada seseorang berdiri di lobi. Masih memakai jaket, masker, helm full face gelap.
"Itu?" Tunjuk Syaira saat bertanya pada staff front office.
"Iya, Bu. Dia yang nyariin Ibu Syaira."
Benaknya dipenuhi tanya. Syaira mendekati sosok yang berdiri di sebelah ambang pintu. Syaira tak bisa menebak, siapa orang itu. Posturnya berbeda dari Restu, apalagi Rama.
"Maaf ... siapa, ya?" Sosok itu hanya membuka kaca helm.
"Ini aku."
Syaira memicingkan mata. "Aku cuma lihat matamu. Bagaimana aku bisa mengenalimu?" Syaira tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
"Apa kabar?" Tamu asing itu menarik masker yang semula menutupi separuh wajah.
Badan Syaira sontak gemetar. Dadanya terasa sakit seperti digedor dengan kuat.
Sambil menelan saliva, Syaira mundur beberapa langkah. Tubuhnya agak limbung.
"Mau apa kau?" Suaranya hanya tercekat di kerongkongan, tak mampu disuarakan.
"Kau baik-baik saja?" Sosok yang sangat ia benci sekaligus ia rindukan itu, maju hendak menangkap tubuh Syaira
"Mundur!" pekiknya tertahan. Tanpa menunggu reaksi pria itu, Syaira segera berlari masuk kembali ke ruang kerjanya.
Weni yang menyaksikan semua kejadian itu hanya menghela napas berat. Hatinya ikut nyeri. Gegas, diambilnya segelas air mineral dan diangsurkan pada sahabatnya. "Minumlah dulu. Tenangkan dirimu."
Syaira yang sudah duduk di kursi putar segera menyambut minuman dengan tangan bergetar. "Te-terima kasih."
Dengan cepat, diteguknya minuman itu sampai tandas. Napasnya tersengal. Ingin menjerit dan menangis, tapi entah mengapa, air matanya tak bisa keluar. Sesaknya benar-benar menyakiti seluruh urat nadinya!
"Tenangkan dirimu, Syai." Weni mengusap punggung Syaira yang tersengguk tanpa air mata. Mata kecil itu melebar, merah seperti menahan gelegak amarah.
"Mau apa dia muncul lagi?" keluh Syaira tak habis pikir.
"Jangan dipikirkan. Di sini saja dulu sampai jam kantor usai."
Syaira cuma mengangguk. Mencoba mengalihkan pikiran, Syaira kembali meneruskan pekerjaannya. Sering salah ketik, membuatnya mengentakkan kaki. Kesal!
Syaira celingukan mencari sosok itu di luar kantor melalui jendela di ruangannya. Diempaskan napas lega. 'Mungkin, ia sudah pulang!' Begitu pikir jaksa cantik itu.
Syaira tergesa keluar dari lobi. Semua orang kantor sudah pulang. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya, jadi pulang paling akhir. Langkahnya makin dipercepat agar segera sampai kost.
"Syaira! "
"Akh!" Syaira terlonjak kaget saat sesosok tubuh menghadangnya ketika ia sedang berjalan melintasi tempat parkir.
Seseorang itu muncul dari balik pohon mangga di halaman. Kini sosok itu tampak jelas berdiri di hadapan Syaira. Tanpa memakai helm dan masker.
"Apa-apaan kau ini?!" geramnya refleks melayangkan sebuah tendangan ke tulang kering pria yang telah mengagetkannya itu.
"Aduuuhhhh ...!" Sosok itu terbungkuk memegangi kakinya sebelah kanan.
Syaira mengempaskan napas keras dan bergegas menuju gerbang utama kantor.
"Tunggu!"
"Lepaskan! Kau menjijikkan!" Syaira berontak saat lengannya dicengkeram dengan kuat oleh pria yang ternyata ... Akbar!
"Aku datang menjemputmu."
"Aku bisa pulang sendiri. Tak perlu repot-repot begitu! Aku tidak order ojek," sengatnya sinis.
"Menikahlah denganku!" Akbar tak melepaskan cengkeramannya. Tatapan matanya tajam. Tak ada seulas senyum pun di bibirnya.
"Jangan mengejekku! Pulang sana, ke istri tercintamu!"
"Aku sudah bilang dari tadi ... aku datang menjemputmu. Aku ingin menikahimu!" Syaira terhenyak.
"Abis makan apa kau? Bicaramu ngawur! Lepaskan!"
Akbar melepaskan lengan Syaira dan menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajah.
"Maaf, Bu Jaksa."
"Tau darimana kau?" Mata Syaira menyipit sinis. Tapi, dadanya bergemuruh hebat antara terkejut, senang dan amarah lama hadir kembali.
"Tak ada yang tak aku tau."
"Baguslah kalo sudah tau! Aku bisa membuat tuntutan atas perbuatan tidak menyenangkan!" gertak Syaira angkuh.
"Galakmu tidak berkurang sedikit pun. Padahal, sudah hampir dua tahun berlalu." Seulas senyum yang sangat Syaira rindukan itu, membuatnya nyaris menangis dan menghambur ke dalam pelukan Akbar.
"Sudah! Aku tak punya waktu untuk orang tak penting macam kamu!"
"Tidak penting? Betulkah? Aku melihatmu hampir menangis sejak tadi." Celetukan enteng itu membuat wajah Syaira pias.
"Ngawur!" Jaksa galak itu membuang muka. Ia menyembunyikan buliran bening yang jatuh ke pipi, dari pandangan Akbar.
"Jangan bohong sama diri sendiri. Itu menyakitkan," bisik Akbar di belakang kepala Syaira.
Tubuh semampai terbalut seragam kejaksaan itu menahan napas. Desir indah itu merayap cepat hingga ke sumsum tulang. Hangat.
"Aku merindukanmu. Sangat ...." Akbar memeluk tubuh Syaira dari belakang.
Ingin menolak, tapi hati wanita berkulit putih itu menyuruh untuk diam dalam dekapan Akbar.
"Kau tak merindukanku, hmmm?" Bisikan lembut itu membuat Syaira melayang. Apalagi rambut dan pundaknya dihunjami kecupan lembut.
"Bar ... jangan." Syaira melemah hampir saja menyerah.
"Kau masih menjaga hatimu untukku 'kan?"
Tatapan mesra yang dulu memabukkan itu, kini terasa menusuk, menambah nyeri di ulu hati. Sakit yang sempat ditepis kini kembali menghajar tanpa ampun.
"Akbar ...."
"Aku sudah pernah berjanji, bahwa hati dan cintaku hanya untukmu 'kan? Aku tak pernah mengingkarinya."
Syaira menghela napas berat. Dengan langkah gontai, ia menuju bangku panjang di taman kecil samping kantor. Duduk dengan tenaga serasa habis.
"Kenapa kau kembali?" Kepalanya tertunduk dalam.
"Aku memenuhi janjiku padamu." Akbar duduk di sisi Syaira. Rapat.
"Kau kemanakan istrimu?"
"Aku menjemputmu untuk menikah denganku. Itu artinya, aku sudah tak ada ikatan dengan siapa pun."
Syaira mengangkat wajah dan menatap tak percaya. "Apa maksudmu?"
"Kami sudah selesai. Hanya enam bulan." Akbar menampakkan ekspresi santai, tanpa beban.
"Really?" Dicarinya kejujuran dari sorot mata Akbar. Tak ada nada becanda sama sekali.
"Bagaimana bisa?"
"Rumah tanggaku disetir orang tuanya. Hanya ada pertengkaran tiap hari. Saat mertua mendesakku meninggalkan anaknya, kukabulkan saja keinginan mereka. Selesai!" Akbar tampak mengempaskan napas lega. Diangkatnya kedua tangan tinggi-tinggi, menggeliat meluruskan punggung.
Pria yang rautnya tampak kusut seperti membawa beban hati itu menoleh dan tersenyum. "Mereka justru membantuku tanpa mereka sadari." Akbar mengelus pipi Syaira lembut.
Syaira spontan menutupi jemari kirinya dengan tas kerja. Senyumnya terulas sedih.
"Kenapa?"
"Tak apa." Syaira menggeleng dan melemparkan pandangan ke tempat lain.
"Sekarang ... kita bisa bersatu seperti impian kita. Aku sudah bayar janji sialan itu. Dan aku, butuh waktu beberapa bulan, untuk mengumpulkan keberanian menemuimu kembali."
Syaira menghela napas berat lagi. Ia tak bisa berkata apapun, selain menahan debur jantungnya yang berdentam keras. Bimbang mulai menggerogoti hati.
"Syaira."
Tanpa diduga, Akbar menarik tangan kiri wanita itu dari pangkuan, yang semula Syaira tindih tas kerja.
"Apa ini?!" Akbar memekik saat melihat cincin polos melingkar di jari manis Syaira. Matanya nyalang meminta jawaban.
Keduanya saling tatap dan sama-sama pias. Hening. Hanya desau angin sore dan suara kendaraan yang lalu lalang di depan kejaksaan.
"Itu ... Itu ...." Syaira tergagap. Ia menyesal! Kenapa tak melepas cincinnya sedari tadi.
"Kau ... sedang mengerjai aku 'kan? Ini bohongan 'kan? Kau hanya ingin membalasku 'kan?" cecar Akbar mengangkat dan mengguncangkan tangan kiri Syaira.
Ditariknya tangan yang mulai nyeri. "Sakit. Lepaskan!" Syaira mengurut pergelangan tangan kiri yang sempat dipelintir oleh Akbar.
"Siniin!"
"Jangan! Akbar ... kau gila!"
Syaira mencoba menarik tangan kirinya lagi saat Akbar merenggut paksa jemari lentik itu. Geram, Akbar mencengkeram pergelangan tangan mulus dan dengan marah mencoba meloloskan cincin polos itu dari jemari Syaira.
"Apa yang kau lakukan?!" Terjadi adu tarik menarik tangan.
"Aku sudah cukup gila karena dipaksa berpisah denganmu. Dan ini ... apa ini?! Kau berniat membuatku jadi lebih gila lagi, begitu?!"
"Jangan!"
Cincin itu akhirnya lolos dari jemari lentik. Mata Akbar nyalang dengan napas memburu memandang benda bulat berkilau di jari kanan. Sekuat tenaga, dilemparnya sejauh mungkin cincin pernikahan Syaira.
"Apa-apaan kau!"
Syaira bangkit dan berlari ke arah jatuhnya cincin. Si jaksa cantik itu membungkuk coba menemukan cincin itu kembali. Jantungnya berdetak cepat karena panik.
Akbar tampak emosi menarik lengan kanan Syaira. "Biar saja! Tak usah dicari lagi! Aku akan menggantinya dengan cincin kawin terukir namaku!"
"Kau gila!" Syaira kalap mendorong tubuh Akbar dengan kuat. Tubuh gagah itu sempoyongan, tak siap dengan reaksi wanita yang ia cintai itu.
"Kenapa kau ambil keputusan sendiri tanpa bertanya padaku?!" Akbar menatap tajam. Marah, sedih dan terkejut menerima kenyataan menyakitkan bahwa Syaira sudah menikah!
"Memang kau siapa?!"
"Aku mencintaimu!"
"Tapi ... kau juga yang meninggalkanku tanpa bertanya lebih dulu, apakah aku memberi izin ato tidak!"
"Itu ...."
"Egois! Kau bertindak sesuka hatimu tanpa mempertimbangkan perasaanku! Kini kau marah, saat aku memilih hidupku sendiri."
Akbar tercenung. Semua yang dikatakan Syaira memang benar!
"Di mana kau, saat aku terbaring bagai mayat hidup di rumah sakit? Di mana kau, saat aku down berat hampir mengakhiri hidupku sendiri, hah?!"
"Syaira ...." Akbar menatap sedih. Hatinya tercabik melihat ada luka begitu besar dari sorot mata kalap Syaira.
"Di mana dirimu saat itu?! Tak ada 'kan? Kau sedang asyik menikmati bulan madumu."
"Aku tidak menikmatinya. Harus bilang berapa kali lagi, Syai?! Aku terpaksa!"
"Persetan! Apapun alasanmu, intinya, kau tetap meninggalkan aku!"
"Kenapa kau tak menungguku?"
"Karena kau tak pernah berjanji untuk kembali!"
Akbar makin terpojok. Iya! Ia memang tak pernah berjanji untuk kembali. Bukan salah Syaira kalau mengambil langkah untuk menikahi pria lain.
"Kenapa kau tak bisa menungguku sebentar lagi saja? Sudah berapa lama?" Akbar menghela napasnya. Sesak!
"Lima bulan."
"Lima bulan? Baru lima bulan lalu?!" Akbar terpekik penuh sesal.
Andai ia punya keberanian dan datang lebih cepat lagi waktu itu, pasti Syaira sekarang sudah jadi miliknya.
"Kenapa kau tak datang lebih cepat? Kenapa?!" Syaira menangis kesal. Rasa sesalnya begitu dalam.
"Aku belum berani menemuimu saat itu."
"Pengecut!" Terdorong amarah yang belum sempat terlampiaskan dulu, Syaira maju dan melayangkan tangan sekuatnya ke wajah Akbar.
Akbar memekik dan terhuyung. "Maafkan aku, Syaira." Dielusnya wajah yang terasa sangat panas.
"Kalo aku sedih, itu karenamu!" Didorongnya dada Akbar hingga mundur beberapa langkah.
"Kalo aku sakit, itu karena kau!" Didorongnya lagi dada Akbar.
"Kalo aku menderita, itu juga karena ulahmu!" Akbar terhuyung lagi saat Syaira mendorongnya.
"Kalo hidupku tak bahagia, semua itu salahmu! Salahmu! Aaa ...!" Syaira menjerit sekuatnya tanpa peduli apapun lagi.
Akbar tak tahan lagi. Ia tak terima terus-terusan dipojokkan Syaira. Ia ingin membela diri, agar Syaira tahu situasi sesungguhnya.
"Kau pikir ... aku tak sedih harus berpisah denganmu?" Syaira tergagap kaget. Ia mundur dua langkah.
"Kau pikir, aku tak menderita juga?" Syaira mundur lagi.
"Kau pikir, hanya kau yang tersakiti dalam hal ini? Kau pikir, aku bahagia terjebak dalam pernikahan konyol akibat ketololan di masa muda?! Aku juga tak mau, Syai ... tak mau!"
Akbar dengan wajah merah padam, merengkuh pinggang Syaira. Awalnya, Syaira memberontak. Ditahannya dada Akbar dengan kedua tangannya, agar tubuh mereka tak terlalu lekat.
Angin sore itu berembus agak kencang. Mempermainkan rambut Syaira yang menampari lembut wajah Akbar. Hening, hingga mereka bisa mendengar detak jantung mereka sendiri.
Akbar dan Syaira bersitatap lama. Mata yang saling memojokkan itu, akhirnya sama-sama meredup. Tak ada yang salah di antara mereka. Semua karena keadaan yang tak bisa dihindari.
"Syaira, tak taukah kau ... aku terpukul melihatmu memakai cincin kawin yang bukan dariku. Bukan aku yang jadi suamimu. Maafkan aku ... mungkin benar katamu. Semua salahku. Semua berawal dari diriku."
"Akbar ...."
Akbar memeluk Syaira yang menangis histeris. Ditahannya sakit yang mendera punggung karena Syaira memukuli dengan emosi. Terlihat dari cara wanita itu menangis, sakit yang dirasakannya sangatlah menyiksa. Akbar diam-diam menyeka mata yang basah. Hidungnya merah menyimpan tangis. Rasa sedih dan marah yang mereka tahan sama besarnya.
"Aku akan lakukan sesuatu, agar kita bisa bersama lagi. Tenanglah ...."
Akbar mengusap punggung Syaira lembut. Diciuminya kepala wanita pujaan itu dengan rasa rindu yang begitu menggebu.
"Jangan bertindak konyol lagi." Isak Syaira meremas rambut Akbar bagian belakang.
'Tidak! Kali ini aku tak akan bertindak konyol lagi. Tapi ... aku akan lakukan hal gila untuk merebutmu kembali,' gumam Akbar lirih.