Love You Forever

Love You Forever
Chapter 34


Xiao Bao Yu


Tadi siang ada berita gembira yang selalu dinantikan oleh kami sekeluarga. Ternyata Putraku diam-diam pergi hanya untuk menyelamatkan Chika. Suamiku, baru saja menelepon agar segera mempersiapkan acara makan-makan.


Aku langsung meninggalkan restoran begitu mendengar berita bahagia ini meskipun saat itu restoran tengah ramai mengunjungi tempat kami. Aku menyerahkan segalanya pada karyawanku. Sudah ada 6 orang karyawan, tapi aku tak mau membiarkan mereka menanggung semuanya, apalagi jika restoran ramai, aku pun harus turun tangan membantu.


Setelah dari sana, aku menyempatkan diri singgah di supermarket membeli bahan-bahan makanan. Stok di rumah sudah mulai menipis, takkan cukup menggelar acara besar nanti malam. Apalagi Suamiku mengundang beberapa rekannya yang terlibat dalam Investigasi kemarin.


Aku pun singgah di sebuah butik membeli beberapa set pakaian untuk Chika, calon menantuku. Sudah sebulan mereka di sini, sebentar lagi akan kembali ke Tokyo. Mungkin akan sulit bagiku bertemu dengannya karena dia sudah harus bekerja.


Aku memilih dres yang sekiranya cocok untuknya, Gadis itu selalu berpenampilan sederhana tapi tak mengurangi kecantikannya sedikit pun. Selain itu, aku juga membelikannya sepatu dan tas untuk acara graduation nanti. Tentu saja, semua itu harus dicocokkan dengannya. Semoga saja dia menyukainya.


Kriing!


[Ma, kau di mana? Jemput aku sekarang, aku sangat kelaparan.]


[Aku sedang berbelanja, bersabarlah! Aku akan segera ke sana nanti.]


Aku mematikan telepon sebelum Jia Li memesan banyak hal. Gadis manja itu selalu saja begitu setiap kali meneleponku untuk segera menjemputnya. Tak jarang aku datang terlambat karena harus memenuhi permintaannya. Dan itu terjadi berulang kali.


Setelah melakukan pembayaran, aku segera pergi menuju sekolah Jia Li. Ponselku terus berdering, aku hanya mengabaikannya, itu pasti dari Jia Li. Entah kenapa anak itu senang sekali membuatku kerepotan mengurusnya.


Jia Li


"Mengapa dia tak menjawab telepon? Aish, Ma, kau keterlaluan! Aku sedang datang bulan sekarang."


Aku menghentakkan kakiku sembari terus menatap jalanan mencari keberadaan Mama. Sudah sejak tadi aku berdiri di depan gerbang sekolah, kakiku pegal sekali. Beruntung saja, hari ini aku membawa jaket, ku pergunakan menutupi noda darah di celanaku. Kalau tidak, aku akan menjadi bahan candaan teman-temanku.


"Itu dia!"


Aku berlari mendekati mobil yang baru saja tiba.


"Kenapa tak menjawab telepon?!" ketusku pada Mama.


"Kau ingin aku terus-menerus memenuhi segala permintaanmu?" Mama melirik sinis.


"Ma, aku sedang datang bulan! Darahnya sudah menembus celanaku."


Mama mengerem mendadak, "Astaga Jia Li! Aku sudah memintamu membawa pembalut di tanggal periode untuk mewanti-wanti hal ini terjadi." Dia menyahut dengan wajah bersungut-sungut.


Lalu, menjewer telingaku, tangannya itu cepat sekali bergerak. Bahkan aku tak sempat menepisnya. Namun itu memanglah salahku, seharusnya aku membawanya tapi aku pun malu jika teman-temanku membuka tas dan melihat benda itu. Sepanjang jalan, Mama terus mengomeliku sampai akhirnya kami tiba di rumah, dia terus memarahiku.


*


*


"Jia Li, kenapa dengannya?" tanya Xu Jun Hui.


Xiao Bao Yu melengos pergi tanpa menegur Suaminya di ruang tengah.


Jia Li cemberut, "Pa, jangan bertanya! Aku sedang tidak mood." Kemudian bergegas pergi menuju ke kamarnya.


"Kakakmu dan Chika dalam perjalanan kemari, cepat bersihkan diri dan bantu mereka di dapur! Tak ada penolakan!" tegas Xu Jun Hui.


Jia Li berjalan dan terus menggerutu. Pasalnya, perutnya terasa sakit sekali, namun harus membantu mereka memasak. Suasana hati Jia Li semakin buruk, ditambah lagi dengan tugas-tugas dari sekolah.


"Kau! Aish! Mengapa perutku terasa begitu sakit," Jia Li memegangi perutnya.


"Arrghhh .. Awas saja kau penghianat! Emosi ini semakin membuat perutku sakit!" Dia meracau begitu sampai di kamar.


Gadis itu baru saja putus dengan pacarnya yang ketahuan selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Jia Li memergoki mereka berdua di perpustakaan sedang bermesraan tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


"Maaf Jia Li, aku mendekatimu agar lebih dekat dengan sahabatmu."


"Jia Li, aku menyukai pacarmu sebelum kalian berpacaran dan kami sama-sama saling mencintai."


Kata-kata itu masih terngiang-ngiang di telinga Jia Li, orang terdekatnya tega mengkhianati dan memainkan perasaannya.


"Cinta? Saling mencintai? Cih! Kata-kata menjijikkan itu membuatku ingin muntah saja."


"Aish! Orang-orang seperti mereka tak pantas berteman denganku! Baiklah, Jia Li, lupakan mereka dan fokus pada ujiannya. Aku harus mendapatkan nilai yang bagus dan pergi ke Tokyo! Buktikan pada mereka kau lebih dari itu."


"Lihat saja nanti!" Dia menyeringai menatap pantulan dirinya di cermin.


"Tapi, hatiku masih sakit!!!" Jia Li mengacak-acak rambut lurusnya.


Malam Pesta


Seorang lelaki paruh baya dengan kacamata tebalnya berjalan menuruni tangga sembari mengedarkan pandangannya pada tamu-tamunya yang menikmati suasana pesta.


"Selamat datang, Detektif Ma!" Dia menyalami tangan rekannya.


"Tuan, Jun! Terima kasih atas suguhannya." Detektif Ma menerima uluran tangan Xu Jun Hui.


"Sudah ku transfer, ya!" ucap Xu Jun Hui.


Detektif Ma membentang senyum lebar, "Terlalu banyak untukku."


Dia merasa tak nyaman ketika melihat angka-angka yang masuk dalam rekeningnya beberapa saat yang lalu.


"Jangan sungkan padaku, kau sudah melakukan tugasmu dengan baik." balas Xu Jun Hui. "Silahkan nikmati pestanya, aku akan menyambut para tamu yang lain,"


Detektif Ma memandang punggung lelaki yang baru saja mengobrol singkat dengannya tadi. Xu Jun Hui terlihat sangat bahagia sekali malam ini. Entah karena Chika kembali atau hal lainnya, Detektif Ma tak tahu jelas penyebabnya.


"Xu Jun Hui"


Detektif Ma kembali meraih gelas bir di atas meja. Seketika sorot matanya berubah, seakan tak suka melihat kemeriahan pesta besar dalam rumah Xu.


"Xu Jun Hui" Dia berbicara dalam benaknya. Lalu menuangkan anggur lagi, meskipun rasanya agak sedikit pahit, tapi dia semacam menikmatinya.


Di sisi lain, Xiao Bao Yu juga tengah mengobrol dengan teman-temannya yang menodongnya dengan berbagai macam pertanyaan mengenai asal-usul keluarga Chika. Tak heran, pasalnya keluarga Xu juga mengutamakan bibit dan bobot calon menantunya.


"Kenapa membahas itu? Bagiku dia adalah anak yang baik saja sudah cukup. Lagipula, yang akan menjalankan pernikahan adalah Putraku, bukan aku." jawabnya.


"Bao Yu, kau juga harus tahu dari mana dia berasal! Jangan asal memilih," ucap salah satu temannya yang memang suka sekali menghujat orang.


"Diamlah! Jangan sampai Jun mendengarmu, dia takkan segan-segan merobek mulut pedasmu itu!" Xiao Bao Yu mencebik padanya.


"Bukan begitu maksudku, kau janganlah marah padaku!" elaknya seraya membujuk Xiao Bao Yu yang memasang wajah kesal.


"Urusan memilih calon itu tugas Putraku, aku hanya melaksanakan kewajibanku saja. Kau juga tahu bagaimana watak anak itu, dia sama saja seperti Ayahnya," Xiao Bao Yu menyilangkan kakinya.


"Tapi yang terpenting adalah-" Dia melihat wajah teman-temannya satu persatu.


"Aku sudah menyukainya! Baiklah, aku harus pergi dulu, kalian makanlah. Katakan padaku jika ada yang kurang, ya!"


Xiao Bao Yu melengos pergi menemui Chika dan Leo di lantai atas. Chika sedang tak enak badan, Leo menyuruhnya untuk tetap istirahat saja. Biarlah ada Mama dan Papanya yang menyambut para tamu.


Setelah sampai di rumah tadi sore, tiba-tiba badan Chika menjadi demam. Telapak tangan dan kakinya terasa sangat dingin serta kulitnya berubah pucat pasi. Beruntung Leo cepat membawanya berobat.


"Pejamkan matamu! Aku berjaga di sini," pinta Leo.


Chika hanya mengangguk-angguk. Sayang sekali, dia tak bisa ikut serta dalam pesta. Kepalanya terasa sakit, dibuat duduk saja rasanya seperti mau tumbang.


Leo sudah menemaninya sejak kembali dari rumah sakit tadi, dia begitu mengkhawatirkan sang kekasih. Padahal, sebentar lagi, mereka akan kembali ke Tokyo, namun tiba-tiba saja Chika jatuh sakit. Beijing seakan-akan menahan dirinya untuk tetap tinggal.


"Aku akan ke bawah sebentar, aku sudah meminta Rui menjagamu. Apa ada hal lain yang kau inginkan sebelum aku turun?" Leo membelai lembut pipi Chika.


Chika menggeleng, "Tidak, pergilah! Aku akan tidur saja." ucapnya seraya memejamkan mata.


Leo mengecup pucuk kepala Chika, "Lekaslah membaik, ya!"


Pria dengan tubuh jangkung itu membenarkan selimut Chika dan bergegas pergi menuju ke lantai bawah. Sebelum menutup pintu, dia sempat tersenyum dan menoleh ke arah Chika yang sudah tidur pulas.


Sedangkan Jia Li, gadis itu belum keluar sama sekali dari kamarnya. Juga tak mengindahkan perintah Papanya. Matanya sembab karena menangisi hubungannya dengan kekasih yang sudah kandas di tengah jalan.


"Padahal kau sudah berjanji padaku, kita akan pergi ke kota terlarang minggu ini."


Jia Li masih menangis sesenggukan, air matanya tak berhenti mengalir. Semua ucapan semangatnya sudah sia-sia. Rasa sakit yang baru saja dia rasakan terus menggerogoti hatinya.