Love You Forever

Love You Forever
5. POV Akbar : Dalam Sebuah Misi


Kami melanjutkan perjalanan. Tak kulihat binar bahagia di wajahnya. Aneh! Bukankah kemarin doski tampak sedih dan bilang ingin pulang? Namun, saat makin dekat dengan kota kelahirannya, yang kutangkap dari air mukanya bukan bahagia. Lebih ke ... terbebani.


"Kenapa, Syai?" Kulirik sekilas. Sepertinya sedang melamun. "Syaira." Kuguncangkan lengannya sesaat.


"Eh, iya? Ada apa?"


"Kamu sakit?" Dengan senyum samar, ia hanya menggeleng.


"Kok ... sedih? Katanya kangen pengen pulang. Satu jam lagi kita sampe, tapi kok ... kelihatan tak senang?"


"Tak apa. Hanya lelah. Maaf, ya."


"Untuk apa?"


"Aku nggak bisa nemenin melek. Mau tidur sebentar."


Aku tertawa. "Iya. Tak apa. Tidurlah." Kulihat doski mengatur jok mobil agak merebah.


Saat berhenti di lampu merah pertigaan, aku curi kesempatan memandanginya saat tidur. Wajah cantiknya terlihat pucat, meski sudah memakai lipstik warna merah. Gemetar, kucoba sentuh pipinya. Tak ada reaksi. Sepertinya tidur nyenyak.


Ke mana wajah garang dan angkuhnya pergi, seperti malam itu? Lenyap tanpa sisa. Yang kulihat sekarang hanya wajah pucat penuh beban. Ada rahasia apa di balik sikap dinginmu selama ini, Syai?


Tinnn tiinnnn ....


Ups! Sudah hijau lagi. Kuinjak pedal gas dan melajukan mobil dengan pelan. Biar saja sampai rumahnya tiga jam lagi, tak masalah. Aku ingin lebih lama berdua, seperti ini.


Dari kejauhan kulihat lampu lalu lintas sedang menyala hijau di perempatan besar. Sengaja kuperlambat mobil agar lampu merah lagi yang menyala. Biar punya kesempatan menyentuh pipinya lagi hihihi.


"Loh ... kok baru sampe sini? Kirain sudah masuk kota."


"Huaa ...!" Aku memekik spontan. Baru saja mau menyentuh bibirnya, eh, malah mendadak bangun.


"Ada apa teriak?" tatapnya curiga.


Haduh! Tatapan galak itu lagi. Back to basic! "Kaget. Tadi ada kucing tiba-tiba nyelonong," dustaku sambil terkekeh. Ufff! Syukurlah kalau doski tak tahu apa yang sudah dan akan kulakukan.


"Ini, sih, masih sejam lagi baru sampe rumahku. Kok lama, ya, gak nyampe-nyampe? Harusnya tinggal lima belas kilometer doang."


"Kan, kau tidur cuma sebentar. Sekitar setengah jam aja." Aku berusaha cari alibi.


"Masa' sih? Aku, kok, merasa sudah tidur setengah jam lebih."


Refleks kututupi arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, saat doski hendak menengok waktu. Bisa ketahuan entar kalau aku bohong.


"Sudah, ah. Yang penting selamat dalam perjalanan. Slow aja nggak usah ngebut." Kudengar Syaira hanya mengempaskan napas panjang.


Hening lagi hingga beberapa menit.


"Kenapa kau mau aku antar pulang?" Pancingku penasaran.


"Lumayan ... ada tumpangan gratis. Nyaman, nggak berisik di kendaraan."


"Ciyus? Bokis cieee ...." Kucubit lengannya gemas.


"Eeehhh ... pake pegang-pegang, lagi," sungutnya.


"Gak takut aku culik?"


Tawanya pecah. Wajah sedih juga garangnya sudah hilang. "Aku punya perlindungan diri. Nih ...!"


"Wawww!" Aku terkekeh saat doski mengeluarkan Stun Gun dari dalam tasnya yang selalu dipangku. Serem banget ni cewek!


"Sakit, loh, ini. Mau nyoba?" tawanya geli sambil mendekatkan alat setrum bela diri itu ke lengan kiriku.


"Wow wow wowww ... ampun! Gak gak gak ... gue lagi nyetir, loh, ini. Bisa nabrak, loh, Syai. Singkirin!" Aku terlonjak kaget.


Tawanya benar-benar pecah. Berderai tanpa beban. Aku suka aku suka .... Ufff! Kirain dinyalain beneran tadi.


"Gitu, dong. Ketawa 'kan lebih cantik. Jangan galak-galaklah sama brondong seganteng aku."


Sontak mengaduh kala doski menjewer kupingku. Seketika, bulu kuduk langsung meremang. Deburan jantung jadi tak terkendali. Ibarat diagram pendeteksi gempa, grafiknya langsung naik turun tajam.


"Kepedean!" Semprotnya sembari tertawa.


"Kagak. Sudah terbukti dan teruji puluhan tahun hahahaha ...."


"Kelihatan."


"Apanya?"


"Keliatan kalo kamu playboy."


"Fitnah terpedih dalam hidupku hikzzz." Aku pura-pura cemberut.


"Dari caramu ngejar cewek, cara ngerayu, cara memperlakukan cewek, sudah jelas itu ciri khas seorang playboy."


"Hentikan fitnah jahat itu ato ... aku blokir!"


"Apanya yang mau diblokir?" Matanya membulat saat kulirik sekilas.


"Aku blokir semua akses agar tak ada cowok mana pun yang bisa mendekatimu."


"Caranya?" Bibirnya tersenyum menantang.


"Aku dukunin, biar cintamu hanya padaku. Gak bakal bisa mencintai cowok lain."


"Musyrik!"


"Ya, udah. Ganti plan B."


"Apa, tuh?"


"Jadiin Syaira pacar abadi Akbar!"


Pause. Hening sesaat.


"Belok kanan setelah toko sembako cat kuning itu, ya."


Ahhh! Doski mengalihkan pembicaraan. "Mau ya."


"Mau apa?"


"Jadi pacarku." Kuhentikan mobil di sisi jalan sepi, di bawah pohon peneduh.


"Kok berhenti?" Rahangnya terlukis jelas seolah menahan geram.


"Mau, ya, jadi pacarku?" Kukedipkan mata.


"Aku pikirkan nanti."


Eh, malah buang muka. Gemas, kutarik lengan kanannya. Wajah kami saling berdekatan. Sekitar sejengkal. Bisa kurasakan embusan napasnya yang membuat darahku bergejolak.


"Dari pertama aku melihatmu malam itu, aku sudah tergila-gila."


"Lepasin, Bar."


Rontaannya tentu saja tak berguna. Darahku sudah telanjur menggelegak.


Benar yang aku baca tentang sex appeal. Saat melihatnya saja sudah cukup memancing hasratku sebagai laki-laki normal. Hasrat ingin berdekatan dan menyentuhnya jadi begitu besar. Dorongan ini terasa sangat kuat nyaris tak mampu kukendalikan.


"Aku akan memintamu pada keluargamu nanti. Aku serius!"


Nyaris bibir kami saling bersentuhan. Namun, segera menyadari kalau perlakuanku tidak pantas.


"Maaf." Kuhela napas berat dengan sisa-sisa dentuman jantung berteriak nyaring. Kuciumi kedua punggung tangannya dengan segala perasaan yang ada. Syaira kulihat hanya tertegun. Wajahnya pias.


Setelah mampu mengendalikan diri, kembali kulajukan mobil dengan kecepatan standart. Sudah hampir tengah siang. Kulirik Syaira yang masih mematung dengan tatapan lurus ke depan. Entah apa yang ada di pikirannya. Semoga doski memikirkan kata-kataku barusan.


*****


Ah, rumah yang sederhana dan nyaman. Sejuk karena berada di pinggiran kota. Kuedarkan pandangan ke seluruh sudut ruang tamu. Tak satu pun foto terpajang. Simple. Hanya meja kursi dan guci bunga besar di pojok ruangan.


"Diminum dulu, Nak."


Seorang wanita setengah baya seumuran dengan Ibuku, muncul dari balik tirai sebagai penyekat antara ruang tamu dan ruang tengah.


"Terima kasih." Kuteguk tandas es sirup di hadapanku.


"Nambah lagi?" Senyum beliau begitu meneduhkan.


"Terima kasih sudah mengantar Syaira. Maaf, ya, jadi merepotkan."


"Saya sendiri yang mau mengantar, kok, Bu. Bukan Syaira yang minta."


"Maaf, ya, Nak. Syaira memang begitu. Agak cuek dan galak. Maklum, anak sulung. Dua adiknya laki-laki semua. Tapi, dia anak baik, kok. Sensitif juga orangnya."


Aku manggut-manggut. Ini info berharga buatku.


"Sejak Ayahnya meninggal setelah ia lulus kuliah, otomatis, dia jadi tulang punggung. Adiknya ada yang sudah kerja. Yang bungsu baru tengah semester. Jadi harap dimaklumi kalo tiba-tiba keluar sikap sok memerintah dan keras kepalanya."


"Tak apa, Bu. Saya menyukai putri Ibu. Saya minta ijin untuk menjalani hubungan yang lebih serius lagi." Tak perlu basa basi lagi. Langsung aja ke sasaran. Kelamaan entar.


"Kalo Ibu, sih, terserah Syaira aja. Tolong, nitip anak Ibu selama jauh dari rumah, ya."


"Insyaallah." Alhamdulillah! Dapat restu juga.


"Ibu ...." Terdengar panggilan dari dalam.


"Sudah siap. Syaira yang masak, loh. Yuk, Nak!"


Aku mengangguk dan mengikuti langkah Ibu Syaira yang masih terlihat bugar.


"Duduk, Bar!" Beneran! Caranya memerintah begitu kental.


Kulihat Syaira sudah duduk di kursi makan. Seperti biasa, rambutnya hanya dicepol sembarangan di ujung kepala. Aku tersenyum dan segera mengambil tempat duduk di sebelah seorang cowok muda sepertiku. Ia tersenyum ramah. Sudah tersedia beberapa menu di meja. Tumis kangkung, ikan goreng, tempe goreng, peyek teri, tahu bacem, sambel tomat dan sayur asem. Tampak menggugah selera.


"Cepat amat masaknya," selorohku.


"Ibu yang siapin bahan. Aku datang langsung ngeracik bumbu aja."


"Dasar." Aku tertawa kecil.


"Oiya ... ini adikku. Anak nomor dua. Lagi cuti dari kantor."


"Akbar." Kuulurkan tangan.


"Damar."


"Dia seumuran denganmu."


Gubrakkk! Haduhhh .... Adik dan ibunya spontan memandangku. Meski tipis, aku menangkap rona keterkejutan di wajah keduanya. Duh! Kenapa, sih, pakai bilang begitu segala? Malu banget!


"Sudah, ngobrolnya nanti lagi. Yuk, Nak Akbar! Dinikmati, ya. Maaf, cuma hidangan kampung." Ibunya segera menengahi karena suasana jadi terasa canggung.


"Dirumah ... saya juga makannya begini, kok, Bu. Lebih suka sambel teri daripada ayam goreng hehehe." Kututupi malu dengan tertawa kecil. Uh! Terdengar maksa banget.


Kuperhatikan Syaira, ibu dan adiknya secara bergantian. Syaira terlihat berbeda. Kulitnya paling putih, sedang yang lain berkulit kuning. Dari garis wajahnya juga tak ada kemiripan. Mungkin Syaira mirip bapaknya.


*****


"Penginapan yang paling dekat sini mana, ya, Mar?"


"Buat apa cari penginapan? Bisa tidur sama Damar nanti malam, Nak." Ibu Syaira yang menyahut.


"Nggak enak sama tetangga, Bu." Senyumku malu-malu. Padahal aslinya girang luar biasa.


"Ibu sudah lapor Pak RT, kok. Tak apa, Nak. Istirahat saja di kamar Damar. Ini sudah jam dua siang lebih. Pasti lelah setelah nyetir sejauh itu. Mar, ajak Nak Akbar ke kamar!"


"Iya, Bu," sahut adik Syaira sambil menepuk punggungku.


Yes! Dengan menginap di rumah Syaira, aku bisa lebih banyak mengorek info tentangnya. Sekalian mau melihat perilakunya saat di rumah. Misi kedua sukses!


Malam minggu. Pas banget momentnya. Kuajak Syaira dan keluarganya ke pusat kota. Tak jauh. Hanya sekitar dua puluh menit perjalanan. Kucoba jalin keakraban dengan keluarganya agar lebih mudah merebut hati Syaira. Tak sulit bagiku untuk menempatkan diri. Akbar gitu, loh!


"Ssttt ... kakakmu memang galak begitu, ya?" bisikku saat kami berempat menyusuri alun-alun kota yang lumayan padat. Mumpung Syaira dan ibunya berjalan di depan. Jadi aku bebas menyelidiki lewat adiknya.


"Hahaha ... iya. Sejak orok sudah begitu. Tapi, berkat dia keluarga kami tetap kokoh. Karena ketegasan dan keras kepalanya itulah, segala urusan cepat diatasi. Jadi tak canggung lagi saat Bapak sudah tak ada. Dia yang gantiin tugas jadi kepala rumah tangga."


Aku manggut-manggut. "Sudah punya pacar?"


"Aku? Sudah."


"Haduhhh ... ya, kakakmu dong, Mar. Ngapain aku tanya tentang dirimu."


Damar tergelak. "Setauku waktu SMA, pernah punya pacar. Trus waktu kuliah juga, sempat pacaran tiga tahun. Habis itu tak pernah kulihat lagi dia bawa teman pria, sampai kau datang hari ini."


"Jomblonya awet amat, sampai lima tahun."


"Orangnya, kan, sulit. Jadi, ya, banyak yang nggak berani ngedeketin. Yang ngejar, sih, banyak. Cuma ... gak ada yang ditanggapi."


Hmmm ... oke. Lumayan, nih, infonya.


*****


Terharu melihat Syaira dan ibunya berpelukan begitu. Pasti berat melepaskan anak perempuan satu-satunya kembali ke rantau. Tinggal sendiri jauh dari keluarga, pasti berat. Kayak ibuku juga. Pasti mewek kalau ditinggal anak-anaknya pergi dalam jangka waktu lama.


"Nitip Syaira, ya, Nak. Jaga dia baik-baik."


"Selalu siap, Bu." Kucium punggung tangan ibu Syaira.


"Hati-hati ya, Bro. Jaga kakakku." Damar menyalamiku dan kami berpelukan sekilas sambil saling menepuk punggung.


Busyet! Jadi ikutan melankolis. "Pasti!" Janjiku mantap.


Perlahan, kami tinggalkan rumah Syaira. Kulirik sekilas, ada senyum damai terulas. Tampak lebih tenang.


"Seneng ya?" celetuknya.


Kulirik doski sekilas sambil memutar setir. "Apa?" tanyaku tak mengerti.


"Senang ... sudah berhasil menjalankan misi pribadi."


"Misi apa?" Aku blank sepersekian detik.


"Misi ... mengambil hati keluargaku."


Aku tertawa kecil. Duh! Tau aja, sih, ni cewek. "Namanya juga usaha. Usaha keras tak akan berbuah kecewa."


Ia terbahak lepas sambil melempariku dengan permen mint. Derai tawanya terdengar ringan dan renyah tanpa beban. Ah! Hatiku terasa ikut enteng bisa membantu doski bertemu dengan keluarganya.


Membantu?! Okelah ... ada daging rendang di balik sebungkus nasi padang. Modus hehehe. "Jadi ... setuju, dong, nih?" Kucubit pipinya sekilas.


Dengan sigap, tanganku ditepis dengan kasar. Tak tahu doski, kemarin aku sudah sempat mengelus pipinya saat tertidur di mobil hihihihi.


"Belum!" sahutnya sok jual mahal.


"Dosa, loh, gak ada ikatan. Kita, kan, sudah seatap semalam," godaku makin bersemangat.


"Hahahaha ... itu namanya memelintir situasi."


"Ibu sendiri yang kasih izin, loh, itu. Jadi sudah direstui, dong. Sudah tinggal serumah hehehe."


"Aku juga seatap sama banyak cowok," balasnya nggak mau kalah.


"Ya iyalah. Kost Pak Guruh, kan, yang lantai atas cowok semua." Pintar juga balikin godaanku.


"Nah, tuh! Tau juga." Bibirnya dimonyongin dekat dengan bahuku.


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku setelah spontan kukecup bibirnya barusan. Terperanjat, kuinjak pedal rem mendadak.


Hening!


Bengong. Otakku beku beberapa saat. Apa yang sudah kulakukan barusan? Dengan gugup, aku menoleh kearahnya. Wajahnya merah padam. Entah marah, entah terkejut, entah malu, entah .... Pipi kiriku terasa panas. Kenceng juga tamparannya. "Ma--maaf."


Segera kuraih jemari kanannya dan kuciumi dengan perasaan campur aduk. Takut doski marah, tapi juga senang bisa menciumnya. Ah, entahlah. Harus menyesal atau tidak, tak tahulah! Syaira kayak shock. Diam terpaku. Tatapannya tajam kearahku. Duh! Mata mengerikan itu lagi.


"Maaf ... aku gak sengaja. Gerak refleks. Aku tak bisa menahan diri kalo ada didekatmu. Maaf ...." Kuusap punggung tangan halusnya dalam genggaman.


"Sakit?"


Pertanyaan lirih itu membuatku tersentak. Melongo lagi. Tak menyangka pertanyaan itu terlontar. Tatapan matanya yang semula garang itu pelan melembut dan kini tersisa sorot mata yang ....


"Apanya? Ahhh ... ini? Gak apa-apa. Aku pantas mendapatkannya." Kuelus pipiku sendiri dengan pelan. Jujur! Ini sakit banget. Kekuatan menamparnya entah berapa scala richter.


"Maaf, aku spontan," ujarnya dengan tatap seperti merasa bersalah.


"Aku juga refleks. Maaf ya," sahutku lembut. Kuberi doski senyuman sambil menjalankan mobil lagi.