
"Nduk ... sini sebentar." Ibu melambai dari ambang pintu kamar.
"Iya, Bu." Aku mengikuti Ibu masuk kamar. Ditepuknya kasur menyuruhku duduk.
"Ada yang ingin melamarmu."
Terperanjat seketika. "Siapa?"
"Ingat keponakan Bu Wasti? Yang bulan lalu kamu kasih minum, waktu acara arisan di rumah kita. Ingat?" Aku mengernyitkan alis mencoba mengingat orang yang Ibu maksud.
"Restu?" Ibu mengangguk. Kuhela napas berat.
"Ibu tau perasaanmu. Tapi, yang kau harapkan sudah punya kehidupan sendiri, Nduk. Apa yang kau tunggu? Usiamu tiga bulan lagi sudah 29. Ibu tak memaksa. Hanya ingin kau bersikap bijaksana untuk hidupmu sendiri."
"Nanti Syaira pikirkan."
Kuseret langkah keluar dari kamar Ibu. Kalau tak memikirkan perasaan Ibu, ingin hati menolak rencana pria bernama Restu itu. Akh ... entahlah!
Restu giat sekali mendekatiku. Seminggu bisa dua kali ia datang ke kota tempatku bekerja. Selama itu pula, aku selalu mengajak ketemu di luar kost saja. Aku tak ingin menyakiti Rama.
Demi ibu, aku setuju saja menerima niat Restu yang ingin melamarku. Toh, ia pria dewasa, mapan dan terlihat baik. Tak terlalu buruk. Gagah, jangkung kekar, manis dengan kulit sawo terang juga humoris. Aku pasrah karena hati sudah hampa. Tak berharap banyak pada pria mana pun lagi.
Sebulan lagi, Restu akan menikahiku. Aku ingin pamit pada Rama.
"Rama. Bisa kita bicara?"
"Tak ada yang tidak buatmu, Syai."
"Carilah wanita lain."
"Kenapa? Jangan mulai lagi, ah."
"Akhir bulan depan aku menikah." Wajah tampan itu pucat seketika. Melihat matanya berkaca, membuatku makin merasa bersalah. Namun, aku tetap harus melakukannya!
"Pria itu? Dia kembali?"
Aku cuma menggeleng. "Namanya Restu. Keponakan teman baik ibuku."
"Kenapa bukan aku?" protesnya menahan marah. Aku bisa melihat dari rahangnya yang menonjol.
"Karena aku tak mau membohongimu."
"Apa maksudmu?!" Bahuku diguncang agak kasar. Melihatku mendesis kesakitan, ia melepaskan pegangannya.
"Karena ... kau terlalu baik. Aku sudah berhutang budi banyak padamu. Jadi, tak adil membiarkanmu menikahi mayat hidup sepertiku."
"Aku tidak mengerti. Kau bicara apa?"
"Kalo aku memilihmu, kau hanya mendapat tubuhku tidak dengan hatiku. Kau mau ... hanya jadi pelampiasan semata? Kau mau ... hanya aku butuhkan untuk sekadar mengubah status dari lajang ke menikah? Kau bisa bertahan hidup dalam rumah tangga semacam itu sampe kapan?" Kutatap manik matanya dengan tajam.
Mata yang semula membulat merah itu kini meredup, sedih! "Tak apa. Asal aku bisa hidup bersamamu."
"Jangan bodoh, Ram. Kau istimewa. Jangan libatkan hidupmu dalam masalah pelik seperti ini."
"Kenapa kau memilihnya?"
"Karena aku tidak mengenalnya dengan baik. Aku tak punya hutang apapun padanya. Jadi aku tak perlu merasa bersalah karena telah membohonginya."
"Kenapa kau jadi begini, Syai?" Rama menangis menciumi punggung tanganku.
Aku bergeming. Sudah saatnya memutuskan, apa yang terbaik untuk hidupku sendiri, mungkin!
"Dia boleh memiliki tubuhku, tapi tidak dengan hatiku. Aku memilihnya ... karena kami akan tinggal terpisah. Jadi aku tak perlu sering-sering bersamanya juga tak perlu melakukan kewajibanku sebagai istri."
"Kau mengerti sekarang? Pilihkah wanita yang benar-benar menyintaimu, tapi jelas itu bukan aku. Hatiku sudah mati, Ram. Aku tak bisa bertindak kejam padamu. Mengertilah."
Kulihat Rama hanya mengangguk. Wajahnya seperti mengharap sesuatu. Aku mengerti. Kuberi ia pelukan sebagai tanda perpisahan.
"Bulan lalu aku mengikuti ujian untuk jadi jaksa. Aku lulus, Ram. Jadi paling tidak, dua hingga tiga tahun kedepan aku masih tinggal di kota ini."
"Aku masih bisa melihatmu?" tanyanya melepaskan pelukanku dengan senyum sedih.
Aku mengangguk. "Kita bisa bersahabat saja mulai saat ini 'kan?"
"Baiklah, Syai."
"Terima kasih. Kau pasti bisa mendapat istri yang jauh lebih baik dari aku. Aku yakin itu!"
****
Ibu dan kedua adikku terlihat lega melihatku akhirnya duduk di pelaminan. Berakting, layaknya pengantin wanita yang berbahagia. Tak apa. Menunjukkan wajah bahagia di depan keluargaku, meski itu semu, agar Ibu tidak terbebani hatinya. Juga agar rencana Damar ingin menikahi kekasihnya, tidak ditunda lagi hanya karena tak tega melangkahi kakak perempuannya.
*****
"Kamu pakai susuk apa, Syai?" Aku menoleh dan menatap tak suka pada ucapan Restu barusan.
"Jangan bicara sembarangan." Aku tak bisa menutupi rasa tersinggung.
"Habisnya ... pertama kali melihatmu empat bulan lalu, aku langsung tergila-gila. Tiap hari ngebayangin kamu trus. Biasanya, yang bisa bikin pria klepek-klepek gitu, cewek yang pasang susuk." Tawa kecil itu terdengar bagai ejekan yang merendahkan harga diri.
"Besok aku mau makan pisang dan sate, untuk membuktikan bahwa aku bukan wanita serendah itu demi memikat lelaki!" Kutepis tangannya saat mencoba menyentuh pipiku.
Aku sudah berjuang keras untuk berdamai dengan hatiku sendiri, tapi dengan enaknya, Restu membuat tuduhan rendah semacam itu.
"Istriku cantik. Jangan marah begitu, dong. Aku, kan, cuma becanda. Sini, ah, peluk sini." Aku menghindar dengan berlari ke pojok kamar pengantin. Aku belum ikhlas dijamah olehnya.
"Maafin aku, ya. Lain kali, aku tak akan becanda semacam itu lagi. Aku masih tak bisa percaya, kau sudah jadi istriku. Kau mau denganku, padahal kita baru ketemu beberapa kali dalam empat bulan ini. Kau wanita hebat. Karirmu bagus, gajimu juga besar. Tapi, mau menikah denganku? Serasa mimpi."
"Lagi palang merah," tepisku saat ia akan memeluk. Kubohongi saja! Belum siap mental menjalani kewajiban sebagai istri.
"Pantesan ... sensi banget. Lagi PMS ternyata. Ya, udah tak apa. Untuk wanita seistimewa kamu, aku akan sabar menunggu." Dikecupnya pipiku sekilas. Aku memiringkan kepala. Risih!
Di depan Ibu, aku berusaha bersikap baik pada Restu layaknya seorang istri. Namun, kalau sudah di kamar berdua saja, aku selalu menghindar agar tak terlalu sering bersentuhan dengannya.
Seminggu, waktu yang terlalu singkat untuk menyiapkan mental. Aku harus menguatkan hati saat ia menagih haknya malam itu. Rasanya sudah tak bisa menghindar lagi. Aku harus bersedia, karena secara agama dan negara, kami sudah sah menjadi suami istri.
"Tunggu!"
Ia mengempaskan napas keras, saat kudorong dadanya ketika hendak mencium bibir ini. Jantungku serasa mau copot. Rasanya ingin kabur saja!
"Apalagi, sih, Sayang?" Ekspresinya terlihat kesal.
"Matikan lampunya!"
"Masih malu, ya?" Senyumnya genit. Aku cuma mengangguk.
Restu gegas beranjak dari tepi ranjang dan mematikan lampu. Nyaris gelap gulita. Tak apa. Itu yang aku harapkan. Agar ia tak bisa melihat air mataku yang meleleh nantinya.
Bertahun lamanya aku menjaga kesucian demi suami yang aku harapkan. Suami yang mencintai aku, juga yang aku cintai. Namun, takdir berkata lain. Aku tak bisa menghindarinya lagi. Bukan Akbar yang mendapatkan milikku yang berharga ini, tapi justru orang lain. Sakit hati yang kembali mendera membuatku serasa tak bernyawa. Dalam diam, hanya ada air mata dan rutukan marah untuk Akbar.
Akbar ....
Harusnya kau yang ada bersamaku saat ini. Harusnya kau yang menjadi suamiku. Harusnya kau ....