Love You Forever

Love You Forever
11. POV Syaira : Hari-Hari Menyakitkan


Aku tak ingin apapun lagi sekarang. Sudah tak ada hasrat melanjutkan hidupku lagi. Buat apa? Hatiku sudah dibawa Akbar pergi.


Sakit yang kurasakan saat ini, tak bisa tergambarkan melalui kalimat mana pun! Jantungku serasa terbetot keluar dari rongga dada. Mati! Sudah tak bisa merasakan apapun lagi. Hanya hampa dan dingin yang kurasa.


"Syaira?"


Aku tak menghiraukan saat sebuah suara menyapa dan menghampiri. Cuma bengong terduduk lesu di ranjang kamar kost. Aku juga tak peduli, tamu itu mau apa.


"Makanlah dulu. Kalo tak mau mandi, tak mau kerja, tak apa. Aku sudah bilang ke Kajari kita, agar kau diberi dispensasi sampai kondisimu membaik."


Aku tak mau makan apapun. Tak mau! Orang yang sudah mati tak butuh makan, mandi apalagi kerja. "Akbaarrrr ...!" Hanya itu yang bisa aku teriakkan saat rasa sakit itu kembali datang mendera. Mengoyak tanpa ampun kulit dan daging tubuhku. Sakitnya merajam seluruh urat syaraf!


Masih sempat mendengar Weni berteriak minta tolong, sebelum kurasakan tubuh terempas ke ruang hampa tak berujung. Tubuh ini terasa sangat ringan. Berlompatan dari satu awan ke awan lainnya. Nyaman sekali. Aku ingin tetap begini saja. Agar tak perlu merasakan lagi, apa itu namanya sakit!


Entah berapa lama aku berkelana di dunia yang begitu asing. Mungkin sejam, sehari atau ... aaahhh , apa peduliku!


"Syaira ... bangunlah. Kau dengar aku?" Lamat-lamat kudengar suara seseorang.


Uhh ... badanku sakit semua. Aroma ini ... seperti aroma di rumah sakit.


"Si ... siapa?" Kepala sakit sekali. Mata terasa pedas saat kucoba membukanya. Cahaya menyilaukan ini begitu menyakiti mataku.


"Aku ganti lampunya, ya, biar tak silau."


Kucoba lagi membuka mata. Sudah redup lampunya. Susah payah, berusaha mengenali sesosok tubuh atletis yang memakai jubah putih.


"Kau ... malaikat? Aku sudah mati?"


"Tidak, Syai. Kau ada di rumah sakit. Tiga hari kau tak sadarkan diri. Syukurlah, akhirnya kau bangun juga."


"Aku pingsan ... tiga hari?"


"Iya. Aku dan teman kantormu yang membawamu ke sini."


"Weni," gumamku mulai mengingat semua.


"Ingat aku? Kita satu kost. Aku Rama, dokter umum di sini."


"Rama? Satu kost denganku? Oh, iya. Rama. Kamarmu yang nomor 14?" sebentuk wajah tampan yang berdiri di sampingku itu mengangguk. Senyum tulusnya terulas tipis.


Weni beserta Pak Heri, Kepala Kejaksaan, juga beberapa rekan kantor, datang membezuk sore itu. Meski terasa lebih baik, tapi ingatanku pada Akbar tak bisa kuhalau.


Seminggu di rumah sakit, akhirnya aku kembali ke kost. Tidak! Aku tak mau pulang ke rumah. Tak ingin membuat Ibu sedih melihat kondisiku. Biarlah kujalani masa pemulihan di kamar kost saja. Rama-lah yang telaten mengawasi masa pemulihanku tiap saat. Ia rajin mengingatkan untuk minum obat, makan juga istirahat.


Butuh waktu dua minggu untuk kembali pulih. Secara fisik, iya. Namun, tidak dengan emosiku yang gampang naik turun tak tentu. Aku makin sensitif. Malas banyak bicara juga tak punya semangat lagi melakukan apapun.


Bekerja, ya, sekadar bekerja. Menonton televisi, ya, sekadar melihat gambar bergerak, tapi aku tak mengerti apa yang kutonton. Hidupku benar-benar kacau.


Delapan bulan!


Hanya delapan bulan aku membenci, jatuh hati, cinta mati dan pada akhirnya ... hancur lebur serasa mati. Dan kini, rasa cinta yang telanjur besar telah membaur dengan kebencian yang telah mengakar kuat! Benci dan cinta ini sama besar takarannya hingga mampu merobohkan semua harapan hidupku. Habis! Habis sudah segala rasa cinta yang kupunya. Sudah tak bersisa lagi. Tak secuil pun tersisa!


"Akbar! Aku tak akan pernah lupa rasa sakit yang kau beri ini! Aku bersumpah! Hidupmu tak akan bisa tenang sebelum kau datang mencium kakiku!" Kobar kebencian sudah kunyalakan. Tak bisa lagi menahan mulut untuk tak mengutuknya.


Demi Ibu aku akan tetap bertahan. Seperti mayat hidup yang tak punya lagi ambisi. Hanya menjalani hari-hari dengan apa adanya. Stagnan!


"Syaira ... hei?" Aku menoleh. Membalas sapaan ramah itu dengan senyum tipis. Ah, pemuda tampan ini sangat perhatian padaku.


"Kok ngelamun? Sudah makan?"


Aku menggeleng pelan. "Nggak lapar."


"Nanti kena maag, loh. Makan, yuk! Mau nemenin aku?"


Kutatap mata teduh itu. Senyum manisnya selalu tersungging. Tak tega menolaknya. Pria ini sudah begitu baik padaku selama ini. Meski jadi penghuni kost baru enam bulan ini, kami sudah lumayan dekat. Apalagi setelah ia merawatku selama masa depresi, hubungan kami makin dekat lagi.


"Baiklah, Dok."


"Jangan begitu, ah. Panggil saja ... Rama."


"Siap, Rama. Sebentar, ya. Aku ambil ponsel dan dompet dulu." Aku tersenyum dan segera masuk kamar lagi.


Rama menghentikan mobilnya di depan sebuah warung bakmi. Dengan sabar, dituntunnya aku turun dari mobil.


"Aku bisa jalan sendiri, Ram. Jangan begini. Malu," tepisku lembut.


"Cuma jaga-jaga aja. Takut kalo kepleset. Sayang, kan, sandalnya," kelakarnya.


Tanpa sadar, aku tertawa kecil dengan banyolannya. Kupandangi Rama yang sedang asyik menerima telepon dari temannya. Ia pemuda yang menarik. Atletis. Kulitnya putih bersih. Lebih tinggi dan lebih tampan dari Akbar. Ah, bocah brengsek itu lagi! Kenapa bayangannya kembali berkelebat di benakku?


"Hei ...."


"Ah, maaf." Tergagap malu. Ia memergokiku sedang memperhatikannya. Uh!


"Makan yang banyak, ya, biar sehat." Aku cuma mengangguk.


Dengan sigap, diambilnya sendok garpu dan diletakkan di piring bakmi-ku.


"Ini sausnya, acar, juga minumnya. Biar enak menjangkaunya."


Cuma bisa diam saat ia mendekatkan ketiga benda itu tepat di depan piringku. Perhatiannya kurasa terlalu berlebihan kalau hanya sekadar antara dokter dengan pasiennya. Ah! Selama ia tak bersikap kurang ajar tak akan kupermasalahkan.


Perlahan, aku mulai bisa menjalani hidupku dengan semangat baru. Kembali ke kehidupan normal. Meski terkadang rasa rindu pada Akbar datang tiba-tiba, aku cukup melampiaskannya dengan menangis hingga lelah dan tertidur.


"Syaira ... sibuk nggak?"


Aku menoleh. Rama menghampiri. Aku sedang duduk di kursi malas depan jendela kamar.


"Nggak. Ada apa, Ram?"


"Temenin aku, yuk, nyari rak kecil. Buat naruh buku-bukuku."


"Ke mana?"


"Sepertinya ada pameran mebel di supermarket. Cek dulu aja ke sana. Siapa tau ada yang cocok."


"Oke. Bentar aku ambil dulu tasku."


Sepuluh menit kemudian, kami sudah berada di mobil menuju supermarket. Karena malam minggu, jalanan jadi lebih macet dari biasanya.


Aku menoleh. Ternyata Rama memperhatikanku yang berulang kali menghela napas berat.


"Tak apa. Lagi banyak berkas kasus yang harus kuselesaikan. Ah, lelahnya. Belum lagi kemarin, Kajari minta aku lembur. Padahal itu pekerjaan Pak Slamet. "


"Syaira ...."


"Punya Kajari baru, lebih disiplin dari sebelumnya. Harus sudah kembali ke ruangan pas jam satu siang. Datang apel juga tak boleh telat meski hanya satu menit."


"Syaira ...."


"Mana Weni cuti, pula. Semua pekerjaannya didelegasikan ke aku. Padahal, Ram, pekerjaanku sendiri sudah banyak."


"Syaira ...."


"Ahhh, maaf malah curcol. Maaf, nyerocos terus dari tadi. Sudah sampai, ya?" Aku tertawa malu. Ternyata kami sudah tiba di parkiran mobil supermarket.


"Syaira ...."


"Ya?" Aku menoleh dan tersenyum.


"Aku menyintaimu."


Deg!


Aku menatapnya tak percaya. Rama bilang apa barusan?


"Haaa?" Mencoba meyakinkan pendengaranku sendiri.


"Aku ... Rama ... mencintai Syaira."


Aku menahan napas. Ya, Tuhan! Semoga aku salah dengar. "Jangan becanda," tawaku sumbang.


"Aku serius." Sorot matanya tajam menatapku. Tak ada seulas senyum pun tersungging di bibirnya. Hei ... apa-apaan ini?!


"Maaf, Rama ... aku .... "


"Izinkan aku membalut luka hatimu. Aku tahu ini tak akan mudah. Nggak bakal mudah. Tapi, aku akan membantumu melupakan rasa sakit itu. Jadikan aku obat untuk lukamu."


Aku tak bisa berkata apapun lagi. Ini terlalu mendadak.


"Rama ... aku ...."


"Jangan buru-buru. Pikirkan dengan tenang dulu. Jawabnya besok-besok aja."


Senyuman manis itu serasa menyudutkan. Aku harus jawab apa?! Langsung menolaknya mentah-mentah? Terlalu kejam! Menerima begitu saja? Hati belum siap. Minta waktu? Aku sendiri tak berani memastikan, bisa memberi jawaban kapan. Ah, pusing!


Aku pikir dengan menemani Rama mencari barang yang ia butuhkan, akan terasa menyenangkan. Bisa jadi hiburan buatku. Tapi setelah ia menyatakan perasaannya, suasana hatiku jadi berubah buruk.


"Sudah. Jangan terlalu dipikirkan. Nikmati saja saat ini."


Aku cuma tersenyum kecut. Tidak bisa! Telanjur bad mood. Namun, rasanya nggak adil kalau memperlihatkan muka jutek saat ini. Bagaimana pun juga, Rama-lah yang selama ini merawatku. Paling tidak, harus tetap bersikap baik sebagai tanda terima kasih, atas semua yang ia lakukan padaku selama tiga bulan ini.


"Ada yang cocok?" Aku makin tak nyaman dengan situasi ini.


"Nggak ada. Ya, sudahlah. Cari di tempat lain saja. Besok lagi kalo kita pas lowong."


Kita? Uh, harus nemenin Rama lagi dong, nih. Tenang, Syaira. Semua akan baik-baik saja. Aku mencoba menenangkan diri sendiri.


"Maaf, sudah membuatmu nggak nyaman. Harusnya aku tak mengatakan itu tadi. Harusnya aku bisa menahan diri." Senyum kecutnya membuatku tak enak hati.


"Tidak. Bukan begitu. Tak ada yang salah. Reaksiku saja yang terlalu berlebihan." Kutepuk bahunya pelan.


"Cari makan yuk. Di luar saja." Aku mengangguk setuju.


*****


Ingin hati menjaga jarak dari Rama. Namun, perasaan jengah lebih kuat karena aku tak ingin dibilang sebagai orang yang tak tahu terima kasih.


Sudah sebulan sejak pernyataan hatinya, Rama tak menagih jawaban. Tak enak hati menggantungnya, aku ingin jujur padanya sore ini juga.


"Rama ...."


"Ya?" Senyum manisnya hadir.


Sungguh! Dia pria yang tampan. Seumuran denganku. Sudah punya pekerjaan mapan pula. Tak ada alasan untuk menolaknya. Namun ....


"Maaf ... aku tak bisa." Sungguh! Tak tega aku mengatakan ini.


"Aku tahu. Masih ada pria itu di hatimu sampai sekarang. Tak apa. Aku tak akan memaksamu melupakannya. Rasanya terlalu egois kalo kulakukan itu."


"Terima kasih atas pengertianmu, Ram."


"Tapi ... maukah kau mencobanya?"


"Mencoba apa?"


"Mencoba ... menjalani dulu denganku. Seiring waktu, mungkin kau bisa menerimaku di hatimu."


"Tapi ...."


"Tak perlu ada komitmen apapun. Jalani saja dulu. Nikmati saja yang ada. Setuju?" Senyum tulusnya justru membuatku makin sedih.


Kenapa kau sampai begitu relanya menjatuhkan harga dirimu di depanku? Seandainya bisa, aku juga sangat ingin menyintaimu. Sangat ingin .... Namun, bocah brengsek itu sudah membawa pergi semua hatiku. Tak disisakan sedikit pun!


"Kau baik. Kau sangat menarik. Carilah gadis lain, Ram. Aku tak bisa sejahat itu, untuk menerima semua kebaikanmu tanpa aku memberi apa yang kau harapkan. Tolong ... jangan membuatku makin tak enak hati."


"Please, Ra. Beri aku kesempatan. Aku akan berusaha agar kau bisa mencintaiku. Please!" Tanganku gemetar saat digenggamnya erat. Mata indah itu sangat mengiba.


Ah, bocah sialan itu dulu juga begini. Tatapan yang sama. Ibaan yang sama. Mungkin saja, punya cinta sama besarnya. Tuhan, kenapa cinta yang kuinginkan malah terlepas? Orang yang tak kuharapkan, malah menawarkan hati sebesar ini.


"Jangan memikirkan apapun. Jangan bebani hatimu bahwa kau harus mencintaiku. Tidak! Jalani seperti biasa. Tak apa. Dengan sering melihatmu saja aku sudah senang. Setuju, ya."


Tidak bisa tidak. Tak tega terus menolak. Anggukanku dibalas senyum lebar dan mata berkaca. Maafkan aku, Rama.


Sore yang cerah ini kami nikmati di taman kompleks. Rama sibuk membuatku jatuh hati padanya, dengan cara membuat obrolan menarik dan lelucon. Namun, aku malah sibuk mengenang hari-hariku di tempat ini saat masih bersama Akbar. Betapa jahatnya aku!