Love You Forever

Love You Forever
6. POV Syaira : Hanya Teman?


Ada rindu yang mulai mengusik, saat sehari saja tak kudengar tawa renyahnya. Ah, benarkah aku sudah terpikat pada si jahil itu?


Meski menyebalkan karena ia suka nyuri kesempatan mencium pipiku, tapi mulai ada rasa nyaman yang tak bisa aku terjemahkan. Perasaan yang tak kudapatkan dari cintaku yang pertama dan kedua. Ia pandai membuat suasana hatiku yang semula keruh jadi berubah ceria. Ada saja ulahnya yang membuatku kangen.


Tuhan ....


Benarkah aku sudah jatuh cinta pada cowok yang lebih muda dariku tiga tahun itu? Sensasi hangat yang kurasakan di hatiku terasa indah. Berdebar halus dengan imaji melayang bebas. Ada perasaan aman dan damai saat berdekatan dengannya. Ah, Akbar. Bocah satu itu membuatku pening dengan ulahnya. Ya, bikin kesel, ya, bikin gembira juga bikin jantungan.


"Hai, Cantik! Ngelamunin aku, ya?" Aku tersentak kaget. Ini anak! Sukanya ngagetin aja.


"Ge-er!" Segera kuberesi beberapa berkas dan mematikan komputer. Kepalanya masih ngelongok melewati jendela, pas di belakang punggung. Tiba-tiap terasa ada embusan napas yang menggerakkan rambutku.


"Apa-apaan, sih?" Kudorong wajahnya agar menjauhiku. Eh, ni bocah malah cengengesan.


"Hmmm ... masih harum. Pake parfum apa, sih?"


"Sok detektif."


"Emang."


"Udah sana! Mau aku kunci dulu jendelanya."


Setelah si tengil menarik kepalanya, segera kukunci jendela yang semula sengaja terbuka. Kantor sudah sepi. Aku yang terakhir pulang karena ada beberapa laporan yang baru masuk tadi siang dan harus segera diproses.


Kami berjalan beriringan. Sesekali tangannya usil mencubit punggung dan lengan atau meniupi rambutku. Memang, ya, ini anak hiperaktif. Nggak bisa anteng! "Akbar!" Kudorong lengannya agar menjauh dariku.


"Ya, Sayang?"


"Ihhhhhh!" Aku menyeringai


"Yeee ... pipinya merah. Malu, ya?"


Shit! Wajahku terasa menghangat. "Malu, tuh, pada diliatin." Jengah banget diperhatiin beberapa orang.


"Biarin aja. Cuek!" Ia berjalan sambil melompat-lompat kayak kelinci. Tingkahnya masih kayak anak SMP. "Entar malam pengen bakso apa mi ayam?" Ia bersandar di pagar besi.


"Aduh! Lama-lama aku makin melebar, tiap malam makan begituan."


"Tak apalah." Wajahnya didekatkan ke kuping kiriku. "Biar tambah ... seksi." Sambungnya berbisik pas di telinga. Membuatku langsung merinding terkena embusan napasnya.


"Ihhh ... sudah sana pulang!"


"Sampai nanti malam, Sayangku." Kerlingannya membuatku tersipu. Sebelum ia meledekku lagi, mending buruan kabur, deh.


***


Saat menyuapkan sebutir bakso, aku merasa kalau ada yang memerhatikan. Kualihkan fokus dari mangkuk. Benar dugaanku! Ia asyik menatap sambil senyam-senyum. "Sttt ... tu bakso buruan dimakan. Entar adem malah gak enak."


"Apapun akan terasa enak kalo ada kamu."


Tergelak sesaat. "Gombal!" Aku menunduk menyembunyikan wajah yang terasa hangat.


Terasa ada getaran halus di meja. Kuangkat wajah. Akbar masih saja memandangiku sambil menopang dagu. "Ada telpon. Angkat tuh!"


Ia menengok sekilas ke ponselnya yang tergeletak. "Nggak penting. Lebih urgent ngelihatin si galak ini."


"Akbar. Diangkat dulu." Aku melotot merasa terganggu getaran ponsel di meja.


"Siap laksanakan perintah!" Dengan tertawa kecil, diangkatnya juga itu benda berisik itu.


"Ya, halo? Ooo ... ini ... cuma lagi makan bakso sebrang kompleks. Ada apa?" Kutangkap, tersirat ekspresi tak nyaman dan agak gugup.


"Haaa? Oh ini ... sama ... temanku." Kata terakhir yang terdengar itu entah kenapa membuatku sangat tak suka. Teman?!


"Ooo gitu. Ya ya. Bisa kita bicara lagi nanti? Aku akan telpon balik. Sorry, ya."


"Siapa?" tatapku menyelidik setelah si tengil mematikan panggilan masuk.


"Biasa, teman mau curhat. Nggak penting." Ada tawa sumbang yang kutangkap.


"Sempat kudengar, sepertinya suara cewek. Benar 'kan?"


Tampak terkejut, tapi buru-buru Akbar menutupinya dengan tawa. "Cowok ganteng, ya, fansnya cewek-cewek."


"Temanmu ato pacarmu?" cecarku dengan dada bergemuruh. Cemburu mulai menguasai hati.


"Hanya teman, kok. Biasa. Pada suka curhat sama aku soal pacar mereka. Sudah, ah. Jangan dibahas lagi."


"Tadi ... kau bilang sedang makan bakso dengan siapa?" Entahlah! Nyaris tak bisa menahan marah.


"Makan bakso dengan teman." Sesaat, si tengil kulihat terperangah. Ia menutup mulut dengan telapak tangan kiri. Sepertinya baru menyadari sesuatu.


"Teman?! Bagus!" Agak kubanting sendok garpu ke mangkok bakso yang telah kosong. Aku tersinggung!


"Syaira ... tunggu!"


"Tasyaira Eka Permana!"


Teman? Aku dianggap teman? Ini ... pelecehan!


"Tunggu, Syaira! Dengar dulu!"


"Arrgghh ...!" Kutepis kasar tangannya. Dengan marah, kudorong tubuhnya dengan kuat, hampir jatuh terjerembab.


"Aku salah apa lagi?" Wajah memelas di hadapan itu sama sekali tak melunakkan kemarahanku. Tatapan heran Heru juga tak aku hiraukan. Peduli apa!


"Salahmu? Kau tanya salahmu apa?! Ya, ampun!" Kutepuk jidatku sendiri.


"Ikut aku!" Dengan kasar ditariknya tanganku. Tanpa bilang apa-apa lagi, dipasangkan helm di kepalaku.


"Naik!" Baru kali ini aku melihatnya marah begitu. Hah! Harusnya aku yang marah!


"Hei!" Karena aku tetap berdiri mematung tak mau menuruti perintahnya, dengan sigap, tubuhku diangkat dan didudukkan di jok belakang motor.


"Pegangan!"


"Nggak mau!" Aku balik meneriakinya. Kesal sudah di ubun-ubun.


Dipacunya motor dengan kencang. Aku bertahan tak mau menyentuh tubuhnya. Takut? Pasti! Dengan kecepatan delapan puluh kilometer perjam, di tengah padatnya jalanan kota, itu mengerikan!


Aku bertahan dengan berpegangan pada behel begel besi agar tak terlempar. Kali ini aku benar-benar ketakutan. Kalau marah, bocah ini ternyata bisa mengancam nyawa!


Mendadak, dihentikannya motor di depan pagar gedung olahraga yang agak remang. Sepi sekali! Segera, melompat turun dari motor. Melepas helm dan dengan luapan emosi, marah dan takut menjadi satu, sekuat tenaga membanting benda bundar yang barusan kukenakan .


"Kau mau bunuh diri?!" teriakku entah berapa oktaf. Sebodo!


"Iya! Asal mati bersamamu!" pekiknya tak kalah galak.


"Aku tak sudi! Kalo mau mati, mati saja sendiri! Jangan ajak-ajak aku!"


"Kau harus ikut denganku ... saat hidup ato mati sekali pun! "


Glek! Di bawah lampu temaram, aku masih bisa melihat dengan jelas sorot matanya yang ... mengerikan! Tiga bulan mengenalnya, baru sekali ini melihatnya sekalap itu. Perlahan, kegaranganku menciut. Benar-benar didera takut kalau ia nekat melukaiku! Keringat dingin mulai membasahi wajah dan tangan. Tulang terasa lemas. Gemetar, aku mundur beberapa langkah. Mata mulai pedas dan basah.


"Syaira ...." Suaranya pelan sambil perlahan mendekati. Matanya yang nyalang merah barusan, kini sudah mulai teduh kembali. Napas yang tadi memburu mulai teratur.


"Maaf, sudah membuatmu ketakutan." Diulurkannya tangan meraih bahuku. Aku sudah tak tahan lagi!


"Akbar jelek!" Aku menjerit kesal menumpahkan tangis yang sedari tadi tertahan.


Tubuhku direngkuhnya. Tak bisa lagi menolak karena masih gemetaran. Serasa tak punya tenaga lagi.


"Iya. Akbar emang jelek, norak, nyebelin, kurang ajar. Terserah Syaira mau bilang apa. Yang penting Syaira sayang sama Akbar."


"Siapa bilang?!" Kudorong dadanya hingga pelukannya terlepas. Namun, yang kudapati, ia malah tertawa. "Jangan tertawa!" Kuseka wajah dengan kasar yang basah oleh air mata.


"Cieee ... keliatan kalo cemburu," ejeknya sembari tertawa.


Sumpah! Itu malah bikin aku tambah senewen. "Cemburu?! Ihhh ... sorry!"


"Iya! Sakit hati, ya, aku tadi bilang kalo lagi makan sama teman? Gak terima pasti, aku anggap cuma teman. Benar 'kan?"


Haduh! Bisa juga si tengil baca isi hatiku. "Salah!" bantahku coba mengelak.


"Kalo aku bilang, 'iya, ini lagi makan sama kekasih cantikku'. Entar ngambek lagi. Dibilang aku ge-er, ngaku-ngaku, kepedean. Bilang sekadar teman juga salah. Duhhh, bener emang kata para pria, pria tempatnya salah mulu dan wanita selalu benar."


"Kan memang bukan pacarmu!" dampratku masih jengkel. Ingin tertawa sebenarnya, tapi kutahan.


"Ya, udah. Malam ini kita jadian aja yuk. Janji, deh! Setelah kau bilang, 'oke', aku akan mengakui statusmu pada semua orang. Aku janji!"


"Enak aja!" sungutku bersandar pada pagar gedung.


"Sejak dua bulan lalu aku sudah memintamu untuk jadi pacarku. Tapi kau selalu bilang, 'masih kupikirkan'. Belum ada ketok palu resmi 'kan? Jadi aku gak berani gembar-gembor kasih pengumuman, kalo Syaira yang galak ini sudah jadi pacarku."


"Sejak kapan pinter ngejawab kayak gitu?" Lirikku menahan tawa. Menertawakan kekonyolanku sendiri.


"Aku, kan belajar darimu hehehe ... udah ah! Kelamaan! Mulai malam ini kita resmi jadian. Dan ... orang-orang harus tau kalo kita sekarang jadi 'SyaiBar'!" Ia berdiri gagah sambil berkacak pinggang.


"Apa, tuh?"


"Syaira dan Akbar. Syaira miliknya Akbar. Gak boleh ada yang mengubahnya."


"Posesif!"


"Emang!"


Tak bisa lagi kutahan tawa. Tak mau lagi menolak dekapan hangatnya. Iya! Aku sudah jatuh cinta padamu, Bar. Aku mau jadi milikmu. Sangat mau!